Memupuk Imajinasi dengan Dongeng Sekolah Tebing

Saat menerima buku Dongeng Sekolah Tebing dari Buah Hati Books, hal pertama yang terlintas di benak saya adalah “Wah, keren banget ”. Tebal, hard cover, kertas mengkilap dengan font tulisan atraktif dan ilustrasi indah. Apalagi tahu bahwa penulis buku ini, Mbak Clara Ng adalah penulis buku anak yang ekspresif.

Dongeng Sekolah Tebing menceritakan tentang kehidupan 13 anak di Sekolah Tebing. Sebuah sekolah di desa yang bikin saya iri dengan kehangatan antara satu sama lain, ke sekolah naik sepeda, bersenang-senang di sekolah tanpa ada rasa beban dan kreativitas guru-guru sekolah dasar.

Selain menceritakan tentang sekolah, Dongeng Sekolah Tebing juga diselingi dengan cerita hewan-hewan ada yang ada di sekitar desa ini. Mulai dari sapi, bebek, anjing, kucing, kupu-kupu hingga tikus. Lewat sisipan cerita mengenai  beragam hewan ini, anak-anak belajar mengenai sapi makan apa, perbedaan kupu-kupu dan rama-rama, proses terbentuknya kupu-kupu hingga rasa kesetiakawanan yang terjadi di antara para hewan.

Di Sekolah Tebing yang minim fasilitas, anak-anak dan ibu guru Sheila malah lebih aktif dan kreatif membuat suasana belajar mengajar mengasyikkan. Misalnya, suatu kali Ibu Sheila meminta anak-anak mengadakan pertunjukan dongeng. Dari sini, saya juga baru tahu tentang Wayang Beber, yaitu wayang yang dimainkan lewat gambar-gambar di kertas. Atau ketika anak-anak belajar membuat layang-layang, mereka diharuskan memberi nama layang-layang buatan masing-masing. Anak-anak pun memberikan nama seperti Saturnus, Srikandi, atau bahkan Antoine de Saint-Exupery, seorang pengarang terkenal dari Perancis. Hebat, ya?

Saya dan Langit tidak bosan-bosan membaca buku setebal 226 halaman ini. Kami malah kadang keasyikan membuka lembar demi lembar, menanti cerita indah apalagi yang akan disajikan di bab berikutnya.

Kami sangat menikmati rangkaian kata yang mampu membuat imajinasi kami berkeliaran karena Mbak Clara menyediakannya. Di salah satu bagian buku ini ada cerita mengenai kisah cinta Ibu Sheila yang diceritakan seolah-olah antara pangeran dan putri raja. Every women’s dream, rite?

Sementara Langit … jangan ditanya! Sekarang, kalau bangun tidur pagi, Langit akan bercerita mengikuti salah satu bagian buku ini, “Aku mimpi ketemu Gatot Kaca, telus telbang ke Palis (Paris)”. Hahaha .…


11 Comments - Write a Comment

    1. Kertasnya yang licin ala majalah gitu, Mel. Yah kalo anak lo masih demen ngerobek2 mendingan tar dulu dah, daripasa nyesek :D
      Kalo si Langit ga robek, tapi kadang2 saking semangatnya ngebalik halaman buku dengan kencang. Secara gue cinta banget sama buku ya, kadang2 suka lupa diri, gue tegur sih kalo kertasnya lecek :(

Post Comment