Kamu Adalah Aku

3

Dulu sekali, almarhum Bapak pernah bilang, “Kalau nanti kakak sudah punya anak, jadikan ia sebagai bagian dari diri kamu. Dengan begitu, tidak akan ada beban berarti yang terasa ketika menjalani peran ibu.” Saat itu saya cuma melongo kemudian bilang, “Duilaahh, pacar saja belum punya sudah ngomongin cucu … hihihi” dan seketika saya ngeloyor masuk ke dalam rumah.

Ketika saya melahirkan pun, saya belum ingat pesan almarhum Bapak yang satu ini. Saya terlalu sibuk menyeimbangkan diri dengan rasa bahagia, bingung, bangga yang campur aduk jadi satu. Jangan lupa, rasa sedih juga ada apalagi ketika ibu pulang ke Bandung setelah dua minggu mendampingi saya di Jakarta. Rasa sedih ditambah frustrasi ketika Menik mulai tidak bisa saya handle lagi tangisannya. Popok kering, sudah menyusu sampai dilepas sendiri, suhu ruang pas, dan tentunya tetap digendong oleh saya. Apalagi dong? Kok tetap menangis? Sampai akhirnya saya menangis sambil menggendong Menik di bawah blower AC and it leads me to my baby blues session. Di saat sedang memulihkan diri dari perasaan biru ini, tiba-tiba saya rindu almarhum Bapak. Dan anehnya, tiba-tiba saya teringat petuah beliau soal menjadikan anak sebagai bagian dari diri saya.

Bagai disiram air dingin setelah berminggu-minggu jalan di padang pasir, saya mulai belajar menjadikan Menik sebagai manusia utuh yang merupakan bagian dari diri saya. Sejak saat itu, saya  belajar ngobrol dengan Menik, tidak peduli tanggapannya hanya tawa, tangis, atau ocehan tidak jelas. Sampai detik ini, saya masih terus belajar bagaimana caranya mengatur emosi, agar emosi negatif seperti mau marah ketika ada hal yang tidak sesuai ekspektasi terjadi, bisa diredam. Jadi bagaimana caranya? Jawabannya mudah: santai. Ya, santai saja soal gaya asuh kita. Santai jika si anak menolak makanan yang sudah kita buat susah payah karena harus browsing resep segala. Santai juga kalau mendengar pendapat orang lain. Termasuk santai ketika anak memilih bajunya sendiri seperti yang diceritakan beberapa Mommies di bulan Desember ini. Selama 14 bulan, saya mencoba menjadikan Menik bagian dari diri saya. Setiap saya mau melakukan sesuatu untuk Menik, biasanya saya kembalikan ke diri dulu, apakah saya senang jika saya mendapat perlakuan demikian? Susah pada awalnya, tapi kan sebagai manusia yang bisa belajar, lama kelamaan terbiasa, kok!

Intinya, seperti yang pernah ditulis Lita, parenting should be fun! Pasti tidak enak baik bagi si ibu maupun si anak jika ada yang dipaksakan. Nah, kalo sudah terpaksa, akhirnya bisa bete, deh, kedua belah pihak, padahal saya juga percaya, lho, kalau happy parents make happy kids. Jadi jika sedang didatangi oleh rasa frustrasi karena Menik sibuk dengan berbagai akalnya yang sering kurang bisa diterima oleh orang dewasa seperti saya, I will try to take a deep breath and try to put myself in Menik’s shoes. Walau bukan ibu yang sempurna, saya mau terus berusaha. Karena kamu adalah aku.


11 Comments - Write a Comment

  1. mbk, salam kenal yah
    dua paragraph terakhir bikin saya mewek (emang dasar mewekan siy orangnya), hehe… kadang suami bilang saya tuh terlalu serius ngadepin anak. mksdnya santai aja gitu, klu gak ya bakal perang batin sendiri. ujung2nya malah berantem ma anak dan hubungannya jadi gak deket. kebayang dong gimana rasanya jadi ibu yang hubungan ama anaknya gak harmonis. serasa menjadi ibu yang gagal total.sma orang laen aja bs akur, kok malah sma anak sendiri gak akur…
    TFS ya,ternyata saya tidak sendiri mengalaminya.

Post Comment