Three Magic Words

“Your attitude, not your aptitude, will determine your altitude.” (Zig Ziglar)

Pasti Mommies setuju, ya, bahwa harkat kita sebagai manusia nggak semata ditentukan oleh kecerdasan, tapi juga dipengaruhi oleh sikap dan tingkah laku dalam kehidupan sosial.

Tentu saja, sebagai ‘guru’ pertama bagi anak, (lagi-lagi) merupakan tugas kita untuk mengajarkan etika, termasuk etika dalam berkomunikasi. ‘Magic words’ alias tiga kata sakti—terima kasih, maaf, dan tolong—sudah tentu harus diajarkan pada anak sejak dini, bahkan sebelum anak bisa berbicara.


Tapiii, berhubung yang diajarin anak kecil, di mana tuntutan etika pada mereka masih berbeda dengan orang dewasa, ngajarinnya juga nggak perlu terlalu ‘keras’, kali, ya. Dari sekian artikel psikologi yang pernah saya baca, ada beberapa ‘aturan’ mengenai pengajaran ‘magic words’ pada anak. Berikut yang saya ingat:

  • Jadi Teladan Anak belajar dengan meniru dan mengamati. Jadi, tidak usah berharap anak akan punya etika jika kita sendiri jarang menggunakan kata tolong, maaf, dan terima kasih. Contoh sederhana misalnya ketika anak membuang bungkus makanan ke tempat sampah, kita ucapkan terima kasih. Atau pas tidak sengaja menyenggol anak, kita meminta maaf. Pastikan anak sering mendengar kita mengucapkan kata-kata tersebut, sehingga anak terbiasa dan mengikuti.
  • Jangan Memaksa. Dulu, saya sering tidak menuruti permintaan Rakata jika toddler ini ‘lupa’ menggunakan kata tolong saat meminta bantuan. Memang, sih, cukup ampuh membuatnya mengulangi permintaan. Tapi tidak jarang juga jika mood-nya lagi jelek, Rakata malah nangis karena saya tidak menolongnya :D Belakangan, baru saya sadari bahwa cara ini salah. Paksaan merupakan hal yang tidak menyenangkan. Apapun yang menimbulkan perasaan tidak menyenangkan, pasti akan malas diulangi, bukan? Sekarang, jika Rakata ‘lupa’ menggunakan kata tolong, paling saya hanya mengoreksinya. Dan sepertinya, cara yang kedua jauh lebih efektif.
  • Tidak Mempermalukan Anak. Misalnya, menghardik anak di depan umum karena tidak mengucapkan terima kasih saat diberi permen oleh seorang kenalan. Betul, niat kita memang baik, yaitu mengingatkan anak. Tapi karena dilakukan di depan umum, katanya, sih, anak akan merasa seperti ‘disidang’. Seandainya mau menegur pun, gunakan cara halus, seperti, “Raka, kok, nggak bilang makasih? Kan, udah dikasih permen sama Tante Eka?” Tentu lebih enak didengar, ya, daripada, “Heh, ayo mana makasihnya?! Masa dikasih permen tapi nggak bilang apa-apa?! Nanti permennya diambil lagi, lho!” :D
  • Tidak Pilih Kasta. Interaksi kita dengan penghuni rumah, seperti ART dan babysitter, merupakan sarana yang sangat baik untuk memberi teladan tentang pentingnya menghargai orang. Saya yakin, kok, Mommies di sini pasti juga membiasakan anaknya untuk mengucap tolong dan terima kasih saat meminta bantuan si mbak, kan? Jangan sampai, mentang-mentang si mbak ‘hidup’ dari gaji yang kita berikan, kita jadi memperlakukannya tanpa rasa hormat dan malah ditiru anak.

Btw, selain maaf, tolong, dan terima kasih, ada satu ‘magic words’ lagi yang saya rasa cukup penting untuk diajarkan, yaitu kata permisi. Misalnya, saat anak harus melewati orang lain yang duduk di posisi lebih rendah. Atau, saat memasuki rumah atau kamar orang. Anak harus diajarkan bahwa orang lain memiliki privasi yang harus dihargai.

Syukurnya, sudah tiga bulan terakhir, Rakata nggak pernah asal nyelonong lagi masuk ke kamar saya dan suami. Setiap di depan pintu, dia selalu meneriakkan salam dulu, “Lammuaikum!” yang maksudnya assalammualaikum dan baru akan masuk setelah diperbolehkan:D
Ya, ‘magic words’ memang tidak sulit diucapkan. Hanya saja, kadang berat (atau lupa) dipraktikkan, Saya sendiri kadang masih suka khilaf, kok, he he he.

*foto diambil dari http://im-sorry-letters.com/love-letter-saying-sorry/


23 Comments - Write a Comment

  1. Aw… artikel yang penting tp ringan dibaca.. Luph it!
    Aku dan misua juga mulai aware banget dan berhati2 dalam berkata didepan danny-boy (mesti usianya belum genap 9 bulan) soalnya menurutku, u/ bisa mengajari anak, bapak-emaknya kudu udah terbiasa dulu dgn hal2 baik itu ^___^. Bener kata ameeel… kudu jadi teladan dulu, jangan cuma omdo ke anak :)

  2. artikelnya bagussss!! jujur aja dulu saya termasuk cuek sama hal2 kayak gini tapi, semenjak pacaran *uhuk* sama suami yang notabene besar di keluarga yang jawa banget dia pelan2 ngarahin saya untuk g pernah lupa bilang ‘tolong, maaf, permisi, dan terima kasih’ dan dia berhasiiill. sekarang nara g terlalu sulit diarahin sama kami untuk selalu berkata ‘tolong, maaf, terima kasih, dan permisi’ karena sehari2nya dia ngeliat kami selalu menggunakan kata2 tersebut.. :)

  3. Good article. Hal yg sudah sangat umum tapi masih suka kelupaan ya. Maaf, terima kasih, tolong.

    Gue sih belum punya anak, tapi sering sekali discuss sm suami tentang bagaimana temen2 kita mendidik anaknya. Okay, sbnrnya mungkin ga pantas tapi gimana dong, can’t help :)). Banyak temen2 yang kita kagumi cara mendidik anaknya. Bikin salutlah. Tapi ada beberapa yang membuat kita berpikir dan belajar. Ya jadi catatan kecil lah spy kalo suatu saat kita dikasih kepercayaan punya anak, ya kita tdk melakukannya.

    Gue setuju banget , walaupun gunanya memberitahu hal yang baik spt sopan santun, kita ga boleh bentak anak di depan umum even itu di lingkungan yang sebenarnya dia sudah sangat familiar. Misalnya arisan keluarga, arisan temen orang tua nya. Kasian juga kalo liat anak temen yg shock n panik mukanya kalo dibentak ibunya di depan kita2. Tapi saya juga gemas sekali kalo ada orang tua yg membiarkan saja anaknya berbuat kenakalan, ntah ke sesama anak atau bahkan ke teman orang tua nya tapi tidak bilang maaf. Lebih parah, si orang tua pun tidak meminta maaf on behalf their children. Mereka menganggap, ya namanya anak kecil, wajar dong nakal. Anak kecil nakal memang sangat dimaklumi, tapi orang tua ikut2an “nakal”? Ihhh ngeselin ya hahaha. Ya bisa ditebakkan bagaimana anaknya mau menggunakan 3 kata sederhana ini kalo org tuanya sendiri aja ga mempraktekan.

    1. setujuuuuuu… menurut gw, kalo anak nggak minta maap, udah tugas kita sebagai orangtua untuk meminta maap atas nama anak… apalagi kalo anaknya pun juga masih kecil dan belom lancar amat ngomongnya… at least dari situ anak belajar tentang kebiasaan minta maap :)

      daaannn, sepertinya bukan soal ‘three magic words’ aja ya ortu mesti jadi teladan… mungkin hampir di segala aspek… menurut gw, hal-hal yang percuma itu:
      – percuma nyuruh anak disiplin, tapi ortu suka nyontohin tindakan nggak disiplin (misalnya: naek motor bertiga, naik motor tanpa helm, buang sampah sembarangan, nyebrang sembarangan, nerobos lampu merah, dll)
      – percuma nyuruh anak untuk menghormati hak orang, tapi ortu nyontohin tindakan nggak menghormati orang (misalnya merokok di tempat umum, meludah sembarangan, dll)
      – percuma nyuruh anak suka makan sehat, tapi ortu sendiri makannya nggak sehat (doyan gorengan, males sayur, doyan kulit ayam, tetelan, santen, jeroan, dll)

      hadeehhhh… kok jadi pening sendiri saya -__-

Post Comment