
Anak sering dikatain jelek oleh temannya? Ini cara bantu anak menghadapi ejekan soal fisik tanpa balik mem-bully dan merusak rasa percaya dirinya.
Hati orang tua mana yang tidak hancur saat anak pulang sekolah dengan mata berkaca-kaca, lalu berbisik pelan, “Ma, kata temanku aku jelek…” ? Rasa sedih, marah, dan ingin langsung melabrak anak atau orang tua yang mengejek pasti bergemuruh di dada. Ikut sedih, sudah pasti. Tapi balik mem-bully atau bereaksi emosional tentu sangat nggak bijaksana dan malah kasih contoh ke anak untuk menyelesaikan masalah dengan kekerasan juga.
Saat anak dikatain jelek oleh temannya, wajar jika orang tua langsung merasa ingin melindungi. Namun, ejekan mengenai fisik, mulai dari wajah, gaya rambut, pakaian, hingga warna kulit, bukan sesuatu yang sebaiknya dianggap sepele, terutama jika dilakukan berulang, bertujuan mempermalukan, atau membuat anak merasa berada dalam posisi yang lebih lemah. Ejekan seperti ini dapat memengaruhi rasa percaya diri dan cara anak memandang dirinya sendiri.
Lantas, bagaimana cara kita sebagai orang tua merangkul dan membekali anak saat menghadapi situasi ini?
Sebelum kita mengambil tindakan, penting bagi Mommies dan Daddies untuk memahami bahwa anak-anak yang melakukan bullying tidak serta-merta lahir sebagai “anak jahat”.
Melansir dari artikel Child Mind Institute, Jamie Howard, PhD, seorang psikolog klinis menjelaskan bahwa anak-anak bisa melakukan tindakan yang menyakiti orang lain karena berbagai alasan. Mereka masih dalam proses belajar dan memahami batasan interaksi sosial, sehingga perilaku buruk tidak selalu menggambarkan keseluruhan karakter seorang anak.
Ada beberapa alasan mengapa seorang anak bisa melontarkan kata-kata menyakitkan kepada temannya:
Dengan memahami latar belakang ini, Mommies bisa merespons aduan anak dengan kepala dingin dan fokus pada pemulihan emosi anak.

Tidak semua anak berani berterus terang saat mendapat komentar negatif tentang fisiknya. Menurut panduan Parenting Mentor, ada beberapa sinyal halus yang perlu orang tua waspadai, terutama jika komentar mengenai penampilan terjadi berulang dan mulai memengaruhi keseharian anak.
Perubahan seperti menarik diri, enggan ke sekolah, perubahan suasana hati, atau mulai mengkritik diri sendiri memang patut diperhatikan. Namun, tanda-tanda tersebut tidak otomatis berarti anak mengalami bullying karena bisa juga muncul akibat masalah lain. Karena itu, penting untuk mengajak anak bicara tanpa menghakimi dan mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi.
BACA JUGA: Bullying di Sekolah Masih Marak, Ini Ciri-ciri Pelaku Bullying dan Korban
Dunia ini penuh dengan beragam karakter manusia, dan kita tidak bisa selamanya mengontrol apa yang keluar dari mulut orang lain. Namun, kita memegang kendali penuh dengan bagaimana kita mau bereaksi. Berikut langkah-langkah nyata yang bisa Mommies dan Daddies terapkan:
Anak-anak adalah peniru yang ulung. Ajarkan mereka tentang konsep saling menghargai lewat tindakan nyata kita sehari-hari seperti mengucapkan terima kasih kepada guru, memberi pujian tulus pada teman, dan bersikap sopan kepada staf toko, ART, hingga tukang sampah.
Melansir artikel dari Parents, Shane Jimerson, PhD, seorang psikolog sekolah dan profesor di University of California, Santa Barbara, menegaskan bahwa perlindungan terbaik yang bisa diberikan orang tua adalah dengan memupuk rasa percaya diri serta kemandirian anak, dan siap mengambil tindakan hanya ketika memang diperlukan.
Saat anak mengadu sambil menangis, jangan pernah mengerdilkan perasaan mereka dengan kalimat seperti, “Ah, begitu saja kok baper?” atau “Itu cuma bercandaan teman kok.” Tunjukkan bahwa wajar jika mereka merasa sedih atau terluka.
Dikutip dari Child Mind Institute, Jamie Howard, PhD menyarankan agar orang tua mendengarkan dan menunjukkan empati tanpa memperlakukan anak seolah-olah mereka sangat rapuh. Tunjukkan sikap percaya diri bahwa masalah ini bisa diselesaikan bersama-sama.
BACA JUGA: Mari Terbuka Tentang Bullying Pada Anak
Ingatkan anak bahwa setiap manusia diciptakan unik dan istimewa dengan caranya masing-masing. Penampilan fisik sama sekali tidak mendefinisikan nilai, kebaikan hati, maupun kecerdasan mereka.
Mommies dan Daddies juga bisa mengajak anak menyebutkan hal-hal yang mereka sukai dari dirinya sendiri, termasuk kemampuan, sifat baik, hobi, atau hal kecil yang membuatnya bangga. Tujuannya bukan membuat anak merasa harus selalu percaya diri, melainkan membantu mereka melihat bahwa nilai dirinya jauh lebih besar daripada komentar satu orang.
Latih anak di rumah untuk merespons ejekan dengan tenang tanpa emosi. Pelaku bullying biasanya mencari reaksi emosional, mereka senang jika korbannya menangis atau marah. Jika tak dapat reaksi, ejekan tersebut bisa kehilangan efeknya.
Ajak anak berlatih mengucapkan kalimat singkat tapi tegas seperti “Ih, jauh-jauh deh” atau “Saya nggak peduli tuuu”. Latih juga mereka memberikan respons datar seperti “Terus?” atau “Masa, sih?” atau “Ya, ya, yaaa” lalu berjalan pergi.
Mommies dan Daddies juga bisa mengajarkan teknik opposite compliment yang diulas oleh psikolog sekolah Izzy Kalman di Psychology Today untuk membalikkan situasi dan mematahkan posisi pelaku.
Namun, anak juga tidak perlu dipaksa menghadapi pelaku sendirian. Jika situasinya berulang, membuat anak takut, atau ada ketimpangan kekuatan, anak perlu tahu bahwa meminta bantuan orang dewasa bukan berarti “mengadu”, melainkan salah satu cara menjaga dirinya. Strategi seperti stop-walk-talk juga dapat dilatih: mengatakan “Stop”, pergi dari situasi, lalu melapor kepada orang dewasa tepercaya.
Jadikan rumah sebagai ruang aman (safe zone) tempat anak bebas menumpahkan segala keluh kesah, perasaan, dan kekhawatiran mereka tanpa takut dihakimi.
Sesekali tanyakan bagaimana harinya tanpa membuat setiap percakapan terasa seperti interogasi. Anak perlu tahu bahwa ketika sesuatu terjadi di sekolah, mereka selalu punya tempat untuk pulang dan bercerita.

Dorong anak untuk membiasakan diri menggunakan afirmasi positif setiap hari untuk memperkuat pertahanan mental dan rasa percaya dirinya. Kalimat seperti “Aku berharga, aku pintar, dan aku bangga pada diriku sendiri” bisa menjadi tameng emosional bagi anak.
Mommies dan Daddies bisa menyaksikan inspirasi video afirmasi anak sebagai referensi di channel YouTube ini.
Bantu anak memahami bahwa kata-kata kasar yang dilontarkan temannya sebenarnya muncul dari ketidakbahagiaan, masalah, atau perilaku buruk orang itu sendiri, bukan karena kamu memang seperti yang temanmu atau orang itu katakan.
Namun, hindari memastikan bahwa kita tahu persis apa yang terjadi di balik perilaku pelaku. Lebih baik mengatakan kepada anak bahwa komentar tersebut tidak menentukan siapa dirinya, sekaligus mengingatkan bahwa perilaku menyakiti orang lain tetap tidak bisa dibenarkan.
BACA JUGA: Anak Menjadi Pelaku Bullying? Ini yang Perlu Dilakukan Orang Tua
Jika ejekan fisik dan perundungan verbal ini terjadi secara berulang-ulang di sekolah, jangan ragu untuk melaporkan dan mendiskusikan perilaku tersebut kepada guru atau pihak administrator sekolah.
Sampaikan kejadian secara spesifik, misalnya kapan terjadi, apa yang dikatakan, siapa saja yang terlibat, dan bagaimana dampaknya kepada anak. Jika memungkinkan, catat kejadian yang berulang agar pihak sekolah mendapatkan gambaran yang jelas dan bisa menentukan langkah yang tepat.
Niat kita membela anak tentu sangat baik, tetapi pastikan kita tidak terjebak dalam dua kekeliruan ini:
Tidak semua interaksi yang tidak menyenangkan, perselisihan paham, atau penolakan sesaat di antara anak-anak dikategorikan sebagai bullying. Kita perlu mengajarkan anak perbedaan antara konflik sosial biasa dan perundungan.
Secara umum, bullying melibatkan perilaku agresif yang tidak diinginkan, ketidakseimbangan kekuatan, serta terjadi berulang atau memiliki kemungkinan untuk berulang. Karena itu, Mommies dan Daddies perlu melihat konteks, riwayat kejadian, hubungan antaranak, dan apakah ada ketimpangan kekuatan sebelum menyimpulkan bahwa suatu kejadian adalah bullying.
Menunjukkan rasa syok hebat, marah-marah di depan anak, atau langsung mengancam akan mendatangi rumah orang tua pelaku justru bisa membuat anak trauma dan kapok untuk terbuka lagi di masa depan. Tetaplah tenang agar anak merasa aman.
American Academy of Pediatrics juga menyarankan orang tua untuk mendengarkan anak terlebih dahulu, mencari tahu apa yang sebenarnya terjadi, dan baru menentukan kapan perlu melibatkan guru, konselor, atau pihak sekolah. Orang tua juga sebaiknya tidak langsung menghubungi orang tua pelaku untuk menyelesaikan masalah sendiri.
BACA JUGA: Saat Anak Menjadi Pelaku Bullying, Orang Tua Perlu Lakukan Ini!
Cover: Pexels