Catatan Kehilanganku

Juni 2010
Saya positif hamil setelah 2 tahun menunggu. Setelah me-review beberapa dokter kandungan, 3 hari setelah melakukan tes kehamilan di rumah, saya memutuskan mencari yang dekat rumah. Saya memilih dr. Chandra Asmuni SPOG di RSB Duren Tiga, ternyata hamilku sudah berjalan 6 minggu. Wah, senangnya!

Agustus 2010
Saya terkena demam tinggi, di saat hamil begini perasaan campur aduk! Diagnosa dokter adalah gejala typhus, bukan main sedihnya saya. Apalagi selama trimester 1 ini saya mual-mual dan membuat jadi susah mau minum obat. Tapi demi anak  saya berusaha semangat, apalagi didukung oleh suami dan keluarga.

Singkat cerita, walaupun sempat sakit tapi hasil USG memperlihatkan kalau semua normal dan sehat; jantung normal, posisi dan plasenta bagus. Kata dokter, bayi saya perempuan. Apa pun jenis kelaminnya, saya tetap bersyukur.

Jumat, 26 Nov 2010

Saya mulai merasa tidak enak pada bagian perut. Perut bawahku terasa kencang, tapi karena bayinya bergerak seperti biasa, saya jadi tidak khawatir. “Kecapean saja, mungkin,” pikir saya. Menjelang malam, saya merasa ada yang tidak beres. Hati kecil ini tak bisa bohong, bayi perempuan yang saya panggil Mikka sebagai nama kecilnya, tidak bergerak! Saya mulai panik, apalagi karena ini anak pertama. Saya benar-benar tidak tahu apa yang harus dilakukan. Pukul 21.00 saya coba mengaji dan terapi musik klasik yang lazim saya lakukan sebelum tidur. Biasanya Mikka menendang seru tapi kali ini tidak. Karena panik, tidur pun gelisah. Tengah malam saya coba ‘pancing’ Mikka lagi, tapi tetap sama. Saya tetap berpikir positif, mungkin menjelang subuh ada perubahan, karena biasanya di pagi hari tendangannya kencang sekali.

Sabtu Subuh, 27 Nov 2010

Ternyata tidak ada perubahan, saya mulai drop tapi sekaligus berusaha tenang. Terlihat raut muka suami begitu tegang. Sabtu pagi itu memang kebetulan jadwal kontrol ke dokter, saya memutuskan berangkat lebih pagi dari biasanya. Perjalanan ke dokter membuat saya menyiapkan diri untuk yang terburuk , karena sakit perut semakin tidak keruan, dan ada rasa seperti “membatu” di bagian bawah. Saya tetap mencoba mengajak Mikka ngobrol seperti biasa.

Akhirnya tiba giliranku masuk ruangan. Seperti biasa dokter menanyakan kondisi, entah kenapa saya seperti tidak ingin lama-lama. Saya langsung bilang, “Bayinya dari semalam nggak bergerak, Dok.” Raut muka dokternya langsung berubah, “Ayo, Tan …  kita langsung USG saja”. Biasanya kita ngobrol-ngobrol dulu tapi kali ini tidak. Setelah review USG berkali-kali terlihat sekali dokter cemas dan bertanya pada saya, “Tan, kamu ada jatuh?” Saya mulai deg-degan luar biasa, “Tidak ada, Dok. Tidak ada sesuatu serius terjadi dan semua berjalan normal aja.”  Dokter pun kembali  me-review lagi jantung dan beberapa bagian tubuh lainnya. Dan dr.Chandra langsung berkata pelan, “Innalillahi, sepertinya benar ini sudah berhenti jantungnya,  Tan. Sudah tidak berdetak lagi.”

Bagai petir di siang bolong, saya tidak bisa menutupi rasa kaget luar biasa saat itu, tapi karena saya tidak mau membuat suami lebih drop lagi, saya berusaha untuk tetap tenang dan mengambil nafas dalam-dalam. Setelah tenang, baru saya bisa berpikir apa langkah selanjutnya. Saya bersyukur punya dokter yang menenangkan hati, setelah saya bisa terlihat menerima apa yang terjadi, dokternya bilang, “Intan dan suami harus iklas ya, kita kembalikan lagi kepada Allah. Apa pun usaha kita tapi kalau sudah kehendak Tuhan, kita tidak bisa apa-apa. Sehebat-hebatnya dokter masih lebih ada lagi yang hebat yaitu Allah. Sekarang kita review dari awal, semua hasil USG bagus, dan hari ini tiba-tiba semua berubah, saya memperkirakan babynya terlilit tali pusat. Tapi akan diobservasi setelah bayi dilahirkan.”

Dilahirkan????!!!! Rasanya saya nggak siap, sedih rasanya … tersayat-sayat tepatnya. Ya Allah, semua terasa begitu cepat. Saya masih mau mengurus bayi saya. Dokter menjelaskan tahap yang akan dilakukan segera yaitu: mengurus kamar, permohonan induksi, pemberian obat kontraksi di vagina, dan persiapan kelahiran.
Induksi??!! Detik ini?? Astagaa ….
Saya sempat bilang ke dokter, “Dok, kalo kasus seperti saya memang masih bisa normal? Kenapa nggak sectio?” Dokternya bilang, “Tan, bayinya sudah tidak ada, buat apa harus ‘melukai’ perut kamu. Selain itu kamu nanti mau cepat hamil lagi kan?” Oh ya benar juga, pikirku. Akhirnya saya setuju untuk segera dilakukan tindakan, karena bayi yang sudah tidak bernyawa tidak boleh dibiarkan lama di dalam. Tapi kemudian dokter bilang lagi, “Kondisinya bayi sudah tidak ada, kemungkinan prosesnya agak sedikit lebih sulit karena dia tidak bisa mendorong, tapi kita akan usahakan yang terbaik.” Huaaaa … rasanya tambah panik.

Induksi mulai pukul 10.30, setelah suami menandatangani surat ijin induksi. Nah, saat saya dan suami mulai tenang inilah kami menelpon keluarga. Bukan main syoknya mereka, ini cucu pertama yang diharapkan dari kedua keluarga kami. Satu persatu keluarga dan teman berdatangan memberikan dukungan, ternyata lumayan menghilangkan rasa mulas di awal.

Setelah hampir 24 jam menunggu bukaan lengkap, saya dibawa ke ruang bersalin tapi sebelum dokter datang, Mikka sudah tidak sabar untuk keluar. Mengejan 3x dan akhirnya lahirlah Mikka dalam keadaan sungsang. Rasanya saat itu, walaupun teramat pilu, saya lega, berhasil sesuai rencana. Tali pusat Mikka dikeluarkan, ternyata … Subhanallah … perkiraan dokter benar, talinya terpilin rapat membentuk tambang, yang mengakibatkan oksigen dan cadangan makanan tidak dapat masuk mencapai Mikka.

Saya namakan dia: Aida Malikka Mahardhika (Anaknya Intan Dan Andre yang seharum bunga dan menjadi penolong orangtuanya). Berat 1 kg, panjang 36 cm. Tanggal 28 November, malaikat mungil yang kami nanti-nanti kehadirannya, pulang ke Rahmatullah.

*Dikirim oleh Intan Octafia (@in_fia)


48 Comments - Write a Comment

  1. Innalillahi, I am very sorry to hear that yaaa. My deepest condolences.
    Tapi wow, Allah Maha Kuasa. Mikka ditipkan ke Intan dam suami, karena Allah Maha Tahu Intan dan suami adalah dua pasangan kuat yang bisa melewati ujian ini.
    Saya kagum. Saya ga kenal Intan tapi saya pengen peluk Intan :)
    Saya belum pernah hamil jadi ga bisa bilang banyak. Tapi semoga Intan dan suami cepat diberikan karunia lagi ya. Amin

  2. Innalillahi wa innailaihi rojiun,,,,
    Apa yg menjadi milik Allah,akan kembali kepadaNYA. TFS ya mba intan,
    Smga Allah akan segera memberikan gantinya. Semoga Mikka nanti menjadi penolong
    Orang tuanya kelak di alam sana,,,amin

  3. Intan, langsung pengen nangis pas baca. Yang kuat yah,Tan. Semoga Alla h segera memberikan adiknya mikka bwt Intan dan keluarga. Salut buat Intan dan keluarga yang begitu tabah ngejalanin semuanya.*many hugs*

  4. Semangat mba intan!! Mba Intan ga sendirian ko, kejadian yang kita alami akan membuat kita lebih kuat dari pada ibu2 yang lain.. Natal dan Mikka akan selalu jd malaikat kecil yang baik yang akan menjaga ayah, ibu dan adik-adiknya kelak. Kita harus tetep semangat ya mba.. Rencana Tuhan selalu baik dan pasti indah pada waktunya. Terima kasih selalu support aku waktu aku down kemarin itu, tp ternyata ada hikmah dr kejadian itu, aku bisa mengenal wanita yang baik, makasih ya Mama Mikka :) *hug&kiss*

  5. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
    Berebes mili bacanya..
    turut berduka n yg sabar ya Intan..
    Aida pasti bangga di sana liat mama papanya tabah dan tegar, kalian pasti akan bertemu lagi suatu saat nanti..insya Allah..aamiinn

  6. Intan, waktu tau kejadian ini, aku begitu sedih dan tidak percaya, apalagi setelah obrolan2 indah kita mengenai senangnya punya anak, karena kebetulan aku juga baru melahirkan anak pertama. Tapi, aku yakin Tuhan sudah mengatur segalanya. Aku yakin Tuhan akan memberikan hal yang indah padamu segera setelah kesedihan ini. Mikka sudah damai dan tentram disana. Salut akan semua ketabahan Intan dan Andre, dan semua keluarga yang ditinggalkan. Peluk sayang untuk Bunda Mikka.

  7. kita hanya terpisah dalam ‘dimensi’ dengan orang2 yang telah mendahului kita…hanya waktu yang akan menyatukan kita kembali. Dalam hati selalu meyakini, melalui doa-lah jalinan silaturahmi kita dengan mereka bertemu… :) Jangan berhenti berdoa, berharap, berbahagia, karena orang2 yang kita cintai hanya ingin melihat kita bahagia… Baby Mika sudah diurus dengan yang Maha Penyayang… :) Be tough ya adikku sayang… *hugs*

  8. Innalillahi wa inna ilaihi roji’un
    begitu baca langsung nangis..
    yang sabar yaaa, dan selalu yakin pasti ada waktunya..
    Allah tidak akan memberi cobaan di luar kemampuan umatNya..
    Nanti pasti bertemu lagi..
    *big hug*

  9. innalilahi wa inalilaihi rojiun

    semoga diberikan kekuatan apapun cobaan yg diberikan ALLAH buat anda berdua dan semoga diberikan lagi seorg anak yg akan menjd pelipur kalian berdua secepat mungkin.AMIN YRA :)

  10. Innalillahi kejadian ini sama persis spt yg saya alami pd hamil pertama,bayi perempuan saya meninggal di usia kandungan 28 minggu krn tali pusat yg melintir,kejadiannya 8 September 2010 padahal setiap bulan di usg bayinya sehat,lincah dan montok kata dokter untuk kasus ini tdk ada yg bisa memprediksi smua itu kembali kpd Yang Maha Kuasa,dulu saya sempat menyesal kenapa sbg ibunya saya tdk bisa merasakan saat anak saya dlm keadaan gawat pdhal dia ada didalam tubuh namun saya akhirnya bisa jg ikhlas meski tidak mudah, Sabar dan ikhlas ya mba meski perlu waktu krn dia akan menjadi tabungan mba di akhirat jika mba ikhlas,dan alhamdulillah stlh 3 bln kosong saya hamil lagi anak yg kedua padahal saya pasrah krn waktu anak pertama saya menunggu 2 th. Tetap smangat ya mba smoga cpt diberi penggantinya kembali..

  11. Intan, gue baca bener2 ngeluarin air mata (pdhl lg dikantor, lsg ngumpet deg) dan mungkin gue ga bisa setegar lo kl hal itu tjd sama gue. Gue yakin pasti dikasi yg terbaik, gue dl jg keguguran walau baru 8 mgu. Tp hati gue sediihh bgt. Tp alhamdulillah gue dikasi Khailisha skrg. Jadi insya Allah cepet dikasi lagi ya tan…
    Mmuah…keluarga yang tangguh, lo n andre..take care

  12. Dear All,
    terima kasih banyak atas semua doa dan supportnya ya, sungguh semua membuat saya terharu, apapun adanya saya harus kuat dan sabar, karena ini sudah rencana Tuhan, dan pasti Tuhan Maha baik, dan DIA Maha Tau segalanya, makanya saya gak boleh sedih terus, supaya baby Mikka ‘senyum’ di Surga, amin. Buat Winnie dan Echi, wahhhh ternyata kita senasib yah, semoga kita bisa sama2 iklas menjalaninya.

    God Bless You,
    Love you All
    *Big HUG* :)

  13. Dear Mba Achie, aku udah baca artikelnya, huaaaaa tyt ada yg lebih berat dari aku yaa, 9 bulan, kebayang rasanya kaya apa, tapi bener mba, daripada memperpanjang dan menyalahkan siapa2, iklas dan sabar kunci yang paling dahsyat. *big hug for you too.

    Dear Lita, thanks alot yah say buat support dan udah post tulisan ini :)*hug

  14. Stelah bc, ga bhenti2 na air mata ak kluar, bgitu tabah na mba intan, mgkn klo tu tjd dg ak, ak ga stabah tu, dlu sblm da gerrard pun, ak pnh khilangan bayi ak yg br 3bln d rahim ak, ak smpe d opname saking depresi na, tp alhamdulilah skrg dh pnya jagoan yg lahir 12 nov kmrn.
    Mba intan yg sabar y, mikka adl anak yg sholihah n bersih, mk kelak d akn jd tabungan amalan u k 2 ortu na, n mba intan mg sgra dpt ganti yg lbh baik. Amin.

  15. I’m sorry to hear that..innalilahi wa innailahi rojiun.turut berduka y mba,sedih bgt bacanya,aplg aq jg lg hamil skrg..
    Yg kuat y mba,aq doakan smga Allah Swt memberikan yang terbaik buat mba intan dan keluarga.dan smga mikka bs mjd penolong utk ayah-ibunya kelak..:)
    *peluk mba intan..:)

  16. indu bunda reishad · Edit

    innalillahi wa innaillaihi rajiun..turut berduka dan sabar ya mba intan.insya Allah nanti mikka sudah menanti mba di surga.jd gondok pengen nangis abis baca ini.smangat ya mba..big hug buat mba intan..

  17. Innalillahi wainna ilaihi roji’un
    Lihat betapa Allah sgt menyayangi Mikka dan keluarga mba….
    Sabar yaa….

    Semoga Mikka cepet dapat adik ya….
    Dan semoga mba n keluarga sehat selalu…

  18. dear:
    #ibu mas tyo: makasih ya mba, amin2. eh tapi jangan sampai jd kepikiran ya, kasian babynya, yg penting percaya bahwa Tuhan di Atas segala2, semangat juga ya mba atas hamilnya *peluk* :)
    #mba indu & mba Linda: makasih mba, amin2 doanya *peluk* :)

  19. innalillahi wa innailaihi roji’un
    kisah mba intan sama persis dengan kisah saya, kronologi ceritanya juga sama mba, saya dan suami ikhlas mba, meskipun kadang kalu ingat masih suka meneteskan air mata, tapi itulah takdir siapapun tidak bisa menolaknya, beruntung saya mempunyai suami yang sangat tabah dan tegar yang selalu menghibur hati saya, kalau saya mulai melihat gambar ibrahim di hp, dia sll meminta hp nya agar saya tidak menangis lagi. anak-anak kita pasti sdh bahagia skrg disana.Ibrahim anak pertamaku semoga kamu kelak jadi penuntun kami di surga, amin.

  20. kalau boleh tau, mba intan skrg udah hamil lagi belum? apa kata dokter kandungan mba intan atau penyebab dari meninggalnya putri mba? terima kasih atas infonya ya mba.

  21. Dear Mb ninik, terima kasih mba doanya, wah tyt kita senasib juga ya, penyebabnya: babynya terlalu aktif yang menyebabkan dia geraknya melintir, jadi tali pusatnya terpilin seperti tambang, makanan dan oksigen gak bisa masuk, padahal sampai usia kehamilan 6 bulan, semua terlihat baik2, mungkin yang dinamakan belum rejeki, sekarang saya lagi program lagi, semoga direstui Allah untuk punya baby lagi, amin :)

  22. Innalillahi wainna ilaihi roji’un..
    Sebelumnya saya minta maaf mba sekiranya saya mengingatkan lg pd kejadian ini.Saya baru mengalami hal yg sama,untuk kedua kalinya.Yang pertama tahun lalu,usia kehamilan 26minggu,yang kedua si 29minggu. Pengen nanya2 n sharing,mungkin kalo mba berkenan saya bisa alamat email atau no contact lain ? Terima kasih sebelumnya ya mba.

Post Comment