banner-detik
PARENTING & KIDS

Anak Menangis Setiap Diantar ke Sekolah? Ini Cara Membantu Balita Beradaptasi

author

Katharina Menge・in 6 hours

Anak Menangis Setiap Diantar ke Sekolah? Ini Cara Membantu Balita Beradaptasi

Anak menangis setiap diantar ke sekolah? Kenali penyebab separation anxiety dan cara membantu balita beradaptasi tanpa memaksa.

Mommies, momen mengantar si kecil ke sekolah bisa terasa berat ketika ia menangis, memeluk erat, atau tidak mau melepaskan tangan kita. Apalagi kalau hal ini terjadi hampir setiap pagi, rasanya pasti tidak tega meninggalkannya.

Namun, anak menangis saat diantar ke sekolah belum tentu berarti ia tidak suka sekolah. Pada usia balita, tangisan bisa menjadi respons terhadap perpisahan dengan orang tua, lingkungan baru, atau rutinitas yang belum terasa familiar.

UNICEF menjelaskan bahwa separation anxiety atau kecemasan saat berpisah umum terjadi pada anak usia 6 bulan hingga 3 tahun. Di tahap ini, mereka masih belajar memahami bahwa perpisahan dengan orang tua hanya sementara.

Lantas, bagaimana cara membantu si kecil merasa lebih nyaman saat berangkat sekolah?

Foto: Magnific

1. Biasakan dengan Rutinitas Sekolah

Perubahan suasana dan rutinitas bisa membuat balita merasa tidak nyaman. Karena itu, Mommies bisa membantu si kecil mengenal kegiatan sekolah secara bertahap, misalnya dengan membicarakan aktivitas yang akan dilakukan, menyiapkan perlengkapan bersama, atau melewati sekolah sebelum hari pertama masuk.

Ceritakan hal-hal sederhana yang bisa ia nantikan, seperti bermain bersama teman atau membaca buku dengan guru. Hindari menjanjikan sesuatu yang belum tentu terjadi agar ia tidak memiliki ekspektasi yang keliru.

BACA JUGA: Menyiapkan Balita Memasuki Dunia Sekolah

2. Buat Ritual Perpisahan yang Singkat dan Konsisten

Ketika waktunya berpisah, Mommies bisa membuat ritual sederhana yang dilakukan setiap hari, misalnya pelukan, cium tangan, lalu mengucapkan salam perpisahan. Rutinitas yang sama membantu si kecil memahami apa yang akan terjadi.

Sampaikan kapan Mommies akan menjemputnya dengan kalimat yang mudah dipahami, seperti, “Mama jemput setelah kamu selesai sekolah, ya.” Setelah berpamitan, usahakan tetap tenang dan konsisten. Berpisah terlalu lama atau pergi diam-diam justru bisa membuat anak semakin sulit memahami situasinya.

3. Validasi Perasaannya, Bukan Memarahi Tangisannya

Saat si kecil menangis, hindari langsung mengatakan bahwa ia cengeng atau sudah besar sehingga tidak boleh menangis. Bagi balita, perasaan sedih dan takut saat berpisah bisa terasa sangat nyata, meskipun bagi orang dewasa situasinya terlihat biasa saja.

Coba katakan, “Kamu sedih karena Mama mau pulang, ya? Mama mengerti. Nanti Mama jemput lagi.” Kalimat sederhana seperti ini membantu anak merasa didengar tanpa membuatnya menganggap bahwa sekolah adalah sesuatu yang harus ditakuti.

Menurut Centers for Disease Control and Prevention (CDC), orang tua dapat membantu anak mengelola emosi dengan tetap tenang, mendengarkan, dan mengenali perasaan yang sedang dialaminya.

BACA JUGA: Anak Gampang Menangis? Yuk, Pahami Penyebab, Akibat, dan Cara Mengatasinya Menurut Pakar!

4. Bekerja Sama dengan Guru

Foto: Magnific

Jika tangisan terus berulang, coba komunikasikan situasinya dengan guru. Tanyakan apa yang terjadi setelah Mommies pergi: apakah si kecil mulai tenang, mau bermain, atau masih menangis dalam waktu lama?

Informasi ini membantu Mommies memahami apakah ia hanya membutuhkan waktu untuk berpisah atau ada hal lain yang membuatnya tidak nyaman. Guru juga bisa membantu mengalihkan perhatian dengan aktivitas yang disukai atau mendampinginya saat mulai berinteraksi dengan teman.

5. Beri Waktu untuk Beradaptasi, tetapi Tetap Amati Perkembangannya

Setiap anak memiliki proses adaptasi yang berbeda. Ada yang cepat merasa nyaman, ada pula yang membutuhkan waktu lebih lama untuk terbiasa dengan lingkungan dan rutinitas baru.

Mommies bisa mengamati apakah intensitas tangisannya mulai berkurang, apakah ia mau mengikuti kegiatan, dan bagaimana suasana hatinya setelah pulang. Jangan langsung menyimpulkan bahwa ia tidak cocok sekolah hanya karena beberapa hari pertama terasa sulit.

Namun, bila tangisan berlangsung terus-menerus, semakin intens, atau disertai keluhan fisik dan penolakan sekolah yang mengganggu aktivitas sehari-hari, cari tahu kemungkinan penyebabnya bersama guru. Jika diperlukan, konsultasikan juga dengan dokter anak atau tenaga profesional yang sesuai.

BACA JUGA: Anak Mogok Sekolah? Kenali Tanda School Anxiety yang Sering Terlewat

Kapan Anak Menangis saat Diantar Sekolah Perlu Diperhatikan Lebih Lanjut?

Tangisan saat berpisah tidak otomatis menandakan masalah serius. Namun, Mommies perlu memperhatikan jika si kecil terus merasa sangat tertekan, sulit ditenangkan, atau menunjukkan perubahan perilaku yang mengganggu kesehariannya.

Perhatikan juga apakah ia terlihat takut terhadap orang atau situasi tertentu di sekolah. Dengarkan ceritanya tanpa menghakimi dan bicarakan kekhawatiran tersebut dengan guru. Bila kondisi tidak membaik atau mulai mengganggu aktivitas sehari-hari, Mommies dapat meminta saran tenaga profesional.

BACA JUGA: Anak Menempel Terus? Ketahui Penyebab dan Cara Mengatasinya

Membantu balita beradaptasi dengan sekolah memang membutuhkan kesabaran. Mommies tidak harus membuat si kecil berhenti menangis dalam sekejap. Yang terpenting adalah mendampingi perasaannya, membangun rutinitas yang konsisten, dan bekerja sama dengan guru agar ia perlahan merasa aman di lingkungan barunya.

Cover: Magnific

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan