Sorry, we couldn't find any article matching ''

3 Cara Mengatasi Silent Treatment agar Hubungan Pernikahan Lebih Sehat
Silent treatment dalam pernikahan sering dianggap cara aman menghindari konflik. Padahal, diam justru bisa menjauhkan pasangan. Simak pengalaman belajar komunikasi efektif agar hubungan makin erat dan sehat.
Pernahkah kalian mendengar ungkapan “Jika ingin mengenal seseorang lebih dalam, lakukanlah perjalanan jauh bersamanya”?
Banyak orang menganggap perjalanan jauh itu identik dengan mendaki gunung, melintasi hutan, atau menempuh perjalanan berhari-hari hingga tenaga hampir habis. Namun, perjalanan jauh yang kupilih bukan itu. Perjalanan yang kupilih adalah pernikahan—perjalanan yang oleh para ulama disebut sebagai ibadah terpanjang.
Seperti perjalanan lainnya, pernikahan menghadirkan banyak kejutan yang membuka tabir diri kita sendiri. Salah satu tabir terbesar yang terbuka dalam lima tahun pernikahanku adalah kebiasaanku melakukan silent treatment.
BACA JUGA: Hubungan Mulai Terasa Hambar? ni 7 Tanda Suami Istri Butuh Quality Time Berdua
Saat Silent Treatment Menjadi Kebiasaan
Di tahun-tahun awal pernikahan, setiap kali muncul permasalahan kecil, salah paham, perbedaan pendapat, atau benturan budaya, aku memilih diam. Bukan karena tidak peduli, melainkan karena takut konflik membesar.
Diam terasa seperti solusi paling aman, sampai akhirnya tidak lagi.
Semua diam itu menumpuk, lalu menjelma menjadi letupan yang meledak tanpa aba-aba. Aku frustrasi karena merasa tidak dipahami. Suamiku pun kebingungan: harus berbuat apa, letak salahnya di mana, dan mengapa aku tiba-tiba meledak.
Saat itu, aku merasa tersesat dalam perjalanan pernikahanku sendiri.

Foto: Pixabay/Pexels
Ketika Diam Tidak Lagi Menjadi Solusi
Titik terang muncul ketika aku membaca untaian kalimat di buku Keluarga Kita. Ada satu kalimat yang mengubah arah langkahku:
“Untuk menjaga perasaan satu sama lain, kita hanya perlu bersabar dengan apa yang kita rasakan. Kalau dekat, pasti saling tahu tanpa perlu dibicarakan…”
Lalu, kalimat berikutnya menghentikanku:
“…Ini adalah salah kaprah dalam hubungan.”
Selama ini, aku mengira diam adalah bentuk cinta. Ternyata, diam justru menjauhkan kami.
Tips Mengatasi Silent Treatment dalam Pernikahan
1. Belajar Komunikasi Efektif dengan Pasangan
Akhirnya, aku memutuskan untuk belajar dasar-dasar komunikasi efektif lewat pelatihan dan sesi berbagi cerita yang diadakan oleh Keluarga Kita.
Aku mulai belajar menyampaikan apa yang kurasakan, apa yang kuharapkan, dan apa yang kubutuhkan kepada suamiku. Awalnya terasa canggung dan tidak natural. Namun, aku sadar bahwa cara lamaku justru melukai, baik diriku sendiri maupun suamiku.
Kesadaran itu mendorongku untuk terus mencoba. Kadang berhasil, kadang gagal, tetapi setiap upaya selalu membawa langkah kecil menuju satu tujuan: mencintai dengan lebih baik.

Foto: Timur Weber from Pexels/Pexels
2. Mengenal Diri Sendiri Lewat Pernikahan
Ajaibnya, semakin aku belajar berkomunikasi dengan lebih efektif, semakin aku mengenal diriku sendiri.
Perjalanan pernikahan ini kini tidak hanya mendekatkanku kepada pasangan, tetapi juga kepada versi diriku yang lebih jujur dan berani mengungkapkan perasaan.
Aku mulai mampu mengenali apa yang kurasakan, menerimanya, lalu menyampaikannya dengan lebih sehat. Bekal ini pun menjadi modal berharga bagiku untuk memahami anak-anakku yang masih balita dan kerap menunjukkan perilaku menantang.
3. Mengubah Cara Mencintai
Ternyata, perjalanan jauh untuk mengenal seseorang tidak selalu harus menuju gunung atau pantai yang berjarak ratusan kilometer.
Bisa jadi, perjalanan itu adalah keheningan yang akhirnya kita putuskan untuk dipecahkan.
Perjalanan itu adalah keberanian untuk mengubah cara kita mencintai.
BACA JUGA: 16 Tanda Toxic Family yang Sering Tidak Disadari dan Dampaknya pada Anak
Cover: cottonbro studio/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS