Our RUM Journey

Saya mengisi kehamilan dengan mengikuti 5 milis: 2 milis majalah which lead me to milis ASI & milis MPASI. Milis MPASI ini menggiring aku ke milis kesehatan. Dengan disambi kerjaan, aku mempelajari sedikit hal di sana sini. Yang paling ngelotok awalnya, ya, mengenai ASI, pastinya. Lalu mengenai MPASI. Jadi dari sejak bayi saya blm lahir pun, saya sudah mulai merencanakan mengenai MPASI awalnya. Hahaha! Dilanjutkan mengenai kesehatan. Yang membuat saya lebih membuka mata dan sadar bahwa kesehatan adalah tanggung jawab masing-masing individu, bukan nakes semisal dokter, bidan atau perawat.

Saya mulai merapal mantra-mantra yg ada. Bahwa segala penyakit yang disebabkan oleh virus tidak ada obatnya, karena merupakan self limiting disease. Bahwa batuk, pilek, demam, diare, muntah bukan merupakan penyakit, melainkan gejala. Bahwa penyakit itu ada diagnosa masing-masing & kita harus paham dasar-dasarnya, alias common problem semisal ISPA atau GASTROENTRITIS, berikut tata laksananya. Bahwa antibiotik bukan pill for every ill. Namun di sisi lain, we must have antibiotics.

Batpil pertama Talita adalah pada saat usia 3 bulan, tertular anak Bude. Saya hanya gempur dengan ASI, ASI, dan ASI. Alhamdulillah, gak butuh waktu lama. Dan saya pun berpikir, pastinya ilmu ini gak hanya untuk bayi dong. Pastinya untuk dewasa berlaku hal yang sama. Saya diberi kesempatan trial sama Allah. Pas Talita 5 bulan, dia batpil lagi sebentar dan saya langsung tertular. Langsung ambil cuti, perbanyak asupan cairan dan istirahat. Alhamdulillah, it works! Hanya 4 hari selesai. Sebenernya 3 hari juga udah oke, sih, tapi manja. Hehehe.

Sebagai perbandingan, dulu mah saya sedikit-sedikit minum obat. Batpil sedikit pasti langsung tenggak Amox. Kalau ingat, jadi malu sendiri. Hahaha!

Cobaan berikutnya adalah demam. Singkatnya, demam merupakan alert bahwa sedang terjadi infeksi di dalam tubuh. Bukan demamnya yang harus dikhawatirkan. Talita 7 bulan, demam tanpa sebab. Total 2 minggu on-off. Ternyata, oh, ternyata, kelihatan, deh. Ada satu titik putih kecil di gusi bawah, tempat lokasi gigi seri berada. Walaupun si gigi ini akhirnya baru tumbuh di usia 15 bulan. Haha.

Selanjutnya. Di 10 bulan, demam lagi. Gak tanggung-tanggung, sampai 40 derajat. Kasih parset. Bingung resah gelisah bercampur jadi satu. Alhamdulillah, tepat di hari keempat … keluar ruam dari punggung ke kaki, ke tangan, dan ke wajah. Wah, Roseola toh. Ke dokter untuk menegakkan diagnosa. Alhamdulillah DSA-nya dokter muda gondrong dengan tas dicangklong di paha dengan bawaan motor, walaupun tidak menganut RUM 100% . Beliau menegaskan bahwa ini Roseola, karena virus, dan tidak butuh obat-obatan. Cukup perbanyak asupan cairan. ASI, ASI, dan ASI. Siiippp, Dok.

Masih berlanjut. Saat usia 15 bulan, Talita diare. Tahulah kalau tata laksananya hanya ORS dan cairan. Di hari ketiga, poop-nya ada darah. Panik, langsung cek lab saja. Di lab RS, diminta surat keterangan dari dokter. Saya bilang tidak ada. Buat apa bawa Talita ke sini kalau hanya untuk minta surat keterangan dokter. Agak emosi, soalnya panik. Saya bilang, saya bayar! Akhirnya feses Talita dicek. Sembari menunggu hasil (yang sejam kemudian keluar), baru saya minta Mama untuk bawa Talita. Ada perawat yang tanya apakah saya bekerja di bidang kesehatan. Saya cuma tersenyum dan jawab, “Tidak, kok, cuma kalau harus bawa anak saya ke sini lalu tahu akhirnya harus tes lab juga, buat apa? Kasihan anak harus tunggu lama. Kalau sekarang kan tinggal tunggu hasil saja.” Akhirnya, ya, hanya luka di fissure anal saja. Saya saja yang sok panik sampai tidak sempat observasi darahnya seperti apa.

Saat usia 19 bulan, Talita demam lagi dan penyebabnya tidak jelas. Dalam sebulan 3 kali demam, tiap akhir minggu. Angka tertinggi ada di 39.5 derajat. Diagnosa dari si emak: kangen sama Andung yang lagi naik haji. Haha.

Target selanjutnya adalah berusaha untuk me-RUM-kan si Ayah & si Andung (Mamaku). Soalnya pada susah banget disuruh minum air kalau lagi pada sakit nih. Harus tetap semangat!


8 Comments - Write a Comment

  1. Salam kenal moms,saya nubi nih..soal RUM jg jd concern terbesar saya,apalagi saya membesarkan anak ditengah keluarga suami (mertua) yg seperti kebanyakan orgtua jaman dulu yg menganut pikiran ‘kalo sakit ya ke dokter’..kebetulan DSA saya termasuk yg sealiran dgn saya dan suami,beliau gak pernah gampang kasi resep,apalagi kalo cuma batpil,,cuma disuruh banyakin ASI dan jemur sinar matahari,that’s it! Sementara mertua saya seringkali memandang sinis seolah2 saya bukan ibu yg baik ngebiarin anak pilek ampe meler2.’Kenapa gak ke dokter?kan nanti dikasi obat?kasian anak pilek gitu dibiarin aja’ *doeengg .perjuangan banget deh pokoknya..untung mantunya tambeng hehehhee

    Bersyukur suami selalu mendukung,apa dan gimanapun susahnya jgn menyerah utk selalu belajar dan cari info sebanyak2nya *yg terpercaya tentunyaa seperti kata mba lita :)

Post Comment