Surviving Baby Reflux Drama

Sebagai first-time mommy, saya masih ingat benar betapa paniknya saya ketika Clayton tiba-tiba muntah saat sementara asik menyusu. Bukan cuma gumoh, tapi bener bener muntah “gebyoor” berkali-kali apalagi sampai muntahnya keluar dari hidung. Saya sempat nangis karena panik. Waktu itu Clayton baru usia 10 hari dan kelihatan benar-benar helpless di saat semua isi perutnya keluar. Sejak saat itu saya mulai perhatiin muntahnya makin sering, malah tiap mimik pasti setelah itu harus muntah, gumoh (ps: muntah dan gumoh beda, lho, untuk lengkap main ke #ayahasi), dan silent vomit. Saya juga sempet konsultasi ke dokter anak waktu imunisasi dan tanya-tanya ke mertua, oma, sampe ke ibu-ibu tetangga (termasuk menulis posting-an panik di thread breastfeeding). Dan walaupun rata-rata jawabannya adalah “karena mimik kekenyangan”, my motherly instinct told me it was something more than that.

Iseng saya konsultasi ke “mbah Google” dan dikenalkan sama yang namanya refluks. Wahhhhh…langsung dapat pencerahan. Soalnya semua gejala yang dijabarkan sangat pas dengan Clayton. Selain sering muntah ada beberapa tanda lain yang membuat saya menyimpulkan Clayton punya Baby Reflux. Saya ingat waktu Clayton baru usia 3 hari, saya kebingungan keliling cari suster jam 3 subuh karena nafas Clayton bunyi grok-grok dan tiba-tiba gelagapan seperti orang mau tenggelam. Clayton juga kalau bobok tiba-tiba suka “grunting” Arrgghh errghhh sambil arching his back….and we thought it was cute. Ditambah lagi dalam sehari Clayton bisa berkali-kali cegukan walaupun waktu itu semua bilang itu artinya cepat besar.

Akhirnya saya cari info banyak-banyak tentang refluks yang ternyata banyak jenisnya. Ada normal reflux dimana semua baby pasti ngalamin due to their immature digestion track; Acid Reflux yang mirip sama sakit maag-nya orang dewasa dimana asam lambung naik dan mengakibatkan mual-mual; GERD (Gastro Esophageal Refluks Disease) yang dikarenakan katup katup pencernaan tidak tertutup sempurna sehingga baby can’t keep their food down.

Diagnosa Baby refluks sendiri  susah-susah gampang karena simptomnya banyak mirip dengan problem bayi lainnya. Misalnya, sering muntah bisa juga dikarenakan si bayi alergi makanan tertentu. Bunyi nafas “Grok Grok” bisa karena flu pada bayi, alergi atau simply karena masih newborn dan masih ada lendir di jalan pernafasan. Dan cegukan biasanya harmless karena usus bayi sangat mudah terpengaruh dengan hal-hal fisikal yang dilakukan bayi. Ditambah lagi kayaknya banyak dokter anak yang kurang familiar dengan baby reflux. Cara diagnosa refluks juga agak sulit dan kurang efektif pada bayi dibawah 1 tahun, padahal refluks itu biasanya paling parah di 3 bulan pertama umur bayi. Cara diagnosa GERD adalah dengan meminumkan cairan kontras pada bayi dan kemudian di x-ray untuk melihat kalau ada cairan yang naik lagi ke atas. Sedangkan bayi umumnya, mau GERD atau tidak, biasanya bakalan muntahin cairan lain yang masuk selain susu. Bayi yang sudah MPASI saja suka muntahin lagi makanannya, apa lagi bayi di bawah usia 3 bulan. Cara diagnosa acid refluks malah lebih komplet lagi karena mengharuskan PH probe lewat endoskopi saluran pencernaan atas…Duhhhh mana tega!!!!

Baby Clayton di diagnosa refluks waktu usia 2 bulan, itu pun karena bertepatan ada dokter anak spesialis pencernaan yang juga kerabat datang dari luar kota dan menginap di rumah kita. Saya pun tidak menyia-nyiakan kesempatan (baca: konsultasi gratis) buat konfirmasi mengenai refluks-nya Clayton. Beliau lalu membuat diagnosa based on observation karena dia sendiri nggak merekomendasi tes refluks untuk bayi dibawah usia 1 tahun.

Sejak dapat official diagnosa darinya, saya pun berusaha mencari berbagai info dan survival guide mengenai baby reflux….and why I call it Baby Refluks “DRAMA”? It’s because it can create whole lot of dramas:

  • Baby with reflux is a baby that you can never put down. Pernah ketemu bayi yang kalau ditaruh di ranjang pasti nangis? Bayi dengan refluks adalah salah satunya bayi yang paling rewel kalo  ditaruh di ranjang. Bukannya manja, tapi simply karena mereka physically uncomfortable or even in pain to be in that position. Bayangin kalau kita maunya tidur tapi ujung ujungnya selalu kelelep sama muntah sendiri atau sakit perut. Pasti marah-marah kan?? Saya benar-benar kelabakan menghadapinya karena harus menggendong terus.
  • Nursing Strike – Bayi dengan refluks rentan dengan nursing strike karena proses menyusui selalu diasosiasikan dengan perasaan mual dan muntah yang datang setelah ‘netek’. Saya bisa membayangkan dulu waktu mual-mual di awal hamil, melihat makanan saja, ogah..mungkin begitu, yah, perasaan si bayi. And of course, dalam 6 bulan menyusui Clayton sudah 3 kali kena nursing strike.
  • Baby flu” – Saya menggunakan tanda kutip karena simptomnya kayak flu. Pas di usia 1bulan, saya perhatikan tangisan Clayton sangat serak yang kemudian lama-lama mulai berdahak dan nafasnya berbunyi seperti ada cairan di leher. Setelah ketemu dokter anak, baru saya tahu kalau penyebabnya adalah asam lambung yang naik sampai tenggorokan sehingga tenggorokannya iritasi. Clayton juga sering silent vomit dimana muntah ditelan lagi sehingga muntah yang asam masuk keluar tenggorokan. O, ya, sakit tenggorokan ini juga bisa bikin nursing strike lho.
  • Restless Baby, Restless Mommy – Bayi dengan refluks juga lebih rentan kena kolik karena otomatis di saat mau mual muntah, otot usus harus kontraksi dan menyebabkan rasa sakit. Perasaan mual juga pasti membuat bayi nggak nyaman. Jadinya setiap selesai mimik malah perutnya jadi sakit dan membuat bayi rewel. Bukan cuma itu aja, bayi refluks jadi sulit tidur karena posisi tidur yang datar selama semalaman rentan membuat asam lambung bersama isi perut naik ke atas. Yap, di bulan-bulan pertama Clayton sering banget tiba-tiba muntah saat tidur. Mommy-nya juga ikutan nggak bisa tidur karena takut Clayton keselek sama muntahnya sendiri.
  • Mommy’s Critics, Baby blues – Mommies yang sudah panik karena baby-nya muntah melulu jadi lebih galau lagi di saat banyak suara sumbang yang mempertanyakan kualitas ASI-nya karena bayinya muntah terus. Mulai dari kritik ASI encer, ASI basi, ASI dingin, ASI kurang, ASI nggak berkualitas, semua sudah pernah saya dengar. Sebulan pertama saya kena baby blues akibat ASI dikritik melulu dan baby muntah terus. I felt like I was a BAD Mother..
  • dan “Drama” terakhir adalah Baby with refluks should not have too many “Drama”, which means nggak boleh banyak nangis pasti muntah, nggak boleh lama-lama tiduran, nggak boleh terlalu banyak main, nggak boleh terlalu aktif, nggak boleh teriak-teriak, semuanya bisa bikin muntah. Dan yang paling bikin kasihan itu, Clayton nggak boleh banyak tertawa karena pasti ujungnya cegukan atau muntah.

So how did I survive this baby refluks drama?? Ternyata tidak ada pengobatan yang bisa dilakukan untuk baby refluks. Adanya obat untuk membuat baby lebih nyaman aja seperti memberikan obat maag dan saya menolak memberikan obat yang “ngga penting” buat bayi.  Tapi setelah countless search di dunia maya saya menyimpulkan beberapa trik untuk mengakali baby with refluks. And they WORKS!

  • Rule of thumbs-nya Gravity helps, which means bayi diusahakan digendong vertikal sesering mungkin. And this rule apply to everything. So, Baby Carrier (in my case baby wrap) is your BEST FRIEND. Posisi menggendong paling nyaman adalah dengan posisi saling berhadapan. Clayton bisa sendawa berkali-kali kalau masuk dalam baby wrap. Mungkin karena perutnya agak ketekan dan jadi hangat kena badan saya yang menggendong. Sebenarnya bisa juga gendong menghadap depan apalagi disaat bayi sudah aktif. Tapi karena tidak bisa melihat bayi langsung, kita harus sering mengecek kalau-kalau bayinya muntah atau even worse “choking with their vomit” karena bayi dengan GERD tetap bisa muntah walaupun sedang dalam posisi vertikal.
  • Elevated position. Apabila bayi harus dibaringkan diusahakan agar posisi kepala dan bayi berada pada 30 derajat kemiringan. Ini teorinya, lho, yah. Saya sendiri nggak pernah mengukur-ngukur. Yang pasti pada 3 bulan pertama Clayton tidurnya di atas kombinasi bantal dan susunan kain bedong biar kepalanya agak tinggi tapi belakangnya nggak bungkuk. Tapi sekarang karena sudah mahir guling-guling sendiri, Clayton lebih nyaman kalau tidur di posisi miring yang juga ternyata disarankan buat bayi dengan refluks.
  • Sleep nursing is a life saver. Bayi dengan refluks gampang banget muntah kalau terlalu banyak beraktivitas, sehingga ujung-ujungnya tiap kali mimik pasti muntah karena setelah mimik pasti maunya guling-guling, lompat-lompat, sana sini. Belum lagi kalau seperti Clayton yang punya gaya gymnastic sendiri kalo lagi mimik dalam keadaan “sadar”. Sleep nursing akhirnya jadi pilihan yang paling aman karena disaat mimik sudah setengah teler ngantuk dan setelah mimik bayinya ketiduran sehingga saya bisa make sure ASI-nya benar-benar masuk dan nggak bakalan muntah. Walaupun ada catatan biasanya setelah mimik bayi tetap digendong berdiri atau in elevated position at least selama 30 menit.
  • Forbidden Gears. Ada beberapa baby gear yang bisa memperparah refluks seperti car seat, bouncer/rocker dan stroller yang dudukannya terlalu dalam sehingga bayinya agak slouching atau punggungnya menekuk agak bungkuk. Clayton tiap kali didudukin di stroller atau rocker-nya dalam 5 menit pasti bakalan cegukan atau gumoh.  Karena disaat punggung tertekuk saluran pencernaanya jadi ikut menekuk dan memberi  tekanan di bagian perut sehingga isi perut lebih gampang keluar. Biasanya suka saya akalin dengan melipat kain bedong sebagai penyangga. Tapi 9 out of 10 trial, it didn’t work!
  • Some adjustment required, so be prepared! Adjustment yang saya maksud misalnya make sure baju dan celana si bayi tidak ketat di bagian perut biar tidak menekan perut, disaat mengganti popok bokong bayi tidak diangkat instead bayi miringkan kiri-kanan untuk memakaikan diaper/ celana. Dan siap-siap saja untuk latihan mengganti popok bayi disaat si bayi lagi netek dalam posisi lagi digendong berdiri.

So is there a happy ending to this drama??

Fortunately most babies outgrow their reflux. Clayton sejak lewat milestone bisa nopang leher sendiri di usia 3 bulan refluksnya udah mendingan. Apalagi sekarang udah bisa duduk sendiri refluksnya sudah jauh membaik. Walaupun tetap kalau dengar Clayton lagi ketawa-tiwi digodain Daddy-nya saya langsung cepat-cepat muncul buat time out biar gak cegukan :D


8 Comments - Write a Comment

  1. Anak saya fihry juga mengalami ini waktu bayi… Stress pasti… kuatir asupan gizi nya tidak sempurna karena sering muntah…bahkan berat badan nya sempat dibawah rata2, Setelah di USG dan ke dokter ahli pencernaan, ada obat yg harus diminum… Alhamdulillah perlahan membaik, sekarang sudah 4,5 tahun dan berat badan nya diatas rata2 sekarang… Tapiiii tetep sih harus tetap dijaga, makan nggak boleh terlalu kenyang, dan abis makan nggak boleh langsung lompat2, semakin besar dia mulai ngerti kok sekarang…

  2. Anakku yang pertama juga ngalamin GERD waktu bayi. Awalnya sebelum ketahuan GERD, semua DSA bilang gak apa2, karena berat badannya toh naik dengan normal. Hanya perlu ditegakkan badannya saat nyusu, dan minumnya maksimal hanya 30cc/sekali minum.

    Waktu usia 6 bulan, aku konsul ke dokter anak spesialis gastro di Harapan Kita dan bayiku di USG (bukan X-ray ya, tapi USG) sambil minum. Dan memang betul keliatan tuh airnya muncrat lagi dari lambung ke atas di USG itu, karena klep lambungnya tidak “mengunci” saat ada minuman/makanan yang masuk. Sama sang DSA dikasih obat namanya Ethiprid, dan terapi Ethiprid itu jangka panjang sampai usia 1 tahun. Ethiprid hanya ada di RS Harapan Kita. Beberapa kali kita coba cari di apotek lain gak pernah ada.

    Alhamdulillah sekarang dia sudah hampir 7 tahun dan sehat, tapi setiap kali kesehatannya terganggu, reaksi pertama yang muncul pasti muntah2.

  3. Wah, pengalaman pribadi banget…. Sehari bisa ganti seprai berkali-kali dan mandi lebih dari 3 kali sehari gara2 kena muntah. Stress pasti, apalagi kalo berat badan baby naiknya tidak sesuai dengan Kenaikan Berat Minimal di KMS. Untungnya setelah berumur 5 Bulan muntahnya semakin jarang.

  4. Bayiku juga suka tiba-tiba muntah banyak, walaupun gak setiap hari. Tapi kok abis muntah malah senyum-senyum, jadi aku gak terlalu worry. Astaga ternyata bouncer yang ga pas bisa bikin saluran pencernaan menekuk ya. Aduh jadi merasa bersalah suka kesel kalo baby ku di taro stroller atau boncer kok rewel :( . Makasih ya infonya, jadi PR saya untuk menanyakan ke DSA

  5. Terima kasih info-nya, bayi perempuan (3W) saya juga saat ini sedang menunjukan gejala reflux, tapi 1 month checknya baru satu minggu lagi….tapi pasti akan saya sampaikan ke dokter nya nanti..
    Ini adalah anak pertama saya, dan saat ini saya berada di Jepang…benar2 forum share seperti ini menjadi guru terbaik buat saya..cukup panik dan stress menghadapi kondisi seperti ini,,,yushoo..semangat!!!

Post Comment