
Bagaimana cara mendidik anak laki-laki sebelum dewasa? Ajarkan 5 hal penting tentang emosi, consent, menghormati perempuan, tanggung jawab, empati, dan keberanian meminta bantuan.
Sebagai orang tua, kita mungkin sibuk memastikan anak mendapat pendidikan yang baik, punya keterampilan, bisa mencari nafkah, dan mampu melindungi dirinya. Namun, ada hal-hal lain yang tak kalah penting untuk diajarkan, tetapi terkadang luput dari perhatian.
Apalagi ketika memasuki usia remaja, anak mulai membangun identitas diri, dipengaruhi oleh teman sebaya, dan menghadapi berbagai situasi sosial yang lebih kompleks. Karena itu, orang tua perlu membekalinya dengan nilai-nilai yang akan membantu ia mengambil keputusan dengan bijak.
Mengutip panduan pengasuhan remaja dari UNICEF, peran orang tua tetap penting seiring anak bertumbuh, meskipun cara mendampingi mereka perlu disesuaikan dengan tahap perkembangannya.

Baca juga: 7 Pesan dari Ibu untuk Anak Laki-Laki saat Kelak Jadi Suami dan Ayah
Lantas, apa saja yang perlu dipahami anak laki-laki sebelum menjadi dewasa? Ini beberapa cara mendidik anak laki-laki yang bisa orang tua lakukan dan terapkan.
“Anak laki-laki kok nangis?” atau “Masa begitu saja baper?” mungkin terdengar seperti komentar biasa. Namun, jika terus-menerus didengar, anak bisa belajar bahwa menunjukkan kesedihan, ketakutan, atau kekecewaan adalah sesuatu yang memalukan.
Padahal, anak laki-laki juga memiliki emosi yang perlu dikenali dan dikelola. Ia boleh merasa sedih ketika gagal, kecewa saat ditolak, takut menghadapi sesuatu yang baru, atau membutuhkan dukungan ketika sedang mengalami masalah.
Yang perlu diajarkan bukanlah menekan emosi, melainkan cara mengekspresikannya dengan sehat. Misalnya, berbicara ketika sedang marah, mengambil jeda sebelum bereaksi, atau meminta bantuan saat merasa kewalahan.
Orang tua bisa mulai dengan memberikan ruang bagi anak untuk bercerita tanpa langsung menghakimi atau menawarkan solusi.
Ketika anak mengatakan dirinya sedih, kita bisa merespons, “Kamu mau cerita apa yang membuat kamu merasa seperti itu?” Alih-alih buru-buru berkata, “Sudahlah, jangan dipikirkan.”
Yang perlu diingat: Kekuatan bukan berarti tidak pernah menangis. Anak yang mampu mengenali emosinya dan mencari bantuan saat membutuhkan justru sedang belajar mengelola dirinya.

Mengajarkan rasa hormat tidak cukup hanya dengan meminta anak bersikap sopan kepada ibu atau kakak perempuannya. Anak juga perlu memahami bahwa perempuan bukan objek untuk dinilai berdasarkan penampilan, bahan candaan, atau seseorang yang harus selalu mengikuti keinginannya.
Sejak dini, ajarkan bahwa setiap orang memiliki hak atas tubuh, privasi, dan keputusannya sendiri.
Saat anak mulai memasuki masa remaja, orang tua juga perlu membicarakan persetujuan (consent) dalam konteks hubungan dan kedekatan fisik. Ia perlu memahami bahwa persetujuan harus diberikan secara sukarela, tidak boleh diperoleh melalui tekanan, dan dapat ditarik kembali.
Jangan lupa, percakapan tentang persetujuan perlu disesuaikan dengan usia dan tahap perkembangan anak.Orang tua juga perlu memberi contoh.
Yang perlu diingat: Menghormati perempuan bukan sekadar memperlakukan mereka dengan baik ketika ingin mendapatkan sesuatu. Rasa hormat harus diberikan karena setiap orang memang berhak mendapatkannya.
Baca juga: Anak Laki-Laki Nggak Perlu Diajari Consent, Toh Dunia Memang Milik Mereka!
Ketika masih kecil, orang tua tentu banyak membantu anak menyelesaikan masalah. Namun, seiring bertambahnya usia, anak laki-laki perlu belajar bahwa setiap pilihan memiliki konsekuensi.
Jika ia lupa mengerjakan tugas, ia perlu belajar menghadapi konsekuensinya. Jika ia menyakiti perasaan teman, ia perlu berani mengakui kesalahan dan memperbaiki keadaan. Jika ia membuat keputusan yang keliru, ia perlu belajar mengevaluasi apa yang bisa dilakukan dengan lebih baik.
Tanggung jawab juga berarti tidak selalu mencari kambing hitam atau menyalahkan keadaan ketika sesuatu tidak berjalan sesuai keinginan.
Namun, mengajarkan tanggung jawab bukan berarti membiarkan anak menghadapi semua masalah sendirian.Orang tua tetap perlu mendampingi dan membantu anak.
Misalnya, ketika anak berbohong, alih-alih hanya memarahinya, orang tua bisa bertanya, “Apa yang membuat kamu memilih untuk tidak jujur? Kalau situasi ini terjadi lagi, apa yang bisa kamu lakukan secara berbeda?”
Pertanyaan seperti ini membantu anak belajar mengevaluasi keputusan, bukan sekadar takut mendapatkan hukuman.
Tanggung jawab juga perlu diterapkan dalam kehidupan rumah tangga. Anak laki-laki perlu belajar membereskan kamarnya, mencuci pakaian sendiri, menyiapkan makanan sederhana, dan mengerjakan tugas rumah sesuai kemampuannya.
Yang perlu diingat: Menjadi dewasa berarti berani mengakui kesalahan, memperbaikinya, dan tidak terus-menerus mengandalkan orang lain untuk membereskan akibat dari keputusan sendiri.

Baca juga: 9 Pesan dari Ayah untuk Anak Laki-Lakinya Kelak saat Mereka Menjadi Suami dan Ayah
Ia perlu belajar bahwa mengalah tidak selalu berarti kalah, meminta maaf tidak membuat harga dirinya jatuh, dan mendengarkan pendapat orang lain bukan tanda kelemahan.
Dalam pertemanan, ia perlu memahami bahwa perbedaan pendapat bisa diselesaikan melalui komunikasi, bukan intimidasi. Dalam hubungan romantis, ia perlu memahami bahwa rasa sayang tidak memberikan hak untuk mengatur seluruh kehidupan pasangannya.
Begitu pula ketika berada dalam lingkungan sekolah atau pekerjaan, ia perlu belajar bekerja sama, menghargai kontribusi orang lain, dan menerima kritik tanpa harus merasa diserang secara pribadi.
Orang tua dapat membantu membangun pemahaman ini dengan memberi contoh nyata di rumah. Misalnya, ketika terjadi perbedaan pendapat antara orang tua, tunjukkan bagaimana menyampaikan keberatan tanpa merendahkan, mendengarkan sudut pandang yang berbeda, dan mencari jalan keluar bersama.
Yang perlu diingat: Anak laki-laki tidak harus selalu menjadi orang yang paling kuat, paling keras, atau paling berkuasa. Ia perlu belajar menjadi pribadi yang mampu menghargai orang lain tanpa kehilangan kepercayaan dirinya.
Ada anak yang memilih diam ketika mengalami masalah karena takut dianggap tidak mampu. Ada pula remaja yang enggan bercerita kepada orang tua karena merasa seharusnya ia bisa menyelesaikan semuanya sendiri.
Karena itu, penting untuk mengajarkan bahwa kemandirian bukan berarti harus menghadapi semua hal sendirian.
Anak laki-laki perlu tahu kapan ia bisa menyelesaikan masalah secara mandiri dan kapan ia membutuhkan dukungan orang lain. Ajarkan pula bahwa meminta bantuan kepada orang yang tepat merupakan bentuk tanggung jawab terhadap diri sendiri.
Orang tua bisa mulai dengan membangun hubungan yang membuat anak merasa aman untuk bercerita. Ketika ia mengungkapkan masalah, dengarkan terlebih dahulu sebelum mengkritik atau langsung memberikan ceramah.
Jika anak menceritakan kesalahan yang ia lakukan, tetap tegaskan batasan dan konsekuensinya bila diperlukan, tetapi hindari membuatnya merasa bahwa kejujuran akan selalu dibalas dengan penghinaan.
Kita juga perlu mengenalkan anak kepada orang dewasa tepercaya lainnya.
Yang perlu diingat: Kita tidak bisa melindungi anak dari semua kesulitan. Namun, kita bisa membekalinya dengan keyakinan bahwa ia tidak harus menghadapi semuanya sendirian.

Membesarkan anak laki-laki bukan tentang membentuknya menjadi sosok yang selalu tangguh, tidak pernah gagal, atau mampu menyelesaikan segala sesuatu sendirian.
Lebih dari itu, kita ingin membantunya tumbuh menjadi orang dewasa yang mengenali dirinya, menghargai orang lain, bertanggung jawab atas pilihannya, dan berani meminta bantuan ketika membutuhkan.
Lima hal di atas tidak harus diajarkan melalui satu percakapan besar menjelang anak berusia 18 tahun. Justru, nilai-nilai tersebut akan lebih mudah dipahami jika diperkenalkan sejak kecil dan terus dibicarakan seiring bertambahnya usia.
Kita memang tidak bisa menentukan seluruh pilihan yang akan dibuat anak ketika dewasa nanti. Namun, kita bisa membantunya memiliki nilai-nilai yang menjadi pegangan ketika ia harus menentukan jalannya sendiri.
Dan mungkin, itulah salah satu bekal terpenting yang bisa kita berikan sebelum ia benar-benar siap menjalani dunia sebagai orang dewasa.
Baca juga: Cara Mendidik Anak Laki-Laki: 100 Hal yang Perlu Diajarkan pada Mereka