Sorry, we couldn't find any article matching ''

Dari yang Sudah Menikah untuk yang Belum: 8 Tanda Kamu Harus Berani Stop the Wedding!
Kenali 8 tanda harus membatalkan pernikahan, mulai dari KDRT, perselingkuhan, hingga pasangan yang enggan berbagi tanggung jawab.
Buat kamu yang sedang mempersiapkan pernikahan, coba dengarkan sebentar cerita dari mereka yang sudah menikah. Sebab, ada beberapa red flags yang sebaiknya tidak diabaikan hanya karena terlanjur cinta.
Belakangan, istilah Stop the Wedding mengingatkan kita pada satu hal: pernikahan bukan keputusan yang harus tetap dilanjutkan hanya karena semua persiapan sudah berjalan. Kalau ada masalah serius dalam hubungan, tidak ada salahnya berhenti sejenak dan mengevaluasi keputusanmu.
Lebih baik batal menikah daripada menyesal bertahun-tahun. Ini beberapa tanda yang perlu kamu perhatikan!
1. Dia melakukan KDRT, bahkan saat masih pacaran
Kalau dia pernah menampar, mendorong, mencekik, mengancam, atau melakukan kekerasan fisik, emosi, verbal maupun seksual, jangan menganggapnya sebagai khilaf karena sedang emosi. Apalagi kalau setelahnya dia minta maaf, menangis, berjanji berubah, lalu mengulanginya lagi.
Cinta bukan alasan untuk mempertaruhkan keselamatanmu. Kamu tidak perlu menunggu sampai menjadi pasangan sah untuk menyadari bahwa hubungan ini tidak aman.

Photo by Fotos on Unsplash
2. Tukang selingkuh dan selalu punya alasan
Ketahuan selingkuh, minta maaf, berjanji tidak mengulanginya, lalu ketahuan lagi? Perselingkuhan memang bisa memiliki konteks yang berbeda dalam setiap hubungan. Namun, kalau kebohongan dan pengkhianatan terus berulang tanpa tanggung jawab nyata, jangan berharap status pernikahan otomatis membuatnya setia.
Jangan menikah dengan harapan kamu bisa mengubah seseorang yang bahkan tidak menunjukkan kemauan untuk berubah.
BACA JUGA: 3 Cara Mengatasi Silent Treatment agar Hubungan Pernikahan Lebih Sehat
3. Tukang utang, tetapi tidak pernah jujur soal uang
Punya utang bukan otomatis seseorang tidak layak menjadi pasangan. Yang perlu diwaspadai adalah utang yang disembunyikan, kebiasaan berutang tanpa tanggung jawab, judi yang merusak keuangan, atau kebiasaan menghamburkan uang sambil membebankan akibatnya kepada orang lain.
Bayangkan baru menikah, kamu justru harus menghadapi tagihan yang selama ini tidak pernah kamu ketahui.
Sebelum menikah, bicarakan kondisi keuangan secara terbuka. Jangan sampai kamu baru tahu kondisi finansial pasangan setelah ikut menanggung akibatnya.

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash
4. Kamu berharap dia berubah setelah menikah
Dia pemarah, tidak bertanggung jawab, suka merendahkanmu, atau selalu menghindari masalah. Namun, kamu terus meyakinkan diri bahwa setelah menikah dia pasti lebih dewasa.
Hey, menikah bukan proyek memperbaiki pasangan.
Orang bisa berubah, tetapi perubahan harus terlihat dari tindakan yang konsisten, bukan sekadar janji manis menjelang hari pernikahan.

Photo by Reneé Thompson on Unsplash
5. Prinsip hidup kalian bertabrakan, tetapi berharap cinta cukup
Kamu ingin punya anak, dia tidak. Lalu kamu ingin tetap bekerja, dia mengharapkan kamu berhenti. Kemudian kamu ingin tinggal mandiri, dia bersikeras harus tinggal bersama orang tuanya.
Perbedaan bukan selalu alasan untuk berpisah. Namun, kalau menyangkut keputusan besar dan tidak ada kompromi yang bisa diterima kedua pihak, jangan berharap semuanya selesai setelah menikah.
Cinta itu penting, tetapi kalian juga perlu sepakat tentang kehidupan yang ingin dibangun bersama.
6. Dia mengontrol hidupmu atas nama cinta
Dia melarangmu bertemu teman, mengatur pakaianmu, memeriksa ponsel tanpa izin, membatasi hubunganmu dengan keluarga, atau mengatur uangmu sampai kamu kehilangan kebebasan.
Lalu, ketika kamu protes, dia bilang semua itu dilakukan karena sayang.
Perhatian dan kontrol adalah dua hal berbeda. Hubungan yang sehat tidak mengharuskanmu kehilangan kebebasan untuk membuktikan kesetiaan.

Photo by Ninthgrid on Unsplash
7. Nggak Mau Berbagi Beban Rumah Tangga
Dia menganggap memasak, membersihkan rumah, mencuci baju, sampai mengurus anak adalah tugas istri. Sementara dia cukup bekerja, pulang, makan, lalu istirahat. Kalau kamu minta bantuan, jawabannya, “Kan itu tugas kamu.”
Pernikahan bukan berarti kamu mendapatkan pekerjaan tambahan sebagai pengurus rumah tangga pribadi pasangan.
Apalagi kalau kamu juga bekerja dan punya penghasilan sendiri. Masa setelah sama-sama lelah bekerja, semua urusan rumah dan anak tetap menjadi tanggung jawabmu seorang?
Sebelum menikah, bicarakan pembagian peran dan tanggung jawab rumah tangga. Bukan soal siapa yang harus mengerjakan semuanya secara 50:50 setiap saat, tetapi apakah kalian sama-sama mau berkontribusi dan saling meringankan beban.
Kamu mencari pasangan hidup, bukan mencari orang yang akan menambah daftar pekerjaanmu setiap hari.
BACA JUGA: Perempuan Lelah Jadi Provider Emosional dalam Hubungan? Kenali Tandanya
8. Jujur saja, kamu sebenarnya tidak ingin menikah dengannya
Kamu bertahan karena sudah pacaran bertahun-tahun, takut mengecewakan orang tua, malu membatalkan pernikahan, atau merasa usia sudah tidak memungkinkan untuk mencari pasangan lain.
Coba tanyakan kepada diri sendiri: kalau tidak ada tekanan dari siapa pun, apakah kamu tetap akan memilih orang ini?
Rasa gugup menjelang pernikahan memang wajar. Namun, jika ada keraguan mendasar yang terus kamu abaikan, beri dirimu waktu untuk memahami penyebabnya.
Tidak ada yang salah dengan menunda pernikahan demi memastikan keputusanmu.
Tidak ada pernikahan yang sempurna. Setiap pasangan punya kekurangan, perbedaan, dan masalah yang harus diselesaikan bersama. Namun, jangan samakan kekurangan pasangan dengan perilaku yang membahayakan, mengkhianati kepercayaan, atau merusak kehidupanmu.
Gedung bisa dibatalkan. Undangan bisa ditarik. Biaya mungkin hangus. Keluarga mungkin kecewa. Semua itu memang tidak mudah.
Tetapi menikah hanya karena merasa sudah terlanjur juga bukan keputusan yang bijak.
Kalau ada masalah serius, evaluasi hubungan dan pertimbangkan bantuan profesional sebelum melanjutkan. Jika ada kekerasan atau ancaman, utamakan keselamatanmu.
BACA JUGA: 7 Manfaat Konseling ke Psikolog Pernikahan, Nggak Harus Tunggu Ada Masalah
Lebih baik patah hati sebelum menikah daripada menghabiskan bertahun-tahun berharap pasangan berubah setelah menikah.
Cover: Photo by Jeremy Wong Weddings on Unsplash
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS