Peluncuran Buku: Cerita Di Balik Noda

Kemarin pagi di Kembang Goela Plaza Sentral Mommiesdaily diundang menghadiri event peluncuran buku “Cerita di Balik Noda” oleh Fira Basuki.

Buku ke-27 Fira ini berisi 42 cerita inspirasi jiwa, dimana 38 diantaranya terilhami dari tulisan Mommies (dan beberapa ayah juga) peserta lomba Cerita di Balik Noda-nya Rinso di Facebook. Adakah mommies yang sempat ikutan lombanya waktu itu?

Fira menambahkan 4 kisah dari inspirasi pengalaman pribadinya, yaitu ‘Bos Galak’, ‘Sarung Ayah’, ‘Pohon Kenangan’, dan ‘Foto’.
Kisah “Sarung Ayah” terinspirasi dari almarhum suami Fira Basuki yang suka mainan ninja-ninjaan pakai sarung. Dan setelah beliau meninggal, putrinya enggak mau si sarung dicuci dan dikeloni terus sampai akhirnya baunya malah bau si anak :D.

Pembukaan event ini unik, deh. Pendaftaran peserta dan media dimulai dengan cap tangan di papan ucapan Selamat Atas Peluncuran Buku. Saya yang ngga terlalu suka tangan kotor jadi nginyem :D.

O, ya, saat cuci tangan setelah cap tangan, saya sempat ditanya sama anak berbaju penuh noda (kaos event-nya memang motifnya begini :D) yang berbagi wastafel dengan saya, “Baju anak-anak emang harus kotor gini ya?”

Saya… speechless, hahaha.

Event dimulai dengan pembacaan salah satu cerita berjudul “Tak Jadi” oleh Sitok Srengenge, salah satu sastrawan Indonesia. Kemudian dilanjutkan semacam talkshow singkat dengan nara sumber Fira Basuki dan psikolog Sani B. Hermawan yang dipandu oleh Alvin Adam.
Baik Sani maupun Fira Basuki merasa orang dewasa justru harus banyak belajar dari anak-anak. Dalam situasi yang berat, anak biasanya nampak lebih bisa move-on dengan caranya sendiri sementara orang dewasa malah sering tenggelam lama dalam situasi sulit. Sani juga berpendapat bahwa anak yang lebih sering dilepas dan bermain dengan alam biasanya kelak karakternya lebih terbuka dan lively.

‘Noda’ juga tidak selalu diartikan sebagai kotoran pada baju atau tangan secara fisik, tapi dikiaskan juga untuk ‘noda’ di dalam hati kita saat situasi sedang sulit. Seperti kisah “Tak Jadi” yang menceritakan ‘noda’ di hati istri ketika suami dicurigai berselingkuh.

Talkshow kemudian diakhiri dengan sharing dari beberapa peserta peluncuran buku, yang kebanyakan bercerita tentang melepaskan anak berkotor-kotor. Ada satu ibu, nih, yang cerita kalau sebenarnya beliau malah mendorong anaknya untuk berkotor-kotor ria, tapi malah anaknya yang gampang jijik. Untuk kasus seperti ini Sani menyarankan orang tua ikut terjun berkotor-kotor supaya si anak tidak takut mencoba. Saya kepikiran, iya susah juga, ya, kalau punya anak gampang jijik. Walau saya tipe ibu yang juga bawel kalau baju atau tangan kotor, tapi bagi saya ada saat-saat tertentu yang memang mau tidak mau kita tidak bisa menghindari kotor.

Yuk, berani kotor itu baik, lhoo :D


Post Comment