Libur Sehari Jadi Ibu

Minggu lalu saya nonton konser, bukan hanya 1 tapi 2 konser berurutan. Jadilah 2 malam itu saya pulang larut dan sampai rumah Langit sudah tidur :( Egois sekali, ya, kedengarannya, meninggalkan anak hanya untuk nonton konser, 2 hari berturut-turut pula! Saya kasih alibi, boleh, ya? Yang pertama konser Morrissey, kebetulan saya suka sama penyanyi ini sejak tahun 90-an. Dan Moz (sapaannya) bukan tipe penyanyi yang hits banget jadi bisa ke Indonesia kapan saja. Wajar rasanya, lebih dari 10 tahun penantian saya terhadap Morrissey akhirnya terjawab pas sudah jadi ibu-ibu. Kedua konser Slank. Oke, ini band yang bisa ditonton kapan saja. Kebetulan band ini favorit saya dan suami, awalnya kami mau menonton berdua seperti kakak saya waktu nonton konser Roxette berdua suaminya, eh, pas dekat-dekat waktu konser, suami malah tugas luar kota.

*Affi, Amalia dan Saya di Konser Morrissey Jakarta

*Mejeng di depan giant banner

*Konser I Slank U, Jumat malam yang keren banget

Walaupun anak saya sudah cukup besar, 4 tahun, tapi mendapati anak yang sudah tidur dan dikeloni sama orang lain tetap menimbulkan rasa kesal (walaupun kalau sampai rumah anak belum tidur capek juga, ya, serba salah. Haha).

Menjadi ibu, mau tidak mau ada kegiatan untuk diri sendiri yang dikurangi. Contohnya saya, sebelum menikah, saya rutin olahraga biliar (biliar kok, olahraga, hehehe), nonton konser atau sekedar pertunjukan musik dan ke bioskop. Setelah menikah, saya langsung hamil, predikat ibu-ibu pun segera melekat dalam diri saya bahkan sebelum setahun usia pernikahan.

Setelah punya anak, pemberian ASI eksklusif membuat saya (yang kebetulan nggak dilimpahi ASI beratus-ratus mililiter per hari ini) harus pulang sesegera mungkin dari kantor. Weekend? Saatnya menyusui langsung dari gentongnya karena nggak mau ASIP yang dikumpulin selama weekdays terpakai. Rugi, bok!

Pasca menyapih Langit, apakah hidup saya lebih tenang? Bisa pulang malam? Oh tentu tidak, semakin besar anak, saya menyadari bahwa anak butuh kita secara psikis. Pengenalan kata, menamakan emosi seperti ajaran Ibu Elly Risman di Tekhnik Komunikasi Dengan Anak, masa-masa penanaman displin, dan lain sebagainya. Kalau selama ASI, Langit butuh saya secara fisik karena menyusu, maka setelah 2 tahun, perkembangan anak biasanya pesat sekali. Rugi rasanya kalau masa-masa keemasan Langit atau hal-hal kecil disaksikan atau ia lalui bersama orang lain.

Teruuus, kapan waktu untuk diri sendiri doong? Kalau hanya sekedar baca buku atau novel favorit, nonton DVD, browsing, atau ngobrol di forum, siih, bisa kapan saja, ya. Tapi saya pribadi butuh sosialisasi di dunia nyata (selain dunia kantor) dengan orang dewasa lainnya tanpa harus ngomongin dunia ibu-ibu. Beruntung saya punya suami yang cukup mengerti jika saya ingin sekedar kongkow tanpa anak dengan sahabat-sahabat yang single. Beruntung saya punya orangtua sekota, yang bisa dan malah girang kalau dititipi cucunya.

Lalu, apa dengan keberuntungan itu mengurangi rasa bersalah saya saat sampai rumah dan mendapati Langit sudah tidur di pelukan suami, papa atau mama saya? Ternyata tidak, saudara-saudara! Menjadi ibu rupanya akrab sekali dengan rasa bersalah, ya? Hiks.

Tapi saya juga menyadari, sih, kalau saya nggak punya waktu untuk diri sendiri (selain kerja), mungkin saya bisa ‘setengah gila’. Hahaha … waktu untuk diri sendiri, menikmati hal yang saya sukai waktu belum menjadi istri dan ibu sangat penting, lho! Ini merupakan salah satu cara saya supaya bisa maintain identitas saya sebagai Maulita Iqtianti, bukan sebagai istri dari Gunari Utama atau ibu dari Langit Kilau Pelangi.

Jadi pecayalah, Mommies, pergi ke konser, liburan tanpa anak, nyalon atau spa seharian, dan sebagainya itu nggak dosa kok. Menjadi ibu, kan, profesi 24 jam, di mana kita nggak bisa resign. Nah, libur sehari saja, boleh, kan?


49 Comments - Write a Comment

  1. Absolutely agree mbak… Kita tetep butuh keep our single identity.. Kalo buatku, itu sama artinya dgn menjaga diriku tetep hidup dan ‘ada’…

    Walopun gak bisa boong sih, rasa bersalah pastiiiiiii mampir.. Kayak kemarin aja ninggalin Lana buat kencan nonton The Avengers berdua suami, kok rasanya bersalah banget.. Pdhal cuma 2 jam.. -_-

    Cuma kalo aq balikin lagi..happy mommy, happy kid, insyaallah.. ^^

  2. Sayah mau potong rambut pleus krimbat hari ini jugak!
    Ada rencana ambil membership gym juga tp masi nego2 waktunya ama suami. InsyaAllah klo jd jalan jg bs dipake me-time sambil exercise. Doakan sayaaa! Mak Nara ikut yuukk

    Soal nonton, malah rencana suruh D0 alias bapaknya the Ds bawa D123 nonton, jd sayah tgl ama d4 doang nongkrong2 di jco ato foodcourt :D

  3. Paling banter ke salon doank 3 jam-an.. Nonton bioskop sampe Tangguh setaun aja belom pernah… :(

    Klo boleh sekali aja “ngabur” dr aktivitas “ibu”, pengen nonton bareng Liga Champion besok malem.. Sayang, suamiku bukan gibol kyk diriku dan sepertinya aktivitas “nenenene” di malam hari tak bisa digantikan.. :D, sabar.. sabar..

  4. Wowww!!! Keren banget deh, Mba Lita bs nonton konser 2hr berturut2!!!

    “Ini merupakan salah satu cara saya supaya bisa maintain identitas saya sebagai Maulita Iqtianti, bukan sebagai istri dari Gunari Utama atau ibu dari Langit Kilau Pelangi”

    Setuju bgt sama pernyataan itu. Qta tetep perlu waktu khusus u/ tetap me’maintain identitas qta sbg seorg individu, lepas dr segala atribut yg melekat pd diri qta…

    Klo nonton konser sie aku nda ya (emg bkn penggila konser :D), tp sesekali movie-date dan dinner-date bareng misua, atau bahkan hang-out sama temen2 yg msh single.

    Dan ku’pikir justru wajar ya klo rasa bersalah masih menghantui qta klo qta berkegiatan tanpa anak… Itu artinya qta adalah emak yg msh waras :D

Post Comment