Hamil Setelah Keguguran

Untuk pasangan yang baru menikah dan segera ingin memiliki keturunan tanpa menunda, tentu saja akan sangat bahagia ketika 2 bulan setelah menikah langsung positif hamil. Begitu juga dengan saya yang sangat menginginkan buah hati begitu menikah. Karena anak pertama dan belum ada dokter kandungan tetap, saya mencoba ke beberapa dokter yang di rekomendasikan beberapa orang.

*USG pertama saya :)

Dokter pertama sangat komunikatif dan menyenangkan dan menyatakan saya positif hamil 4 minggu. Ketika minggu depannya saya mengalami flek dan dokter pertama sedang keluar kota, saya pergi ke dokter kedua yang lebih mahal dan katanya sangat bagus. Tanpa basa-basi setelah USG beliau cuma melihat saya dan bilang, “Bu, bayinya sudah tidak ada” dengan wajah lurus tanpa simpati sama sekali. Saat itu juga saya yang ditemani kakak karena suami sedang keluar kota rasanya ingin menangis dan keluar dari ruang praktik. Karena merasa kurang yakin, masa, sih, hanya dengan begitu dia bisa bilang sudah tidak ada?

Saya pun pergi ke dokter yang berbeda untuk mencari opini kedua. Dokter ini pun tanpa rasa simpati hanya bilang detak jantung bayinya sudah tidak terdengar, karena pada saat itu sudah 6 minggu harusnya akan terdengar jelas dan menyuruh  saya untuk di kuret.  Almarhum ayah saya waktu itu juga seakan tidak percaya dan menyuruh saya pergi ke dokter senior ahli USG yang sebenarnya sangat susah untuk ditemui. Tetapi karena kawan baik, malam itu saya bisa bertemu dokter tersebut.

Kali ini (mungkin karena lebih senior dan berpengalaman) beliau menjelaskan dengan nada yang sangat bersahabat dan detail. Beliau juga sebelumnya minta maaf dan menjelaskan bahwa sebenarnya sangat umum untuk janin di bawah 12 minggu terutama sekitar 6 minggu untuk tidak berkembang. Itu sebabnya 12 minggu pertama kehamilan adalah saat yang rawan di mana alam akan menyeleksi dengan sendirinya janin yang akan bisa bertahan dan dilahirkan dengan sehat. Beliau menyarankan saya untuk dikuret dan jangan bersedih karena usia pernikahan masih baru,  jadi nikmati saja dulu sambil berusaha lagi.

Saya dan suami pun akhirnya yakin dan pasrah untuk kuret. Saya menunggu dokter pertama pulang dari luar kota untuk menguret saya dalam 2 hari. Selama itu saya terus browsing tentang proses kuret yang akan saya jalani supaya tidak takut. Untungnya dokter menjelaskan dengan detail dan memberi dukungan moral sehingga saya tidak terlalu stres. Proses kuret pun ternyata tidak lama, saya hanya dibius total, dan istirahat beberapa jam setelah siuman kemudian boleh pulang.

Masa sesudah proses kuret adalah masa yang sangat berat karena saya merasa sangat down. Apa salah saya kenapa sampai harus keguguran padahal kerja pun sedang tidak lelah dan sedang tidak stres. Akhirnya setelah menenangkan diri dan mengingat kata-kata dokter bahwa kemungkinan ini bisa terjadi pada siapapun sayapun merasa agak tenang. Malam itu saya SMS sahabat dan bilang bahwa saya merasa aneh karena tahu bahwa di dalam rahim saya sudah tidak ada lagi janin yang tadinya akan menjadi bayi. Mungkin memang belum saatnya kata saya menghibur diri.

Pada saat kontrol sesudah dikuret, dokter bilang saya boleh mencoba lagi sesudah 6 minggu. Saya pun pergi berlibur bersama teman untuk menenangkan diri  kemudian melaksanakan niat umroh bersama suami dan mertua yang sempat ditunda karena hamil.

Ternyata doa saya pun dikabulkan, 2 bulan sesudah keguguran saya pun positif hamil lagi dan semua berjalan dengan lancar sampai lahir.

Hikmah yang saya ambil dari peristiwa ini adalah bahwa segala sesuatu itu pasti terjadi dengan alasannya sendiri. Kita harus bisa yakin dan bangkit dari kesedihan kalau sampai terjadi hal yang tidak diinginkan dan jangan berlarut-larut dalam kesedihan karena akan mempengaruhi kondisi kita sendiri.

Cari dokter yang membuat kita nyaman dan rajin-rajin browsing seputar kehamilan agar kita juga bisa memonitor dan tahu akan perkembangan yang seharusnya. Itu yang selalu membuat saya kuat menjalanin proses kehamilan saya. Doakan, ya, sekarang saya sedang hamil ke-4 kali untuk anak ketiga :)


17 Comments - Write a Comment

  1. aanpinkie
    hai, aku juga punya pengalaman yang sama dengan dirimu, tapi bedanya aku keguguran di usia kandungan 20 minggu..
    sekarang si belum hamil lagi, doakan semoga segera dikasih lagi ya
    kalo di aku kasus nya Incompetence Cerviks, dimana mulut rahim ku tidak mampu menahan pertambahan berat dari bayi dan air ketuban, yang menyebabkan mulut rahim terbuka kemudia menjepit selaput ketuban.. jadi aku pecah ketuban dini dan bayi tidak bisa diselamatkan..
    aku dikuret juga, langsung setelah melahirkan anakku secara normal dengan diinduksi.. memang berat banget ngelewatinnya, sama dengan dirimu, aku selalu kepikiran what do i miss, what is my mistake, am i so busy so i ignore the sign, etc etc..
    butuh waktu kurleb sebulan untuk saya recovery secara mental, itupun setelah mencari2 info sedemikian rupa yang menjadi penyebab dari keguguran ini.. dan setelah mendapat penjelasan dokter dengan lengkap, baru rasanya ikhlas melepas anakku kembali pada Nya..
    kalau orang bilang usia 20 minggu harusnya udah santai2 tapi pada kenyataannya keguguran masih tetap bisa terjadi..
    semoga ibu2 yg mengalami keguguran semakin dikuatkan imannya dan dipererat hubungan dengan keluarga terutama suami ya..
    dan insya Allah rejeki bayi masih ada untuk kita disaat yang tepat.. amin..

  2. Hi semua, saya jg punya pengalaman yang mirip, baru Feb lalu harus dikuret krn janin tidak berkembang.. I quit my job karena ngga tahan dengan beban mental setelahnya. Partly karena itu, partly karena kebetulan suami pindah ke luar Indonesia juga.. Skrg sedang hamil lagi 6 mg dan yess we are still scared about everything. Tapi yang membuat saya tenang akhir akhir ini adalah frekuensi dan kualitas do’a yang intens. Intinya, saya percayakan pada Yang Di Atas untuk menjaga my little bundle of joy sementara saya menjaga diri dan baby physically. Apa sih yang tidak bisa dilakukan Tuhan kalau sudah berkehendak?

Post Comment