Belajar Doa Bareng Zua

Hari mulai beranjak malam. Jam 20.30 adalah waktunya untuk Zua (39 mos) untuk mulai rangkaian ritual sebelum tidurnya. Dimulai dari pipis, cuci tangan-kaki-muka, lalu sikat gigi. Setelah ritualnya selesai, ia akan berganti piyama, dan kaos kaki, maka dimulailah kembali ritual kecil lainnya :)

Sama seperti orang tua yang lain, kehadiran Zua buat saya amatlah istimewa, ia bukan hanya anak saya, tapi ia juga guru, pembimbing, dan sahabat saya. Banyak buku, literatur, dan sumber dari internet yang saya baca demi kesempurnaan pola asuhnya. Apa yang saya rasa salah pada pola asuh keluarga saya, pola asuh keluarga suami, sejauh mungkin saya hindarkan. Kesempurnaan hanya milik Tuhan, tapi berusaha untuk sesempurna kita sebagai manusia bukan sesuatu yang salah kan?

Sejak Zua lahir, saya berdoa untuknya, teruuus sampai hari ini. Harapan saya, kelak ia akan jadi manusia yang penuh kasih terhadap sesama.

Alhamdulillah, diusianya yang sekarang, Zua sudah bisa membaca Al-Fatihah, surat-surat pendek dari juz amma, juga doa mau makan, mau tidur, syahadat, beberapa asmaul husna, juga berdoa sendiri. Saya tidak pernah memaksanya, satu hal yang saya tekankan adalah “Allah itu baik, yang paling sayang sama Zua itu Allah”.

Saya sadar, anak ini sedang mencari dan belajar tentang konsep keTuhanan, dalam sebuah forum diskusi yang dijawab seorang psikolog, beliau menjawab “Terangkan dalam kalimat yang sederhana dan konkrit karena pada masa ini kemampuan anak untuk berpikir abstrak belum berkembang. Jika si kecil sekarang juga mulai menanyakan ritual seperti sholat, doa yang diucapkan berarti apa orangtua juga perlu menjelaskan jawabannya. Dengan memberikan respon yang positif maka anak akan belajar mengenai konsep ketuhanan dan keagamaan dengan baik pula”. Tuh kaan, saya jadi belajar lagi :)

Saya ingin membagi tips untuk mengajarkan surat-surat pendek, atau doa pada anak-anak. Kuncinya satu, repetisi. Ulangi di jam yang kurang lebih sama, dengan susunan yang kurang lebih sama, dan ulangi terus menerus, perlahan, dengan intonasi dan pelafalan yang mudah ditirukan. Jika anak belum sempurna melafalkannya, jangan khawatir, Tuhan maha baik, nggak akan marah kok.

Biasanya setelah baca doa, baru lanjut ke aktifitas lanjutan, misalnya tidur. Disaat inilah saya menyelipkan arti dari doa yang dibacanya tadi, saya ceritakan tentang berkat Tuhan, saya sampaikan cerita tentang mengasihi sesama, tentang berbagi, dengan bahasa anak-anak tentunya!

Oh iya, anak adalah peniru paling ulung!! Jangan lupa, kalau anda ingin anak anda rajin berdoa, anda juga berdoa, kalau ingin anak anda rajin sholat, anda juga sholat, kalau anda ingin anak anda religious, andapun harus begitu!

Saya melihat banyak teman-teman saya yang menutup mata, membuat tanda salib, dan berdoa, bahkan sejak mulai mpasi, hasilnya?.. anaknya pintar dan tahu apa itu berdoa di 1-2 tahun.

Punya anak, berarti perubahan dan perbaikan besar-besaran untuk kita :)

*dikirimkan oleh Dhira Rahman, ibu dari Damar Hakim Lazuardi Rahman, 3 tahun 3 bulan


20 Comments - Write a Comment

  1. yup bener bgt dhir.. Syasya sejak bayi aq ajak berdoa tiap mau tidur, mendengar azan, mau makan, masuk kamar mandi, pergi dsb. Sekarang 22m sudah hafal doa sehari2, al fatihah n surat2 pendek juz ‘amma..walaupun pelafalannya msh belum tepat. Yg penting qt harus konsisten dan tdk memaksa anak..

    Semangat ya zua belajarnya..

  2. He’s so cute! Iya, yang penting kitanya harus konsisten & membuat ini bagian dari kebiasaan sehari-hari dari kecil.

    Terima kasih mommynya Zua & mommies lainnya juga yang rajin mengenalkan konsep ini sejak kecil..

  3. Bener banget Dhiirr! Kuncinya adalah repetisi dan contoh. Setiap sebelum tidur, gue selalu ajak Nadira doa mau tidur bareng-bareng. Sekarang Alhamdulillah dia udah hapal :-) Tapi abis itu wajib disambung dengan request “Nenen!”. Seakan-akan, request nenen itu adalah satu kesatuan sama doa mau tidur. Lha ntar kalo disapih, piye kabare iki? *puyeng*

Post Comment