Saya Adalah Ibu Rumah Tangga

by: - Thursday, April 15th, 2010 at 7:57 am

In: Mommy Chatter 110 responses

0 share

“Sekarang kerja dimana?”

“Nggak kerja, Jadi ibu rumah tangga aja” jawab saya dengan senyum ramah.

Namun apa yang saya dapat? Sepasang mata yang tadinya hangat menyapa berubah menjadi sinis dan (menurut saya) sedikit merendahkan saya.

Sigh.

Tapi itulah kenyataan yang saya dapatkan ketika saya bertamu ke rumah saudara jauh dari ibu saya. Pembicaraan yang tadinya hangat membahas tingkah laku si kecil berubah jadi biasa saja ketika sang paman tahu kalau saya tidak bekerja. Lagi-lagi (karena ini bukan untuk yang pertama kalinya saya mendapatkan perlakuan seperti itu) keputusan saya menjadi ibu rumah tangga dianggap salah. Memangnya apa yang salah ketika saya lebih memilih menjadi Ibu Rumah Tangga?.Saya memang lulusan salah satu universitas terbaik di negeri ini, saya pun mengantongi ijazah S2 dengan tulisan cum laude predicate di dalamnya. Lalu apa salah kalau saya memilih menjadi ibu rumah tangga? Apa memang seharusnya saya lebih mengejar karier untuk membuktikan saya lulusan cum laude yang bisa mempraktekkan apa yang sudah saya pelajari di universitas itu. Saya pernah bekerja di salah satu foundation merk rokok terkenal (walaupun kontrak sih hehe.. ;p) dan saya juga pernah bekerja sebagai researcher di salah satu majalah bisnis terkemuka di Indonesia, lalu pilihan saya untuk berhenti dan memilih menjadi ibu rumah tangga masih salah?

“Nggak kasihan sama ilmunya? Capek-capek sekolah kok ga dipake ilmunya..”

Bagi saya nggak ada ilmu yang nggak berguna, memang tidak 100% ilmu yang saya pelajari di bangku universitas saya pakai di kehidupan sehari-hari, namun setidaknya memberi dampak dari cara saya berpikir dan mengambil keputusan. Saya bisa (cukup) mengatur cashflow mengambil keputusan tentang investasi yang saya akan ambil dari pelajaran finance di bangku kuliah, pelajaran Operation Management juga membantu saya mencari cara yang paling efisien dalam melakukan tugas sehari-hari, apa saja yang harus saya lakukan duluan, apa saja kegiatan yang harus kurangi agar bisa membereskan hal-hal yang lain. Toh menerapkan ilmu belum tentu di pekerjaan khan?

Suatu hari teman saya bertanya

“Nggak kepengen kerja lagi?”

dan saya hanya menjawab

“Nggak dan nggak kepikiran untuk kerja dulu”

Iya dan itu memang benar, saya benar-benar tidak kepikiran untuk bekerja lagi, di saat teman-teman seumuran dan seangkatan saya sibuk mencari kerja di perusahaan hebat atau sudah memiliki karier yang bagus di perusahaan yang bonefit, saya lebih memilih profesi ibu rumah tangga. Bagi saya mengurus putri cantik saya saja sudah menghabiskan seluruh pikiran saya. She’s the centre of my universe. Dan pikiran untuk meninggalkannya dalam waktu 8-10 jam sehari bagi saya cukup berat, nggak tega dan membuat saya sangat tidak nyaman. Bukan untuk meng-underestimate para ibu-ibu yang bekerja dan berkarir,bagi saya mereka hebat! Bisa menguatkan hati mereka berangkat bekerja, mendapatkan aktualisasi diri, mengejar passion mereka, dan bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Tapi saya tidak sekuat mereka, saya lebih memilih tinggal di rumah menemani putri saya bermain,bercanda, atau sekedar tidur siang bersama putri saya.

Lalu setiap ditanya mengapa memilih jadi ibu rumah tangga, saya selalu menjawab

“Hidup itu kan berdasarkan prioritas, dan prioritas saya saat ini adalah anak dan keluarga”

Yup,prioritas saya sekarang membesarkan anak saya yang masih berumur 1 tahun, mengurus suami saya, belajar menjadi istri dan ibu yang baik bagi keluarga saya. Saya sangat bersyukur walaupun hanya suami yang menjadi tulang punggung keluarga, kehidupan kami cukup layak. Suami pun tak keberatan (malah mendukung) saya menjadi ibu rumah tangga. That’s why i marry him!

“Nggak nyesel jadi ibu rumah tangga? Gimana sama cita-cita kamu?”

Sama sekali nggak nyesel jadi ibu rumah tangga, bagi saya menjadi ibu rumah tangga merupakan suatu pengalaman yang paling berharga yang pernah saya alami. Saya banyak belajar tentang pengalaman hidup dari sini. Dan tentang cita-cita saya yang ingin menjadi guru, mendirikan taman kanak-kanak dan memiliki wedding organizer, suatu hari pasti bisa terwujud. Bagi saya semua itu ada waktu dan tempatnya, dan saya yakin impian serta cita-cita saya bisa (sedikit) menunggu. Dan kapan kiranya saya akan memulai mengejar impian saya? Jawabnya cukup simpel, yaitu ketika anak (insyaAllah) yang ketiga saya, sudah masuk Taman Kanak-kanak, yaa kurang lebih 7 tahun lagi. But who knows? siapa tahu impian saya bisa terwujud lebih cepat ;)

Dikirimkan oleh Icha, mama dari Aretha (13 bulan). Kita doakan cita-cita kamu segera tercapai. Enjoy your time as a full time mommy! :)

Share this story:

Tags:

Recommended for you:

110 thoughts on “Saya Adalah Ibu Rumah Tangga

  1. Pingback: Mommies Daily
  2. Pingback: Ayu Leonyta Taher
  3. Pingback: arghatara - wibowo
  4. Pingback: dian agustin
  5. Pingback: Nurulia
  6. Pingback: kirana
  7. Pingback: ariemega
  8. Pingback: Indah Lazawardiah
  9. Pingback: Windia Mulia
  10. KUDOS!

    Kadang2 banyak orang lupa kalau “ibu rumah tangga” itu juga pekerjaan dan lebih capek daripada kerja kantoran. Gimana ga capek? 24/7, 365 hari/tahun tanpa gaji, cuti apalagi THR. Soal ilmu, yg org ga ngeh juga, seorang IRT itu juga butuh ilmu utk menjalankan fungsinya dng (lebih) baik. Nah, dengan background pendidikan yg ok, berarti semakin ok pula ilmu yg bisa diterapkan dlm RT ybs. Menurut gue sih gitu :D.

  11. Hehehhe…
    sama.. aku sekarang juga suka dapet muka-heran dari beberapa teman dan orang yang tahu kalo aku resign dari kerjaan saya di sebuah stasiun TV. Saya juga lagi ambil S2. Sekarang jelas kerja di rumah, kuliah, thesis, mengelola usaha yogurt kecil-kecilan dan ngurusin kerjaan rumahtangga yang…. AMPUNNN… kok lebih berat dari kerja rodi di TV ya?

    Hahhaha.. but i really enjoy it. Lebih berharga buat saya untuk kerja di rumah, paling tidak, dekat dengan anak. Sedih juga kalo mengingat 3 tahun pertamanya saya tinggalin anak saya demi uang yang (ternyata) nggak seberapa.

    Tapiii… saya punya pikiran buat kerja lagi sih setelah S2 lulus, yang lebih menghasilkan dan bermasadepan lebih cerah tentu saja (^_^)

  12. salute!..
    saya juga punya pola pikiran yang sama dgn mbak Icha..
    tidak ada salahnya bersabar dan menahan diri untuk menggapai cita2, Insya Allah semua itu ada waktunya..
    dunia saya sekarang ini hanyalah untuk putri saya yang berusia 6 bulan, and I’m trying to be a good mom n wife.. ;)

  13. Aku juga, aku juga! Banyak yg heran dan nggak percaya gw dirumah skg, termasuk suami :D
    Dan ttg dirumah ini, masaolo sumpah deh lebuh berat drpd waktu kerja dulu. Apalagi ga ada ART/ BS, jd bener2 cuma beduaan aja sm Langit. Rasanya mendingan disuruh bikin naskah program tv/ tulisan yg banyak kalo lg bete.. Kalo kerja kantoran kan ada waktu selesai bekerjanya, smentara dirumah? Mana ada selesainya??
    Tapi gw msi nikmatin banget. Sempet kerja kantoran kmrn cuma kuat 4 bulanan, krn ngerasa rugi aja di jam yg biasa gw lg main sm langit kok malah lg bermacet2 ria di jalan yg makin ga bersahabat itu :(
    Niat kerja lagi, masih ada. Skg jg msi freelance2 siy. Mungkin nnt kerja tetap kalo langit udh bs ditinggal. Bener bgt kata mbak Depe, ninggalin anak demi yg ga seberapa (buat aku, mgkn kalo yg gajinya puluhan juta mikir2 lagi :p ) sementara usia anakku nggak bisa diulang lagi kan :)

  14. wanita ada yang tercipta untuk hidup sendiri dan karirnya yang hebat…
    ada wanita yang memang diciptakan untuk jadi : family is my center of universe..
    ada wanita yang menjadi ibu bagi dua anaknya dan berkarir..

    pick one…

  15. I think it is a wonderful blessing to be a mother, and nothing is more rewarding than to see our child grow happily before our eyes :) only mothers understand that. I salute you (dan semua ibu2 RT lainnya!) semoga gw bisa menyusul dengan percaya diri hahah:>

    ps. aretha lucu banget sihhh…*muah muah*

  16. Lucky you bisa jadi ibu rumah tangga. There are times when I wish I’m just Jibran and Jehan’s mom who have nothing else to do outside of my role as a mom or wife..:D.

    Jujur aja gue nggak menyangka sih kalo the older generation in our society itu memandang sebelah mata ke ibu rumah tangga. Justru gue kira mereka akan memandang sinis sama ibu2 yang ninggalin anaknya sama baby sitter. Salah yah…hehe. Kalo yang seumuran sih pasti banyak lah yang kayanya keheranan dengan pilihan itu…mungkin mereka takut kalo temennya yang dulu asik dan seru berubah menjadi ibu ibu yang dasteran tiap hari, bau masakan, khatam sama sinetron dan nggak bisa diajak ngobrol topik lain selain ngobrolin anaknya..hehe…(which is not the case untuk IRT jaman sekarang yaaa)

  17. Kalo gw sih ngeliatnya the older generation, terutama yang IRT, punya pikiran bahwa menjadi ibu bekerja = financial freedom. At least ini yang gw denger dari mulut ibu mertua gw dan beberapa tante yang mengeluh kalo buat beli bedak aja mereka mesti nunggu dikasih duit sama suami. Beliau2 itu ngiri banget sama banyaknya kesempatan buat perempuan jaman sekarang.
    Kalo buat gw, gw setuju sama banyaknya kesempatan buat perempuan jaman sekarang, dan itu termasuk kesempatan memilih apakah dia akan memilih jadi working mom atau stay at home mom. Life is about choices, lengkap dengan konsekuensi masing2.

  18. wahhh… klo saya sih selalu ingin menjadi IRT namun karena keuangan yang tidak memungkinkan jaman sekarang ini, dan apalagi jaman yang akan datang.
    jadi menurut saya, nowadays, menjadi IRT bukan cuma suatu pilihan yang bisa kita pilih, tapi lebih tuntutan jaman..yang ujung2nya berhubungan dengan financial problems..

  19. kalau pengalamanku sih sampe sekarang rasanya belum pernah dipandang sinis gara2 (lagi) gak kerja di luar rumah gitu (apa gwnya kagak sensitif ?). dan kalau dari aku nya sendiri, sebetulnya pengennya tetep kerja, either di luar rumah atau dari rumah, pokoknya yang bisa menghasilkan. secara yah, belum punya rumah, mobil, tabungan buat sekolah anak2 juga masih kudu dikejer…berasa wasting time banget tiap hari cuman ngurusin urusan domestik. bukannya anak itu gak penting, justru karena anak itu penting, maka aku pengen bisa ngasih yang terbaik untuk mereka, terutama untuk satu bidang yang akan menjadi pegangan hidup mereka nanti – pendidikan. di mana untuk itu ya tidak bisa dihindari, perlu UANG.

  20. Iyaa… aku baru aja resign per 4 April ini, dan ini masih menjalani 1 month notice. Dan betul, mama papaku kayanya ga rela aku resign walaupun setelah aku jelaskan semua alasannya (yang mainly karena anak lah). Dan untuk melegakan orang tua aku bilang kalo setelah resign mo fokus ngerjain resto yang mau kita buka (kerjasama dengan beberapa teman Indonesia di sini), dan tetep aja nanyain, emang gajinya kerja di resto sama tempatmu sekarang bagus mana.. Haduuuh… gimana sih, kan aku punya share (walau dikiiiiit) di resto itu.. ya ga dibayar lah.. #$%@#$@$

    Sampai mamaku sempat nawarin, apa Latifah ditinggal aja di Indonesia biar diriku konsen kerja? huhuhuhuhu.. gak mau lah..

    Belum lagi pertanyaan SEMUA teman cewek di sini, why resigning? walau dijawab karena anak, tetep aja nanya, ga sayang ta, kan cuma 7 menit dari rumah, kan kerjanya cuma 7 jam sehari.. dan bla..bla.. bla.. mereka ga tau kalo selama ini aku ngiri ke mereka semua yang bisa sering jalan-jalan sama anak, kumpul-kumpul anytime, ikut pengajian ini itu, shopping awal kalo lagi musim sale, dan bisa les-les apapun yang mereka mau.. Dunia emang aneh:))

  21. Baca artikel ini seperti baca diary saya.. hehe…
    Been there, done that and of course i know how it feels.. bahkan (waktu itu) ibu saya menutup-nutupi kenyataan bahwa saya sudah resign dgn bilang ke orang2 atau sodara2 bahwa saya masih ambil cuti panjang. aduuh..sedih bgt rasanya…. Rasanya ko tdk didukung mjd FTM :(
    Tapi setelah cucunya lahir ke dunia..beda lagi ceritanya. Saking sayangnya..Ibu saya bilang, takut klo cucunya diasuh org lain. Maklum..berita jaman sekarang kan serem2 ya.. Saya sih cuma mesem aja… (sambil mulut komat kamit mengucap syukur, haha…)
    Thanks for sharing…

  22. heikksss…saya IRI…..:(

    Saya mau jadi FTM..ASAP…huhuhuhuhhuhuhuhuhu

    Ga ada artinya deh, kerjaan dan jabatan keren di kantor dibanding lihat senyum dan pelukan dr si kecil setiap saat…

  23. gak salah memang, tapi mungkin bisa melihat dari sisi pandangan lain, e.g.
    - sudah disekolahkan, kalau di sekolah negeri atau dapat beasiswa, berarti sudah menggunakan uang rakyat (which could’ve gone to someone else who could’ve spent 100% of time expanding ilmu dan bidang studinya). so the other people, who did not have a chance to study or the opportunities for a career like you could’ve had, wonder why you choose to throw it all away.

    - jaman dulu hidup wanita berkisar kasur, sumur, dapur, dan didobrak dengan susah payah oleh pendahulu kita, e.g. supaya wanita bisa bersekolah dan berkarir dll. for what? so that women can go back to dapur sumur kasur? that’s why perhaps you’ll find older generation yg sinis.

    - if i knew that i was to become a full time mom, the set of knowledge i’d need to require is probably different. sama aja dengan karir ya, if you want to be a geologist, you don’t study anthropology. so…if you want to be a full time mom, why would you not want to membekali diri dengan sebaik2nya untuk mencapai hal tersebut? so implicitly, if one is observed to have gone to all the trouble of acquiring a knowledge, why would you not want to impelement them?

    to be honest, gue justru heran kenapa (highly educated) full time moms heran bahwa orang heran dengan pilihannya untuk menjadi full time moms.

  24. The thing is len, most women didn’t know they will choose to become a full time mom until they become one. Gue jarang sih ketemu orang yg dari sma atau kuliah bilang “Gue mau jadi ibu rumah tangga!”. Pastinya maunya ya kuliah sesuai jurusan pilihan dan bekerja. Deciding to quit working and become a FTM is not an easy one to make at all and IMO, you will never understand the process that goes behind the decision until you have a kid because that’s what happened to me. Dulu gue heran banget liat temen2 gue yg abis cuti melahirkan kok kayaknya berat banget mau balik ngantor lagi trus kakak gue bilang “You’ll understand when you’re in our position” dan bener aja. There are many things, complex things, involved in the decision making and having gone through it, I now conclude that there is no right or wrong way: you just have to choose one and hope it’ll work for the best.

    Having said that, gue jg mengerti kenapa older generation menganggap pilihan menjadi full time mom itu sesuatu yg mengherankan mostly karena pointnya Lena yang no.2. Mereka dulu nggak seperti kita yang punya banyak pilihan dan wajar aja kalo mereka menyayangkan kenapa kita “menyia2kan” pilihan utk bisa bekerja demi jadi ibu rumah tangga, dan gak segampang itu ngerubah pendapat mereka.

    My advice is to never feel like you have to explain yourself to people about the choices you make. Because you don’t.

  25. huhuhu artikelnya gw bgt
    tosss dulu mba
    apapun pilihan seorang Ibu, menjadi Ibu pekerja ataupun IRT, semua Ibu pasti ingin yg terbaik utk anaknya :)
    good luck ya!

  26. selamat ya mbak, bisa mengucapkan dengan bangga “Nggak kerja, Jadi ibu rumah tangga aja”
    sejujurnya saya iri seirinya..
    saya juga mau mengatakan itu dengan bangga dan nyata, bukan cuman ” saya akan segera jadi ibu rumah tangga aja ”

    T_T

  27. Satu kata, SALUT!!

    Menurut saya, menjadi Ibu Rumah Tangga adalah pengabdian, dan jihad tanpa batas..
    Apalagi utk para ibu yg punya background pendidikan dan karir yang bagus, kemudian memutuskan utk menjadi FTM.. sungguh pilihan yang sangat sulit, tapi saya yakin tak akan ada yang pernah menyesali keputusan itu.

    Dulu sayapun pernah dinasehati Ibu saya, beliau resign dari pekerjaannya setelah melahirkan saya, padahal saat itu beliau sedang gemilang2nya di karir.. beliau selalu bilang tak pernah menyesal dgn keputusannya krn melihat tumbuh kembang anak, mengikuti, menemani dan selalu disisi anak itu priceless!

    Saya juga FTM spt mbak Icha dan banyak ibu2 lain, tanpa BS ataupun ART, alhamdulillah saya jg sudah menamatkan S2 sejak 4tahun lalu dan masih punya cita2 untuk bisa sekolah lagi sampai S3, menurut saya tidak ada batasan orang utk bisa terus menuntut ilmu.. Kata siapa FTM gak perlu pake otak? hehehehe

  28. affi, iya gue juga ngerti hal itu. and it doesn’t apply only to decisions to undertake full time parenting, also with other aspects of life. tadinya pengen jadi dokter, udah dapet medical degree, decide untuk jadi errrr koki. misalnya.
    coba deh, heran gak kalo ada orang yg begitu? dan ngerasa sayang dengan all the medical education and expenses and time etc. i also look at it as being responsible. kalau hitung2, negara sudah membayar milyaran rupiah to educate me (throught schooling in a state-sponsored school, through scholarships, etc). it could’ve gone to other people. if this were a business proposition, dan seorang pemodal memberkan gue milyaran rupiah untuk usaha, then i decide i don’t want to continue, after spending all the money away, i’d probably be jailed.
    of course this example doesn’t apply full the situation, but i just don’t see why some level or responsibility can’t be applied (instead of congratulations, misalnya).

    definitely people’s lives are full of changes, unpredictable happenings. and people should make decisions that are best for them. what i am saying is, please consider the wider impacts of your decisions. the right of women to get and education and a professional career had been fought for, and people are still fighting for it, masih diperjuangkan, on some level. on the other hand, the right of women to be a full time mom is (almost) a guarantee. let’s not undermine the fight.

    mamadipta, even if your mom had regrets, do you think she’d say so to her children??
    *iseng aja nanya hahaha*
    my mom also made this choice, and regrets are mine.

  29. Len bukannya kalo dikasih beasiswa itu harus kontrak yah? At least yang gue temuin sih gitu, baik dari instansi pemerintah sama swasta. Jadi harus kontrak misalnya minimum 2 atau 3 taun setelah masa pendidikannya selesai dan kalo melanggar ya dikenakan denda. Berarti kan kalo udah lewat masa ‘karantina’nya nggak bisa dibilang irresponsible ya. Lagian banyak juga kok yang udah lewat masanya trus pindah kerja..it’s only natural to find a more tempting offer..

    Kalo soal pindah karir sama meninggalkan karir kayanya agak beda ya Len. Karir apapun namanya tetep kerja, either for the money, for the acknowledgment, for living her passion or for other reason. Nah kalo memutuskan untuk jadi stay at home mom kan berarti dia melepaskan semua yang bisa dia accomplish as a career woman, all for her children and for the future generation.

    Btw Len…kenapa menyesal nyokap jadi ibu rumah tangga? She has raised you and your siblings well kan..(good education, environmentally friendly family and all other positive things)

  30. Aku suka jawaban Alinarie :)
    *peluk Arie*

    Sebelum bekerja, aku IRT. By choice.
    Walaupun aku yakin pasti ada yang mempertanyakan, tapi aku sungguh nggak bahagia di ‘rumah saja’. Demi Tuhan, aku ngga bermaksud bilang jadi IRT itu mudah. Masya Allah berat. Walaupun aku bangga menjadi IRT, aku ngga menyangkal kalau tinggal di rumah adalah perjuangan. Yang sulit kuatasi.

    Kesempatan kerja datang: tawaran untuk mengajar. Persis di akhir tahun kedua aku menyusui. Dan keluarga mendukung penuh.
    Kata suami, “Aku tahu kamu akan lebih bisa berkarya di sana. Aku juga tahu kamu tertekan di rumah. Bekerjalah.”

    Dan beginilah sekarang. Menikmati pekerjaanku. Menikmati waktu yang terbatas di rumah bersama keluarga, tapi lebih kuhargai ketimbang sering marah-marah seperti dulu :p

    Sebagai ibu rumah tangga, aku pernah menulis tentang ‘Bukan salah ibu bekerja’. Dan sebagai ibu bekerja, aku berpendapat ‘Ibu rumah tangga adalah profesi mulia’. Tak ada yang dapat disangsikan dari keduanya, bahwa perempuan, ibu, adalah sosok yang melahirkan masa depan.

    I do believe that the choice is personal. Depends on the person, the family, and the specific circumstances for the options.

  31. I got your point Lena…

    My Sister in Law is [was] a dentist. Dentist.. yang di otak gue pasti belajarnya susah.. dapet IP sampai 4 nih orang pasti kuliaah muluuu. setelah anaknya lahir, setaun kemudian dia mutusin resign fully jadi ibu rumah tangga.

    ibu dari kakak ipar gue, gag sekolah, tapi karena dagang omzet milyaran, bisa nyekolahin anaknya. reaksinya: “tau gitu sampe sma aja terus mamah kawinin kamu.”..

    jadi irt di mata keluarga gue yaa gag jelek lah, unless dia bawa proper manner ke keluarga besar gue. gag uring2an, gag jutek, gag sinis. oke, dia bisa raised anak2nya jadi :super child”, pinter dsb, tapii.. kalok depan mertua ngomongnya sepet kan bete juga dengernya,
    main reason dia berubah karena kakak gue gag bisa menuhin kebutuhan rumah tangganya properly. dibandingin sama kakak beradik lainnya, kakak gue ini bener2 harus banting tulang.. poor him.. kadang err. mostly monthly ya gue bantuin mereka financially.

    again, my first comment was about to pick one.. tapi.. sekali lagi kayak quote nya lita.. depends on the person… kalau memang mau jadi center of universe di keluarga monggo.. orang lain masa bodoh, ya wassalam… yg ada gue bakalan gag henti2nya ngomongin tipikal kek gitu.. :D

  32. I second Lena on “gue justru heran kenapa (highly educated) full time moms heran bahwa orang heran dengan pilihannya untuk menjadi full time moms”

    Kenapa? Karena saya melihat banyak yang dikorbankan oleh orang lain supaya saya bisa sekolah dan bekerja dan hidup lebih baik. It’s a fight indeed.

    Dan tidak mengherankan kalau orang lain heran juga :p

    My mom sometimes regrets her decision to be FTM (or her condition at that time, to be exact). And yes, she said that clearly to me. If she knows where she’s at now (and how she would have to go through all things in her life since then), she would not have quit her job.

    But don’t get me wrong, she also said she is glad she can always be there for me and my two brothers (walaupun kita bertiga sangat “ngglidik” :D); and for me, she’s the best!

  33. “Hidup itu kan berdasarkan prioritas, dan prioritas saya saat ini adalah anak dan keluarga”

    yap…ini gue banget. saat ini.
    saat ini gue pengen bisa pantau anak 24/7. itu juga sebabnya gue punya anak rada mepet2. supaya nanti, ngga lama lagi, saya bisa fokus ke kegiatan saya sendiri karena mereka udah bisa lebih mandiri. entah itu mau kerja lagi, ato yang lain.
    jadi gue anggep sekarang ini gue bertapa. nanti ada saatnya gue ngga sekedar emak 3D.

  34. hanzky, gak semua beasiswa ada syaratnya. dan kalaupun ada syaratnya, you think 2-3 years is enough? for a lifetime of opportunities that it provided?
    anyway, if chances of women leaving the careers, for which they are educated, remains high/increase even further, the doors will start to close, i.e. given 2 people with the same level of intellect and experience, employers/educators will increasingly (go back) to choosing men.

    nowadays, the support sytems for a working mom is in place: pembantu, baby sitter, teknologi, even the men are different, dll. i think the ones to be congratuled are those moms who can juggle both home and a career, and show the strategic ways they cope.

    my mom? she could have been gubernur bank indonesia. atau CEO astra. like her (men) friends.

  35. menurut saya, mba icha ini hanya menceritakan “her story” tanpa ingin memaksakan jalan pikirannya ataupun harus setuju dengan pendapatnya…dia pun tidak menyalahkan ibu2 yang bekerja di luar rumah..

    mengenai ibu rumah tangga vs. working mom = it’s gonna be never ending debate
    semua orang punya alasan masing-masing untuk pilihan yang mereka ambil..

    that’s her life, her decision…
    so, pick your decision n live your life…

  36. Apapun pilihannya working mom vs full time mom, either one is not an easy choice.

    I know lots of stay-at-home moms here are well educated. They are full time mom when their children were very young. I know couple of moms well educated (has PHD in chemistry), who’s been staying at home for 18 years (have 5-6 children) and now they’re re-training and getting back to work. Most mom here, when their last child starts pre-school, they start re-training and getting back to work. Those mom are government funded educated (back then university was free here – Margaret Tatcher’s era). Why would it be a problem in Indonesia educating women? “Education shall be directed to the full development of the human personality and to the strengthening of respect for human rights and fundamental freedoms” (article 26(2) the universal declaration of human right) Women are the backbone of the country. We raised children, who will be the foundation of the country. I think the main problem is the working condition which geared towards men. So, let’s fight for better work condition for women, then I’m sure lots of women will be happy to work.

    Let’s don’t forget that women’s nature to raise and care for their offspring. For me, I don’t think anybody else could raise my children better that I do. How would I, who have all the best intention for my children, let my children to be raised by a stranger?

    I think what need to change is not being judgmental towards others. Don’t judge a person if one never been in the others’ position. Working moms or stay at home mom, both have pro and cons, the best is the one who can balance and happy with their decision.

  37. Pingback: Selamatkan Ibu
  38. Pingback: Selamatkan Ibu
  39. Pingback: Denny Prahastari
  40. Pingback: Devina P. Suhari
  41. Pingback: Putri Astrinia
  42. Pingback: Anggria
  43. Pingback: megatantri abraham
  44. Be patience tante icha… That was the same questions that been asking to my mom every single moment she goes out, I’ve been hear it much since I was still in my mom’s body.. Hihihihi.. and I heard what she says inside… Ganbarenakuchaaaa!!! Hasbunallah wa ni’mal wakiil..

  45. waah ternyata byk jg tmn2 yg senasib sepenanggungan nih dg saya hehehe..
    saya kira saya aja yg sering mendapat tatapan remeh ataupun kritikan pedas dari ortu ketika memutuskan utk jd IRT saja…
    saya bertahan hingga Nara (putri kecilku) berusia 1,5 tahun hiks..hiks..tp pd akhirnya keadaanlah yg menang (ortu terus2an memaksa aq bekerja dg alasan “sudah disekolahkan susah payah koq akhirnya cuma jd iRT” sediiihh rasanya mendengar mereka berpendapat spt itu…
    Aq memutuskan utk mulai bekerja dan menitipkan Nara diDaycare..beraaattt bgt rasanya bulan2 pertama, air mata ini slalu mbanjir setiap menitipkn Nara dan pergi kerja…
    Yah beginilah dilematis yg ku alami sbg seorang anak dari Ortu yg tidak mau mengerti, dan seorg Ibu yg berharap slalu bisa mendampingi anaknya setiap waktu…untungnya aq diberikan seorang suami yg luar biasa mensupport setiap keputusanku dan mau menanggung resiko ketika aq memutuskan (dg sgt terpaksa) utk bekerja…

  46. saya iri dg ibu2 yg bisa jd IRT, apalagi bisa mendampingi Gold Age bagi putra-putrinya, mengikuti setiap tumbuh kembangnya di masa2 pertumbuhan

    mewmang semua itu ada pilihan, tp saya sangat salut dg para FTM apalagi yg mempunyai bekal ilmu pengetahuan yg luas sehingga bisa mendidik buah hatinya dg tepat

    so jgn minder jika ditanya pekerjaan, IRT ada pekerjaan paling mulia menurut saya ^_^

  47. setuju..sebentar lagi…saya juga akan meninggalkan pekerjaan kantoran saya…untuk fokus mengurus 2 buah hati saya dan suami sangat mendukung saya untuk mencerdaskan buah hati kami…yg masih berumur 18 bulan…maafin mama ya Nak..dah ninggalin kamu selama ini ..:(…

    walopun teman2 kantor..banyak yg tidak mendukung saya untuk keluar daro pekerjaan yg 6 tahun ini sudah saya geluti…tapi ini adalah pilihan saya untuk membesarkan keluarga kecil saya….

  48. Sejak gw nikah and langsung hamil, gw mutusin untuk gak kerja dulu. Awalnya Nunggu anak gw 6 bulan baru mulai cari kerja lagi..eh, sampe anak gw mau 1 tahun rasanya gw gak pengen kerja.
    Ninggalin anak gw di rumah 1 jam aja rasanya gak tenang Gimana kalau harus kerja selama 8 jam.
    Tapi IRT itu capek banget , kadang gw mikir perasaan dulu gw lembur sampe jam 2 malam gak secapek gw jadi IRT (apalagi ga ada asisten). Tp capek itu hilang kalo udah liat safira bobo dengan tenang :)

    Gw salut dg Mommy yang kerja.. Tp gw yakin, selagi kita sama si kecil kita pasti akan berusaha memberikan yg terbaik.

  49. Curhatan nya Mama icha bikin tambah yakin buat jadi IRT, mungkin blm dlm waktu dekat ini (msh harus menyiapkan mental dulu hehe..) yah paling gak tahun depan lah sebelum anak gw umurnya 2 thn (skrg masih 9M)jadi gw bisa full attention di golden age nya dia

  50. Pingback: erika c
  51. kyknya kl aku salut sama FTM, apalagi yg udh kuliah tinggi2 atau jenjang karirnya sudah tinggi,,
    semua pilihan masing2 sih, tp kl aku sendiri punya cita2 sendiri yg ingin aku capai, aku yakin seyakin2nya anakku akan mengerti suatu saat nanti kenapa ibunya meninggalkan dia utk mencapai cita2nya. gak lgs mengerti tp suatu saat nanti. sebagai contoh ke anak jg kl punya cita2 harus dikejar trus,, so i am choosing to be working mom :)

  52. jadi FTM susah lho, susah banget, aku pernah ngalamin sebelum kelahiran anak pertamaku. tadinya sih rela-rela aja jadi FTM dan mencari sisi-sisi positifnya, walopun ibu di rumah terlihat sangat sedih dengan kondisiku yang FTM karena udah disekolahin lama-lama kok gak diamalin.
    tapi setelah melahirkan, suamiku didiagnosa sakit yang berat, Ca, kudu operasi dan kemoterapi. saat itu mulai lah berpikir panjang dan intinya adalah ‘hidup saya gak aman’.
    sejak saat itu saya berpendapat, kita sebagai perempuan sebaiknya jangan total bergantung pada suami, kita perlu tetap punya penghasilan sendiri. penghasilan itu gak harus didapet dari kerja di luar rumah kaan?
    saat ini aku emang WM, untuk sementara, sambil berjuang untuk bisa punya kegiatan yang menghasilkan uang dari rumah. semoga Allah mengabulkan dan memudahkan usahaku.

  53. Pingback: Mommies Daily
  54. Pingback: hanny juniawati
  55. Pingback: dilla mariam
  56. Pingback: Mrs. Arvie Dwi P.
  57. Pingback: nada arini
  58. Pingback: Kamelia Nasri
  59. Pingback: Alamanda Marcella
  60. Pingback: nur indah iryani
  61. Pingback: nina kurnia
  62. Pingback: yummy dummy
  63. Pingback: Indah Lazawardiah
  64. Pingback: Fany Sartika
  65. Pingback: veronica anitasari
  66. Pingback: rara inten
  67. Pingback: Hanum Fitriyana
  68. Pingback: Silvianty
  69. Pingback: Adebu Mazreia H
  70. Pingback: widya erizal
  71. :)

    saya juga kepikiran gini. bahkan sejak main masak2an waktu kecil. saya masih kuliah dan menanti saat di mana saya berani mengambil keputusan untuk tidak bekerja demi anak2 saya kelak kalau memang memungkinkan. ada yg pernah bilang gini ke saya dan saya setuju, “Being a full-time mother is one of the highest salaried jobs, since the payment is pure love.”

  72. Dear all ibu rumah tangga,
    Banggalah menjadi full time mother. Menjadi abdi rumah tangga, merawat anak dan keluarga adalah anugerah yang luar biasa. Prioritas utama anak adalah investasi kita yang insya allah dapat balasan dunia akhirat.
    Salam buat semua ibu rumah tangga indonesia, erlina juwita , a full time mother who was a tax supervisor staff @ indo tambang raya megah, coal mining in bontang, now fully in charge in home and continue her master (S2) in UPN University mastering Finance.

  73. Sy suka bagian ini:

    Bukan untuk meng-underestimate para ibu-ibu yang bekerja dan berkarir,bagi saya mereka hebat! Bisa menguatkan hati mereka berangkat bekerja, mendapatkan aktualisasi diri, mengejar passion mereka, dan bisa membagi waktu antara pekerjaan dan keluarga. Tapi saya tidak sekuat mereka, saya lebih memilih tinggal di rumah menemani putri saya bermain,bercanda, atau sekedar tidur siang bersama putri saya.

    Kereenn..ko bs sama y pemikiran qta.. Sy jg mikir gt. Sy ga se kuat mreka yg bs krja n bagi waktu dgn baik antr rumah n kantor. Bs jaga fisik dgn baik drmh dan kantor..
    Sy yg brkt subuh pulang isya, akhrny nyerah dan memilih resign dr salah1 anak prusahaan BUMN d indonesia dgn segala fasilitas yg cukup bikin iri tmn2 seangkatan saya…

    Senang belajar “jihad” dirumah :)

  74. dear all IRT…(mo ikutan curhat jg nih)

    aku lg sedih bgt skr2 ini,dilematis bgt antara work or stay at home.lubuk hati kecil yg plg dlm sebenernya aku dah enjoy bgt dirmh ngurus anak2,bs bobo siang,bs jln2 anytime.Tp mama selalu n selalu nge-push aku tuk kerja (secara mama skr uda sendiri gk ada papa,jd penghidupannya tergantung pemberian anak2nya) yah secara financial aku cmn ckp utk keluarga kecilku,blum bs ksh lbh kemama.hhuuff..msh buntu ni otak buat cari solusinya yg terbaik…

  75. IMHO, ilmu yg bermanfaat itu tergantung dipakainya untuk apa. One could’ve become Gubernur BI, tapi korup? Jelas jauh lbh baik yg di rumah saja, mengurus dan mendidik anak2. Some people tend to think children as children, toh ada babysitter dan asisten RT yg jg bisa urus, cebokin, suapin, ngajak main, boboin, beres. However, with all those great education a woman have gotten and she chose to stay at home and raise, educate and be with her own children jelas bukan hal yg irresponsible, justru it’s an expression of highest honor, that she would see her children as the ones who deserve her dedication.

    Bukan berarti ku mengimplikasikan working moms gak dedicated dgn keluarga dan anak yah, prioritas orang beda2, tiap pilihan punya konsekuensi msg2, so I’d expect we should respect others, apalagi yg niat dan tujuannya mulia. Kenapa mesti pusing dgn ‘gak sayang ama ilmunya’ dll, padahal dia memilih stay at home ya dah pasti krn sayang ama anaknya kan, bukan karena malas or irresponsible gak mau kerja? Sesuai keyakinanku sih, ilmu yg bermanfaat itu gak melulu sekolah medical harus jadi dokter, klo jadi IRT berarti dia menyia2kan ilmu. Jelas gak donk, dia bisa pakai ilmunya di rumah, dia bisa share ilmunya dgn ngajarin ibu2 tetangga pertolongan pertama or darurat misalnya, dst.

    Sama sekali gak bermaksud tendensius yah …

  76. Pingback: rizha naftalia
  77. satu memori masa kecil yang terekam jelas adalah pada suatu malam di ruang tv, memandangi pintu masuk, mondar-mandir membuka hordeng jendela bermotif bambu, menanti cemas dengan perasaan sedih.. “mama papa mana, kok belum pulang juga ya…”

  78. Hi Icha,

    setuju banget sama poin2 kamu, dan aku juga nggak bakal ngerti kenapa pilihan jadi stay at home mum itu diambil orang sebelum aku punya bayi sendiri seperti yang dikatakan Affi :)

    Hidup itu pilihan kita sendiri kok, setuju banget ! :)

  79. baru baca artikel iniiii..
    sama, campur aduk banget tuh rasanya disinisin sama orang2, bahkan temen sendiri yg menganggap FTM itu lebih rendah dibanding jadi wanita karir. Kami pun yg FTM gak pernah sinis kok sama mereka yg bekerja. karna kita tahu hidup itu pilihan.
    So, kalo saya bilang, sebagai sesama ibu, jangan pernah merasa paling benar dalam mendidik anaknya. dan jangan pernah masuki ranah rumah tangga orang lain.
    menurut saya, luar biasa enak banget lah jadi FTM. selain bisa peluk2an sama anak2 setiap saat, dan pastinya gak kena macetnya Jakarta yg banyak bikin pekerja stress..hehe…

  80. After read this blog,sy jd ngerasa punya byk sekali temen yg punya perasaan n kondisi yg sm.coz dl sy smpai2 g ngerti siapa yg biasa aq ajakin ngomong.
    Bnr kl ada yg blg,rsnya ky baca diary pribadi aja..:)
    Setelah melahirkan anak pertama 3th lalu,sy memutuskan utk jd FTM,krna sy sm sekali g tega meninggalkan baby sy
    Sm siapapun.smpai krna mmg kondisi mengharuskan sy back to work,pada usia anak sy 1 th,sy kembali krja.tp honestly,sy mrsa berat dg kondisi itu,
    Mgkn sy g sekuat ibu2 bekerja lain yg bgtu kuat mesti ngurusin karir,n plg msh ngurusin anak.
    Mknya saat anak sy 3th,sy kembali memutuskan mjd FTM.sy sbnrnya sgt sgt suka dan menikmati mjd FTM,hnya yg seringkali membuat sy bimbang adl orangtua sy yg
    Trs menerus menekan sy utk bekerja dan bekerja.mjd PNS bhkn,krna mrka berdua mmg pensiunan PNS,dan hampir semua
    Sepupu perempuan sy adl wanita karir.jd ibu sy mrsa “gelo”,malu,menyesalkan kl anaknya yg sdh disekolahkan tinggi2 g mau kerja,pilih jd
    Ibu rumah tangga.smpai2 sy disindir,dbanding2kan,dan bhkn suami sy yg dsalahkan krna menganggap krna dia,sy tdk bekerja.
    Pdhl,demi Allah,jauh di dalam hati itu adl keinginan sy sendiri.seandainyapun sy hrs mencari uang,sy ingin membuka bisnis
    Dr rumah yg bs manghslkan uang tp tdk meninggalkan anak sy.aplg skrg sy sdg hamil anak kedua.tp ortu tetap ingin sy kerja.
    Bhkn mereka ingin sejak hamil ini sy mencari pekerjaan,g males2an drmh.haloooo..sy jd FTM,bukan krna sy males.
    Tp apa salah kl sy ingin membesarkan anak sy dg tgn sy sendiri???
    Apa salah jika sdh sekolah tinggi,tp milih jd FTM?
    Smpai skrg sy msh dilema,antara g pgn bikin ortu sedih atw mengikuti kemauanku sendiri.
    Mdh2an saja Allah SWt bs beri jln keluar terbaik.krna sy pgn,memberikan full asi ntinya,insyaallah.dan membesarkan mereka
    Berdua dg cara sy.krna itu adl kepuasan sndiri buat sy.*sigh*
    ‎​нέнέнέ •⌣• нέнέнέ ,malah jd curhat..thx.

  81. Buat tambahan aja,pdhl sbnrnya dr sejak sy msh sekolah,yg sy lihat dan sy ingin adl ketika melihat ibu dr temen sy yg drmh,jd ibu rumah tangga.bukannya tertarik dg ibu temen sy yg pnya karir bagus.bahkan walaupun sy kuliah dengan IP yang selalu diatas rata kelas,sy selalu berfikir bhwa sy ingin berada di rumah kl sdh punya anak nantinya.bahkan sy pernah memutuskan utk mundur dari pacar sy dulu,krna ketika sy mengungkapkan keinginan itu,dia malah ingin istrinya bekerja spt ibunya.sy jd berfikir dua kali utk meneruskan hubungan dg dia(selain krna ad maslh lain,itu slh satu alasan sy).
    Dan suami sy sekarang tdk masalah sy drmh,dia jg ingin anak2nya diawasin sm ibunya sendiri bukan BS atau ART.tp kembali lagi,koq kayaknya masih byk yg belum bs nerima (terutama dr keluarga) kl mjd FTM adl suatu pilihan yg tdk bs dianggap remeh.msh terus sja dianggap sinis.‎​..  ☺н мч ğ☺đ  ..™ hrs bagaimana seharusnya??

  82. hm…..membaca tulisan ini mengingat lagi bagaiman ekspresi orang-orang ketika melihat saya…pandangan meremehkan…pandangan yg menyiratkan ” mengapa nikah sblm slesai kuliah jdinya kaya gini deyh..”…atau bertanya..”udah slesai kan drg? ” dll…saya menikah dengan suami pada saat saya sedang melanjutkan program profesi ked gigi….suami sy seorang tni….setelah menikah 2 minggu sy harus melanjutkan lgi di jkt.sdgkan suami di lain pulau…kami hanya berjumpa sebulan sekali.dtg jumat kembali lgi minggu..sampai 3 bln,,,akhirnya sy hamil..alhamdulillah…sy memgalami hiperemesis yg parah..tidak ada mknan apapun yg bs masuk…sampai akhirnya saya terpaksa dirawat…suami dtg..cemas..dan langsung membawa keputusan kilat untuk membawa sy pulang….orangtua sy menentang keras…dengan berdalih banyak yg hamil bs kuliah dan kerja…mereka sgt takut skli sy tdk slesai kuliah,,,suami sy berkeras..ini smua demi anak didlm perut sy..sebenarnya apa yg penting..bayi ini atau kuliah…uang,pendidikan bs dicari tapi klo terjadi apa2 pd ank ini suami akan menyesal seumur hidup..akhirnya sy kembali ke rmh..sy yg manja ternyata begitu merepotkan suami..setiap ortu berkunjung entah knapa ortu merasa bgitu kasihan pd sy yg hanya tinggal di rumah..seperti pembantu kata mreka,,,ketika ank sy lahir sy kembali dihadapkan untuk msuk kuliah kembali..saya menolak dengan alasan ASI Eksklusif…setelah bayi sy 6 bln lg sy kembali dipaksa kembali…sy mau kembali kuliah klo mama mau ikut dgn saya….pada saat itu mama sudah menjelang masa pensiun 3 bln lg,sy minta mama untuk pensiun dini 3 bulan ikut saya( mungkin sy egois tpi sungguh sy tidak tega menyerahkan dgn org lain)..mama menolak dan alasan bs pake baby sitter,sy menolak dan akhirnya menunggu mama pensiun dan mama berjanji ikut saya..ternyata oh ternyata mama saya tidak pernah berniat pensiun.,,setelah pensiun dia malah diangkat kembali menjadi staf ahli..sy bingung bukan kepalang,,antara sedih atau ikut senang krn mama senang skli tidak jd pensiun,bukankah sdh janji?sy cuma bs nyesek di hati…akhirnya sy sudah tidak bs menolak lgi…sy kemudian mencari pengasuh..alhamdulillah ada yg cocok dengan ank sy..kami pun brangkat ke jkt..,,soal biaya pun menjadi kendala..dulu sblon menikah ortu slalu bilang biaya kuliah adl tanggung jwb mereka krn sblm nikah kmi sudah berterus trg kami tdk mampu klo untuk byr kuliah dan minta bantuan,,,dan mreka mengiyakan,ketika memaksa sy untuk kembali kuliah pun..mereka mengatakan tenang saja memang sdh ada tabungan untuk sy kuliah..tapi ketika sy pergi ortu memang memberikan,,tapi sungguh tidak cukup…suami saya jg slalu diremehkan org krn disindir2 saya adalah tanggung jawab suami…akhirnya suami mengambil sikap meminjam uang dri kantor untuk sy,hampir 2 bulan di jkt saya merasa begitu bingung mengatur keuangan,,kebutuhan susu anak sy tinggi,,krn minum susu HA…mertua kemudian turun tgn tanpa diminta..memberikan uang susu,pampers,dan gaji pengasuh tiap blnnya,,sy sungguh berterimakasih…sedangkan ortu sy disana malah buka usaha..beli mobil didepan mata suami saya…suami dan sy begitu sakit hati…sy dan suami luntang lantung,,,berusaha cri duit,pisah dengan suami,sy tidak pernah diberi bantuan lg…meskipun pd saat mreka dtg menengok ank sy…sy tidak ingin meminta lagi..sy sudah sungguh malu memohon2..sudah cukup sy merendahkan diri..skrg ank sy skit selama 2 minggu..mertua dtg melihat bahwa kondisi tempat tinggal tdk begitu layak untuk ank sy,,dgn kondisi ank tdk mau mkn,skit trs2an sy merelakan ank dibw mertua,ini pertm kali sy berpisah dgnnya..skrg sy,suami,dan ank berada di 3 tempat berbeda..sy miris…sy ingin bersama ank dan suami..sy ingin jdi rumah tangga saja…mengurus ank dan suami..sy sudah merintis bisnis online..walau sdikit hasilnya lumayan..namun sy tidak tahu apakah org2 akan menerima sy,,memandang sy rendah…ortu akan mencaci maki saya,,,apakah suami jg tidak akan malu?apakah ini keputusan yg tepat…sungguh saya ingin jawaban itu…semoga saya mendapat petunjuk dan hidayah…saya sudah tidah kuat lg.

  83. Mba Icha, you’re not alone!
    Tatapan sinis atau apapun lah, hanya aku anggap angin aja. They have their lives to live, now let me live mine. Itu aja sih hehehe :)
    Aku paling gak suka kalau dibilang “sayang dong sekolah tinggi2..”, buat saya, pendidikan itu paling penting bukan gelarnya, tapi proses pembentukan pola pikirnya. Alhamdulillah kalau kita bisa mengenyam pendidikan tinggi berkat usaha pejuang2 perempuan zaman dahulu, tapi bukan berarti kita gak tau terima kasih kalau we decide to be “ibu rumah tangga”. Cara berpikir yg diperoleh dari sekolah bertahun2 sampai berjenjang2 tentunya akan mempengaruhi bagaimana kita mengurus keluarga dan mendidik anak. Jadi ibu rumah tangga bukan cuma memastikan cucian terjemur dan piring2 tercuci bersih. Ada added challenge of oragnizing the whole household and possibly a 1-door income. Belum lagi soal menentukan pendidikan untuk si kecil, mau seperti apa dan di mana. Dan menurut saya, jadi ibu rumah tangga itu never-ending learning. Ada ilmu yg sangat luas tentang parenting. Gizi. Finance. The list goes on. The only difference is: nggak pake gelar! Nggak pake gaji. Nggak pake libur. Reward terbesar adalah ketenangan hati bagi yg telah mengambil keputusan ini ataupun keputusan lainnya sesuai hati nurani mereka. Ibu rumah tangga? Working mom? I appreciate both. I don’t judge anyone, just myself. Yg penting aku tenang, suamiku senang, the others can talk all they want but in the end of the day, they have their own lives to live, not mine.
    Setiap orang memang punya their own choices dan itu hak mereka. We just need to accept & respect each other’s choices, that’s all :)
    Jadi semangat buat semuanya, apapun peranmu :)
    Dan karena hari ini Hardiknas, salut untuk semua mama, working or not, pendidik paling baik di dunia :)

  84. Pingback: olivia nurina
  85. Pingback: Kiky Ardhyogi
  86. Pingback: Kiky Ardhyogi
  87. Pingback: Dewi Rina Noviani
  88. Pingback: Astrianti
  89. Pingback: Debby Kirana
  90. Pingback: devi hapsari
  91. Pingback: Maya Nadine
  92. Pingback: Fany Sartika
  93. Pingback: Nami
  94. Pingback: Mitha Arini Inada
  95. Pingback: ratih wahyu
  96. Pingback: Mommies Daily
  97. Pingback: Astrinita Winda K
  98. Pingback: Siti Nurma Fauziah
  99. Pingback: ayu wijayantie
  100. Pingback: Sue Chan
  101. Pingback: Rinrin S.Rinjani
  102. Gw banget nih..sampe males ke acara keluarga krn ditanyain “kenapa gak kerja?”, dan “kok belum punya anak?”.

    Padahal ibu rumah tangga tuh kan segala profesi dijadiin satu, financial planner, chef, home organizer, entertainer, motivator, teacher, dan klo gw skalian jd IT support plus translator krn lbh ngerti dr suami..

    Walopun ntah kenapa belum “dikasih” anak sm yang Di-Atas, emang gw udah niat untuk jd ibu rmh tangga yg bs slalu ada u anak gw nanti. Gw udah liat sndiri ibu yg lbh milih kerja. Ibu gw sih gak sampe nelantarin, tapi suka sirik aja liat tmen2 yg ibunya gak kerja, lebih akrab.

Leave a Reply