
Sudahkah sekolah anak-anak siap gempa? Melakukan simulasi bencana? Hingga mengajarkan anak-anak hal yang harus dilakukan bila terjadi gempa?
Beberapa waktu belakangan, isu potensi gempa bumi dan bencana alam sering sekali lewat di linimasa kita. Sebagai seorang ibu, jujur saja pikiran saya suka melayang ke hal-hal yang bikin waswas: “Gimana ya kalau gempa terjadi pas anak-anak lagi di sekolah dan jauh dari orang tua?”
Kita memang tidak bisa memprediksi kapan bencana datang, tapi kita bisa memastikan tempat anak-anak menuntut ilmu sehari-hari sudah memiliki kesiapsiagaan yang baik.
Nah, pertanyaannya: apakah kita harus menanyakan hal ini langsung ke pihak sekolah?
Jawabannya: Ya, tapi tidak selalu harus lewat wawancara formal, apalagi bila terkesan seperti menginterogasi. Mengecek kesiapan sekolah bisa kita lakukan lewat 3 cara yang sangat natural, yaitu mengamati lingkungan sekolah secara langsung, mengobrol santai dengan anak, dan berdiskusi sehat dengan pihak sekolah/wali kelas.
Yuk, coba pakai checklist sederhana ini untuk melihat seberapa siap sekolah anak kita menghadapi situasi darurat!
Saat antar-jemput anak, menghadiri acara sekolah, atau sekadar jalan menuju ruang kelas, moms bisa mengamati beberapa hal fisik ini:
Jalur Evakuasi Jelas: Apakah ada stiker atau rambu hijau bertuliskan “Jalur Evakuasi” di lorong dan tangga? Apakah jalurnya bebas dari tumpukan barang atau meja bekas?
Titik Kumpul: Apakah sekolah punya lapangan terbuka yang cukup luas, serta bebas dari potensi tertimpa tiang listrik, pohon tua, atau kaca gedung?
Penataan Kelas yang Aman: Apakah lemari buku yang tinggi di dalam kelas dipaku atau diikat ke dinding agar tidak gampang roboh saat berguncang?
Arah Buka Pintu: Apakah pintu kelas membuka ke arah luar? Pintu yang membuka ke luar sangat memudahkan evakuasi cepat saat panik.
Baca juga: Latih Anak Tanggap Bencana
Cara paling jujur mengetahui kesiapan sekolah adalah lewat cerita anak-anak sendiri. Mommies bisa menanyakannya saat perjalanan pulang atau sebelum tidur:
Pernah Ikut Simulasi Gempa (Earthquake Drill)? “Kakak atau Adik di sekolah pernah diajarin latihan kalau ada gempa nggak?”
Refleks Pertolongan Diri: “Kalau tiba-tiba ada guncangan di kelas, Guru minta kalian melakukan apa?” Kalau anak Mommies pernah dilatih, biasanya refleks menjawab beberapa cara seperti bersembunyi di bawah meja sambil memegang kaki meja dan melindungi kepala.
Tahu Titik Kumpul: “Kalau ada sirene atau alarm darurat, kalian biasanya disuruh lari berkumpul ke mana?”
Ketika terjadi pertemuan orang tua dan guru, atau obrolan santai dengan wali kelas, poin-poin teknis ini bisa juga Mommies didiskusikan. Nggak salah juga, kok, kalau mau via komunikasi chat.
SOP Komunikasi dan Penjemputan: “Jika terjadi bencana, bagaimana alur sekolah memberi kabar dan mengatur alur penjemputan anak agar tidak chaos?”
Pembagian Tugas Guru: Apakah guru-guru sudah memiliki tim tanggap darurat, misalnya saja siapa yang memimpin barisan, siapa yang membawa P3K, siapa yang mengecek jumlah siswa?
Fasilitas P3K & Alat Darurat: Apakah di tiap lantai tersedia kotak P3K yang terisi lengkap dan alat pemadam api (APAR)?
Rutinitas Latihan: Seberapa sering sekolah mengadakan simulasi tanggap bencana?
Baca juga: Waspada Gempa Megathrust Indonesia: Wilayah Berisiko dan Persiapan Keluarga
Membahas kesiapsiagaan bencana dengan sekolah bukan berarti kita mencari-cari kesalahan. Ini adalah bentuk kemitraan yang sehat antara orang tua dan sekolah demi keselamatan anak-anak kita.
Jika dari checklist di atas ternyata masih ada hal yang kurang, kita bisa mengusulkan lewat komite sekolah untuk mengadakan pelatihan tanggap bencana. Misalnya saja mengadakan latihan simulasi bencana, atau mendorong kerja sama dengan BPBD lokal. Anak yang terlatih dan berada di lingkungan yang paham prosedur keselamatan akan bertindak jauh lebih tenang saat situasi darurat terjadi.
Bagaimana dengan sekolah anak Mommies?
Baca juga: Rumah Terdampak Banjir? Waspada Potensi Penyakit Leptospirosis!
Cover photo by Magnific