Saya Adalah Ibu Rumah Tangga

“Sekarang kerja dimana?”

“Nggak kerja, Jadi ibu rumah tangga aja” jawab saya dengan senyum ramah.

Namun apa yang saya dapat? Sepasang mata yang tadinya hangat menyapa berubah menjadi sinis dan (menurut saya) sedikit merendahkan saya.

Sigh.

Tapi itulah kenyataan yang saya dapatkan ketika saya bertamu ke rumah saudara jauh dari ibu saya. Pembicaraan yang tadinya hangat membahas tingkah laku si kecil berubah jadi biasa saja ketika sang paman tahu kalau saya tidak bekerja. Lagi-lagi (karena ini bukan untuk yang pertama kalinya saya mendapatkan perlakuan seperti itu) keputusan saya menjadi ibu rumah tangga dianggap salah. Memangnya apa yang salah ketika saya lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga?.Saya memang lulusan salah satu universitas terbaik di negeri ini, saya pun mengantongi ijazah S2 dengan tulisan cum laude predicate di dalamnya. Lalu apa salah kalau saya memilih menjadi ibu rumah tangga? Apa memang seharusnya saya lebih mengejar karier untuk membuktikan saya lulusan cum laude yang bisa mempraktekkan apa yang sudah saya pelajari di universitas itu. Saya pernah bekerja di salah satu foundation merk rokok terkenal (walaupun kontrak sih hehe.. ;p) dan saya juga pernah bekerja sebagai researcher di salah satu majalah bisnis terkemuka di Indonesia, lalu pilihan saya untuk berhenti dan memilih menjadi ibu rumah tangga masih salah?

“Nggak kasihan sama ilmunya? Capek-capek sekolah kok ga dipake ilmunya..”

Bagi saya nggak ada ilmu yang nggak berguna, memang tidak 100% ilmu yang saya pelajari di bangku universitas saya pakai di kehidupan sehari-hari, namun setidaknya memberi dampak dari cara saya berpikir dan mengambil keputusan. Saya bisa (cukup) mengatur cashflow mengambil keputusan tentang investasi yang saya akan ambil dari pelajaran finance di bangku kuliah, pelajaran Operation Management juga membantu saya mencari cara yang paling efisien dalam melakukan tugas sehari-hari, apa saja yang harus saya lakukan duluan, apa saja kegiatan yang harus kurangi agar bisa membereskan hal-hal yang lain. Toh menerapkan ilmu belum tentu di pekerjaan khan?

Suatu hari teman saya bertanya

“Nggak kepengen kerja lagi?”

dan saya hanya menjawab

“Nggak dan nggak kepikiran untuk kerja dulu”

Iya dan itu memang benar, saya benar-benar tidak kepikiran untuk bekerja lagi, di saat teman-teman seumuran dan seangkatan saya sibuk mencari kerja di perusahaan hebat atau sudah memiliki karier yang bagus di perusahaan yang bonefit, saya lebih memilih profesi ibu rumah tangga. Bagi saya mengurus putri cantik saya saja sudah menghabiskan seluruh pikiran saya. She’s the centre of my universe. Dan pikiran untuk meninggalkannya dalam waktu 8-10 jam sehari bagi saya cukup berat, nggak tega dan membuat saya sangat tidak nyaman. Bukan untuk meng-underestimate para ibu-ibu yang bekerja dan berkarir,bagi saya mereka hebat! Bisa menguatkan hati mereka berangkat bekerja, mendapatkan aktualisasi diri, mengejar passion mereka, dan bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Tapi saya tidak sekuat mereka, saya lebih memilih tinggal di rumah menemani putri saya bermain,bercanda, atau sekedar tidur siang bersama putri saya.

Lalu setiap ditanya mengapa memilih jadi ibu rumah tangga, saya selalu menjawab

“Hidup itu kan berdasarkan prioritas, dan prioritas saya saat ini adalah anak dan keluarga”

Yup,prioritas saya sekarang membesarkan anak saya yang masih berumur 1 tahun, mengurus suami saya, belajar menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga saya. Saya sangat bersyukur walaupun hanya suami yang menjadi tulang punggung keluarga, kehidupan kami cukup layak. Suami pun tak keberatan (malah mendukung) saya menjadi ibu rumah tangga. That’s why i marry him!

“Nggak nyesel jadi ibu rumah tangga? Gimana sama cita-cita kamu?”

Sama sekali nggak nyesel jadi ibu rumah tangga, bagi saya menjadi ibu rumah tangga merupakan suatu pengalaman yang paling berharga yang pernah saya alami. Saya banyak belajar tentang pengalaman hidup dari sini. Dan tentang cita-cita saya yang ingin menjadi guru, mendirikan taman kanak-kanak dan memiliki wedding organizer, suatu hari pasti bisa terwujud. Bagi saya semua itu ada waktu dan tempatnya, dan saya yakin impian serta cita-cita saya bisa (sedikit) menunggu. Dan kapan kiranya saya akan memulai mengejar impian saya? Jawabnya cukup simpel, yaitu ketika anak (insyaAllah) yang ketiga saya, sudah masuk Taman Kanak-kanak, yaa kurang lebih 7 tahun lagi. But who knows? siapa tahu impian saya bisa terwujud lebih cepat ;)

Dikirimkan oleh Icha, mama dari Aretha (13 bulan). Kita doakan cita-cita kamu segera tercapai. Enjoy your time as a full time mommy! :)


111 Comments - Write a Comment

  1. Gw banget nih..sampe males ke acara keluarga krn ditanyain “kenapa gak kerja?”, dan “kok belum punya anak?”.

    Padahal ibu rumah tangga tuh kan segala profesi dijadiin satu, financial planner, chef, home organizer, entertainer, motivator, teacher, dan klo gw skalian jd IT support plus translator krn lbh ngerti dr suami..

    Walopun ntah kenapa belum “dikasih” anak sm yang Di-Atas, emang gw udah niat untuk jd ibu rmh tangga yg bs slalu ada u anak gw nanti. Gw udah liat sndiri ibu yg lbh milih kerja. Ibu gw sih gak sampe nelantarin, tapi suka sirik aja liat tmen2 yg ibunya gak kerja, lebih akrab.

  2. envy deh bisa jadi IRT, dulu saya juga pernah menjadi IRT setelah saya lulus kuliah (saya nikah muda) tapi setelah itu saya bekerja dgn alasan ingin membantu keuangan keluarga dan alhamdulilah dgn suami dan saya bekerja kami dgn cepat mempunyai rumah dan mobil, tapi sebenarnya di hati kecil saya, saya ingin menjadi IRT dan berharap someday saya bisa jadi IRT sesungguhnya.

    iri banget bisa jadi IRT seutuhnya :)

Post Comment