Sorry, we couldn't find any article matching ''

Guru Sekolah Internasional di Tangsel Diduga Lakukan Child Grooming, Ini Tanda yang Perlu Orang Tua Waspadai
Kasus guru sekolah internasional di Tangsel yang diduga melakukan child grooming pada muridnya menjadi pengingat bagi orang tua. Kenali tanda child grooming pada anak dan cara meresponsnya.
Mommies, membicarakan kekerasan seksual terhadap anak memang bukan hal yang mudah. Apalagi ketika dugaan tersebut melibatkan orang dewasa yang seharusnya menjadi sosok yang dipercaya anak, seperti guru.
Belakangan, terkuak kasus seorang guru di sebuah sekolah internasional berbasis agama di Tangerang Selatan (Tangsel) yang dilaporkan atas dugaan child grooming dan pelecehan seksual terhadap muridnya.
Berikut beberapa fakta yang diketahui.
BACA JUGA: MD Ask the Expert: Waspada Anak dan Remaja Jadi Korban Pelecehan Seksual Online hingga Pornografi
Guru di Tangsel Diduga Lakukan Child Grooming terhadap Murid
Seorang guru berinisial NAA dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan dan Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) atas dugaan child grooming dan kekerasan seksual terhadap seorang murid.
Dugaan tindakan tersebut disebut berlangsung sejak korban duduk di kelas 4 SD hingga kelas 1 SMP, atau sekitar 2023–2026. Pada periode awal, terduga pelaku disebut pernah menjadi wali kelas korban.
Dalam pemberitaan media, korban disebut diajak berkomunikasi intens di luar jam mengajar, hingga paparan konten pornografi setelah les mengaji. Terduga pelaku juga disebut melakukan kontak fisik pada bagian sensitif dan pernah meminta foto tidak senonoh yang sempat ditolak korban.
Kasus tersebut mulai terungkap setelah korban bercerita kepada pelatih taekwondonya karena merasa mendapat ruang aman.

Foto: cottonbro studio/Pexels
Apa Itu Child Grooming?
Child grooming adalah proses ketika seseorang membangun kepercayaan dan kedekatan dengan anak untuk membuat anak lebih mudah dikendalikan atau diarahkan menuju situasi yang dapat mengarah pada eksploitasi atau kekerasan seksual.
Grooming tidak selalu dimulai dengan sesuatu yang terlihat menakutkan. Pelaku bisa saja memberikan perhatian khusus, hadiah, bantuan, atau membuat anak merasa dirinya “spesial”. Seiring waktu, hubungan tersebut dapat disertai permintaan untuk merahasiakan hubungan, percakapan seksual, pemberian konten seksual, hingga tekanan atau ancaman.
Komnas Perempuan menegaskan bahwa grooming berkaitan dengan relasi kuasa dan manipulasi emosional, sehingga anak bisa merasa bergantung, takut, malu, atau bahkan merasa bersalah.
Jadi, Mommies, ketika anak terlihat dekat dengan orang dewasa tertentu, jangan langsung menyalahkan anak atau menganggap ia “terlalu percaya”. Anak memang berada dalam posisi yang belum tentu mampu mengenali manipulasi orang dewasa.
BACA JUGA: 7 Cara Edukasi Anak Menghindari Pelecehan Seksual
Tanda Anak Mungkin Mengalami Pelecehan Seksual
Tidak ada satu tanda pun yang otomatis berarti seorang anak mengalami pelecehan seksual. Perubahan perilaku juga bisa terjadi karena banyak hal.
Namun, sejumlah perubahan berikut patut diperhatikan, terutama jika muncul secara tiba-tiba atau bersamaan:
- Anak mendadak menjadi lebih pendiam, menarik diri, mudah marah, cemas, atau terlihat sangat takut.
- Tidak mau bertemu atau berada sendirian dengan orang tertentu.
- Mendadak tidak mau pergi ke sekolah atau mengikuti aktivitas yang sebelumnya disukai.
- Mengalami gangguan tidur, mimpi buruk, mengompol kembali, atau perubahan pola makan.
- Menunjukkan pengetahuan atau perilaku seksual yang tidak sesuai dengan usianya.
- Menjadi sangat tertutup mengenai ponsel, media sosial, atau percakapan dengan seseorang.
- Mendapat hadiah, uang, atau barang dari orang tertentu tanpa alasan yang jelas.
- Menyebut adanya “rahasia” atau “permainan” yang tidak boleh diceritakan kepada orang lain.
- Mengalami keluhan fisik seperti nyeri, perdarahan, luka, atau perubahan pada area genital.
Pada sebagian anak, tanda-tanda tersebut bahkan tidak muncul sama sekali. Anak juga bisa membutuhkan waktu lama sebelum berani bercerita.
Karena itu, yang perlu diperhatikan bukan hanya “Apakah ada tanda pelecehan?” tetapi juga “Apakah ada perubahan pada anak saya?”

Foto: Meruyert Gonullu/Pexels
Kalau Anak Bercerita Mengalami Pelecehan Seksual, Apa yang Harus Dilakukan?
Ini mungkin menjadi bagian yang paling sulit bagi orang tua. Ada rasa marah, panik, tidak percaya, bahkan ingin langsung mencari orang yang diduga melakukan kekerasan.
Namun, hal pertama yang paling dibutuhkan anak adalah rasa aman.
1. Percaya dan dengarkan
Ketika anak akhirnya berani bercerita, usahakan tidak langsung menginterogasi.
Mommies bisa mengatakan:
- “Terima kasih sudah cerita sama Mama/Papa.”
- “Kamu tidak salah.”
- “Mama/Papa percaya dan akan menemani kamu.”
Anak perlu tahu bahwa bercerita tidak akan membuatnya dimarahi atau kehilangan kasih sayang orang tua.
2. Jangan menyalahkan anak
Hindari pertanyaan seperti, “Kenapa kamu tidak bilang dari dulu?”, “Kenapa kamu mau ikut?”, atau “Kok kamu tidak melawan?”
Anak mungkin diam karena takut, bingung, merasa terancam, dimanipulasi, atau belum memahami bahwa apa yang terjadi kepadanya adalah bentuk kekerasan.
Kekerasan seksual bukan kesalahan anak.
3. Jangan memaksa anak bercerita berulang-ulang
Catat apa yang disampaikan anak dengan tenang, tetapi hindari menggali detail secara berulang atau mengarahkan jawaban.
Jika kasus akan dilaporkan, biarkan proses wawancara dan pemeriksaan dilakukan oleh pihak yang kompeten agar anak tidak semakin terbebani.
4. Jauhkan anak dari situasi yang berpotensi membahayakan
Jika orang yang diduga melakukan kekerasan masih memiliki akses kepada anak, utamakan keselamatan anak dan pertimbangkan langkah untuk menghentikan kontak tersebut sambil mendapatkan pendampingan dari pihak yang berwenang.

Foto: Andrea Piacquadio/Pexels
5. Simpan bukti
Jika ada pesan, percakapan, foto, rekaman, atau bukti lain yang berkaitan dengan dugaan kekerasan, jangan buru-buru menghapusnya.
Simpan secara aman dan jangan menyebarkannya ke media sosial. Bukti dapat dibutuhkan dalam proses pendampingan maupun hukum. SAPA 129 juga mengimbau masyarakat untuk menyimpan bukti seperti foto, pesan, atau rekaman dengan baik.
6. Cari bantuan profesional
Anak yang mengalami kekerasan seksual membutuhkan dukungan yang tidak hanya bersifat hukum, tetapi juga medis dan psikologis.
Mommies bisa mencari bantuan psikolog atau tenaga kesehatan yang memiliki pengalaman menangani kasus trauma pada anak.
7. Jangan menghadapi semuanya sendirian
Di Indonesia, Mommies dapat menghubungi SAPA 129 milik Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KemenPPPA) melalui:
- Telepon: 129
- WhatsApp: 08111-129-129
- atau melalui layanan pengaduan online SAPA 129.
Layanan ini dapat digunakan bukan hanya oleh korban, tetapi juga oleh orang yang mengetahui atau mencurigai adanya kekerasan terhadap perempuan dan anak.
Mommies juga dapat menghubungi KPAI untuk pengaduan dan informasi terkait perlindungan anak.
BACA JUGA: 12 Kondisi Ini Bikin Anak Rentan Terhadap Pelecehan Seksual, Orang Tua Wajib Tahu!
Yang Perlu Diingat Orang Tua
Kasus dugaan child grooming seperti ini memang membuat kita khawatir. Namun, mungkin ada satu hal yang lebih penting untuk kita bawa pulang: anak perlu tahu bahwa rumah adalah tempat aman untuk bercerita.
Tidak harus menunggu sampai terjadi sesuatu untuk mulai ngobrol soal batas tubuh, sentuhan yang membuat tidak nyaman, rahasia yang tidak perlu disimpan, dan hak anak untuk mengatakan “tidak”.
Dan ketika suatu hari anak benar-benar datang kepada kita membawa cerita yang berat, semoga respons pertama yang ia dapat bukan kemarahan, melainkan pelukan dan kalimat sederhana:
“Kamu aman bersama Mama/Papa. Ini bukan salah kamu.”
Karena terkadang, keberanian seorang anak untuk bercerita dimulai dari keyakinan bahwa orang tuanya akan tetap berada di sisinya.
Cover: TBD Tuyên/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS