
Suami dipanggil “Mas” oleh rekan kerja perempuan bikin istri cemburu? Kenali batas profesional dan tanda kedekatan yang perlu diwaspadai.
Mungkin ada Mommies yang pernah nggak sengaja melihat notifikasi WhatsApp di HP suami, terus ada chat dari rekan kerja perempuannya yang bunyinya begini: “Mas, file laporan yang tadi udah aku email ya,” atau “Mas, nanti siang jadi rapat bareng tim marketing?”
Bagi sebagian Mommies, panggilan “Mas” dari perempuan lain ke suami kita itu bisa memicu sejuta pikiran negatif. Hati langsung mak deg, pikiran mulai traveling ke mana-mana, dan ujung-ujungnya muncul pertanyaan besar di kepala: “Wajar nggak sih cemburu? Atau saya aja yang lebay?”
Nah, biar Mommies nggak makin overthinking dan bisa tidur nyenyak malam ini, yuk kita bahas soal panggilan “Mas” di dunia kerja ini. Khususnya, ketika suami Mommies yang dipanggil “Mas” oleh teman wanita di kantor. Kapan makna panggilan ini tetap profesional, dan kapan Mommies perlu mulai memperhatikan situasinya?
BACA JUGA: Sahabat Perempuan Suami, Teman atau (Calon) Pelakor?

Sebelum Mommies buru-buru menyidang suami, kita perlu paham dulu nih realita budaya kerja di negara kita tercinta. Indonesia punya beragam kebiasaan dalam menyapa orang lain, termasuk menggunakan panggilan berdasarkan usia, kedekatan, atau kebiasaan di lingkungan kerja. Di sebagian lingkungan, memanggil rekan kerja yang lebih senior atau sedikit lebih tua langsung dengan nama saja bisa terasa kurang sopan atau terlalu “kasar”.
Panggilan “Mas”, yang berakar dari budaya Jawa dan digunakan juga di berbagai lingkungan di luar Jawa, bisa menjadi sapaan yang terasa akrab sekaligus sopan. Posisinya berada di tengah-tengah:
Jadi, di banyak korporat, startup, maupun instansi, memanggil rekan pria dengan sebutan “Mas” bisa saja merupakan hal yang strictly business. Itu adalah salah satu cara menciptakan lingkungan kerja yang nyaman, cair, tapi tetap saling menghormati. Bisa jadi, rekan kerjanya juga memanggil pria lain di kantor dengan sebutan yang sama, bukan hanya suami Mommies.
Jadi, ketika suami dipanggil “Mas” oleh rekan kerja perempuan, Mommies nggak perlu langsung berasumsi ada hubungan khusus. Penting untuk melihat kebiasaan di kantor dan konteks interaksi mereka terlebih dahulu.
Namun, ceritanya bisa berbeda jika batasan dalam hubungan mulai kabur. Hubungan suami dengan teman wanita yang terlalu dekat di kantor, meski awalnya murni sebatas rekan kerja, berisiko berkembang menjadi kedekatan emosional yang mengganggu hubungan dengan pasangan. Melansir dari Psych Central, emotional affair atau perselingkuhan emosional dapat melibatkan kedekatan yang semakin intim, terutama ketika hubungan tersebut mulai disertai kerahasiaan dan menggeser kedekatan dengan pasangan.
Supaya Mommies bisa membedakan mana interaksi yang profesional dan mana yang perlu diperhatikan lebih lanjut, perhatikan tanda-tanda interaksi yang sehat saat suami berhubungan dengan rekan kerja wanita berikut ini.
Isi chat atau obrolannya tidak jauh dari deadline, revisi, koordinasi proyek, atau urusan kantor lainnya. Kalaupun sesekali ada obrolan ringan, percakapan tersebut tidak otomatis berarti ada kedekatan khusus.
Yang perlu diperhatikan adalah apakah komunikasi tetap sesuai konteks pekerjaan dan apakah ada pola interaksi yang melampaui batas yang sudah disepakati dalam hubungan.
Meskipun memanggil “Mas”, kalimat selanjutnya tetap profesional. Contohnya, “Mas, mohon info apakah dokumennya sudah di-approve?” Kalimat ini jelas berfokus pada urusan pekerjaan.
Namun, gaya bahasa yang formal saja tidak cukup untuk menentukan apakah suatu hubungan sepenuhnya profesional. Konteks dan pola interaksi secara keseluruhan tetap perlu diperhatikan.
Chat atau telepon masuk di antara jam 8 pagi sampai jam 5 sore. Kalaupun ada pesan malam hari, itu bisa saja karena kondisi darurat kantor, seperti system down atau persiapan acara besok pagi, dan bahasanya tetap fokus pada solusi pekerjaan.
Sebaliknya, pesan di luar jam kerja juga tidak otomatis menjadi tanda bahaya. Mommies bisa melihat apakah komunikasinya memang berkaitan dengan pekerjaan, seberapa sering terjadi, dan apakah ada batasan waktu komunikasi yang sudah disepakati bersama pasangan.
Menjaga kepercayaan dalam pernikahan tercermin dari sikap terbuka. Suami bisa bercerita tentang proyek yang sedang dikerjakan bersama timnya dan tidak merasa perlu menyembunyikan hal-hal yang berkaitan dengan pekerjaannya.
Namun, menjaga privasi ponsel juga bukan otomatis berarti seseorang sedang menyembunyikan sesuatu. Yang lebih penting adalah apakah ada perubahan perilaku yang mencolok, ketidaksesuaian cerita, atau pola kerahasiaan yang membuat kepercayaan dalam hubungan terganggu.

Nah, ini bagian yang paling krusial. Panggilan “Mas” bisa terasa berbeda jika dibarengi dengan perubahan perilaku dan pergeseran batasan. Lalu, wajar atau tidak istri cemburu dengan rekan kerja suami? Rasa cemburu bisa menjadi hal yang wajar, terutama ketika ada situasi yang membuat Mommies merasa tidak nyaman. Namun, penting untuk membedakan perasaan tersebut dari kesimpulan bahwa pasangan pasti melakukan sesuatu yang salah.
Berikut beberapa tanda yang bisa Mommies perhatikan, terutama jika muncul sebagai pola dan bukan hanya kejadian sekali.
Kalau isi chat-nya sudah mulai keluar dari ranah profesional, misalnya, “Mas, udah makan siang belum? Jangan lupa makan ya,” atau “Mas, tadi aku sedih banget didebat sama bos di rapat,” Mommies mungkin mulai bertanya-tanya apakah hubungan mereka sudah terlalu personal.
Obrolan ringan atau curhat sesekali tidak otomatis berarti ada perselingkuhan emosional. Namun, jika komunikasi pribadi semakin intens, salah satu pihak mulai mengandalkan rekan kerjanya untuk memenuhi kebutuhan emosional, atau kedekatan tersebut sengaja dirahasiakan dari pasangan, situasi ini layak dibicarakan.
Menurut pembahasan Psych Central mengenai emotional affair, kedekatan emosional dengan rekan kerja bisa menjadi masalah ketika hubungan tersebut semakin intim dan mulai menggeser kedekatan dengan pasangan. Jadi, yang perlu diperhatikan bukan sekadar topik obrolannya, melainkan pola hubungan dan dampaknya terhadap kepercayaan dalam pernikahan.
Chat masuk di jam-jam personal, seperti jam 9 malam ke atas, atau bahkan di hari libur (Sabtu-Minggu), bisa membuat Mommies bertanya-tanya, terutama jika pesan tersebut tidak berkaitan dengan pekerjaan.
Misalnya, “Mas, lagi ngapain?” atau membagikan meme dan video lucu yang tidak ada hubungannya dengan pekerjaan.
Namun, pesan di luar jam kerja tidak otomatis merupakan red flag. Ada pekerjaan yang memang membutuhkan koordinasi di luar jam kantor. Mengutip pembahasan eLeaP Software mengenai etika di tempat kerja, menghormati ruang personal dan batasan komunikasi merupakan bagian dari interaksi profesional yang sehat.
Karena itu, Mommies bisa memperhatikan frekuensi komunikasi, isi pesan, dan apakah ada kesepakatan bersama tentang batasan komunikasi dengan rekan kerja.
Kalau Mommies kebetulan melihat interaksi mereka secara langsung, misalnya saat acara gathering kantor atau papasan di mal, perhatikan bagaimana mereka berinteraksi.
Panggilan “Mas” yang terdengar mendayu-dayu, manja, atau terlalu genit mungkin membuat Mommies merasa tidak nyaman. Begitu pula jika ada kontak fisik yang tidak perlu, seperti sering menyentuh lengan suami saat tertawa atau berdiri terlalu dekat.
Meski begitu, nada bicara, kontak mata, dan bahasa tubuh bisa ditafsirkan berbeda oleh setiap orang. Satu gestur saja belum cukup untuk menyimpulkan adanya ketertarikan romantis. Mommies bisa melihat konteksnya dan apakah ada pola perilaku lain yang juga membuat batasan hubungan terasa tidak jelas.
Sering kali, yang perlu diperhatikan bukan hanya perilaku rekan kerja perempuan, melainkan juga perubahan perilaku suami Mommies sendiri.
BACA JUGA: 11 Kebiasaan yang Tanpa Disadari Bisa Menghancurkan Pernikahan
Mommies bingung bagaimana cara menyikapi suami yang akrab dengan rekan kerja wanita? Kalau ada sesuatu yang mengganjal di hati, jangan dipendam sampai meledak jadi drama besar. Jangan pula langsung melabrak suami atau rekan kerjanya tanpa bukti yang jelas. Begini cara mengatasi rasa cemburu secara bijak.
Luangkan waktu untuk memahami situasi tanpa langsung menunjukkan kecurigaan yang agresif. Perhatikan pola komunikasi suami dan rekan kerjanya. Apakah kekhawatiran Mommies didasari oleh perubahan perilaku yang nyata, atau ada rasa tidak aman yang juga perlu dipahami?
Bukan berarti Mommies harus mengabaikan perasaan sendiri. Justru, mengenali apa yang membuat tidak nyaman bisa membantu Mommies membicarakan masalah dengan lebih jelas, tanpa buru-buru menyimpulkan sesuatu yang belum tentu benar.
Pilih waktu yang tepat untuk berbicara, misalnya saat anak-anak sudah tidur dan suasana hati suami sedang tenang, bukan sepulang kerja saat dia masih lelah.
Gunakan teknik “I-message” agar suami tidak merasa langsung diserang. Fokuslah pada perasaan dan situasi yang membuat Mommies tidak nyaman, bukan langsung menuduh pasangan melakukan sesuatu.
Katakan, “Sayang, akhir-akhir ini aku perhatikan rekan kerjamu sering chat kamu malam-malam ya. Aku tahu kamu laki-laki yang baik, tapi jujur hatiku kurang nyaman kalau komunikasinya intens sampai di luar jam kerja. Boleh nggak kalau urusan kantor dibatasi pada jam kerja aja, kecuali darurat?”
Dengan cara ini, Mommies bisa membuka ruang diskusi untuk saling memahami kebutuhan dan kekhawatiran masing-masing.
Rumah tangga adalah komitmen dua arah. Sepakati bersama suami batasan apa saja yang boleh dan tidak boleh dilakukan dengan rekan kerja lawan jenis. Batasan hubungan dengan rekan kerja ini sebaiknya dibicarakan bersama, bukan ditetapkan sepihak, karena setiap pasangan bisa punya kebutuhan dan kesepakatan yang berbeda.
Misalnya:
Intinya, Mommies dan suami perlu menyepakati batasan yang terasa adil bagi kedua pihak. Tujuannya bukan mengontrol semua interaksi pasangan, melainkan menjaga kepercayaan dan rasa aman dalam pernikahan.
BACA JUGA: Suami Istri Jarang Komunikasi? Hati-Hati, Ini yang Bisa Diam-Diam Terjadi pada Hubungan
Mommies, pada akhirnya, panggilan “Mas” dari rekan kerja perempuan tidak otomatis berarti ada sesuatu yang perlu dicurigai. Di banyak lingkungan kerja, panggilan tersebut memang merupakan bagian dari kebiasaan berkomunikasi sehari-hari.
Namun, kalau ada pola interaksi yang membuat Mommies tidak nyaman, jangan buru-buru menyalahkan diri sendiri karena merasa cemburu. Coba pahami apa yang memicu perasaan itu, bicarakan dengan pasangan, dan sepakati batasan yang membuat kedua pihak merasa dihargai.
Karena dalam pernikahan, yang terpenting bukan melarang pasangan berinteraksi dengan lawan jenis, melainkan membangun kepercayaan, komunikasi yang terbuka, dan komitmen untuk saling menjaga.
Cover: Magnific