Mengapa Kita Seringkali Lebih Sabar Terhadap Orang Lain daripada kepada Keluarga Sendiri? Ini Kata Psikolog

Sex & Relationship

Sisca Christina・in 4 hours

detail-thumb

Keluarga adalah zona paling aman bagi kita. Namun, mengapa kita seringkali lebih sabar terhadap orang lain dari pada keluarga sendiri? Ini kata psikolog.

Pernah nggak terlintas di benak mommies, mengapa saat kita menghadapi bos yang bersikap tak adil, rekan kerja yang sulit diajak kerja sama, orang asing yang melakukan kesalahan, teman datang terlambat, kita bisa lebih sabar? Sementara di rumah, jangankan pasangan atau anak membuat kesalahan, mereka bertanya tentang sesuatu hal yang sama berulang kali saja, respon kita bisa ketus; nada suara tinggi, mudah terpancing untuk mengomel atau bahkan membentak. Oops!

Heran, ya? Padahal keluarga adalah orang-orang yang paling kita sayang. Inginnya, sih, sabar, tapi kok sulit dipraktikkan? Mengapa kita justru lebih sabar terhadap orang lain, dibanding keluarga sendiri?

Kalau mommies mengalami hal itu, mommies nggak sendiri. Menurut psikolog, fenomena ini bisa berkaitan dengan rasa aman dalam hubungan, ekspektasi yang lebih tinggi terhadap keluarga, hingga akumulasi stres yang tidak disadari. Yuk, cari tahu lebih lanjut.

Keluarga adalah Zona Aman Emosional Kita

Menurut Menurut psikolog klinis Adityana Kasandra Putranto seperti dilansir dari artikel kesehatan situs Radio Republik Indonesia, salah satu alasan kita lebih sabar kepada orang lain dan lebih mudah marah terhadap keluarga karena kita menganggap keluarga sebagai zona paling aman secara emosional, atau disebut emotional safety zone.

Itulah mengapa ketika kita berada di luar rumah, kita cenderung menjaga sikap, citra diri, pilah-pilih kata dalam berucap dan berusaha mengendalikan emosi agar tidak menimbulkan kesan buruk atau demi menjaga relasi dengan orang lain. Kita lebih mampu menahan diri karnea takut ditolak, dihakimi atau kehilangan relasi. Inilah yang kemudian membuat emosi kita terpendam lalu dilepaskan di rumah.

Karena menganggap keluarga adalah zona aman dan mereka tak akan meninggalkan kita, lalu kita merasa leluasa mengekspresikan emosi, termasuk kemarahan. Sayangnya, rasa aman tersebut terkadang membuat kita kebablasan, sehingga perkataan dan perbuatan kita bisa melukai mereka.

Baca juga: 3 Cara Mengatasi Silent Treatment agar Hubungan Pernikahan Lebih Sehat

Ekspektasi Lebih Tinggi terhadap Keluarga

Kalau anak dibilangin beberapa kali nggak dilakukan, kita kesal. Kalau pasangan lupa-lupa terus jadwal atau kebiasaan anak, kita murka. Duh, ibu-ibu pasti relatable banget, nggak, sih? Kita ingin, anak-anak cepat mengerti, pasangan lebih peka.

Kita memiliki harapan bahwa pasangan yang notabene seharusnya sudah memahami kebiasaan, kebutuhan, bahkan apa yang kita inginkan tanpa harus selalu dijelaskan. Tuntutan yang tinggi terhadap pasangan dan anak membuat kita lebih sering mengkritik keluarga, mudah kecewa, dan lupa bahwa mereka memiliki keterbatasan, kebutuhan, perasaan dan ritme serta proses belajar yang berbeda-beda.

Sementara, kepada kolega atau teman yang lupa merespon, mengabari, memberi umpan balik dan seterusnya, kita malah lebih mudah memaklumi. Kita tidak menaruh harapan setinggi itu kepada orang lain.

Baca juga: Nadya Pramesrani: Konflik dalam Pernikahan Pasti Ada, Pastikan Dilakukan secara Sehat

Keluarga Menjadi Tempat Melampiaskan Akumulasi Stres

Setiap hari berhadapan dengan rutinitas yang membuat lelah, jenuh dan penat, mulai dari kemacetan lalu lintas hingga deadline dan target di pekerjaan, namun kita tetap berusaha bersikap tenang dan professional. Yah, karena perlu jaga image.

Setelah itu, sampai di rumah, menemui rumah berantakan, anak rewel, pasangan nggak mengerjakan apa yang kita minta tadi pagi, lalu meledaklah emosi! Keluarga pun jadi sasaran emosi dari tekanan-tekanan yang kita alami di luar.

Dilansir dari Psychology Today, Bernard Golden, Ph.D., seorang psikolog dan penulis menjelaskan fenoma ini sebagai displacement, yaitu salah satu mekanisme pertahanan diri dengan cara mengalihkan emosi dari sumber masalah sebenarnya kepada sasaran lain yang dirasa lebih aman.

Misalnya, kesal sama atasan di kantor, namun tidak berani protes atau mengungkapkan argument secara langsung. Saat bertemu suami di rumah, dia yang kena omelan kita. Perlu diingat, ketika kita sedang stres dan kapasitas emosional kita terkuras, kemampuan kita merespon situasi dengan tenang bisa ikut menurun.

Baca juga: 9 Tanda Hubungan dengan Pasangan Sedang Masuk Survival Mode

Kesabaran Kita Bisa Berbeda dalam Setiap Hubungan

Mungkin kita pernah menganggap bahwa orang yang sabar adalah orang yang selalu bisa mengendalikan emosinya dalam situasi apa pun. Padahal, kemampuan bersabar tidak selalu muncul secara konsisten dalam setiap kondisi dan hubungan.

Dr. Sarah Schnitker, profesor psikologi dan neuroscience di Baylor University, melalui situs American Psychological Association (APA) menjelaskan bahwa tingkat kesabaran setiap orang bisa berbeda dalam berbagai situasi atau hubungan. Misalnya, seseorang bisa saja sulit untuk bersabar ketika menunggu orang datang terlambat, tetapi bisa lebih sabar menghadapi ujian hidup.

Namun, ia menjelaskan bahwa memiliki kemampuan sabar terhadap orang lain (interpersonal patience) tentu memiliki peran penting terhadap kesejahteraan seseorang. Kemampuan bersabar terhadap pasangan dapat mendukung hubungan pernikahan dan hubungan orang tua dan anak, lebih baik

Jadi, kesabaran bukan hanya soal karakter seseorang, tetapi juga kemampuan mengelola emosi yang perlu terus dilatih, termasuk dalam hubungan keluarga.

Baca juga: Kita Terlalu Sibuk Jadi Orang Tua, Sampai Lupa Jadi Pasangan

Bagaimana Belajar Lebih Sabar terhadap Keluarga?

Walaupun keluarga adalah zona paling aman bagi kita, tetapi hendaknya melampiaskan emosi kepada keluarga jangan menjadi kebiasaan. Justru, kesadaran ini bisa menjadi langkah awal untuk memperbaiki cara kita berinteraksi dengan orang-orang terdekat.

Ada beberapa hal yang bisa mulai dilakukan:

  1. Kenali pemicu emosi sebelum bereaksi.
  2. Berikan jeda sebelum merespons.
  3. Coba lihat situasi dari sudut pandang keluarga.
  4. Sampaikan perasaan tanpa menyakiti.
  5. Miliki kerendahan hati untuk meminta maaf.
  6. Sadari anggota keluarga lain juga memiliki perasaan dan kebutuhannya.

Pada akhirnya, keluarga memang bisa menjadi tempat paling aman untuk menunjukkan sisi diri kita, termasuk ketika sedang lelah, kecewa, atau tidak baik-baik saja. Namun, rasa aman bukan alasan untuk mengabaikan perasaan orang-orang di dalamnya.

Baca juga: Emotional Neglect dalam Pernikahan: Saat Kebutuhan Emosional Tidak Terpenuhi

Cover: Image by cookie_studio on Magnific