Mengajarkan Makna Uang Pada Anak

Setiap keluarga pasti punya caranya sendiri dalam memperkenalkan makna uang pada anak. Ada yang memberatkan pada menabung, ada juga yang cenderung memberi kebebasan dengan uang jajannya. Tahap memperkenalkan uang pada anak ini adalah tahap yang penting sekali, karena disini lah cikal bakal anggapan anak tentang uang terbentuk. Jangan sampai mereka berpikir bahwa orang tuanya itu punya pohon uang (ATM) yang akan selalu memberi uang kapan saja mereka butuh.


“Uangnya buat apa Je?’..”Buat beli Beng Beng”..:D

Menurut Ligwina Hananto,

Biasanya orang tua akan terlena dan mengajarkan ‘menabung’. Padahal uang itu bukan untuk ditabung! Uang adalah alat pembayaran yang sah jadi sesuai fungsinya uang harus dibayarkan untuk sesuatu yang bermanfaat untuk hidup kita. Tapi tentunya jangan dihabiskan semua karena masih ada hari esok dan ada juga tujuan finansial yang jangka waktunya masih lama.

Nah, jadi yang harus diajarkan sejak dini adalah:

  • Kebutuhan. Setiap anak pasti ada kebutuhannya sendiri, dari mulai sepatu baru, kaos kaki baru untuk mengganti yang sudah bolong, mungkin kacamata dan lain sebagainya. Ajak anak untuk duduk bersama dan membicarakan tentang semua kebutuhannya. Mungkin yang membelikannya memang masih kita sendiri, tapi paling tidak anak perlu tahu bahwa setiap bulan mereka mempunyai kebutuhan dan perlu uang untuk membeli kebutuhan tersebut. Setelah kebutuhan tercukupi, baru kita bisa memenuhi keinginan kita.
  • Tujuan Finansial. Misalnya mau membeli sepeda, boneka Barbie, mau menonton Disney on Ice atau Ben 10 Live?. Ajarkan pada anak bahwa kalau mereka menginginkan sesuatu, they have to do something to make it happen. Jangan hanya berharap bahwa ayah ibunya akan selalu mengabulkan segala permintaannya.
  • Prioritas. Setelah mereka tahu apa saja yang mereka mau beli, kita bisa menanyakan atau membantu mereka mana yang lebih penting untuk didahulukan. Mau beli sepeda dulu atau beli PS3? Ini penting supaya yang mereka beli memang yang benar-benar mereka inginkan/butuhkan. Jangan impulsif seperti ibunya. Oopppsss!
  • Menabung. Kalau ini sudah pasti, tapi kitapun kalau dapat uang nggak semuanya ditabung kan?..hehehe, pasti ada yang ingin dibeli. Jadi kita juga jangan paksa anak untuk menabung semua uang yang didapat. Tugas kita adalah mengajarkan untuk membelanjakan uangnya dengan cermat dan juga menghindari sifat boros. Menabungnya juga jangan hanya di celengan ayam saja ya. Ajak anak ke bank supaya lebih mengerti bagaimana perputaran uang. Kalau anak sudah bisa menulis juga biarkan mereka mengisi sendiri formnya. Bahkan untuk yang Muslim mungkin bisa diajakarkan dari awal untuk menyisihkan 2.5% nya untuk yang membutuhkan :).

Berikut adalah cara yang diterapkan oleh Ligwina Hananto pada anaknya Azra, kelas 2 SD dan Dena, 5 tahun.

1. Uang saku mingguan

Dulu waktu Azra kelas 1 SD, saya mulai membiasakan Azra menerima Rp 10.000 setiap hari Jumat. Awalnya dia panik, seru, heboh dan menghabiskan semua uang sakunya untuk beli crepes coklat yang enak.

Tapi terus nggak punya uang untuk makan.. :D

Lalu minggu berikutnya dia bilang ingin beli ayam goreng krispy, tapi Rp 10.000 itu tidak cukup untuk beli ayam goreng krispy dan nasi. Jadi nasinya bawa dari rumah..:)

Terakhir, dia cerita kalau uang sakunya digunakan untuk beli crepes dan beli minum, trus masuk ke kenclengan Jumatan dan sisanya ditabungkan. Jadi dari usia masih sekolah dia sudah belajar cara ‘membelanjakan’ uang.

2. Uang angpau / lebaran

Anak-anak saya punya hak penuh atas angpau lebaran mereka. Jadi setiap habis lebaran mereka harus membagi dua angpau lebaran mereka. Setengah untuk disetorkan ke tabungan pribadinya sambil kita jelaskan kenapa uang ini harus ditabungkan. Azra sudah bisa bilang, suatu hari dia ingin beli mobil dengan uang di tabungannya itu. Dena sih belum mengerti dan masih protes kenapa uangnya harus diberikan pada tante teller di bank. Tapi proses untuk pergi menabungkan uang ke bank itu sendiri sudah menunjukkan pada anak tentang arus ke mana saja uang kita berputar.

Lalu setengahnya lagi boleh dihabiskan untuk beli mainan atau buku. Jadi setiap jalan-jalan ke mall anak-anak tidak pernah rewel menjerit-jerit minta beli mainan. Mereka tahu mereka cuma perlu window shopping. Nanti saat lebaran tiba mereka bisa belanja sepuasnya. Lucu juga melihat mereka dengan hati-hati cek harga mainan dan menghitung apakah uang yang mereka miliki cukup untuk membeli mainan tersebut.

Nah, bagaimana dengan kalian?


53 Comments - Write a Comment

Post Comment