Mendidik Anak Di Era Digital

by: - Wednesday, October 3rd, 2012 at 4:00 pm

In: Event Parenting 16 responses

0 share

Tanggal 1 September 2012 lalu, kami datang ke Seminar Tetralogy-nya Supermoms yang bertemakan Tantangan Mendidik Anak di Era Digital. Ruangan di Jakarta Design Center pagi itu sudah ramai oleh sekitar 250 orangtua hebat. Kenapa saya bilang orangtua hebat? Bayangkan, Sabtu pagi, datang ke JDC untuk mendengarkan seminar. Langkah yang sangat tepat dan patut dihargai bagi para orangtua, karena orangtua, kan, nggak ada sekolahnya :)

Pembicara, Ibu Elly Risman, membuka seminar dengan berbagai data dan fakta mengejutkan seputar dunia digital dan anak-anak. Misalnya, huruf dan symbol beraneka rupa yang jika dibaca ternyata merupakan sebuah kalimat menyatakan kepuasan pasca berhubungan seksual (dan ini dikirimkan oleh anak SMP) atau hasil survei bahwa 85% dari responden yang terdiri dari anak usia kelas 4,5,6 SD sudah kecanduan konten pornografi.

Segitu bahayakah pornografi bagi anak-anak?

Pornografi menyerang otak bagian Pre Fontral Cortex (PFC). Bagian otak yang ini adalah tempat moral dan nilai yang bertanggung jawab untuk perencanaan masa depan, pengontrolan emosi, pengontrolan diri dan konsekuensi, serta pengambilan keputusan. Bagian otak ini akan matang di usia 25 tahun.

Nah, bayangkan jika konten pronografi sudah diekspos ke anak-anak kita?

“Ah, anak saya, kan, masih kecil, balita, mana ngerti?”

“Anak saya anteng kalau dikasih gadget

“Anak saya tertarik banget sama gadget, soalnya”

Ya, semakin berkembangnya zaman, memang kehadiran gadget memudahkan hidup kita. Tanpa sadar, terkadang pengasuhan anak juga kita serahkan ke gadget. Ngaku, nih, saya sering membiarkan Langit nonton TV sendiri sementara saya melakukan hal lain atau kasih handphone yang ada games ‘Fruit Ninja’ kalau saya sedang asyik nonton TV. Atau yang sejak hamil atau sambil menyusui, mantengi Twitter, mana suaranyaa..? :D

Nah, anak, kan, produk tiruan. Siapa yang ditiru? Ya, orang terdekatnya, dong. Siapa itu? Ya, orangtuanya. Jika sejak kecil anak melihat kita mesra sama gadget, nggak heran anak-anak juga lebih mesra sama gadget ketimbang sama kita.

Kalau sudah begini, siapa yang salah? Coba bertanya pada diri sendiri, siapa yang menyediakan koneksi internet di rumah? Siapa yang memutuskan berlangganan TV kabel di rumah? Hehehe *speechless*

Dari responden di atas, tempat anak melihat materi pornografi, 32% lihat di rumah sendiri, 16% bioskop, 12% warnet. Sisanya dari telepon selular sopir, rumah teman, dan jengjenggg … VCD punya mama dan bbm grup mama (!!!). Beware parents, menurut hemat saya, jika orangtua menyimpan atau memiliki konten pornografi, JANGAN  simpan atau dibawa ke rumah, deh. Seaman-amannya tempat penyimpanan, kita nggak pernah tahu, kan?

Ibu Elly Risman menunjukkan beberapa situs permainan anak, tapi ternyata mengandung konten pornografi. Entah itu di dalam games, atau tiba-tiba pop up iklan yang muncul. Sangat mengagetkan, lho, melihat isinya. Pastikan kita juga tahu apa games yang dimainkan anak. Jangan cuma lihat cover-nya (banyak sekali games yang jelas-jelas ada tanda 18+ atau M yaitu Mature, tapi dimainkan oleh anak-anak) tapi coba dampingi anak saat memainkannya. Contoh, nih, ya … ada games yang konon lagi hits di kalangan anak SD, judulnya ‘Rape Play’. Kebayang nggak isinya apa?

Lalu, bagaimana menetralkan jika anak-anak sudah kecanduan perangkat digital atau malah (amit-amit) pornografi?

  • Rumuskan ulang pola pengasuhan dengan pasangan. Menurut Ibu Elly, banyak sekali pasangan yang menikah, punya anak, tapi lupa merumuskan pola pengasuhan. Ini mengakibatkan tidak konsistennya peraturan dalam sebuah rumah sehingga banyak anak merasa bingung harus mengikuti ayah atau ibu.
  • Bedakan pola pengasuhan antara anak perempuan dan laki-laki. Anak laki-laki di atas usia 7 tahun butuh banyak waktu dengan ayah untuk mengenal dunia laki-laki. Sementara anak perempuan tetap butuh peran ayah, karena pelukan atau  penghargaan dari ayah akan membuat dirinya merasa berarti.
  • Jika anak sudah telanjur terekspos pada konten pornografi, jangan panik atau marah. Tanyakan anak apa penyebabnya, lalu minta maaf pada anak. Patut disadari, peran orangtua baik langsung atau tidak langsung pasti ada di sana. Jangan gengsi untuk minta maaf sama anak, ya :)

Pada intinya, anak membutuhkan validasi 3P: Penerimaan, Penghargaan, dan Pujian. Sudahkah kita melakukannya?

Sesi kedua dari seminar Tetralogy, nggak kalah seru dan mencengangkan, yaitu tentang Kekerasan Seksual Pada Anak. Nanti akan saya share di artikel yang berbeda, ya.

Ketinggalan seminar-seminar ini? Masih ada 2 sesi, lho! Yuk segera daftar, info lebih lengkap silakan ke sini.

O, ya, sepanjang seminar kami melakukan live tweet, silakan lihat kompilasinya di sini, ya.

Share this story:

Recommended for you:

16 thoughts on “Mendidik Anak Di Era Digital

  1. Pingback: Adisty
  2. Pingback: doni wahyudi
  3. Pingback: rittar rajagukguk
  4. Pingback: Vivit Dinarini
  5. Pingback: sulis
  6. Pingback: Mamap Aila
  7. Pingback: Amie
  8. Pingback: Papap Aila
  9. Pingback: Yuan Christian
  10. Pingback: endang dwi astuti

Leave a Reply