
Toilet training toddler selalu gagal? Kenali 7 kesalahan orang tua yang bisa bikin anak susah toilet training, takut toilet, atau makin menolak.
“Sudah dicoba berkali-kali, kok masih ngompol juga?”
“Anaknya sudah hampir 3 tahun, kenapa belum mau duduk di toilet?”
Atau mungkin Mommies malah sudah sampai tahap, “Jangan-jangan aku yang salah, ya?”
Tenang dulu. Toilet training toddler memang nggak selalu berjalan mulus, dan kecelakaan seperti ngompol atau pup di celana masih bisa terjadi selama proses belajar. Jadi, ketika anak belum juga lancar, bukan berarti Mommies gagal mengajarinya.
Menurut American Academy of Pediatrics (AAP), toilet training bukan cuma soal kemampuan fisik. Anak juga perlu mengembangkan kemampuan kognitif, bahasa, mengingat, memecahkan masalah, serta mengenali sinyal tubuh dan mengomunikasikan kebutuhannya. Karena itu, kesiapan anak bisa berbeda-beda dan nggak bisa cuma dilihat dari usianya saja.
Nah, kalau toilet training toddler terasa jalan di tempat, coba cek lagi. Bisa jadi tanpa sadar ada beberapa kesalahan orang tua yang justru membuat prosesnya terasa lebih sulit.
BACA JUGA: Kenali Manfaat Toilet Training dan Dampak Buruknya Jika Tidak Diajarkan Sejak Dini

“Sudah 2 tahun, harusnya mulai, dong.”
Usia memang sering jadi patokan, tetapi sebenarnya nggak ada satu usia ideal yang berlaku untuk semua anak. AAP menyebut kesiapan perkembangan perlu diperhatikan, karena toilet training membutuhkan kemampuan mengenali sinyal tubuh, mengikuti instruksi, mengelola pakaian, berkomunikasi, dan bersedia menggunakan toilet.
Jadi, daripada hanya melihat angka usia, coba perhatikan apakah si kecil sudah menunjukkan beberapa tanda tersebut. Kalau belum, nggak apa-apa mundur sedikit dan gunakan waktu ini untuk mengenalkan toilet terlebih dahulu.
Mommies juga nggak perlu membandingkan anak dengan sepupu atau teman sebayanya yang sudah lebih dulu lepas popok. Toilet training bukan perlombaan.
BACA JUGA: 13 Kesalahan Orang Tua saat Potty Training, Nomor 3 Paling Sering Terjadi
Kadang ekspektasi orang tua sederhana: hari ini mulai toilet training, beberapa hari kemudian anak sudah lancar.
Padahal, anak sedang mempelajari banyak hal sekaligus. Ia perlu mengenali rasa ingin pipis atau pup, memahami apa arti sensasi tersebut, mengingat lokasi toilet, menuju ke sana, membuka celana, duduk dengan benar, lalu menyelesaikan prosesnya.
Jadi, kalau minggu pertama masih ada drama, bukan berarti toilet training-nya gagal.
Penelitian berupa systematic review yang terbit di Journal of Pediatric Urology juga menemukan belum ada konsensus mengenai satu metode toilet training yang paling baik. Peneliti mencatat metode yang digunakan sangat beragam dan penelitian yang tersedia masih memiliki keterbatasan, sehingga belum bisa disimpulkan bahwa satu pendekatan pasti lebih unggul untuk semua anak.
Artinya, Mommies nggak perlu merasa gagal hanya karena metode yang dicoba keluarga lain ternyata nggak cocok untuk si kecil.
“Adik mau pipis?”
“Nggak.”
“Yakin? Coba ke toilet, yuk.”
“Nggak!”
Lima menit kemudian… pipis di celana.
Pernah mengalami yang seperti ini, Mommies?
Mengajak anak ke toilet secara rutin memang bisa membantu membangun kebiasaan. Namun, jangan sampai setiap beberapa menit Mommies terus bertanya atau memaksa anak duduk di toilet, apalagi ketika ia belum menunjukkan tanda ingin pipis atau pup.
AAP menyarankan rutinitas toilet yang konsisten sekaligus memberi anak kesempatan untuk mengambil alih prosesnya secara bertahap. Anak juga perlu belajar mengenali sinyal dari tubuhnya sendiri.
Jadi, boleh mengingatkan dan menawarkan toilet, tetapi nggak perlu sampai toilet terasa seperti tempat wajib setor laporan.

Ini mungkin salah satu yang paling mudah terjadi ketika kesabaran sudah mulai menipis.
Celana baru diganti, lima menit kemudian basah lagi. Lalu terdengar kalimat, “Kan sudah Mama bilang!” atau “Kok masih ngompol sih?”
Padahal, kecelakaan adalah bagian dari proses belajar. AAP menyarankan orang tua menjaga proses tetap positif dan menghindari hukuman maupun perebutan kendali saat toilet training.
Respons orang tua juga penting agar kecelakaan tidak berubah menjadi pengalaman yang membuat anak takut atau malu menggunakan toilet. Kalau Mommies sedang menghadapi kejadian seperti ini, coba cukup bersihkan bersama dan katakan, “Nggak apa-apa, lain kali kalau terasa mau pipis, bilang Mama, ya.”
Sederhana, tetapi pesan yang diterima anak berbeda: “Aku sedang belajar,” bukan “Aku anak yang gagal.”
BACA JUGA: Toilet Training Pressure
Ada anak yang santai melihat potty. Ada juga yang baru melihat toilet langsung mundur.
Takut dengan suara flush, nggak nyaman dengan dudukan toilet, merasa akan jatuh, atau bahkan takut ikut “hilang” ketika toilet disiram ternyata bisa terjadi pada anak. AAP juga mencatat bahwa imajinasi anak yang berkembang dapat memunculkan ketakutan terhadap toilet atau suara flush.
Kalau anak takut toilet training, jangan langsung dianggap keras kepala. Coba cari tahu apa yang membuatnya takut.
Mommies bisa mulai dengan membiarkan anak melihat atau duduk di potty tanpa harus langsung pipis. Kalau menggunakan toilet duduk, tambahkan pijakan kaki agar posisi anak lebih stabil. Untuk anak yang takut flush, Mommies juga bisa membiarkannya menekan tombol sendiri ketika ia sudah siap.
Intinya, kenalkan toilet sebagai tempat yang aman, bukan tempat yang membuatnya terpaksa.
Anak menolak duduk. Orang tua makin memaksa. Anak menangis. Orang tua makin kesal.
Akhirnya, urusan pipis dan pup berubah menjadi perang kecil di rumah.
Di usia toddler, keinginan untuk punya kendali atas tubuh dan pilihannya juga bisa muncul dalam proses toilet training. AAP menjelaskan bahwa power struggle dapat membuat toilet training semakin sulit, karena anak mulai menyadari bahwa mereka punya kendali atas kapan dan di mana mereka pipis atau pup.
Karena itu, Mommies bisa memberikan pilihan sederhana. Misalnya, “Mau pakai potty yang biru atau yang putih?” atau “Mau ke toilet sekarang atau lima menit lagi?”
Bukan berarti anak yang menentukan semuanya, tetapi memberinya sedikit rasa kendali bisa membuat proses terasa lebih ringan.
Nah, yang satu ini sering luput karena orang tua fokus pada pertanyaan, “Kenapa anak nggak mau pup di toilet?”
Padahal, bisa jadi masalahnya bukan toilet. Anak pernah mengalami pup yang keras atau sakit, lalu mulai menahan pup karena takut kejadian yang sama terulang.
Menurut AAP, konstipasi fungsional pada anak sering berkaitan dengan perilaku menahan pup. Anak bisa menahan BAB karena takut sakit atau tidak nyaman saat mengeluarkan pup yang keras.
Kalau anak sering menahan pup, mengeluh sakit ketika BAB, pup sangat keras, atau justru mengalami kecelakaan pup berulang, jangan hanya fokus pada latihan toiletnya. Konsultasikan dengan dokter anak, karena konstipasi perlu ditangani agar anak tidak terus mengalami BAB yang sakit atau kebiasaan menahan pup.

Kalau Mommies masih bertanya, “kapan mulai toilet training?”, jawabannya bukan sekadar ketika anak menginjak usia tertentu.
AAP menjelaskan bahwa toilet training membutuhkan kombinasi kemampuan fisik dan perkembangan, termasuk mengenali rasa ingin pipis atau pup, memahami apa artinya, menuju toilet, dan mengomunikasikan kebutuhan. Kesiapan kognitif seperti kemampuan mengingat, memahami instruksi, dan memecahkan masalah juga ikut berperan.
Artinya, usia 2 tahun bukan deadline, begitu juga usia 3 tahun bukan berarti otomatis terlambat.
Yang lebih penting adalah melihat anak sebagai individu. Ada yang cepat memahami konsep pipis di toilet, tetapi butuh waktu lebih lama untuk pup. Ada yang sudah bisa menggunakan toilet pada siang hari, tetapi masih ngompol saat tidur.
Ini juga bisa terjadi karena kontrol kandung kemih malam hari berkembang berbeda dari kemampuan menggunakan toilet pada siang hari. AAP mencatat bahwa kontrol kandung kemih malam hari memang bisa muncul berbulan-bulan atau bahkan bertahun-tahun setelah toilet training siang hari selesai.
Jadi, jangan buru-buru menganggap toilet training belum berhasil hanya karena anak masih ngompol saat tidur.
Pertama, coba turunkan ekspektasi bahwa proses ini harus cepat.
Lihat lagi kesiapan anak, buat rutinitas yang sederhana, gunakan bahasa yang positif, dan beri kesempatan anak untuk mengambil peran. Jangan jadikan setiap kecelakaan sebagai tanda bahwa Mommies atau anak gagal.
Dan kalau sudah dicoba berulang kali tetapi anak terus menolak, sangat takut, menahan pipis atau pup, mengalami konstipasi, atau ada keluhan fisik lainnya, jangan ragu meminta bantuan dokter anak.
Toilet training pada akhirnya bukan cuma soal “kapan anak berhenti pakai popok”. Ini juga tentang belajar mengenali tubuh, membangun kemandirian, dan merasa aman dengan prosesnya.
Jadi, kalau hari ini masih ada satu celana yang basah lagi, tarik napas dulu, Mommies. Besok masih bisa coba lagi.
Karena dalam toilet training, maju sedikit, mundur sebentar, lalu mencoba lagi juga tetap bagian dari belajar.
BACA JUGA: Potty Training di Beberapa Negara, Seperti Apa?
Cover: Magnific