Anak Selesai TKA? Jangan Langsung Tanya Nilai, Ini 6 Sikap Orang Tua yang Perlu Dilakukan

Parenting & Kids

Dhevita Wulandari・in 7 hours

detail-thumb

Bagaimana menyikapi anak selesai TKA? Ini cara mendukung anak setelah ujian, mulai dari menghargai usaha hingga membahas hasil tanpa tekanan. 

Anak baru selesai Tes Kemampuan Akademik (TKA)? Sebelum bertanya, “Tadi soalnya susah nggak?” atau “Dapat nilai berapa?”, coba beri anak waktu untuk bernapas lega dulu, Mommies dan Daddies.

Bagi orang tua, wajar kalau penasaran dengan hasil tes anak. Apalagi kalau TKA berkaitan dengan rencana pendidikan berikutnya. Namun, bagi anak, menyelesaikan tes juga bisa menjadi pengalaman yang melelahkan, baik secara fisik maupun emosional.

Karena itu, respons orang tua setelah anak selesai TKA bisa menjadi momen penting untuk menunjukkan bahwa dukungan dan kasih sayang tidak bergantung pada nilai akademik.

BACA JUGA: Anak Mudah Menyerah saat Soal Sulit? Ini 5 Cara Membantu Anak Belajar Menghadapi Tantangan

1. Apresiasi Usahanya, Bukan Hanya Hasilnya

Setelah menghadapi tes, anak mungkin merasa lega, bangga, bingung, atau justru kecewa karena ada soal yang tidak bisa dijawab. Apa pun perasaannya, berikan apresiasi atas usaha yang sudah dilakukan.

Mommies dan Daddies bisa mengatakan, “Akhirnya selesai juga, ya! Terima kasih sudah berusaha dan mengerjakan tesnya.”

Kalimat sederhana ini membantu anak memahami bahwa proses belajar dan usahanya juga berarti, bukan sekadar angka yang akan diterima nanti.

Bukan berarti hasil tes tidak penting. Namun, ketika orang tua hanya menyoroti nilai, anak bisa merasa bahwa pencapaiannya menjadi satu-satunya ukuran keberhasilan. Sebaliknya, menghargai usaha dapat membuka ruang bagi anak untuk belajar dari pengalaman tanpa terlalu takut membuat kesalahan.

Foto: cottonbro studio/Pexels

2. Tanyakan Perasaannya, Bukan Langsung Nilainya

Alih-alih langsung bertanya, “Dapat nilai berapa?”, coba mulai dengan pertanyaan yang lebih terbuka.

Misalnya:

  • “Gimana perasaan kamu setelah selesai TKA?”
  • “Ada bagian yang menurut kamu menarik atau menantang?”
  • “Tadi ada hal yang bikin kamu kesulitan, nggak?”

Pertanyaan seperti ini memberi kesempatan kepada anak untuk bercerita sesuai kesiapan mereka. Bisa jadi anak ingin membagikan pengalaman mengerjakan soal, tetapi bisa juga ia hanya ingin makan, beristirahat, atau bermain terlebih dahulu.

Tidak perlu memaksa anak bercerita saat itu juga. Jika ia belum ingin membahasnya, beri ruang dan sampaikan bahwa Mommies dan Daddies siap mendengarkan kapan pun ia mau.

3. Hindari Membandingkan dengan Teman atau Saudara

“Teman kamu bisa mengerjakan semua soal, nggak?” atau “Kakakmu dulu nilainya bagus, lho.”

Mungkin maksudnya untuk memotivasi. Namun, perbandingan seperti ini berisiko membuat anak merasa kemampuannya tidak cukup baik atau menganggap teman sebagai pesaing yang harus dikalahkan.

Setiap anak memiliki kemampuan, kebutuhan belajar, dan kecepatan perkembangan yang berbeda. Daripada membandingkan, bantu anak mengenali apa yang sudah dikuasai dan bagian mana yang masih perlu dipelajari.

Jika anak merasa kesulitan saat TKA, Mommies dan Daddies bisa mengatakan, “Nggak apa-apa kalau ada soal yang terasa sulit. Nanti kita cari tahu bersama bagian mana yang bisa kamu pelajari lagi.”

Dengan begitu, kesulitan tidak dipandang sebagai kegagalan, melainkan sebagai informasi untuk menentukan langkah berikutnya.

BACA JUGA: Siswa Tidak Otomatis Naik Kelas Mulai 2027? Ini yang Perlu Dipahami Orang Tua

4. Jangan Membuat Nilai Menjadi Ukuran Harga Diri Anak

Anak Selesai TKA? Ini Sikap Orang Tua yang Perlu Dilakukan

Foto: cottonbro studio/Pexels

Anak perlu tahu bahwa hasil tes dapat memberikan gambaran tentang kemampuan akademiknya, tetapi tidak menentukan seluruh potensi dirinya.

TKA sendiri dirancang untuk mengukur capaian akademik pada mata pelajaran tertentu. Hasilnya dapat membantu murid mengenali kekuatan dan bagian yang masih perlu ditingkatkan. Artinya, hasil tes lebih bermanfaat jika digunakan sebagai bahan evaluasi daripada sebagai label bahwa anak pintar atau tidak pintar.

Mommies dan Daddies juga perlu berhati-hati dengan ucapan seperti, “Kalau nilainya jelek, berarti kamu kurang belajar,” atau “Mama sudah les mahal-mahal, masa hasilnya begini?”

Ucapan tersebut bisa membuat anak merasa takut mengecewakan orang tua. Jika hasilnya belum sesuai harapan, ajak anak berdiskusi dengan tenang tentang apa yang bisa dilakukan selanjutnya.

5. Setelah Anak Siap, Bahas Hasilnya Bersama

Ketika hasil TKA sudah tersedia, pilih waktu yang tepat untuk membicarakannya. Hindari menjadikan momen tersebut sebagai sesi interogasi.

Mulailah dengan mendengarkan pendapat anak tentang hasilnya. Jika ia senang, rayakan pencapaiannya. Jika ia kecewa, validasi perasaannya sebelum menawarkan solusi.

Mommies dan Daddies bisa mengajak anak mengevaluasi hasil dengan pertanyaan seperti, “Menurut kamu, bagian mana yang sudah kamu kuasai?” dan “Kalau nanti belajar lagi, bagian mana yang ingin kamu latih?”

Jika ditemukan kesulitan akademik, orang tua dapat berdiskusi dengan guru untuk memahami kebutuhan belajar anak dan menentukan pendampingan yang sesuai.

Yang tidak kalah penting, hindari langsung menambah jadwal les atau latihan soal tanpa memahami penyebab kesulitannya. Anak mungkin membutuhkan latihan tambahan, tetapi mungkin juga perlu strategi belajar yang berbeda, waktu istirahat yang cukup, atau dukungan emosional.

BACA JUGA: Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya

6. Ingat, Anak Tetap Membutuhkan Rasa Aman

Pada akhirnya, Mommies dan Daddies adalah tempat anak merasa aman untuk bercerita, termasuk ketika hasilnya tidak sesuai harapan.

Anak yang merasa diterima tidak berarti akan kehilangan motivasi untuk belajar. Justru, dukungan yang hangat dapat membantu anak menghadapi tantangan dan membicarakan kesulitannya dengan lebih terbuka.

Jadi, saat anak baru selesai TKA, tidak ada salahnya menunda pertanyaan tentang nilai. Sambut dengan senyuman, tanyakan kabarnya, dan biarkan ia menikmati perasaan lega setelah menyelesaikan tes.

Sebab, sebelum menjadi anak yang berprestasi, ia juga anak yang sedang belajar, bertumbuh, dan membutuhkan dukungan orang tuanya.

Cover: kaboompics.com/Pexels