Memilih Alat Kontrasepsi

by: - Friday, September 28th, 2012 at 8:00 am

In: Health OBGYN 13 responses

0 share

Saya kenalan sama yang namanya “Alat Kontrasepsi” ini sewaktu duduk di bangku SMA. Ada penyuluhan soal seks dan ada bagian yang menyebutkan beberapa nama alat kontrasepsi. Waktu itu saya tidak terlalu memerhatikan. Infonya hanya masuk selewat saja.

Tiba-tiba teringat sama alat kontrasepsi waktu kontrol setelah melahirkan. Ob/Gyn saya menyarankan untuk memakai kontrasepsi dulu sebelum hamil anak kedua. Maksudnya agar ada jarak, supaya (kalaupun merasa mental siap) setidaknya fisik alias si rahim prima kembali. Sebelum memutuskan mau pake alat kontrasepsi apa, saya sempat mampir ke forum soal alat kontrasepsi. Ternyata rata-rata, perasaan dan penasarannya sama. Bahkan sampai ada thread khusus soal IUD atau spiral. Setelah membaca puluhan halaman, akhirnya saya menyiapkan pertanyaan untuk dr. Ridwan SpOG di Kemang Medical Care, Jakarta, sebelum berkontrasepsi ria.

Dokter, alat kontrasepsi sebetulnya apa saja, sih?

Secara umum dibagi menjadi :
a. kontrasepsi hormonal, misalnya pil kb, suntik kb, implan
b. kontrasepsi nonhormonal, misalnya kondom, iud, diafragma, kb alamiah, kontrasepsi mantap (vasektomi, tubektomi)

Apakah ada perbedaan dalam pemilihan alat kontrasepsi bagi yang belum pernah hamil dan yang sudah?

Untuk yang belum pernah hamil memang lebih dianjurkan memilih alat kontrasepsi  yang setelah berhenti digunakan maka kesuburan akan cepat terjadi. Misalnya kondom atau pil KB dan bukan suntik KB 3 bulanan (medroxyprogesterone)

Sebetulnya apa saja yang perlu dipertimbangkan ketika kita memilih alat kontrasepsi?

Pertama, tergantung kebutuhan, misalnya ada yg ingin hanya mencegah kehamilan tetapi ada juga yang juga ingin diproteksi terhadap penyakit menular seksual.

Kedua, tergantung penerimaan klien terhadap kontrasepsi, misalnya ada yang tidak bisa untuk menggunakan pil karena sering lupa atau tidak mau menggunakan IUD karena takut saat pemasangan IUD.

Ketiga, tergantung kondisi kesehatan, misalnya tidak diperbolehkan menggunakan pil kb kombinasi pada penderita penyakit hati dan stroke, dan lainnya.

Persoalan lain ketika memilih kontrasepsi adalah takut gendut dan jerawatan. Ini betul ada hubungannya, dok?

Kontrasepsi hormonal terutama suntik KB 3 bulanan (medroxyprogesterone) memang bisa (tetapi tidak selalu) menyebabkan kenaikan berat badan dan munculnya jerawat.

Oke, sekarang pertanyaannya mengerucut ke IUD, ya!

Banyak cerita ‘horor’ seputar IUD, dari mulai volume darah haid yang banyak sekali, jadwal haid yang jadi tidak teratur, sampai IUD yang sudah tidak utuh lagi ketika diambil (tadinya bentuk T, ketika diambil tinggal setengah bentuknya angka 7)?

Setiap alat kontrasepsi memiliki kelebihan dan kekurangan, salah satu efek yang kurang diinginkan dari IUD adalah haid menjadi lebih lama dan lebih banyak, kadang bisa terjadi intermenstrual bleeding (menstruasi di luar siklus). Tetapi hal tersebut tidak selalu muncul dan kadang hanya muncul di awal penggunaan saja.

Kemungkinan terjadinya kesulitan saat pencabutan IUD sangat jarang terjadi apabila posisi IUD baik. Karena itu sangat dianjurkan untuk melakukan kontrol rutin selama penggunaan IUD.

Kalau pakai IUD, tidak boleh dipijat bagian perut?
Tidak ada pantangan pada pengguna IUD, jadi seluruh aktivitas dapat dilakukan seperti biasa.

Banyak yang takut ketika proses pasang IUD, bahkan ada yang sampai meminta anastesi. Sebetulnya prosedur pemasangan IUD seperti apa, dok? Dan normalnya sakit atau tidak? Benar harus pakai anastesi?

Pemasangan IUD tidak memerlukan pembiusan karena prosesnya cepat dan tidak nyeri, yang sering terjadi adalah klien terlalu tegang karena mendengar cerita yang tidak benar mengenai proses pemasangan IUD sehingga otot vaginanya menjadi kaku sehingga akan menyulitkan proses pemasangan IUD.

Ada juga yang bilang setelah pasang IUD, suaminya banyak yang protes, ini apa sebabnya? Dan bagaimana solusinya?

Pada pemasangan IUD memang terdapat benang di mulut rahim, tetapi benang tersebut sangat tipis sehingga sangat kecil kemungkinan suami akan merasakan adanya benang tersebut dalam vagina. Benang tersebut bertujuan memudahkan proses pencabutan IUD dan klien dapat melakukan kontrol dengan meraba benang tersebut dalam vagina.

Di mana sebaiknya kita memasang alat kontrasepsi?
Dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih, baik di bidan, dokter umum, maupun dokter spesialis kandungan.

Ada kiat dari dokter seputar pemilihan alat kontrasepsi?
Sebaiknya berkonsultasi dengan tenaga kesehatan  dan membaca dari sumber terpercaya untuk menambah wawasan tentang kontrasepsi sebelum menentukan alat kontrasepsi yang diinginkan.

Nah, lumayan menjelaskan, kan, Mommies? Pengalaman saya sendiri ketika pasang IUD 6 bulan lalu, sih, tidak terasa sakit atau apa pun, dan tidak memakai anastesi sama sekali. Menstruasi datang teratur (setelah flek 2 bulan pertama setelah pemasangan) dengan volume yang memang lebih banyak dari biasanya. Satu lagi, jangan malas atau takut kontrol. Jika tidak ada rasa nyeri atau protes dari suami soal IUD ini, biasanya hanya dilakukan USG abdominal, jadi tidak dilakukan periksa dalam.

Jadi kalau selama ini masih merasa ragu (dan takut) soal pemilihan kontrasepsi, mudah-mudahan penjelasan di atas cukup membuat tenang. Yuk, pilih alat kontrasepsinya!

*Gambar dari sini dan sini

Dimana sebaiknya kita memasang alat kontrasepsi?
dapat dilakukan oleh tenaga kesehatan yang sudah terlatih , baik di bidan, dokter umum maupun dokter spesialis kandungan

Share this story:

Recommended for you:

13 thoughts on “Memilih Alat Kontrasepsi

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: vina_nf
  3. Pingback: Kinanti.P.Harahap
  4. Pingback: lita iqtianti
  5. Pingback: maretha
  6. Pingback: Sazkia Ghazi
  7. Pingback: Primadika Agustina
  8. Pingback: Eka Kusumawati
  9. Huih, gue pake IUD dong, 40 hari abis brojol langsung cus! Waktu itu sih ga terlalu takut,krn lebih takut hamil lagi dalam waktu yg singkat (secara subur bok), nah bentar lagi waktunya ganti nih, baru dah deg2an :))

  10. Pingback: Mommies Daily
  11. Pingback: Tiya Oktafiyani
  12. Saya pake spiral sudah hampir setahun setelah anak kedua lahir.rasanya……biasa aja…..ngga sakit,kalau orang bilang pada saat berhubungan terasa sakit baik kita atau suami..saya rasa ngga tuh.biasa juga..he..he..yang penting pada saat pasang spiralnya ngga boleh tegang.coba ngobrol2 kecil sama dokternya.pada awalnya memang mensnya banyak tapi lama – lama normal kembali..flek ngga ada.jadi jangan takut deh.kalau saya sih yang aman kb ini.karena disaya ngga pengaruh di kulit,ngga gemuk,ngga sibuk mikirin jadwal harus makan pil,suntik kb dll gitu dehhhh

Leave a Reply