Pilih Playgroup untuk Ken-Chan

Menjelang tahun ajaran baru, banyak playgroup/pre-school/TK yg membuka diri untuk trial. Sejak beberapa minggu lalu, Ken sudah trial di dua playgroup yang berbeda. Berhubung dulunya bergelut di bidang ini dengan pengalaman di dua sekolah yang terletak di dua negara yang berbeda, jadilah saya termasuk cerewet soal milih playgroup, hahaha. Jadi setiap survei sekolah, pertanyaan saya rinci, mata jelalatan ke mana-mana, pokoknya detail banget deh!

Sebenernya, saya tidak keberatan untuk menunggu sampai dia umur 3 tahun tapi karena sekitar rumah sepi, it’s time he make new friends dan menyadari kalau ada banyak anak-anak lain di luar lingkungan nan nyaman bernama rumah.

Atas permintaan beberapa teman, saya share kriteria dalam memilih playgroup untuk Ken. Setiap keluarga memang ada pertimbangan masing-masing sesuai dengan prinsip & prioritasnya. Tentu setiap orangtua ingin mencari sekolah yang “bagus” untuk anaknya. Bagus? Itu predikat yg subyektif sekali. Keluarga kami mengkaitkan kriteria “bagus” dengan mempertimbangkan kombinasi antara fasilitas sekolah, kurikulum, metode pembelajaran, tingkat pendidikan para guru, dan hasil didiknya. Untuk  keluarga kami ada juga faktor keamanan si anak di sekolah itu, biar bagaimanapun juga mencegah memang selalu lebih baik :). Selain itu ada juga faktor keadaan keluarga: biaya yang harus terjangkau dengan anggaran rumah tangga serta lokasi.

  • Harga: Jujur saja, kami tidak percaya anggapan bahwa pendidikan yang mahal akan menjamin kualitas hasilnya.  Soal anggaran, kami tidak berminat membayar terlalu mahal untuk sebuah pendidikan kalau masih ada alternatif lain yang lebih ramah kantung dengan kualitas yg sebanding. Memang, katanya ada harga ada mutu, tapi kami juga tidak mau yang terlampau mahal. Toh, bagi kami, pendidikan anak tidak hanya di sekolah saja, tapi yang utama justru dari rumah. Jadi sekolah untuk mendukung pendidikan di rumah :)

  • Lokasi: Kami sengaja memfokuskan pencarian sekolah yang letaknya cukup dekat dan mudah dicapai. Jadi tidak terlampau lama menghabiskan waktu di jalan dan kalau harus menggunakan kendaraan umum juga tidak akan merepotkan. Belum lagi kalau Botchan telat bangun, you know kids, they take for-e-verr to be ready. And he’s still 2. Waktu kami di di Jepang, sekolah ada di tiap daerah perumahan, jadi ke sekolah bisa jalan kaki atau naik sepeda dan anak-anak yang ke sekolah itu juga tempat tinggalnya masih satu area, sehingga komunitasnya juga lebih erat.
  • Perbandingan guru & murid: Nah, ini nih yang paling saya cermati. Kenapa? Karena perbandingan guru dan murid ini penting untuk interaksi guru-siswa dan juga untuk keamanan. Keamanan? Yes. Salah satu hal yang guru daycare Jepang beri tahu saya adalah untuk batita rasio yangg ideal adalah 1:3 walaupun pemerintah setempat menganjurkan rasio 1:2. Jadi, kalau terjadi sesuatu yang membutuhkan evakuasi, setiap guru bisa membawa satu anak di masing-masing tangannya. Rasio ini disesuaikan seiring dengan usia, jadi misalnya untuk kategori anak 4-5 thn sudah bisa dengan rasio 1:6.
  • Kurikulum, aktivitas, dan metode pengajaran: Ketiga hal tersebut sangatlah beragam. Setiap sekolah punya andalan masing-masing dan itulah yg menjadi bargaining power mereka serta sumber penat orangtua. Ada sekolah dwi bahasa, berbahasa Inggris, Bahasa Indonesia dengan sisipan bahasa Inggris, atau full berbahasa Indonesia. Itu baru dilihat dari aspek bahasa lho. Ada yang menyebut diri mereka sebagai sekolah national plus, bertaraf internasional, internasional, sekolah alam, kindergarten, playgroup, kelompok bermain, pre-school, dan banyak lagi. Mungkin seharusnya Diknas ada standardisasi istilah-istilah ini dan disosialisasikan kepada para orangtua, semacam glossary istilah pendidikan gitu ;) Tapi inti yang harus ditanyakan: ISINYA APA? Contoh kegiatannya apa? Bagaimana jadwalnya dan dengan cara apa anak dibimbing? Bisa jadi sekolah yang berbeda program prinsip dasarnya serupa. It’s all about marketing, people :)  Oh ya, satu pertanyaan penting tapi sering bikin gelagapan guru: apa metode disiplin untuk anak? Because we all know kids. Kadangkala ada saat-saat mereka ingin eksplorasi perbuatan yang mungkin saja kurang sopan, mengganggu yang lainnya, bahkan mungkin tidak aman bagi dirinya sendiri maupun teman-temannya. Belum lagi kalau ada kejadian di rumah yang terbawa ke sekolah efeknya (based on my past experiences, kadang justru sumber permasalahan yang dihadapi anak di sekolah itu dari rumah). Bagaimana si guru atau sekolah ini menangani situasi seperti ini? Karena bagaimanapun juga anak perlu diajarkan batasan mengenai perilaku yang boleh dan0 tidak boleh. Sebaiknya diperjelas kepada orangtua supaya bisa disesuaikan dengan prinsip yg diterapkan di keluarga masing-masing.
  • Fasilitas: Sekarang banyak sekali sekolah yang menawarkan beragam fasilitas. Biasanya makin banyak fasilitasnya, makin besar pula biaya sekolahnya ;) Ada yg punya kolam renang, fasilitas outbound, kelas ber-AC, antar-jemput, mainan yang beragam, bahkan ada yang punya program satu laptop satu anak dari mulai kelas 1 SD. Ya, inilah yang harus diwaspadai, bisa jadi yang sebenarnya ingin sekolah (lagi) itu orangtuanya ;p We all want the best for our children, but we have to ask: is it really necessary? Apa sih yang penting untuk anak? Apa yang dia butuhkan supaya bisa tumbuh dan berkembang dengan baik? Kalau tidak mampu bayar masuk sekolah yang serba ada, bisa kita coba lengkapi di rumah atau dari sumber lain. Sekolah idaman tidak ada kolam renang? Spend family weekends at the local pool. Sekolah dekat rumah tapi tidak ada ekskulnya? Cari tempat kursus atau sanggar di luar. Bottom line: compensate. Sekedar perbandingan aja, di kota kecil tempat kami tinggal di Jepang dulu, daycare untuk anak itu mainannya selain dari mainan biasa, banyak yang terbuat dari bahan daur ulang (botol plastik bekas, karton susu bekas, dll) buatan guru dan para siswanya yang sudah cukup umur. Setiap daycare punya halaman yang cukup luas tapi tidak dipenuhi dengan bermacam permainan terbuat dari besi atau plastic fiber. Halaman ini dimanfaatkan untuk anak-anak berlarian dengan aman. Selalu ada pohon dan kolam renangnya built-up atau pakai yang dari plastik untuk balita dan hanya dibangun pas musim panas. Tidak “wah”, tapi cukup … they’re happy & thriving there :)
  • Pendidikan & karakteristik guru: Apa latar belakang pendidikan guru kelas? Adakah sertifikasinya? Kepribadian mereka sekilas sewaktu bertemu apakah ramah atau cuek? Seberapa banyak pengalamannya, apakah banyak yang senior atau masih fresh graduate semua? Apa ada pelatihan atau pengembangan berkala untuk guru2nya? Menurut saya, untuk menjadi guru sebenarnya tidak cukup hanya dengan “suka anak-anak″ saja .…
  • Siswa & outputn-ya : tidak bisa dipungkiri bahwa kita hidup dalam masyarakat yg beragam keadaannya. Ada keragaman agama, suku, budaya, tingkat pendidikan, sosial-ekonomi, dll. Jadi secara riil kita akan mempertimbangkan siapa sih yang akan menjadi teman-teman anak kita, bagaimanakah pergaulannya nanti? Dan seperti apakah kira-kira anak kita akan menjadi, kalau lihat dari siswa-siswa “senior” sekolah itu? Kenyataannya, saya kenal orangtua yg sengaja memasukkan anaknya ke sekolah negeri yang amat biasa supaya dia terbiasa dengan teman-teman yang beragam keadaan ekonominya. Ada yang sengaja masukkan ke sekolah “wah” (ya fasilitas, ya SPP-nya) dengan konsekuensi anak menjadi konsumtif, lalu keluar istilah “ngafe” dan “nge-mall”. Ada yang memilih sekolah berbasis agama tertentu, ada yang khusus mencari sekolah berbahasa Inggris, macam-macam deh .…  Itu tinggal pintar-pintarnya kita cari info dari teman, tetangga, forum, atau milis. Malu bertanya, menyesal kemudian :)
  • Ekstra soal keamanan: di sini memang mungkin belum wajib untuk suatu sekolah melatih anak-anaknya prosedur keselamatan ketika ada bahaya. Misalnya, bahaya kebakaran, gempa, atau yang lainnya. Mari ciptakan kesadaran ini dengan menanyakan pada sekolah … siapa tahu kalau banyak yang bertanya jadi sekolah akan mengusahakan :) Buat keluarga kami, sekolah yang punya child-gates (pagar pembatas), child-friendly & safe facilities, serta fire-extinguisher langsung dapet nilai plus :) Lalu tidak ada salahnya kita mengenalkan prosedur keselamatan untuk anak. Cari saja di internet dengan kata kunci “fire drill”, “earthquake drill”, dsb.

Semoga berguna ya, moms!

*Dikirim oleh Arum Putri Budiani (arumchan), ibu dari Athallah Kenshou Lelono (2 tahun 2 bulan)


6 Comments - Write a Comment

  1. TFS, arum! mirip2 nih pertimbangan memilih sekolahnya sama gw. Pertama kalo gw udah pasti harga, bukannya pelit tapi idem sama elo kalo segitu mahalnnya emang anak umur 3 tahun diajarin apa sih :D mahal boleh, tapi yang masih masuk akal lah ya. Kedua lokasi, ini penting juga, karena gw ga mau jauh2 pake kena macet segala. kesian anak gw bok, stress macet sejak dini nanti :p
    Sisanya, ya lihat apa saja yang diajarin, guru2 seperti apa, fasilitas. Nah biasanya fasilitas juga berkaitan sama harga kan..
    Jangan lupa orangtua yg lagi hunting tanyain detail, biaya yang dibayarkan termasuk apa saja? Nanti tau2 ada biaya pentas seni, field trip, dst dsb lagi..

  2. Pas banget nih artikelnya saat gue juga masih nyari playgroup untuk Aluf. Jadi banyak masukan tambahan juga kayak soal safety procedures. Bener juga ya, justru dari orang tuanya yang harus nanya, biar pihak sekolah makin aware bahwa itu adalah hal yang penting. Thank you ya Arum!

  3. @ Mba Lita: thanks for the post yaaa :) Soal biaya, betul banget tuh.. klo gak ati2, bisa2 banyak “tambahan” yg ga terduga..

    @Mba Affi: iya, semoga untuk safety procedures di sekolah2 Indonesia bisa lebih berkembang lagi :)

Post Comment