
Jangan asal posting! Kenali 7 hal tentang anak yang sebaiknya tidak dibagikan di media sosial demi menjaga privasi, keamanan, dan kepercayaan anak.
Pernah merasa gemas melihat tingkah anak, lalu buru-buru mengunggah videonya ke Instagram Story? Atau tanpa sadar menceritakan masalah anak kepada teman, lengkap dengan detail yang sebenarnya cukup personal?
Kita mungkin melakukannya karena bangga, ingin berbagi kebahagiaan, atau sekadar merasa ceritanya lucu. Apalagi, bagi orang tua, setiap fase tumbuh kembang anak memang punya cerita tersendiri.
Namun, ada satu hal yang sering luput dari perhatian: anak punya hak atas privasinya sendiri, bahkan ketika mereka belum cukup umur untuk memahami apa yang kita bagikan tentang mereka.
Kebiasaan orang tua membagikan cerita atau informasi tentang anak di internet dikenal dengan istilah sharenting, gabungan dari kata sharing dan parenting. Praktik ini tidak selalu buruk, tetapi bisa menjadi masalah ketika informasi yang dibagikan terlalu personal, berpotensi mempermalukan anak, atau membuat identitas dan keberadaannya mudah dikenali.
Dalam artikel UNICEF Indonesia, Pakar Hukum Anak dan Keluarga Stacey Steinberg mengingatkan bahwa memberikan informasi tentang anak tanpa melibatkan mereka bisa membuat orang tua kehilangan kesempatan untuk mengajarkan konsep persetujuan (consent) dan menghargai privasi.
Baca juga: Bicara tentang Consent dan Sexual Consent pada Anak Remaja
Jadi, apa saja hal tentang anak yang sebaiknya tidak sembarangan dibagikan orang tua, baik di media sosial maupun dalam kehidupan sehari-hari?

Anak bertengkar dengan sahabatnya, mendapat teguran dari guru, mengalami bullying, atau kesulitan beradaptasi di sekolah. Sebagai orang tua, wajar kalau kita ingin bercerita kepada orang lain untuk mencari solusi.
Namun, hati-hati ketika cerita tersebut dibagikan terlalu luas, apalagi jika menyebutkan nama anak, nama sekolah, nama teman, atau detail konflik yang sedang terjadi.
Bayangkan jika anak sedang berusaha memperbaiki hubungannya dengan teman, tetapi orang tua justru sudah menceritakan masalahnya kepada banyak orang.
Bedakan antara mencari dukungan dari orang yang tepat dan membagikan cerita kepada banyak orang tanpa tujuan yang jelas.
Jika membutuhkan bantuan profesional, orang tua bisa berkonsultasi dengan psikolog, guru, atau pihak sekolah yang relevan.

Informasi kesehatan merupakan hal personal. Meskipun orang tua ingin mencari dukungan, membagikan diagnosis, hasil pemeriksaan, cerita sesi terapi, atau pengalaman anak ketika sedang berada dalam kondisi rentan bisa membuat anak merasa terekspos. Terlebih jika informasi tersebut dibagikan melalui media sosial yang audiensnya sulit dikendalikan.
Anak yang saat ini masih kecil mungkin belum memahami dampaknya. Namun, ketika beranjak remaja, ia bisa merasa tidak nyaman karena orang lain sudah mengetahui hal-hal pribadi yang sebenarnya ingin ia simpan sendiri.
Jangan sampai niat mencari dukungan justru membuat anak kehilangan kendali atas cerita kesehatannya sendiri.
Baca juga: 10 Kebiasaan di Media Sosial Ini Penyebab Kesehatan Mental Anak Rusak, Orang Tua Harus Waspada
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), orang tua perlu mempertimbangkan apakah sebuah unggahan berpotensi membuat anak malu, baik sekarang maupun di masa depan. Konten yang sudah tersebar juga bisa disimpan atau dibagikan ulang oleh orang lain, meskipun unggahan aslinya telah dihapus.
Sebelum mengunggah foto atau video anak, coba tanyakan kepada diri sendiri:
Hindari mengunggah foto anak saat tidak berpakaian, sedang menggunakan toilet, menangis hebat, atau berada dalam situasi yang merendahkan harga dirinya.

Hal-hal yang sebaiknya tidak dibagikan secara terbuka antara lain:
Risikonya bukan berarti setiap unggahan pasti mengundang bahaya. Namun, ketika beberapa informasi digabungkan, orang lain bisa mendapatkan gambaran lebih lengkap tentang identitas dan rutinitas anak.
Ini yang sering dianggap sepele, terutama ketika anak sudah memasuki usia remaja. Anak bercerita bahwa ia sedang menyukai seseorang, berselisih dengan sahabatnya, merasa minder dengan penampilannya, atau sedang mengalami masalah yang belum siap ia ceritakan kepada orang lain.
Lalu, tanpa sadar, orang tua membagikan cerita tersebut.
Mungkin orang tua sedang mencari saran. Namun, dari sudut pandang anak, tindakannya bisa terasa seperti pengkhianatan terhadap kepercayaan yang sudah ia berikan.
Stacey Steinberg menekankan pentingnya melibatkan anak dalam keputusan mengenai informasi tentang dirinya yang dibagikan kepada orang lain. Hal ini penting karena privasi bukan hanya soal data atau foto, tetapi juga soal kendali atas cerita diri sendiri.
Baca juga: Waspada, Berikut Postingan Foto Anak yang Disukai Pedofil
Apa yang bisa dilakukan orang tua?
Jika anak sudah cukup besar, bicarakan terlebih dahulu apakah ia nyaman jika ceritanya dibagikan.
Tentu ada pengecualian ketika keselamatan anak terancam.
Jika anak mengungkapkan kekerasan, ancaman, eksploitasi, atau kondisi yang membahayakan dirinya, orang tua perlu mencari bantuan dari pihak terpercaya yang dapat melindunginya.
Bagi orang tua, mungkin ini hanya cerita biasa. Namun, bagaimana jika anak sebenarnya sedang kecewa dan membutuhkan waktu untuk menerima kegagalannya?
Membagikan pengalaman tersebut tanpa persetujuan anak bisa membuatnya merasa dipermalukan. Terlebih jika unggahan itu disertai perbandingan dengan saudara atau anak lain.
Anak berisiko merasa bahwa kegagalannya bukan lagi pengalaman yang bisa ia pelajari, melainkan sesuatu yang menjadi label dirinya.
Daripada mengumbar kegagalan anak, lebih baik gunakan momen tersebut untuk mengevaluasi apa yang perlu diperbaiki dan bagaimana orang tua bisa mendukungnya.

Melindungi privasi anak bukan berarti orang tua tidak boleh mengunggah foto keluarga atau menceritakan pengalaman mengasuh anak. Yang penting adalah memahami batasan dan mempertimbangkan kepentingan anak sebelum berbagi.
Berikut beberapa langkah yang bisa diterapkan:
Membagikan cerita dan hal tentang anak sering kali berangkat dari niat baik.
Namun, ketika anak bertumbuh, ia juga mulai memiliki pandangan, batasan, dan keinginan sendiri tentang bagaimana dirinya ingin dikenal oleh orang lain.
Dalam Konvensi Hak Anak PBB, Pasal 16, anak memiliki hak atas perlindungan dari campur tangan yang sewenang-wenang atau melanggar privasi, keluarga, rumah, dan korespondensinya, serta serangan yang melanggar kehormatan dan reputasinya.
Karena itu, sebelum mengunggah sesuatu tentang anak, cobalah berhenti sejenak dan bertanya: Kalau anak saya sudah dewasa nanti, apakah ia akan nyaman mengetahui bahwa cerita ini pernah saya bagikan kepada banyak orang?
Kita mungkin tidak bisa mengontrol sepenuhnya apa yang terjadi di internet. Namun, kita bisa mulai dengan lebih bijak memilih apa yang layak dibagikan.
Sebab, menjaga privasi anak juga merupakan salah satu cara untuk menunjukkan rasa sayang dan menghormati mereka sebagai individu.