Bermain Sambil Belajar Dengan Flash Card

Saya lupa kapan persisnya mengenalkan Langit pada huruf, tapi yang pasti, flash card yang kami miliki ini bukan beli, melainkan hadiah dari salah satu majalah anak.

Punya anak yang pintar dan bisa membaca atau mengenal huruf sejak kecil, pasti membanggakan, ya. Apalagi setelah membaca pengalaman Mike di mana anaknya, Dante, sudah bisa membaca saat usia 2 tahun! Wuih, kalau saya ibu yang kompetitif, pasti akan segera memberikan Langit les membaca, deh! Haha.

Tapi beruntung, saya sering mengikuti berbagai seminar yang mengingatkan terus menerus, bahwa balita adalah usia anak untuk bermain dan bermain. Makanya, begitu di awal memiliki flash card ini, sih, Langit hanya tertarik untuk bermain saja, ya nggak masalah. Misalnya, kartu-kartu ini malah sering kami jadikan rumah-rumahan.

Lama sekali flash card ini nggak terpakai sesuai fungsinya. Lihat saja tuh kartunya sudah pada lecek, hehe. Langit malah banyak menghapal bentuk alfabet melalui huruf-huruf di kaus yang sering saya kenakan. Belakangan ini, setelah ia bisa mengenal dan menyusun huruf sendiri menjadi sebuah kata, ia baru menunjukkan ketertarikan menggunakan flash card sesuai fungsinya.

Trik untuk Mommies yang ingin anaknya belajar mengenal huruf:

  • Jangan paksakan anak untuk melakukan sesuatu hal. Kita saja nggak suka kalau dipaksa, kan? Biarkan anak belajar mengenal huruf saat ia mau.
  • Mengenal huruf tak hanya lewat benda khusus untuk belajar. Contohnya, ya, Langit itu. Justru bisa mengenal huruf karena melihat huruf-huruf yang ada di kaos yang sering saya pakai.
  • Jika memang merasa anak sudah waktunya untuk belajar membaca atau mengenal huruf, jangan buat situasinya seperti belajar. Manfaatkan waktu bermain sambil belajar, misalnya saat menumpuk kartu menjadi rumah-rumahan, sambil lalu saya akan bilang, “Langit, tolong ambilin huruf R untuk tingkat rumahnya, dong”, atau “Atap rumahnya, kita ambil dari nama Langit, ya, berarti hurufnya apa saja?”, dan seterusnya.
  • Pengenalan huruf juga terasa lebih mudah dengan mengasosiasikan terhadap benda. Misalnya, A untuk Ayam, B untuk Burung, dan seterusnya. Makanya gambar di flashcard umumnya dikelompokkan seperti binatang, buah-buahan, dll.

Flash card diperkenalkan oleh Glenn Doman, dokter ahli bedah otak dari Philadelphia, Pennsylvania. Flash card ditujukan untuk mendayagunakan kemampuan otak kanan anak mengingat.

Banyak pro dan kontra di awal kehadiran flash card. Kalau saya, sih, selama tidak membahayakan dan ada yang bisa diambil manfaatnya, kenapa nggak? Yang pentiiiing, jangan memaksakan jika anak memang belum mau, ya, Mommies! Selamat bermain sambil belajar :)

 


20 Comments - Write a Comment

Post Comment