
Anak sering menunda mengerjakan PR? Ini 10 cara membentuk kebiasaan belajar anak yang efektif, tanpa drama, omelan, dan tantrum.
Sore hari yang tenang mendadak berubah jadi ruang negosiasi yang ulet. Skenarionya mungkin terasa tidak asing bagi Mommies: jam sudah menunjukkan pukul lima sore, tetapi anak masih sibuk menatap layar gawai, bermain mainan, atau sekadar ngarang alasan agar bisa menunda mengerjakan Pekerjaan Rumah.
Pertanyaan “Kenapa sih harus ada PR? Kan di sekolah sudah belajar seharian?” tidak hanya sering dilontarkan oleh anak-anak kepada gurunya, tetapi juga kerap menjadi pemicu drama di rumah.
Padahal, PR dibuat bukan sekadar untuk menambah beban harian anak. Lebih dari itu, melatih anak menyelesaikan tugas sekolah secara konsisten memegang peran besar dalam membentuk kemandirian, rasa tanggung jawab, hingga karakter disiplin mereka.
Mengutip Big Byte Education, hasil penelitian dari University of Tübingen di Jerman mengungkapkan bahwa anak yang mengerjakan PR mereka dengan tekun cenderung tumbuh menjadi pribadi yang lebih bertanggung jawab dibandingkan teman-teman sebayanya.
BACA JUGA: Anak Ingin Gap Year? Jangan Langsung Menolak, Ini Faktanya
Richard Göllner, peneliti utama studi tersebut, mengungkapkan bahwa PR tidak hanya relevan untuk prestasi akademis di sekolah, tetapi juga membentuk perkembangan kepribadian anak dalam jangka panjang, asalkan mereka mengupayakan usahanya secara sungguh-sungguh.
Namun, sebelum Mommies emosi menghadapi anak yang hobi menunda tugas, penting untuk memahami akar penyebabnya lebih dulu.

Mengutip pembahasan dari situs Primary Tutor Project dan KidKarma, anak sering kali menunda mengerjakan PR bukan semata-mata karena malas, melainkan karena beberapa faktor berikut:
Ketika orang tua dapat memahami faktor-faktor pengganggu ini, kita bisa meresponsnya dengan pendekatan yang penuh empati dan kesabaran, alih-alih menghujani anak dengan kritik dan omelan.
Sebelum membahas cara mengatasinya, mari kita pahami dulu apa itu kebiasaan belajar.
Seperti dilansir dari artikel edukasi di A Healthy Slice of Life, kebiasaan belajar pada dasarnya adalah rutinitas kecil yang dilakukan secara berkala agar informasi yang dipelajari dapat melekat dengan baik di ingatan anak. Bentuknya tidak harus rumit. Bisa sesederhana merapikan area belajar, mengulas ulang materi selama beberapa menit setiap hari, atau merencanakan jadwal tugas.
BACA JUGA: Anak Merasa Gagal saat Belajar? Ini 4 Cara Mendampinginya agar Tetap Percaya Diri
Membangun kebiasaan belajar yang sehat membawa segudang manfaat nyata bagi tumbuh kembang anak, antara lain:

Guna membantu anak terbebas dari jerat kebiasaan menunda PR, Mommies dapat menerapkan 10 langkah taktis yang dirangkum dari KidKarma dan Primary Tutor Project berikut ini:
Buat kesepakatan waktu dan tempat yang sama setiap hari. Berikan jeda istirahat sekitar 20–30 menit sepulang sekolah untuk mengisi energi sebelum mulai belajar.
Sediakan meja belajar khusus yang terang, rapi, dan bebas distraksi. Hindari membiasakan anak belajar di kasur atau depan televisi.
Kurangi rasa enggan anak dengan membagi tugas besar menjadi langkah-langkah kecil yang lebih rasional untuk dikerjakan.
BACA JUGA: Manfaat Menulis Tangan pada Anak, Lebih Baik dari Mengetik?
Sesuaikan dengan energi anak. Menyelesaikan tugas yang paling menantang di awal saat fokus masih segar bisa mencegah beban mental berlebih.
Dampingi dalam jarak terjangkau untuk menjawab pertanyaan, tetapi berikan ruang agar anak bisa mengerjakan PR-nya secara mandiri.
Gunakan interval waktu, misalnya 20 menit belajar dan 5 menit istirahat bergerak, agar anak tidak merasa lelah.
Bantu anak memahami bahwa latihan yang dilakukan hari ini berkaitan erat dengan impian atau minat yang ingin mereka raih di masa depan.
Jika anak terus-menerus menolak belajar, ajak guru berdiskusi untuk melihat apakah ada kendala akademis atau gangguan konsentrasi yang membutuhkan bantuan profesional.
Cukupi tidur anak (9–11 jam untuk usia SD), berikan asupan gizi seimbang, dan batasi penggunaan gawai sebelum tidur agar kemampuan konsentrasi anak tetap optimal.
Latih ketahanan fokus anak melalui latihan pernapasan sederhana, permainan perakit balok/mewarnai, atau memanfaatkan panduan mindfulness anak yang ada di aplikasi seperti Riliv maupun platform Spotify.
BACA JUGA: 8 Tanda Anak Kesulitan Belajar yang Sering Tidak Disadari Orang Tua, Butuh Belajar Tambahan
Membentuk kebiasaan belajar memang membutuhkan proses dan konsistensi dari orang tua. Namun, dengan pendekatan yang suportif, sabar, dan bertahap, anak perlahan akan menemukan ritme belajarnya sendiri tanpa perlu ada adegan-adegan dramatis menunda PR lagi!