Bepergian Dengan 4 Anak (Tanpa Pendamping!)

Apa yang terbayang ketika harus membawa 4 anak bepergian, sendirian, hanya kita dan mereka. Kalau saya, tatapan orang banyak, sambil bertanya-tanya “Bu, suaminya manaa”  :D

Ada beberapa situasi yang mengharuskan saya pergi dengan 4 anak tanpa suami. Nadia 8 tahun, Hasan 6 tahun, Husain 4 tahun, dan Najma 8 bulan. Biasanya ke rumah sakit, mengantar Najma imunisasi atau ikut suami menyusul suami ke Bandung yang sedang bertugas, hihihi.

Awalnya, tentu saja deg-degan, apa yang saya harus lakukan. Membayangkan naik turun angkot bersama mereka, kalau ada yang tidur di angkot, gimana, atau ketika naik taksi, timbul pikiran, “pak supir taksi terganggu, nggak, ya, dengan keramaian 4 anak ini?”. Duh, kok, horor banget, ya. Belum lagi ketika di rumah sakit, mereka berlarian ke sana, ke sini, gimana juga ngejarnya? Gimana kalau mereka kebelet BAK/BAB di travel, ketika harus ke Bandung? Duh, kok, bikin pening banget, ya? Bisa duduk diam nggak ya, selama di travel menuju ke Bandung? Terus yang bawain tas sebanyak ini siapa ya? Daaaan setumpuk “what if..” lainnya :D

Setelah menjalani bepergian dengan mereka, ternyata nggak sehoror atau sepening yang saya bayangkan sebelumnya. Malah bisa dibilang saya menikmatinya dan juga mereka. Paling nggak, saya bisa bilang ke suami “Sometime you must try, go with them, just you n them..and I have my own ‘me time’” :D

Berikut kiat yang biasa saya lakukan ketika akan bepergian dengan mereka :D

  1. Membicarakannya dengan mereka. Untuk yang baru pertama kali bepergian dengan anak mungkin pembicaraan akan berlangsung agak panjang, dan butuh beberapa hari sebelum hari H-nya, karena kita harus membicarakan apa yang ‘boleh’ dan yang ‘nggak boleh’ dan terus diulang-ulang hingga hari H tiba. Kalau saya, ini efektif, pembicaraan panjang di awal, jadi ketika bepergian selanjutnya otomatis mereka sudah mengetahuinya, sesekali sambil diingatkan saja.
  2. Menyiapkan ‘alat perang’ :D . ‘Alat perang’ disini antara lain makanan/camilan, minuman/susu untuk jarak ke rumah sakit saja cukup hanya ini saja ditambah pakaian ganti dan diapers untuk Najma. ‘Alat perang’ bertambah ketika harus ke Bandung, selain tentu saja makanan/camilan, minuman/susu yang bisa makan tempat 1 tas sendiri :D yaitu pakaian ganti yang biasanya saya memakai rumus 2x jumlah hari + 2 (ini rumus untuk 3 anak terbesar). Untuk Najma yang masih bayi, biasanya saya lebihkan jumlahnya dari rumus tersebut. Jadi, untuk menginap selama 1 malam, pakaian ganti yang dibawa adalah 4 stel/anak berikut pakaian dalam mereka masing-masing. Untuk menyiapkan pakaian ganti, saya melibatkan mereka untuk menyiapkannya sendiri, baru kemudian saya yang memasukkan ke tas yang akan dibawa. Lalu kemudian, pelengkap lainnya seperti minyak telon/minyak kayu putih, meski anak-anak bukan tipe anak yang suka mabuk dalam perjalanan tapi saya tetap menyiapkannya.

Yup, sejauh ini 2 kiat di atas yang biasa saya lakukan ketika bepergian dengan anak-anak. Tapi yang terpenting adalah kita harus senang dulu, maksudnya memaknai bahwa perjalanan kami adalah menyenangkan. Meski memang deg-degan di awal dengan segala ‘what if..’ yang ada, tapi jika kita senang membuat rasa percaya diri itu ada, bahwa kita bisa. Seperti Kirana tulis di How to Handle 2, 3, or More Children, kita juga bisa melakukannya dalam sebuah perjalanan, meminta bantuan anak-anak terbesar untuk menemani adiknya bermain atau sekedar mengingatkan untuk tidak bermain jauh-jauh, membuat suasana perjalanan di dalam travel menyenangkan, karena beberapa kali naik travel yang saya prediksikan mereka akan terlelap ternyata tidak :D

Ketika sudah memaknai perjalanan kami adalah menyenangkan biasanya berbagai kemudahan mengikutinya, misal seperti anak-anak yang mengikuti kesepakatan yang ada, tidak ada yang rewel, orang yang menolong membawakan tas, menolong menyeberangkan kami dan berbagai kemudahan lainnya. Afirmasi positif yang mendatangkan hal-hal positif ini menambah keyakinan saya bahwa bepergian dengan 4 anak, nggak horor dan bikin pening, kok :D

Yang nggak pernah lupa, mengucapkan syukur, ketika sudah kembali ke rumah dengan ‘selamat’ sehabis dari rumah sakit, atau ketika bertemu suami di Bandung. Berharap bepergian selanjutnya akan lebih menyenangkan lagi.

So, are you ready Mommies? :)

*thumbnail dari sini


10 Comments - Write a Comment

  1. Seruuuu banget nampaknya mak!
    Iya bener rule #1 emg don’t ‘what-if’. Karena yg dikuatirin biasanya 80% gak kejadian, even kejadian pun ternyata ngga seribet yg dibayangin :D

    Enak yaa klo dah mandiri. Aku jg dah suruh d12 pilih sendiri baju yg masu dibawa, aku tgl ricek, ntar mrk sendiri jg yg masukin ke ransel masing2 biar tau brgnya apa tempatnya dmn.

  2. setuju banget ama afirmasi positif ibunya dulu. persiapan lengkap tapi kalo kitanya galau, ga happy, ato malah asik sendiri ama gadget, akan nular ke anak2 yg jadi uring2an.

    iyah, bilangin ke mereka dr hari hari sebelumnya jg penting.it works on me.

    Belom pernah nyoba sih keluar bawa 4 bocah komplit sendirian :)) paling sama ayah ato adekku.ato paling cuma bertiga ato berempat.

    Saluuut umnad!

    1. *tossdulusesamaibuanak4* iya ‘perasaan’ ibu mang ngaruh bgt ke anak2..jd klo pas ‘ngerasa’ ga enak gitu n anak2nya masih asyik2 aja buru2 buat segera ‘nyenengin’ hati..kya misal: dijemput telat pas sdh sampai travel tujuan hihihi

  3. Siapa takut….. ^.^ tentu aja siap…..

    Asal persiapannya mantap pasti berani aja bawa pasukan cilik tanpa ada pendamping….
    Yg kesel itu kalau lihat org lain yg bingung + bengong antara kasihan + takjub lihat pasukan cilikku…. Padahal yg menjalani nikmatin aja tuh…. :D

  4. aku juga sering sekali menerima tatapan seperti itu, padahal anak ku saat itu masih 2. apalagi sekarang udah 3. suami jarang mau jalan sama kita, dan aku pun lebih suka jalan sama anak2 tok. soale suami suka stress an :).

    perlengkapan perang nya sama, makanan yang banyak plus ipad. untunge disini kemana2 bisa pake stroller dan angkutan umum nya stroller friendly.

    repot, ribet…tapi menyenangkan. ada kepuasan bathin tersendiri :D

Post Comment