
AI mengubah dunia kerja. Kenali 7 skill yang dibutuhkan di era AI agar Mommies dan Daddies tetap relevan, adaptif, dan siap menghadapi perubahan dunia kerja.
Mommies dan Daddies mungkin sudah mulai merasakan: AI di dunia kerja bukan lagi sesuatu yang “nanti-nanti saja”. Mulai dari membuat presentasi, merangkum dokumen, mencari ide, sampai membantu menganalisis data, AI perlahan menjadi bagian dari keseharian banyak pekerja.
Lalu, apakah artinya kita harus belajar coding atau menjadi ahli teknologi supaya tetap relevan?
Belum tentu.
Justru, beberapa skill yang dibutuhkan era AI di dunia kerja adalah kemampuan yang sangat manusiawi. World Economic Forum – Future of Jobs Report 2025, Chapter 3: Skills Outlook menyebut kemampuan seperti analytical thinking, kreativitas, ketahanan diri, kemampuan beradaptasi, dan rasa ingin terus belajar tetap menjadi keterampilan penting di dunia kerja. Di saat yang sama, AI and big data serta technological literacy menjadi beberapa skill yang pertumbuhannya paling cepat.
Jadi, bukan soal manusia melawan AI. Lebih tepatnya, bagaimana kita bisa bekerja bareng AI dengan lebih pintar.
BACA JUGA: Tak Cukup Excel atau PowerPoint, Ini Skill yang Perlu Dikuasai Ibu Bekerja di Era AI
Berikut 7 skill yang bisa mulai diasah.

AI bisa memberikan jawaban dalam hitungan detik. Tapi, apakah jawabannya benar, relevan, dan sesuai kebutuhan? Nah, bagian ini tetap membutuhkan manusia.
Kemampuan berpikir kritis membantu kita mengecek informasi, melihat masalah dari berbagai sudut pandang, menemukan pola, dan mengambil keputusan berdasarkan data, bukan sekadar menerima jawaban AI mentah-mentah.
Yang bisa dilakukan: Biasakan bertanya, “Dasarnya apa?”, “Apakah ada informasi yang terlewat?” dan “Apa risiko dari keputusan ini?”
Tidak harus menjadi programmer, kok. Yang semakin penting adalah memahami apa yang bisa dan tidak bisa dilakukan AI, bagaimana menggunakannya secara efektif, serta kapan kita justru perlu mengerjakan sesuatu tanpa bantuan AI.
Kemampuan bekerja dengan AI juga termasuk tahu cara memberikan instruksi yang jelas, mengevaluasi hasilnya, dan menjaga keamanan data.
WEF menempatkan technological literacy sebagai salah satu core skill dunia kerja, sementara AI and big data menjadi kelompok keterampilan yang diprediksi tumbuh paling cepat.
Yang bisa dilakukan: Pilih satu atau dua tools AI yang relevan dengan pekerjaan dan pelajari secara bertahap. Tidak perlu mencoba semuanya sekaligus.
Kalau AI bisa membuat banyak ide, apakah kreativitas manusia jadi tidak penting?
Malah sebaliknya.
AI dapat membantu menghasilkan berbagai kemungkinan, tetapi manusia tetap dibutuhkan untuk menentukan ide mana yang punya makna, relevan dengan konteks, dan sesuai dengan kebutuhan orang lain.
Creative thinking juga termasuk salah satu skill yang diprediksi semakin penting dalam beberapa tahun ke depan.
Yang bisa dilakukan: Jangan hanya meminta AI memberikan jawaban. Coba gunakan AI sebagai sparring partner untuk mengembangkan ide yang sudah Mommies atau Daddies punya.
BACA JUGA: 10 Cara Meningkatkan Skill Tanpa Harus Kerja Kantoran

Secanggih apa pun teknologinya, pekerjaan tetap melibatkan manusia.
Kemampuan menyampaikan ide, mendengarkan, memberikan feedback, bernegosiasi, dan bekerja sama dengan tim menjadi semakin penting. Apalagi ketika satu tim terdiri dari orang-orang dengan kemampuan dan cara kerja yang berbeda.
WEF juga memasukkan leadership and social influence serta empathy and active listening sebagai skill penting bagi pekerja.
Yang bisa dilakukan: Latih komunikasi yang jelas, terutama saat menyampaikan masalah, ekspektasi, dan feedback.
Dunia kerja sekarang bergerak cepat. Tools berubah, sistem berubah, bahkan beberapa jenis pekerjaan ikut berubah.
Menurut WEF, sekitar 39% dari skill yang dimiliki pekerja saat ini diperkirakan akan berubah atau menjadi usang pada 2030.
Yang bisa dilakukan: Jangan melihat perubahan hanya sebagai ancaman. Biasakan bertanya, “Skill apa yang perlu saya pelajari supaya bisa mengikuti perubahan ini?”
Dulu, mungkin kita belajar satu keahlian lalu menggunakannya bertahun-tahun. Sekarang, lifelong learning semakin relevan.
Menariknya, kemampuan untuk terus belajar tidak selalu berarti harus mengambil kursus mahal. Bisa dimulai dari membaca, mengikuti webinar, mencoba tools baru, atau belajar dari rekan kerja.
Rasa ingin tahu dan kemauan untuk terus belajar termasuk skill yang diprediksi semakin penting dalam lima tahun ke depan.
Yang bisa dilakukan: Sisihkan waktu 30 menit seminggu untuk mempelajari satu hal baru yang berkaitan dengan pekerjaan.

Ini mungkin terdengar sederhana, tapi justru menjadi pembeda penting.
AI bisa membantu pekerjaan menjadi lebih cepat. Namun, memahami perasaan rekan kerja, membaca situasi, membangun kepercayaan, dan menyadari kondisi diri sendiri tetap membutuhkan manusia.
Apalagi, perubahan teknologi juga bisa menimbulkan kecemasan. Survei Work in America 2026 dari American Psychological Association menemukan bahwa 48% pekerja yang disurvei khawatir AI dapat membuat sebagian atau seluruh tugas pekerjaannya menjadi tidak dibutuhkan.
Karena itu, kemampuan mengelola stres, menjaga perspektif, dan tetap terbuka terhadap perubahan juga penting.
BACA JUGA: 7 Side Hustle untuk Orang Tua yang Super Sibuk, Tetap Bisa Cuan
Mommies dan Daddies tidak perlu merasa harus menguasai semuanya sekaligus.
Coba mulai dari satu skill yang paling dekat dengan pekerjaan saat ini. Misalnya, belajar menggunakan AI untuk pekerjaan administratif, melatih kemampuan analisis data, atau membiasakan diri mengecek kembali informasi yang diberikan AI.
Yang perlu diingat, tujuan akhirnya bukan menjadi “lebih mirip mesin”.
Justru, semakin AI mengambil alih pekerjaan yang repetitif, semakin penting kemampuan yang membuat kita tetap manusia: berpikir, berkreasi, berkomunikasi, beradaptasi, dan memahami orang lain.
Jadi, daripada sibuk bertanya, “Apakah AI akan menggantikan pekerjaan saya?”, mungkin pertanyaan yang lebih berguna adalah:
“Bagaimana saya bisa bekerja lebih baik dengan bantuan AI?”