Sorry, we couldn't find any article matching ''

Sudah Hemat Listrik tapi Tagihan Listrik Naik? Ini 7 Kebiasaan Penyebabnya
Sudah merasa hemat listrik tapi tagihan listrik naik? Cek 7 kebiasaan di rumah yang bisa membuat konsumsi listrik bertambah tanpa disadari.
Mommies sudah merasa hemat listrik? Lampu yang nggak dipakai dimatikan, AC nggak dinyalakan seharian, bahkan charger sudah rajin dicabut. Namun begitu lihat tagihan listrik bulan berikutnya, kok, angkanya masih saja bikin mengernyitkan dahi?
Kadang masalahnya bukan karena kita punya terlalu banyak alat elektronik, melainkan kebiasaan kecil saat menggunakannya. Apalagi beberapa perangkat tetap bisa menggunakan listrik dalam kondisi standby, sementara kebiasaan seperti mengatur AC terlalu dingin atau membiarkan alat pemanas menyala terus bisa membuat konsumsi energi bertambah tanpa terasa.
PLN sendiri mengingatkan bahwa besarnya pembayaran listrik dipengaruhi oleh tingkat pemakaian energi dan pola penggunaan listrik di rumah. Jadi, kalau Mommies merasa tidak membeli alat elektronik baru tetapi tagihan listrik tetap naik, coba cek lagi kebiasaan sehari-hari di rumah.
1. AC Nyala Lama dengan Suhu Terlalu Dingin

Foto: Pexels
Ini salah satu kebiasaan yang sering terjadi, terutama saat cuaca sedang panas. Begitu masuk kamar, tangan otomatis mencari remote AC dan suhu langsung diturunkan ke 18 atau 20 derajat karena ingin cepat dingin.
Padahal, semakin rendah suhu yang diatur, beban pendinginan AC bisa semakin besar. Kementerian ESDM sebelumnya merekomendasikan pengaturan suhu AC rumah pada kisaran 24–27°C sebagai salah satu langkah penghematan energi.
Jadi, kalau selama ini Mommies merasa sudah hemat karena AC hanya menyala beberapa jam, coba cek juga suhu yang dipilih dan kondisi ruangan. Jangan sampai AC bekerja lebih keras karena pintu sering dibuka-tutup atau sinar matahari masuk langsung ke ruangan.
2. Sering Membiarkan Perangkat dalam Mode Standby
“Kan TV-nya sudah dimatikan.”
Nah, ini yang sering bikin kita merasa sudah melakukan bagian kita. Padahal, selama beberapa perangkat masih terhubung ke listrik, sebagian di antaranya tetap dapat menggunakan daya dalam kondisi standby.
Department of Energy Amerika Serikat menjelaskan bahwa sejumlah perangkat elektronik dapat tetap mengonsumsi listrik meski terlihat sudah dimatikan, yang dikenal sebagai standby power. Besarnya berbeda-beda tergantung perangkat, tetapi memutus sambungan listrik saat perangkat benar-benar tidak digunakan dapat membantu mengurangi konsumsi energi.
Coba perhatikan perangkat yang jarang digunakan tetapi selalu tercolok, seperti TV, set-top box, konsol game, komputer, printer, atau charger. Nggak harus setiap colokan dicabut satu per satu setiap saat, Mommies bisa menggunakan power strip dengan sakelar agar beberapa perangkat dapat dimatikan sekaligus.
BACA JUGA: Kenapa Tagihan Listrik Naik Terus? Cek 7 Alat Elektronik yang Boros Listrik
3. Kulkas Sering Dibuka-Tutup atau Pintu Tidak Rapat

Foto: Pexels
Ada yang kalau lagi bingung mau makan apa, pintu kulkas dibuka dulu, lalu berdiri sambil bengong di depannya? Mommies, kita semua mungkin pernah melakukan ini.
Masalahnya, kebiasaan membuka pintu kulkas terlalu sering atau terlalu lama membuat udara dingin keluar sehingga kulkas perlu bekerja kembali untuk mempertahankan suhu di dalam. Kondisi pintu kulkas yang tidak rapat karena karet sudah longgar juga bisa membuat proses pendinginan tidak optimal.
Karena itu, selain memilih kulkas yang efisien, perhatikan juga kebiasaan penggunaannya. Pastikan pintu benar-benar tertutup setelah mengambil makanan dan hindari memasukkan makanan yang masih panas langsung ke dalam kulkas.
4. Mesin Cuci atau Pengering Dipakai untuk Cucian Sedikit
Punya mesin cuci memang bikin hidup jauh lebih sat-set. Tinggal masukkan pakaian, tekan tombol, lalu bisa ditinggal mengerjakan pekerjaan rumah lainnya.
Tapi kalau mesin cuci dinyalakan berkali-kali untuk cucian yang sebenarnya masih bisa dikumpulkan, frekuensi pemakaiannya tentu ikut bertambah. Hal serupa berlaku untuk clothes dryer yang menggunakan listrik untuk setiap siklus pengeringan.
Mommies bisa mengatur jadwal mencuci berdasarkan kapasitas mesin, selama tetap mengikuti batas muatan yang direkomendasikan produsen. Untuk pakaian yang memungkinkan dan ketika cuaca mendukung, menjemur dengan sinar matahari juga bisa mengurangi kebutuhan menggunakan pengering listrik.
BACA JUGA: 7 Rekomendasi Mesin Cuci Hemat Listrik dan Air, Berguna In This Economy
5. Dispenser atau Water Heater Menyala Terus
Mommies mungkin berpikir, “Kan cuma dispenser.” Padahal, kalau fitur pemanas airnya menyala sepanjang hari, perangkat tersebut akan terus mempertahankan suhu air dan membutuhkan energi untuk melakukannya.
Hal yang sama berlaku untuk water heater. Kalau hanya digunakan pada waktu tertentu, membiarkannya aktif sepanjang hari bukan berarti air panas tersedia tanpa penggunaan energi—tetap ada listrik yang digunakan untuk mempertahankan suhu.
Dalam panduan penghematan energi, Kementerian ESDM juga pernah menganjurkan agar water heater dan dispenser dinyalakan beberapa saat sebelum digunakan dan dimatikan setelah selesai digunakan.
Jadi, kalau di rumah ada kebiasaan membiarkan fitur pemanas menyala dari pagi sampai malam, coba evaluasi lagi. Bisa jadi ini salah satu kebiasaan kecil yang selama ini luput dari perhatian.
6. Rice Cooker Terus Berada di Mode Warm

Foto: Pexels
Nasi memang paling enak kalau masih hangat. Apalagi kalau anggota keluarga punya jam makan yang berbeda-beda, rasanya praktis sekali membiarkan rice cooker tetap menyala supaya nasi tinggal diambil kapan pun dibutuhkan.
Namun, mode warm yang dibiarkan berjam-jam tetap membutuhkan listrik. Kalau nasi hanya tersisa sedikit dan belum akan dimakan dalam waktu dekat, Mommies bisa mempertimbangkan untuk mematikan rice cooker setelah nasi matang, tentunya dengan tetap memperhatikan keamanan dan cara penyimpanan nasi yang tepat.
Kebiasaan ini mungkin terlihat sepele karena dayanya tidak sebesar AC atau pemanas air. Namun, penghematan energi di rumah memang tidak selalu datang dari satu perubahan besar. Pola penggunaan berbagai perangkat secara keseluruhan juga ikut menentukan konsumsi listrik rumah tangga. IEA mencatat bahwa perubahan perilaku seperti mematikan perangkat yang tidak digunakan dan lampu dapat membantu menurunkan konsumsi listrik rumah tangga.
BACA JUGA: 10 Rice Cooker Hemat Listrik 2026, Awet dan Mulai dari Rp250 Ribu
7. Rumah Terasa Panas, Langsung Nyalakan AC
Begitu gerah sedikit, AC langsung dinyalakan. Padahal, belum tentu ruangan memang membutuhkan pendingin selama berjam-jam.
Ada kebiasaan sederhana yang bisa dicoba lebih dulu, misalnya membuka jendela ketika kondisi udara memungkinkan, memanfaatkan ventilasi, menggunakan tirai untuk mengurangi panas matahari langsung, atau menyalakan kipas untuk membantu sirkulasi udara. Department of Energy juga merekomendasikan penggunaan tirai atau penutup jendela untuk membantu mengurangi panas matahari yang masuk ke rumah.
Mommies juga bisa memperhatikan kapan rumah terasa paling panas. Kalau ternyata sumber panas utamanya datang dari matahari sore yang langsung masuk lewat jendela, mengurangi paparan panas tersebut bisa lebih masuk akal daripada membuat AC bekerja lebih keras untuk melawannya.
BACA JUGA: 8 Cara Membuat Rumah Sejuk Tanpa AC, Tetap Adem dan Hemat Listrik
Jadi, Kenapa Sudah Hemat Listrik tapi Tagihan Tetap Naik?
Kalau Mommies merasa sudah mengurangi penggunaan listrik tetapi tagihan masih tinggi, jangan langsung menyimpulkan ada satu alat yang pasti menjadi penyebabnya. Coba lihat pemakaian dalam satuan kWh dan bandingkan dengan periode sebelumnya, karena angka rupiah pada tagihan juga berkaitan dengan tarif dan komponen pembayaran yang berlaku. PLN sendiri menganjurkan pelanggan memahami pola konsumsi energi agar penggunaan listrik dapat dikelola dengan lebih bijak.
Setelah itu, lakukan audit kecil-kecilan di rumah. Berapa lama AC menyala? Apakah TV dan perangkat lain selalu dalam kondisi standby? Berapa kali mesin cuci digunakan dalam seminggu? Apakah dispenser atau water heater menyala meski sedang tidak dibutuhkan?
Kalau ternyata beberapa kebiasaan tadi memang masih dilakukan, nggak perlu langsung mengubah semuanya sekaligus. Pilih dua atau tiga kebiasaan yang paling mudah diperbaiki terlebih dahulu, lalu lihat apakah pola penggunaan listrik berubah pada periode berikutnya.
Karena hemat listrik sebenarnya bukan soal hidup serba mati dan nggak nyaman. Lebih kepada tahu kapan listrik memang dibutuhkan dan kapan kita tanpa sadar membiarkannya terus bekerja.
Cover: Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS