banner-detik
PARENTING & KIDS

Anak Suka Merebut Mainan Teman? Ini Cara Mengajarkan Anak Berbagi

author

Katharina Menge・in 6 hours

Anak Suka Merebut Mainan Teman? Ini Cara Mengajarkan Anak Berbagi

Anak sering merebut mainan teman? Simak cara mengajarkan anak berbagi, menunggu giliran, dan menghargai teman tanpa harus marah-marah.

Pernah melihat anak tiba-tiba merebut mainan dari tangan temannya saat sedang bermain? Atau, si kecil langsung menangis ketika diminta menunggu giliran? Situasi seperti ini mungkin membuat Mommies serba salah. Mau membiarkan, takut anak dianggap tidak sopan. Mau menegur, khawatir anak malah tantrum.

 

Tenang, Mommies. Balita yang belum mau berbagi atau sering merebut mainan belum tentu berarti egois. Di usia ini, anak masih belajar mengelola emosi, memahami perasaan orang lain, dan mengendalikan keinginannya.

Mengutip First Things First dalam artikel Managing Big Feelings: How to Help Toddlers Share, kemampuan berbagi berkembang secara bertahap. Anak perlu berlatih menunggu giliran dan memahami kebutuhan orang lain, sambil mendapatkan bimbingan dari orang dewasa.

Jadi, bagaimana cara mengajarkan anak berbagi dan menunggu giliran tanpa harus berakhir dengan drama setiap kali bermain?

5 Cara Mengajarkan Anak Berbagi dan Bergiliran

Foto: Magnific

1. Beri Contoh dengan Kalimat Sederhana

Balita belum tentu memahami konsep berbagi dan bergiliran hanya karena Mommies mengatakan, “Jangan rebut mainan teman, ya!” Anak membutuhkan contoh konkret tentang apa yang sebaiknya dilakukan ketika ingin bermain dengan mainan yang sedang digunakan orang lain.

Saat bermain bersama, Mommies bisa menggunakan kalimat sederhana seperti:

  • “Sekarang giliran Mama, nanti giliran kamu, ya.”
  • “Temanmu masih bermain. Setelah selesai, kamu boleh mencoba.”
  • “Kamu boleh bilang, ‘Boleh aku main setelah kamu selesai?’”

Gunakan kalimat yang sama secara konsisten agar anak semakin familier dengan konsep menunggu giliran. Hindari memarahi atau memberi label seperti “pelit” dan “nakal” karena anak masih membutuhkan bantuan untuk memahami perilaku yang diharapkan.

2. Latih Bergiliran Lewat Permainan Sehari-hari

Tidak perlu menunggu anak bermain bersama teman untuk mengajarkan cara mengantre atau bergiliran. Mommies bisa melatihnya lewat permainan sederhana di rumah.

Misalnya, bergiliran menggulirkan bola, menyusun balok, memasukkan potongan puzzle, atau bermain permainan papan sederhana yang sesuai dengan usia anak. Katakan, “Sekarang giliran Mama, lalu giliran kamu,” sambil menunjukkan urutannya.

Materi 5 Steps for Brain-Building Serve and Return dari Center on the Developing Child, Harvard University, menjelaskan pentingnya interaksi bolak-balik dan memberi anak waktu untuk merespons. Latihan interaksi seperti ini dapat mendukung perkembangan kemampuan anak dalam mengendalikan diri dan berinteraksi dengan orang lain.

Mulailah dengan waktu tunggu yang singkat. Seiring anak semakin terbiasa, Mommies bisa perlahan memperpanjang waktu menunggunya.

BACA JUGA: 15 Etika Anak yang Perlu Diajarkan saat Kumpul Keluarga Besar

3. Bantu Anak Menunggu dengan Aktivitas Lain

Menunggu bukan hal mudah bagi balita, apalagi ketika mainan yang diinginkannya sedang digunakan anak lain. Jika Mommies hanya menyuruhnya menunggu tanpa memberi arahan, anak mungkin akan kembali merebut mainan tersebut.

Coba bantu anak memahami apa yang bisa dilakukan sambil menunggu. Misalnya, Mommies bisa berkata, “Temanmu masih bermain mobil-mobilan. Sambil menunggu, kamu mau bermain balok dulu atau menggambar?”

Mommies juga bisa membantu membuat urutan giliran yang jelas. Jika perlu, gunakan timer sederhana agar anak punya gambaran kapan gilirannya tiba. Namun, jangan menjanjikan waktu yang tidak bisa dipastikan, terutama jika anak lain belum siap menyelesaikan permainannya.

Yang terpenting, dampingi anak ketika ia mulai kesal. Akui perasaannya dengan mengatakan, “Kamu ingin sekali main mobil itu, ya. Memang rasanya tidak enak kalau harus menunggu.”

4. Apresiasi Saat Anak Berhasil Menunggu Giliran

Ketika anak berhasil menunggu, meski hanya sebentar, berikan apresiasi yang spesifik. Misalnya, “Wah, tadi kamu mau menunggu sampai temanmu selesai. Terima kasih, ya!”

Pujian seperti ini membantu anak mengenali perilaku yang baik dan memahami bahwa usahanya diperhatikan. Mommies tidak perlu memberikan hadiah setiap kali anak berhasil menunggu. Perhatian, senyuman, dan apresiasi sederhana sudah bisa menjadi bagian dari proses belajarnya.

Kalau anak masih gagal menunggu atau kembali merebut mainan, jangan langsung menganggap latihan Mommies sia-sia. Anak mungkin membutuhkan lebih banyak kesempatan untuk berlatih, terutama saat sedang lelah, lapar, atau terlalu bersemangat bermain.

5. Ajarkan Bahwa Tidak Semua Mainan Harus Dipinjamkan

Mengajarkan anak berbagi bukan berarti semua barang miliknya wajib dipinjamkan kepada orang lain. Anak juga perlu belajar mengenali batasan dan menghargai kepemilikan, baik miliknya sendiri maupun milik orang lain.

Sebelum teman datang bermain, Mommies bisa mengajak anak memilih mainan yang bersedia ia gunakan bersama. Mainan kesayangan yang belum siap dipinjamkan boleh disimpan terlebih dahulu.

Sebaliknya, jelaskan juga bahwa anak tidak boleh mengambil mainan milik temannya tanpa izin. Jika ingin meminjam, ia perlu bertanya dan menghormati jawaban pemiliknya.

Prinsip ini sejalan dengan pembahasan dalam artikel Mommies Daily, Saya Tidak Mengajarkan Anak untuk Selalu Berbagi. Anak perlu belajar berbagi sekaligus memahami batasan, bukan sekadar mengikuti tuntutan orang dewasa.

BACA JUGA: 8 Cara Mengajarkan Boundaries pada Anak, agar Tumbuh Kuat dan Aman!

Kapan Orang Tua Perlu Turun Tangan saat Anak Merebut Mainan?

Foto: Magnific

Jika anak merebut mainan, Mommies boleh langsung menghentikan perilakunya dengan tenang, terutama jika situasinya berisiko membuat anak lain terluka.

Misalnya, saat si kecil menarik mainan dari tangan temannya sampai temannya menangis, Mommies bisa mendekat dan berkata, “Mama tidak akan membiarkan kamu merebut mainan. Temanmu masih memakainya. Kita tunggu sampai dia selesai, ya.”

Setelah situasi lebih tenang, bantu anak memikirkan langkah berikutnya. Mommies bisa menawarkan pilihan: menunggu giliran, bermain dengan mainan lain, atau meminta bantuan untuk menyampaikan keinginannya.

Jika konflik berkembang menjadi dorong-dorongan atau pukulan, pisahkan anak terlebih dahulu untuk memastikan keselamatan mereka. Setelah keduanya tenang, bantu anak memahami dampak tindakannya dan mencari cara yang lebih aman untuk menyampaikan keinginan.

Mommies juga bisa membaca Anak Bertengkar dengan Teman, Ini Cara Ajarkan Menyelesaikan Konflik untuk memahami kapan orang tua perlu mendampingi anak menyelesaikan perselisihan.

Anak Belajar Berbagi Lewat Proses, Bukan Sekali Nasihat

Mommies, cara mengajarkan anak berbagi membutuhkan kesabaran dan pengulangan. Anak mungkin sudah bisa menunggu saat bermain di rumah, tetapi masih kesulitan ketika berada di tempat bermain yang ramai atau melihat teman memegang mainan favoritnya.

Tidak apa-apa. Fokuslah pada kemajuan kecil, seperti ketika anak mulai mau meminta izin, bersedia menunggu sebentar, atau bisa menerima bahwa temannya belum selesai bermain.

Dengan contoh yang konsisten, arahan yang jelas, dan pendampingan saat emosi anak meningkat, si kecil perlahan belajar bahwa bermain bersama bukan soal siapa yang paling cepat mendapatkan mainan, melainkan bagaimana semua orang bisa menikmati permainan dengan aman dan nyaman.

Cover: Magnific

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan