Mau Hamil, Kok, (Ternyata) Repot?

Ya, judul di atas rasanya memang cocok menggambarkan kondisi saya saat ini. Saya dan suami menikah 23 Oktober 2010 tepatnya sudah 2 tahun 5 bulan usia pernikahan kami saat ini. Namun Tuhan sepertinya belum memercayakan kami memiliki buah hati.

Awalnya saya berusaha mengabaikan omongan lingkungan sekitar yang sering bertanya “Sudah isi belum?”, “Kapan, nih, nyusul gue punya baby?”, “Ga bosan berdua terus?”, dan bla bla bla pertanyaan yang lebih kurang mirip. Anehnya pertanyaan seperti ini bukan datang dari keluarga terdekat saya dan suami, tapi justru datang dari teman, sahabat, kerabat dan tetangga. Yah, kalau sudah gini saya cuma jawab dengan senyum mesem-mesem sambil mikir “Hellooo… siapa juga yang nggak kepengen hamil? Ini juga pengen banget”.

Akhirnya setelah berdiskusi panjang, saya memutuskan untuk mengalah tidak bekerja demi memiliki si buah hati. Walaupun rasanya sudah kebayang gimana bosannya tinggal di rumah sendiri, tidak beraktivitas yang berarti, tapi ya sudahlah namanya juga ikhtiar.

Nah, bicara soal ikhtiar, yang saya lakukan saat ini selain minum susu pra hamil (yang malah membuat saya ketagihan), saya juga konsultasi dengan dokter kandungan.

Dokter yang saya pilih adalah dokter yang sudah terkenal, beliau spesialis inseminasi & bayi tabung di salah satu rumah sakit khusus menangani pasien yang ingin memiliki keturunan di daerah Menteng. Kenapa saya memilih yang ahli inseminasi, karena saat ini saya dan suami selain berusaha untuk hamil alami juga ingin mencoba proses insemninasi (doakan, ya, Mommies).

Beberapa kali konsultasi dengan dokter, saya merasa nyaman selain dokternya ganteng #SalahFokus, beliau juga ramah dan sering memberikan solusi. Kami disarankan untuk menghitung masa kesuburan sendiri dan tes kesuburan dengan alat tes kesuburan yang sudah banyak dijual di apotik. Nanti setelah dicek dan saya berada pada masa subur maka saya dan suami diminta (maaf) setor sperma dan melakukan proses insem di rumah sakit tersebut. Kami tidak perlu inseminasi buatan melainkan inseminasi alami di mana sperma tidak perlu dicuci dan langsung disuntikkan ke rahim. Hal ini dikarenakan riwayat saya yang belum pernah hamil dan setelah di-USG juga tidak kelainan sel telur, rahim atau lainnya di tubuh saya.

Saat diarahkan oleh dokter, kami optimis bisa memiliki keturunan dengan cara tersebut. Namun semua memang tidak mudah seperti yang dibayangkan. Dua bulan setelah saya konsultasi ke dokter saya tak kunjung haid. Padahal (untuk proses insem) dokter menganjurkan agar haid dahulu setelah 14 hari dari hari pertama haid baru tes masa subur. Akhirnya saya kembali ke dokter untuk konsultasi. Setelah di-USG, terdapat penebalan rahim yang mana bisa diartikan hamil atau penebalan rahim yang akan menjadi haid. Maka untuk memastikan, saya dianjurkan tes darah, karena sebelum ke dokter, saya sudah 5 kali testpack dan hasilnya negatif.

*gambar dari sini

Akhirnya tes darah dilakukan, kami hanya berharap dan berdoa yang terbaik. Namun sebelumnya dokter telah memberikan resep obat agar saya haid seandainya saya dinyatakan tidak hamil. Keesokan harinya, pihak rumah sakit memberikan hasil cek darah yang juga mengatakan saya negatif hamil. Rasanya saat itu antara sedih sama putus asa, tapi saya ingat Tuhan, mungkin Dia belum berkehendak.

Karena hasil darah menunjukkan saya tidak hamil, akhirnya saya menebus resep 2 jenis obat. Saya meminumnya dengan teratur, namun sampai dengan obatnya habis saya belum juga haid. Saya sangat putus asa. “Kenapa cobaan ini bertubi-tubi datangnya”, kerap kali saya membatin. Di saat ada solusi yang menenangkan saya diberi hambatan. Tapi kembali lagi, saya harusbisa bersyukur.

Ini sudah jalan 3 bulan saya tidak haid, saya baca di berbagai blog kehamilan katanya bisa jadi karena perubahan berat badan. Memang selama saya tidak bekerja dan tingggal seharian di rumah saya merasakan tambah berisi, hehe. Dan saat ini saya sedang menjalankan diet alami dengan terapi jus agar berat badan kembali normal, kemudian haid muncul dan bisa progam hamil lagi.

Pelajaran yang saya dapat dari cobaan ini adalah apa yang kita inginkan belum tentu Tuhan wujudkan seketika. Karena hanya Dia yang tahu kapan waktu yang tepat mewujudkan harapan kita. Dan kalau ada yang bilang ” Hamil saja kok repot banget, pakai minum susu prahamil, hidup sehat, ke dokter lah, insem lah”, ya memang hamil itu repot karena setiap manusia kan berbeda. Ada yang dengan mudah bisa hamil dan ada yang susah hamilnya. Jadi tidak usah berkecil hati dengan omongan lingkungan. Karena dokter saya bilang yang bisa membuat program hamil sukses adalah rileks dan jangan stress.

Nah, Mommies yang punya masalah sama seperti saya, semangat ya, kita sama-sama saling mendoakan semoga penantian sang buah hati berbuah indah dalam waktu cepat. Ikutan sharing di thread Trying to Conceive, yuk. Di sana pembahasannya lengkap sekali, lho.


25 Comments - Write a Comment

  1. Bunda, maaf itu bukan garisnya 2 ya ? Yg 1 nya tipis / samar ? Apa saya salah liat. Susu pra hamil ngak usah lg diminum bunda, sebab dia tidak bertujuan agar kita cepat hamil (malah buat endut) tp mempersiapkan gizi apabila kita tau2nya hamil. Coba bunda ikut kelas body langguage (sejenis aerobik) manfaatnya bisa buat sel telur kita jadi fit. Semoga membantu y

  2. Aku sdh hampir 2 thn nikah. Sempet hamil pas 8 bln pernikahan.. Tp cuma bertahan sampe 9w. Pas usg terakhir detak jantungnyabsdh ga ada lg. Dan hars di kuret. Awal dgr itu bukan main sedih dan ngerasa bersalah. Sampai2 saya terguncang scr mental.hampir 3 bln lbh saya takut dengar suara bayi. Tiap malam juga nangis terus. Akhirnya saya harus diterapi untuk coba terima kondisi ini. Saya dan suami sampai sekarang masih berusaha untuk dapet momongan. Sdh banyak cara dilakukan.. Tapi mungkin Tuhan blm mempercayakan titipanNya.

Post Comment