Saat Ia Terjatuh…

Saya masih ingat betul, dini hari itu saya terbangun karena kaget dan panik mendengar suara Tara menangis keras tidak seperti biasanya. Kaget bukan main, saya sudah menemukan Tara terbaring di lantai, jatuh dari tempat tidur dengan ketinggian normal:'(  Saking paniknya, saya dan suami langsung menggendong dan menenangkan Tara, menyusuinya, dan  mengatur ulang posisi tidur kami. Saat itu juga.

*gambar dari sini

Saya termasuk ibu yang sering sekali menerima cerita teman yang panik saat anaknya terjatuh. Dan kini giliran saya … panik? Jelas.  Saya bahkan deg-degan sepanjang malam membayangkan betapa kaget dan sakitnya Tara saat terjatuh.  Karena ini adalah pengalaman pertama saya menangani bayi yang jatuh, keesokan harinya saya langsung berkonsultasi dengan DSA Tara, Dr. Rastra Sp.A – apakah perlu tindakan pemijatan khusus bayi sesegera mungkin (atas saran dari orangtua) dan bagaimana mengatasi bayi yang jatuh, lalu begini penjelasan beliau:

1. Periksa dulu apakah ada benjol di kepala, atau memar di sekujur badan. Jangan panik karena bayi yang jatuh dari tempat tidur, meskipun kepalanya terbentur, biasanya tidak berakibat buruk. Karena tulang kepala bayi masih cukup elastis, ubun-ubun belum menutup hingga perubahan tekanan tidak memberikan benturan yang keras pada otak

2. Observasi pergerakan anggota badan, apakah tetap aktif atau tidak

3. Observasi dilakukan selama 48 – 72 jam ke depan, jika bayi tetap aktif, tidak ada gejala tertentu seperti muntah atau cenderung lemas, Insya Allah baik-baik saja dan bayi akan pulih dengan sendirinya

4. Mengenai pijat bayi, kembali ke kehendak dan keinginan orangtua masing-masing, dalam hal ini kebetulan DSA Tara menyarankan untuk tidak dipijat.

Melalui Link ini dan ini, ada 2 hal yang perlu diperhatikan saat bayi jatuh, dan kapan bayi perlu segera dibawa ke rumah sakit:

1. Bayi langsung tidak sadarkan diri

2. Dalam waktu 24 jam, bayi menunjukkan gejala gegar otak, seperti muntah, terlihat mengantuk atau menjadi sangat rewel

3. Ada bagian tubuhnya yang lebam cukup parah

4. Jika pingsan, ada benjolan di kepala, sakit kepala atau muntah yang menetap, keluar cairan/ darah dari telinga atau hidung, adanya kelumpuhan di wajah atau ada kebutaan perlu pemeriksaan CT scan kepala

“Saat terjatuh, yang dikhawatirkan hanya dua. Pertama gegar otak. Kedua, penurunan kesadaran. Perhatikan saja dulu, apakah ada yang berbeda, apakah matanya juling, tangannya tidak bergerak sebelah, bisa saja tulangnya patah.Yang harus dipastikan adalah kesadaran, pastikan dia dalam kondisi sadar, kalau tidak apa-apa nanti dengan sendirinya dia akan pulih”

 

Pasca terjatuh - Tetap sehat dan ceria ya, Nak!

 

Setelah lewat 4 hari, saya beryukur Tara nggak menunjukkan gejala-gejala bahaya dari tubuhnya setelah terjatuh, badannya pun nggak panas, dan bisa bermain aktif seperti biasa. Tapi, atas saran orangtua saya (dan ibu mertua), saya lalu memanggil terapis pijat khusus bayi yang biasa menangani masalah seperti ini. Dari kejadian ini, saya belajar untuk lebih hati-hati saat menjaga Tara (walaupun dalam keadaan tidur sekalipun), nggak panik dan tetap tenang, plus mengingat langkah-langkah pertolongan pertama yang sudah disebutkan di atas.

Ya, walaupun ada juga, sih, bumbu mitos yang bilang, “Biasanya kalau sudah sekali jatuh, akan sering jatuh lagi.” Yang ini saya belum tahu kebenarannya, knock on wood.

Lalu apa langkah selanjutnya? Saya dan suami memikirkan cara untuk mengatur posisi tidur bertiga yang nyaman dan aman. Ada beberapa pilihan menurut rekomendasi beberapa teman:

1. Menurunkan posisi tempat tidur 1 level lebih rendah, menambahkan kasur lipat di bawah tempat tidur

2. Memanfaatkan bedrail

3. Orangtua tidur dengan posisi saling melintang

Mommies pernah punya pengalaman panik yang sama? Atau punya ide untuk “mengamankan” si kecil saat tidur? :)

 


15 Comments - Write a Comment

Post Comment