Babies: Derap Langkahnya Menjelajah Dunia

Sejak menonton trailernya, saya sudah menunggu-nunggu kapan bisa nonton film Babies ini. Film dokumenter tentang perkembangan bayi di empat daerah dan kebudayaan yang berbeda. Ponijao dari suku nomaden di Namibia, Bayarjargal dari keluarga peternak di pegunungan Mongolia, Mari dari tengah sibuknya gedung pencakar langit Tokyo, dan Hattie dari San Francisco. Tadinya saya cuma berharap bisa menunjukkan perkembangan bayi dan perbedaan budaya pada Darris (D1) dan Dellynn (D2).

Tapi ternyata melalui film ini I can show much more than that. Sembari film berjalan, D1 mengenali kalau adik bungsunya, Devan,  juga melalui tahap-tahap yang sama. Dia jadi tahu juga kalo masing-masing anak punya cara merangkak sendiri. Ada yang merangkak sempurna, ada yang memakai tiga tumpuan, ada juga yang menyeret bokongnya. Saya jadi bisa menunjukkan cara dia merangkak waktu kecil. Belajar jalan juga begitu, saya ceritakan kalau D1 dan D2 termasuk cepat bisa jalan. D1 pada umur 13 bulan, sementara D2 di 12 bulan dan D3 malah 16 bulan. Tapi D2 lebih nggak stabil keseimbangannya, sering jatuh. Padahal D1 dan D3 langsung tegas jalannya. Di sisi lain D2 lebih cepat bisa ngomong dibanding D1.

Dari scene itu, anak-anak bisa belajar tentang gender juga. Perempuan dan laki-laki ada kelebihan dan kekurangan masing-masing. Dan bagian-bagian ini juga cocok banget untuk gambaran calon kakak, kira-kira adiknya nanti kayak apa. Jadi tahu bayi kecil bisanya hanya tidur, minum, pipis, dan pup. Belum bisa diajak main bola seperti kata si ibu, misalnya. D1 dan D2 juga jadi ngeh kalo semua melalui tahapan dan proses belajar, walau detilnya nggak sama di setiap orang. Bayi nggak langsung bisa jalan. Bahkan memegang mainan saja belum bisa. Makin besar makin bisa karena dilatih setiap hari dan nggak putus asa belajar.

Waktu adegan Mari nangis guling-guling karena ngga bisa masang mainannya saya bilang putus asa juga sebetulnya hal yang wajar, tapi bukan berarti itu bagus. Karena kalo diterus-terusin putus asanya ya sampai kapanpun akan tetap nggak bisa. Karena film ini memotret keseharian anak yang sifatnya universal, jadinya memang anak-anak kayak disindir langsung hahaha. Dari adegan pertama di Namibia yang si adik mau pinjem barang kakaknya tapi nggak dikasih, sampe adegan si kakak Mongolia yang nggak bosen-bosennya gangguin adiknya. Untuk calon kakak yang mau punya adik, bagian-bagian ini cocok buat gambaran gimana kalo punya adik. Mesti berbagi, ngajarin yang baik-baik dan ngga usil sama adik.

Dari awal film, D1 sudah agak heran dan tanya,“Kok nggak pake baju Ma?” Nah, kesempatan nih buat cerita tentang perbedaan budaya. Saya terangkan bahwa di Namibia udaranya panas, beda sama di Mongolia yang dingin. Makanya baju di Mongolia tebal-tebal sementara di Namibia ‘polos’ aja :D . Dia tanya juga,“Itu diolesin apa Ma merah-merah?” Saya bilang aja itu mungkin kayak lotion kalo di sini heheheh. Perbedaan budaya juga terlihat dari upacara-upacara yang dilakukan begitu bayi sampai pada umur tertentu seperti perayaan yang dilakukan keluarga besar dari Mongolia itu. Saya dan ayahnya cerita kalo waktu bayi, beberapa hari setelah lahir semua diakikahin. Terus sebetulnya ada juga upacara turun tanah untuk bayi usia sekitar 7-8 bulan, tapi untuk D1-2-3 nggak ada yang dirayain.

Waktu dijelaskan asal negara-negaranya, D1 juga tanya,“Itu dimana Ma? Jauh?” Untuk pertanyaan semacam ini, saya sudah siapkan atlas dunia. D1 dan D2 sudah ada bayangan dari Semarang ke Jakarta dan Semarang ke Surabaya seberapa jauh dan seberapa lama. Di atlas saya tunjukkan kalo ketiga kota itu jaraknya hanya 2-3 cm. Sementara negara-negara yang terpotret di film Babies lebih jauh lagi. Saya ceritakan juga tentang musim-musim di negara lain. Ada negara yang cuma panas sama hujan kayak di sini, bahkan lebih panas. Tapi ada juga negara yang ada saljunya. Sambil masukin pesan sponsor kalo mau ke negara dingin, sekarang sekolahnya yang pinter biar nanti kuliahnya bisa disana (ibunya ngarep yang bayarin beasiswa aja :p). Disambung juga, karena kondisi alamnya beda-beda, kendaraan sehari-hari juga beda. Ada yang naik kuda, ada yang naik keledai. Dan kayaknya D1 ngebayangin serunya kalo di sini kemana-mana naik kuda hehehehe. Bagusnya, potret keseharian di perkotaan juga tergambar di Tokyo dan San Francisco. Untuk yang dua ini ngga kterlalu banyak pertanyaan sih yang muncul. Lebih familiar mungkin ya. Paling waktu ada pemandangan dari apartemen sempet ada pertanyaan,“Kok tinggi rumahnya?” Kebetulan beberapa kali saya pernah menunjukkan gedung-gedung tinggi di Jakarta dan Surabaya dan cerita kalau itu ada yang namanya hotel, isinya kamar-kamar aja hanya untuk menginap beberapa hari. Tapi ada juga yang namanya apartemen, yang isinya rumah tinggal. Hmm…mungkin next step saya mesti ajak anak-anak berkunjung ke teman yang tinggal di apartemen ya.

Mommies, sudah pada nonton film Babies sama anak-anak? Gimana tanggapan mereka? Oh iya ini ada review tentang Babies the movie yang menarik dibaca:
Babies Movie Review From a Mom
Babies Movie Review From a Dad

*pic source: http://fatkidslist.wordpress.com/2010/10/25/babies/


23 Comments - Write a Comment

  1. Nah nonton ini pas banget abis belanja sterilizer dan ini itu hehe trus pas nonton suami langsung yang ‘tuh kaaan..bayi afrika aja ga pake sterilizer baek baek aja’. Dasar! hehe tapi emang sih PAS nonton emang bikin langsung mikir ‘kayanya ga perlu segitunya kali yaa..’, tapi tetep aja sih pas udah sampe rumah doktrinnya ilang lagi..back to hygiene freak hehe susah deh:p

    Menariknya, bayi afrika dan mongol yang ngga dimanja sama ini itu malah cenderung lebih ngga rewel dan mandiri ya daripada bayi SF dan Tokyo yang serba modern:)

Post Comment