Ayah, Hati-Hati! 7 Kalimat Ini Bisa Membekas dalam Ingatan Anak hingga Dewasa

Parenting & Kids

Katharina Menge・in 5 hours

detail-thumb

Hati-hati, Daddies! Tujuh kalimat yang sering diucapkan ayah bisa melukai perasaan anak dan memengaruhi cara mereka memandang diri sendiri.

Pernah nggak, Mommies mendengar anak mengulang perkataan yang pernah diucapkan ayahnya? Misalnya, saat melakukan kesalahan, anak langsung berkata, “Aku memang nggak bisa,” atau ketika gagal melakukan sesuatu, ia buru-buru menyimpulkan bahwa dirinya bodoh.

Bisa jadi, perkataan tersebut bukan muncul begitu saja. Anak mungkin pernah mendengar kalimat serupa dari orang terdekatnya, termasuk ayah.

Dalam keseharian, ayah mungkin tidak selalu sadar bahwa kata-kata yang keluar saat sedang lelah, kesal, atau kecewa bisa meninggalkan kesan mendalam bagi anak. Apalagi, pendapat ayah bisa menjadi salah satu hal yang sangat berarti bagi anak, terutama ketika mereka masih dalam proses membangun kepercayaan diri dan mengenali dirinya sendiri.

UNICEF menjelaskan bahwa pola pengasuhan yang mengandalkan ancaman, kata-kata kasar, dan kritik yang menyerang pribadi anak dapat memengaruhi harga diri serta hubungan anak dengan orang tua. Jika pola komunikasi seperti ini terus berulang, dampak emosionalnya bahkan bisa terbawa hingga anak dewasa.

Bukan berarti ayah tidak boleh menegur atau mendisiplinkan anak, ya. Anak tetap membutuhkan aturan dan batasan. Namun, ada perbedaan antara mengoreksi perilaku anak dengan membuatnya merasa bahwa dirinya buruk atau tidak berharga.

BACA JUGA: Jangan Baper, Ini 5 Alasan Anak Lebih Dekat dengan Salah Satu Orang Tua

7 Kalimat Ayah yang Bisa Membekas dalam Ingatan Anak hingga Dewasa

Foto: Pexels

1. “Kamu kok cengeng banget, begitu saja nangis!”

Kalimat ini mungkin terdengar sederhana, terutama ketika ayah ingin anaknya tumbuh menjadi pribadi yang kuat. Namun, ketika anak sedang sedih, takut, atau kecewa, respons seperti ini justru bisa membuatnya merasa bahwa emosinya tidak boleh ditunjukkan.

Anak bisa belajar menyembunyikan perasaannya karena takut dianggap lemah. Jika terus terbiasa mendapat respons seperti ini, ia mungkin merasa tidak nyaman ketika harus mengungkapkan kesedihan atau meminta bantuan.

Padahal, menangis adalah salah satu cara anak mengekspresikan emosi. Anak laki-laki maupun perempuan sama-sama berhak merasa sedih dan membutuhkan dukungan.

UNICEF juga mengingatkan orang tua untuk tidak membatasi ekspresi emosi anak berdasarkan stereotip gender, misalnya menganggap anak laki-laki tidak boleh menangis.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah tahu kamu sedang sedih. Mau cerita apa yang terjadi?”
  • “Tidak apa-apa kalau mau menangis. Kalau sudah lebih tenang, kita cari jalan keluarnya bersama.”

2. “Kamu memang selalu bikin masalah!”

Ketika anak melakukan kesalahan berulang kali, ayah mungkin merasa frustrasi. Namun, memberi label seperti “selalu bikin masalah” bisa membuat anak merasa bahwa dirinya adalah sumber masalah, bukan seseorang yang sedang belajar memperbaiki perilaku.

Ada perbedaan besar antara mengatakan anak melakukan sesuatu yang salah dan menyebut anak sebagai pembuat masalah. Jika terus mendengar label negatif, anak bisa mulai mempercayainya dan merasa dirinya memang tidak pernah melakukan sesuatu dengan benar.

UNICEF menyarankan orang tua untuk memisahkan perilaku anak dari identitas dirinya. Fokus pada tindakan yang perlu diperbaiki, bukan menyerang karakter anak.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah tidak suka dengan tindakanmu tadi. Kita bicarakan bagaimana cara memperbaikinya, ya.”
  • “Ayah tahu kamu bisa belajar dari kejadian ini. Menurutmu, apa yang bisa dilakukan berbeda lain kali?”

3. “Kenapa kamu nggak bisa seperti kakak atau temanmu?”

Membandingkan anak dengan saudara atau teman sering kali dilakukan dengan maksud memotivasi. Ayah mungkin berharap anak menjadi lebih rajin, berprestasi, atau mandiri setelah melihat pencapaian orang lain.

Sayangnya, perbandingan seperti ini justru bisa membuat anak merasa dirinya tidak cukup baik. Anak juga bisa terbiasa mengukur harga dirinya berdasarkan pencapaian orang lain.

Setiap anak punya kemampuan, minat, dan proses perkembangan yang berbeda. Daripada membandingkan, lebih baik bantu anak mengenali potensi dan kemajuan dirinya sendiri.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah lihat kamu sudah berusaha lebih baik dari sebelumnya. Bagian mana yang menurutmu masih perlu dilatih?”
  • “Setiap orang punya kelebihan masing-masing. Yuk, kita cari tahu apa yang kamu sukai dan bisa kembangkan.”

BACA JUGA: 10 Cara Menjaga Komunikasi dengan Anak Perempuan yang Sensitif

4. “Ayah sudah capek kerja, kamu malah bikin Ayah tambah pusing!”

Kondisi pekerjaan yang melelahkan memang bisa membuat ayah lebih mudah kehilangan kesabaran. Apalagi ketika pulang ke rumah, masih ada pekerjaan rumah dan urusan anak yang perlu diselesaikan.

Namun, kalimat seperti ini bisa membuat anak merasa bahwa dirinya adalah beban atau sumber kelelahan ayah. Anak mungkin menjadi enggan meminta bantuan, bercerita, atau mengungkapkan kebutuhannya karena takut merepotkan orang tua.

Ayah tentu boleh menyampaikan bahwa dirinya sedang lelah dan membutuhkan waktu untuk beristirahat. Yang perlu dihindari adalah membuat anak merasa bersalah hanya karena ia membutuhkan perhatian.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah sedang lelah dan butuh istirahat sebentar. Setelah itu, Ayah dengarkan ceritamu, ya.”
  • “Ayah mau menemani kamu, tetapi beri Ayah waktu sebentar untuk menenangkan diri.”

5. “Diam! Jangan membantah orang tua!”

Anak yang mulai berani menyampaikan pendapat terkadang dianggap sedang melawan atau tidak menghormati orang tua. Padahal, tidak semua perbedaan pendapat berarti anak sedang bersikap tidak sopan.

Jika setiap kali anak berbicara ia langsung diminta diam, anak bisa belajar bahwa pendapatnya tidak penting. Dalam jangka panjang, hal ini dapat membuatnya ragu untuk menyampaikan kebutuhan, bertanya, atau berbicara ketika menghadapi situasi yang tidak nyaman.

Bukan berarti anak boleh berbicara kasar kepada orang tua. Ayah tetap bisa mengajarkan cara menyampaikan pendapat dengan sopan, sambil memberi ruang bagi anak untuk didengar.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah mau dengar pendapatmu, tetapi kita bicara bergantian, ya.”
  • “Kamu boleh tidak setuju dengan Ayah. Coba sampaikan alasanmu dengan baik.”

6. “Ayah kecewa sama kamu!”

Ada kalanya anak melakukan sesuatu yang memang membuat ayah kecewa, misalnya berbohong, melanggar kesepakatan, atau tidak bertanggung jawab atas tugasnya. Perasaan kecewa itu wajar.

Namun, jika kalimat tersebut terus diulang tanpa penjelasan, anak bisa menangkapnya sebagai penolakan terhadap dirinya, bukan sebagai teguran atas tindakan yang dilakukan.

Anak perlu memahami bahwa tindakannya memiliki konsekuensi. Tetapi, ia juga perlu tahu bahwa kesalahan tidak membuat dirinya kehilangan kasih sayang orang tua.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah kecewa dengan keputusanmu tadi, tetapi Ayah tetap sayang kamu. Sekarang, bagaimana kita bisa memperbaikinya?”
  • “Ayah ingin kamu jujur. Kita bisa membicarakan kesalahan ini tanpa harus saling menyakiti.”

7. “Kalau kamu begitu terus, Ayah nggak sayang lagi!”

Kalimat ini sebaiknya benar-benar dihindari. Mengaitkan kasih sayang dengan perilaku atau kepatuhan anak bisa membuatnya merasa bahwa cinta orang tua harus diperjuangkan dengan menjadi anak yang selalu menurut.

Anak bisa tumbuh dengan ketakutan melakukan kesalahan karena khawatir kehilangan kasih sayang orang tuanya. Bahkan, ia mungkin terbiasa menyenangkan orang lain demi mendapatkan penerimaan.

Disiplin tetap penting, tetapi kasih sayang sebaiknya tidak dijadikan ancaman atau alat untuk mengendalikan perilaku anak. Anak perlu tahu bahwa orang tuanya bisa tidak menyetujui tindakannya, tanpa berhenti menyayanginya.

Coba ganti dengan:

  • “Ayah tetap sayang kamu, tetapi perilaku tadi tidak boleh diulangi.”
  • “Ayah ingin kamu belajar bertanggung jawab atas pilihanmu. Kita cari cara memperbaikinya bersama.”

BACA JUGA: Anak Menutup Diri dari Orang Tua, Ini Kata Psikolog Anak

Bagaimana Jika Ayah Terlanjur Mengucapkan Kalimat yang Menyakiti Anak?

Foto: Pexels

Mommies, tidak ada orang tua yang selalu bisa mengendalikan emosi setiap saat. Ayah juga manusia yang bisa lelah, kesal, dan kehilangan kesabaran. Namun, ketika terlanjur mengucapkan kalimat yang menyakiti anak, bukan berarti hubungan sudah telanjur rusak dan tidak bisa diperbaiki.

Justru, momen setelah konflik bisa menjadi kesempatan untuk mengajarkan anak tentang tanggung jawab, empati, dan cara memperbaiki hubungan.

Ayah bisa mulai dengan beberapa langkah sederhana:

  1. Akui kesalahan tanpa mencari alasan. Hindari meminta maaf sambil menyalahkan anak, misalnya, “Ayah minta maaf, tetapi kamu memang bikin Ayah marah.”
  2. Minta maaf dengan jelas. Katakan, “Ayah minta maaf sudah berkata seperti itu. Seharusnya Ayah tidak mengucapkannya.”
  3. Validasi perasaan anak. Beri kesempatan anak untuk bercerita tentang apa yang ia rasakan setelah mendengar perkataan tersebut.
  4. Jelaskan tanpa membenarkan perilaku yang menyakitkan. Ayah boleh mengatakan sedang lelah atau kesal, tetapi tetap bertanggung jawab atas kata-kata yang diucapkan.
  5. Usahakan perubahan yang konsisten. Anak perlu melihat bahwa permintaan maaf diikuti dengan usaha untuk berkomunikasi lebih baik.

American Academy of Pediatrics melalui HealthyChildren.org menyarankan orang tua untuk mendengarkan anak secara aktif, menghormati gagasan dan perasaannya, serta menghindari sindiran, ejekan yang menyakitkan, menyalahkan, dan merendahkan ketika berkomunikasi.

BACA JUGA: Cara Memperbaiki Komunikasi dengan Anak Remaja yang Telanjur Putus

Ayah, Kata-Kata Bisa Menjadi Kenangan yang Dibawa Anak hingga Dewasa

Anak mungkin tidak mengingat semua nasihat yang diberikan ayah. Namun, ia bisa mengingat bagaimana perasaannya ketika sedang dimarahi, ketika melakukan kesalahan, atau ketika mencoba menceritakan sesuatu yang penting baginya.

Karena itu, komunikasi yang hangat bukan berarti ayah harus selalu menuruti keinginan anak. Ayah tetap bisa tegas, memberikan konsekuensi, dan menetapkan batasan. Bedanya, semua itu dilakukan tanpa merendahkan harga diri anak.

Mommies dan Daddies juga bisa membangun kebiasaan komunikasi yang sehat di rumah. Ketika anak terbiasa didengarkan, dihargai, dan diberi kesempatan mengungkapkan perasaan, ia akan belajar bahwa rumah adalah tempat yang aman untuk menjadi dirinya sendiri.

Anak tidak membutuhkan ayah yang selalu sempurna. Ia membutuhkan ayah yang mau belajar, bersedia mengakui kesalahan, dan terus berusaha hadir dengan cara yang membuatnya merasa dicintai.

Sebab, kata-kata ayah bukan hanya terdengar saat anak masih kecil. Bisa jadi, kalimat-kalimat itu ikut membentuk cara anak berbicara kepada dirinya sendiri ketika ia sudah dewasa.

Cover: Pexels