Sekolah Internasional Menjamin Anak Lebih Sukses?

Rasanya iri sekali saat melihat anak kecil yang masih balita sudah cas cis cus berbicara menggunakan bahasa inggris. Mengingat bahasa inggris yang saya kuasai begitu pas-pasan, saya pun bertekat kalau anak saya, Bumi (2 tahun 7 bulan), harus bisa menguasai bahasa Inggris.

Saya pun mulai mempertimbangakan ingin menyekolahkannya di sekolah internasional. Pikir saya, kalau Bumi memulainya sejak dini, saat ia masuk playgroup, tentu akan lebih mudah dalam penyerapan. Apalagi sekarang saja, Bumi sudah terlihat tertarik karena ia rajin sekali bertanya bahasa inggris benda-benda yang ada disekitarnya.

Nah, karena tahun ajaran baru sekolah sudah di depan mata, saya pun mulai sibuk mengumpulkan informasi playgroup yang tepat untuk Bumi. Baik yang lokal ataupun internasional.

Kebetulan sekali beberapa hari lalu, Lita, menawarkan saya untuk datang ke acara seminar dengan tema ‘Mengirim Anak ke Sekolah Internasional, Gengsi? Mencari Prestasi? Atau Membuat Anak Frustrasi?’. Rasanya, kok pas banget, ya?

Meskipun Bumi baru mau masuk playgroup, tetap saja seminar ini penting dan menarik. Dengan semangat 45, saya pun hadir ke seminar yang digagas oleh SuperMoms pada sabtu lalu (2/1/2012). Hasilnya? Banyak sekali informasi penting yang saya dapatkan.

Mulai dari hal yang paling dasar, yaitu kapan usia yang paling tepat untuk anak dikenalkan dengan bangku sekolah. Faisal Sundani M.Ed selaku pembicara mengatakan bahwa sebaiknya anak mulai sekolah saat usianya menginjak 3 tahun. Di bawah itu, sebaiknya ‘sekolah’ di rumah dulu saja, karena tingkat kedewasaan anak-anak untuk menerima segala aktivitas di sekolah belum ada.

Bahkan katanya, “Tunggu saja sampai si anak meminta untuk sekolah. Saat ia sudah bosan bermain dengan mainannya, dan butuh orang lain untuk diajak bermain. Biasanya sih, anak-anak dengan ibu yang tidak bekerja lebih cepat meminta untuk sekolah. Mungkin kerena mereka sudah bosan main dengan ibunya terus,” ujarnya  sambil berseloroh.

Ia pun menambahkan, “Sekolah itu, kan, untuk anaknya sendiri, bukan orangtuanya. Jadi tunggu saja sampai mereka memintanya,” tegasnya.

Nah, kembali ke pemilihan sekolah. Pendidik sekaligus Vice Principal dari International Islamic School di Kuala Lumpur ini menegaskan, jika ingin memilih sekolah internasional, orangtua harus yakin terlebih dahulu. Apa tujuannya mengirim anak ke sekolah internasional? Jangan sampai hanya karena gengsi atau yang paling parah justru membuat anak menjadi stres dan frustrasi. Duh!


Yang pasti, perbedaan sekolah lokal dengan sekolah internasional terletak dari kurikulum yang diterapkan. Sekolah internasional merupakan sekolah yang menggunakan kurikulum internasional, misalnya IB (International Baccalaureate), IGSCE, Edexcel, atau yang lainnya.

O, ya, Mommies juga sebaiknya paham bahwa tidak semua sekolah yang menggunakan pengantar bahasa Inggris itu merupakan sekolah internasional, ya.

Sebelum memasukan anak ke sekolah internasional, yang perlu Mommies pahami adalah kesiapan anak terlebih dahulu. Termasuk bekal bahasa inggris yang kuat. Menurut menantunya ibu Elly Risman, jika tidak menguasai bahasa inggris, anak bisa kesulitan beradaptasi dengan kurikulum yang diterapkan.

Tidak cuma itu saja, banyak hal yang harus diperhatikan orangtua saat ingin menyekolahkan anaknya ke sekolah internasional. Mulai dari mempersiapkan anak basic bahasa yang aktif, memahami kurikulum dan sistem sekolah, serta selalu memberikan bimbingan agama, dan budaya lokal yang berkelanjutan.

“Anak saya itu sekolah di sekolah internasional, saat dia memanggil saya dengan sebutan ‘you’, kok saya nggak bisa terima ya? Rasanya bagaimana gitu? memang tidak bisa dipungkiri kalau budaya kita berbeda, jadi selalu tanamkan budaya lokal kepada anak-anak. Terutama pendidikan agama”.

Untuk itu, Faisal Sundani M.Ed menyarankan pada seluruh orangtua untuk lebih dulu yakin dengan niat, visi dan misi dalam menyekolahkan anak. Misalnya, jika Mommies ingin anaknya masuk PTN, sebaiknya tidak perlu memilih sekolah bertaraf internasional.

Selain itu, jangan sampai memilih sekolah yang karena tergiur dengan nama besarnya saja, perhatikan visi dan misi sekolah tersebut. Kalau perlu lakukan survei ke beberapa sekolah dan cari informasi dari salah seorang akademik staf sekolah tersebut. Kalau perlu, langsung saja bertanya pada kepala sekolahnya.

Jika tertarik dengan bilingual school, Mommies sebaiknya perhatikan proses dan metode yang diterapkan. Jangan sampai dalam satu mata pelajaran menggunakan dua bahasa. Lebih baik pilih sekolah yang menggunakan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris secara full dalam beberapa mata pelajaran. Karena hal ini akan lebih konsisten dan tidak membuat anak bingung.

Lewat seminar ini, yang pasti, saya jadi (lebih) sadar bahwa keberhasilan seorang anak tidak hanya tergantung pada kurikulum yang ada di sekolah, dan kurikulum sekolah internasional juga bukan berarti tanpa cacat atau kekurangan. Sekolah internasional tidak menjamin seorang anak bisa sukses.

Mau sekolah di sekolah internasional ataupun lokal, seorang anak juga bisa tetap bisa bersaing di era globaliasi ini. Yang terpenting sebagai orangtua, kita harus terus mendampingi, dan tidak egois dalam memilih sekolah untuk sekolah anak. Karena seperti yang dikatakan Faisal Sundani M.Ed,  memilih sekolah itu tidak ubahnya seperti mencari jodoh. Sangat personal. Bisa cocok dengan orang lain, tapi belum tentu cocok dengan anak kita.

Bagaimana menurut Mommies yang lain?

*thumbnail dari sini


2 Comments - Write a Comment

Post Comment