Ayahku Si Kakek ASI

Jika biasanya yang betah ngemong cucu adalah para nenek, tidak demikian yang terjadi dengan orangtua saya. Dibanding Mama, Ayah saya justru jauuuh lebih ngemong pada cucunya.

Mulai dari menjemur tiap pagi, memandikan, menidurkan, mencuci popok, bahkan nyebokin setelah BAB (!),semua Ayah yang melakukannya seorang diri. Ya, sesekali dibantu Mama juga, tapi tetap saja mayoritasnya Ayah. Sudah gitu, Ayah ngotot pula tidak mau pakai ART atau babysitter, katanya semua masih bisa di-handle.

Asyik, ya? Bukan hanya suami yang bisa diandalkan (seperti pernah saya tulis di artikel Kursus Merawat Bayi dan Suamiku Koki Andal), Ayah saya pun setipe. Jadi jika seorang psikolog ternama pernah bilang bahwa Indonesia adalah fatherless country, sepertinya kondisi itu tidak berlaku pada anak-anak saya :D

Wajar saja jika Ayah super-ngemong. Ayah memang sudah sejak lama ingin punya cucu (bahkan sejak saya kuliah, saat frekuensi gonta-ganti pacar masih lebih sering daripada frekuensi mengubah gaya rambut, hihihi).

“Dulu, waktu kamu masih pada kecil, Ayah nggak mengikuti langsung perkembangan kamu semua karena sibuk kerja. Makanya ke cucu, Ayah mau menikmati perkembangannya tahap demi tahap, mau coba urus sendiri, mumpung masih sehat dan ada umur,” kata Ayah. Ah, alasan yang sempat membuat saya terharu :’)

Berhubung di Jakarta kami menumpang di rumah Ayah-Mama, jadinya klop, deh. Saya tidak perlu khawatir bila meninggalkan Rakata ngantor, karena berada di pengawasan yang tepat.

Satu-satunya yang menjadi ganjalan adalah: Ayah bukan orang yang terbiasa dengan ASI. Seperti orang seusianya yang telah ‘terdoktrin’ kampanye susu formula, Ayah dengan entengnya bilang, “Sudah, tidak usah maksa. Nanti kalau memang ASI-nya kurang, beli susu formula X, ya, itu merek paling bagus.” Dueeeng …. Padahal, saya ingin memberi ASI hingga dua tahun. Ya, salah saya juga, sih. Sebulan menjelang cuti melahirkan berakhir, saya baru nyetok tiga botol ASIP di freezer. Kurang meyakinkan, ya :D

Tapi setelah saya menyetok cukup banyak, Ayah terlihat mulai optimis dan bersemangat mempelajari manajemen ASIP. Sesekali Ayah berlatih dengan meminjam Rakata untuk tidur di kamarnya sepanjang malam. Sukses! Rakata dengan mudahnya minum ASIP tanpa perlawanan.

Jadilah, saat saya mulai ngantor, tugas ‘menyusui’ Rakata berada di tangan Ayah, dan beliau resmi menyandang gelar ‘Kakek ASI’ (kalau ayah ASI, mah, tidak terlalu membanggakan lagi, ya, karena sudah banyak, hihihi).

Lucunya, setelah jadi ‘Kakek ASI’, Ayah memperlakukan saya seperti masa ABG dulu: hobi memarahi jika saya pulang telat dan lupa mengabari. Bedanya, jika dulu saya dimarahi karena Ayah khawatir keselamatan saya, sekarang saya dimarahi karena Ayah jadi telat memanaskan ASIP sehingga Rakata keburu cranky :D

Status ‘Kakek ASI’ pada Ayah tidak berhenti sampai Rakata saja. Saat Rakata berusia 15 bulan dan sudah menolak ASIP, Ayah mendapat cucu kedua, Adia. Saat itu adik saya dan istrinya masih tinggal di rumah Ayah juga, sehingga pemberian ASIP Adia pun ditangani Ayah, meski saat itu sudah ada ART yang membantu.

Tidak lama kemudian, adik saya dan istrinya pindah ke rumah yang baru mereka beli. Otomatis, frekuensi Ayah ‘menyusui’ Adia sudah tidak seintens sebelumnya. Tapi, tidak lama kemudian, anak kedua saya, Ranaka, lahir :D

Hingga Ranaka berusia 11 bulan, Ayah kembali bertugas ‘menyusui’ karena saya masih ngantor, hingga akhirnya resign dan memboyong Rakata-Ranaka pindah ke Semarang mengikuti suami.

Lalu apakah tugas Ayah sebagai ‘Kakek ASI’ berakhir setelah semua cucunya pergi dari rumahnya? Oh, tentu tidak. Sebulan setelah saya pindah ke Semarang, Ayah langsung ‘diimpor’ ke Melbourne oleh kakak saya untuk liburan sekaligus ‘menyusui’ Sean, cucu keempat Ayah :D

Meski Sean lahir Januari 2012, Ayah memang baru bertugas ‘menyusui’ di bulan Agustus ini, karena di Melbourne sana kakak saya mendapat jatah cuti melahirkan selama tujuh bulan. Iya, t.u.j.u.h b.u.l.a.n. Tiga bulan pertama digaji perusahaan, empat bulan berikutnya digaji pemerintah. Bikin iri, ya….

Eniwey, total sudah tiga tahun lebih Ayah jadi ‘Kakek ASI’. Kadang saya jadi mikir, ini memang Ayah yang senang jadi ‘Kakek ASI’, atau kami para anaknya terlalu memanfaatkan beliau, ya? Hihihi… But anyway, we are so lucky to have a dad like him! Love you, Ayah!

 


28 Comments - Write a Comment

  1. papaku juga kakek ASI..
    kalo dateng kerumah papa, pasti tu kulkas udah dikosongin khusus buat tabungan asi..
    dirumah juga paling cerewet kl dateng sodara2 n kebetulan mau nitip eskrim di frezeer, langsung deh satpamnya protes..
    salut sama kakek kakek asi :D

Post Comment