Menjadi Ibu Antar Kota Antar Propinsi

Setelah berhasil melewati 3 minggu dengan adegan drama yang tidak terlalu dominan, akhirnya saya bisa duduk manis menuliskan boyongan Sophie ke Purwokerto. Sama sekali bukan hal yang menyenangkan untuk dilakukan, tetapi for a greater good we do this.

Setelah melalui pemikiran yang panjaaaaang, kami memutuskan Sophie tinggal bersama suami di Purwokerto. Awalnya saya menolak ide itu, tapi setelah mulai masuk lab bulan Maret kemarin, saya mulai berubah pikiran. Saya yang mahasiswa paruh waktu, Senin sampai Jumat pukul 08,00 -16.00, dengan tambahan satu tanggung jawab di lab itu sulit untuk bisa mengasuh Sophie dengan optimal. Saya tidak bisa membagi waktu. Harus menjemput Sophie tepat waktu di TPA, menyiapkan makanan dan pakaiannya, menemaninya bermain, sambil menyisipkan jadwal nge-lab dan semua persiapannya di antara jadwal kuliah rasanya, kok, susah sekali. Belum lagi Sophie mengalami pergeseran jam tidur, praktis setelah jam 10 malam saya baru bisa memasak endebre endebre. Intinya adalah saya tidak bisa me-manage semuanya dengan baik. Saya kekurangan energi.

Satu hal yang saya dan suami sepakati dari awal adalah kami, terutama saya,  tidak boleh merasa bersalah atas pilihan ini. Tidak boleh menyalahkan diri sendiri dan juga menyalahkan kondisi untuk semua hal yang saya lewatkan akibat pilihan ini. Kami memutuskannya dengan sadar dan harus siap dengan semua konsekuensinya.

Awalnya kami merencanakan untuk boyongan Sophie dua atau tiga bulan lagi, selepas ulang tahunnya yang kedua. Tapi, pas pindahan rumah kemarin itu tiba-tiba sesuatu melintas dalam kepala saya. It’s the time. Tiba-tiba saja saya kepikiran kalau mau pisahan sama Sophie, ya, sekarang saatnya. Setelah ngobrol sama suami, saya nambah bolos satu minggu, trial (lagi) di TPA lama Sophie dan seterusnya. And here I am now, seorang ibu  antar kota, antar propinsi. Dalam satu minggu, 3,5 hari saya habiskan di Surabaya sebagai anak sekolahan, 1 hari untuk tidur di bis, pulang-pergi Purwokerto – Surabaya, dan sisanya untuk bersama keluarga kecil saya di Purwokerto.

Sejak kami sepakat Sophie di Purwokerto, setiap hari saya bicara padanya. Nanti Sophie tinggal di Purwokerto, ya. Sophie sama Papa, Mama di Surabaya. Sophie anak pintar minum susu kotak sama air putih kalau Mama di Surabaya. Kalau Mama di Purwokerto Sophie nenen Mama. Sophie bobok sama Papa, mandi ditemani Papa juga. Sophie nanti sekolah di Sinar Mentari lagi, bermain sama Bu Endah dan Bu Hani, sama Mbak Shofa, Mbak Kinta dan Mas Galang. Berulang-ulang layaknya kaset rusak. Respons    Sophie, sih, baik, ya, dia selalu mengangguk. Tapi apakah anggukan itu berkorelasi dengan pemahamannya akan konsep perpisahan, itu yang saya tidak tahu.

Ketika akhirnya waktunya tiba, Sophie menunjukkan hal yang luar biasa. Ketika saya pamit di terminal, Sophie dengan sukarela pindah ke gendongan suami, salim, menyodorkan pipi untuk saya cium dan melambaikan tangannya. Tanpa tangisan sama sekali. Anak hebat, memang. Sayangnya, Papa Mamanya kurang hebat dalam mengelola perpisahan. Yang tua pada sendu dooong, hahaha …. Sampai tadi malam pun, ketika Sophie mengantar saya ke terminal untuk ke empat kalinya, responsnya tetap sama. Sejauh ini saya menyimpulkan, Sophie ikhlas dengan apa yang kami jalani saat ini. Semoga.

Yang Ti Sri, Kepala Sekolah TPA Dr. Sutomo memang memprediksikan Sophie akan lebih mudah beradaptasi dalam proses pisahan ini. Beliau berasumsi, Sophie sudah siap untuk mengalami ujian naik kelas. *Semoga Mamanya juga siap as well*. Hal yang paling saya syukuri adalah fakta bahwa nafsu makan Sophie bisa dibilang bagus banget di masa transisi ini. Dia doyan banget masakan Papanya, rajin minta dibukakan kulkas untuk ambil buah atau agar-agar, makannya pun tidak pilih-pilih *kecup Papa si Koki Handal, love you a lot :)* laporan dari TPA juga sama, Sophie makannya pintar. Alhamdulillaah. Saya memang menganggap masalah makan ini adalah hal yang kritis, mengingat dulu pas beradaptasi di Surabaya Sophie mogok makan parah, yang membuat berat badannya turun dan membuatnya lemas tidak mau beraktivitas. Bersyukur sekali episode kali ini gak ada adegan mogok makan lagi.

Progress Sophie dalam menjalani hubungan jarak jauh ini mengikuti gradien yang positif. Minggu pertama dia memanggil-manggil saya. Di TPA kalau tidak dialihkan perhatiannya ya dia akan merapal mantra, Mama, Mama, Mama…. Menjelang tidur juga menyebut-nyebut nama saya. Oleh suami, setiap kali Sophie memanggil saya akan dijawab, Mama di Surabaya. Kalau sedang cranky, suami akan menelpon saya dan membiarkan saya bicara pada Sophie. Minggu kedua Sophie sudah tidak mencari saya lagi. Setiap terbangun malam hari dia akan memanggil suami saya, mengulurkan tangan untuk minta gendong, lalu bilang “tih” kalau pengen minum air putih atau “syusyu” kalau pengen minum susu.  Di TPA, minggu kedua Sophie sudah mau langsung ikut pengasuhnya tanpa rewel, langsung salim dan dadah-dadah sama Papa. Minggu ketiga kemarin, kalau ditanya Mamanya mana, Sophie akan menjawab, Surabaya, sekolah. Huhuhuuuu, mewek saya mendengarnya…

Sophie masih menyusu, tapi terbatas weekend only. Saya sudah tidak memompa ASI lagi sejak Sophie umur 15 bulan, dan setelah saya diskusikan dengan suami kami memutuskan untuk tidak memompa ASI untuk diminumkan ke Sophie selama di Surabaya. Untuk menjaga produksi ASI, saya memeras ASI setidaknya tiga kali sehari. Memang berkurang sih, tapi it’s the option I choosed. Setiap kali menjemput saya, Sophie akan minta nenen. Dan, sepanjang jalan nenen terus. Juga dirumah, mintanya nempel saya melulu. Kalau sudah mati gaya nenen di kamar depan minta pindah nenen ke depan TV. Di depan TV mulai pegel minta pindah ke kamar tengah, dan seterusnya. Tapi bisa juga sih, Sophie 3 jam gak minta nenen sama sekali. Kalau ada saya paling sehari Sophie cuma minum 1-2 kotak UHT 125 mL.

Sekarang, mulai sabtu sore saya akan bicara layaknya kaset rusak lagi. Mama besok berangkat ke Surabaya. Sophie pinter sama Papa ya. Sophie makannya hebat, minum susunya juga banyak. Nanti ke sekolah diantar Papa, pulangnya juga dijemput sama Papa. Nanti insyaaallah Mama pulang hari Sabtu, kalau bisa Jumat ya Jumat Mama pulang. Nanti pas Mama dirumah Sophie nenen Mama, bobok dan main sama Mama dan Papa ya.

Semakin ke sini saya dan suami juga sudah lebih bisa mengatur kondisi baru ini. Hal yang paling menantang dari hubungan jarak jauh seperti yang saya alami adalah menciptakan kondisi dimana Sophie merasakan bahwa dia dicintai, sama seperti sebelumnya. Bahwa tidak ada yang berkurang dan berubah setelah saya tidak bisa lagi didekatnya setiap hari. Itulah kenapa komunikasi amat penting bagi kami ketika saya di Surabaya. Saya selalu menanyakan kegiatannya di TPA, bernyanyi bersamanya, ikut membacakan bukunya -yang saya sudah hapal isinya- dan  menceritakan apa yang saya lakukan hari ini, semuanya via telpon. Walaupun ya, lebih sering Sophie tidak meresponnya, dia lebih suka melakukan hal-hal lain yang lebih menarik daripada ngobrol dengan saya, hahaha.

Suami,  Alhamdulillah sudah siap dan mampu menjalani peran barunya ini. Kami berbagi tentang nilai-nilai dalam pengasuhan anak dan mendiskusikannya bersama, sehingga sebisa mungkin apa yang kami terapkan pada Sophie ketika bersama suami sama seperti yang saya terapkan. Saya bersyukur bahwa suami adalah koki yang lebih baik dibandingkan saya, sehingga untuk urusan makan tidak ada yang perlu saya khawatirkan. Saya cukup memberitahu apa-apa yang boleh dan tidak boleh dimakan Sophie, lalu semuanya beres. Tidak heran kalau berat badan Sophie naik lumayan banyak sejak tinggal dengan suami. Urusan memandikan, bermain, dan lain-lain tetek bengek urusan keseharian batita juga oke dipegang suami, karena jam terbang beliau sudah tinggi. Keponakan suami sudah 12 sebelum kami punya Sophie, jadi, ya, tidak ada masalah. Satu-satunya hal yang membuat kening saya berkerut adalah tentang cara berpakaian Sophie. Suami orangnya sangat cuek dengan pakaian, matching dan lucu itu buat beliau adalah hal terakhir yang harus dipikirkan. Sering, lho, ini kejadian, atasan sama bawahan Sophie tabrak lari, atasnya warna apa bawahnya motif apa. Atau yang lebih parah, Sophie memakai dress plus celana piyama. Kata suami, sih, biar hangat. Ck ck ck ….

Saya tahu tempat terbaik untuk seorang anak tumbuh adalah bersama kedua orangtuanya. Kami belum bisa memberikan itu untuk Sophie hingga saat ini. Tapi yang pasti kami sudah mempersiapkan yang terbaik untuk Sophie dan juga belajar banyak hal baru agar ia bisa tumbuh maksimal dalam kondisi yang “minimal” ini. We love you, dear Sophie :)


16 Comments - Write a Comment

Post Comment