banner-detik
PARENTING & KIDS

10 Aktivitas Stimulasi Otak Anak di Rumah, Nggak Perlu Mainan Mahal!

author

Mommies Dailyin 6 hours

10 Aktivitas Stimulasi Otak Anak di Rumah, Nggak Perlu Mainan Mahal!

Cari aktivitas stimulasi otak anak di rumah? Coba 10 kegiatan sederhana seperti membaca, bermain musik, tebak-tebakan, hingga menggambar.

Otak anak, terutama pada usia dini, berkembang sangat pesat. Itu sebabnya orang tua perlu memberikan stimulasi melalui berbagai aktivitas. Beberapa orang tua mungkin membelikan mainan mahal untuk merangsang stimulasi otak, tapi cara efektif tak harus mengorbankan keadaan finansial.

Aktivitas di rumah melalui interaksi sederhana dan permainan simpel bisa menjadi salah satu cara stimulasi otak anak yang super efektif. Mommies bisa memanfaatkan benda-benda sederhana di sekitar kita menjadi sarana stimulasi otak anak.

Merangsang perkembangan otak anak punya banyak manfaat. Semuanya itu bisa dilakukan dengan aktivitas simpel bersama anggota keluarga lainnya. Berbagai penelitian juga menunjukkan bahwa aktivitas fisik dan interaksi bersama keluarga dapat mendukung perkembangan anak, termasuk aspek kognitif dan sosial.

BACA JUGA: Stimulasi Otak Sejak Dini, Ini 7 Cara Menumbuhkan Rasa Ingin Tahu Anak

Berikut adalah 10 aktivitas untuk stimulasi otak anak yang bisa dilakukan bersama si kecil di rumah.

1. Membaca buku bersama

Foto: Pexels

Membaca buku bersama bisa menjadi salah satu aktivitas edukatif anak yang paling sederhana. Tidak harus membaca seluruh cerita dengan cepat. Ajak anak melihat gambar, menyebutkan nama benda atau karakter dan menebak apa yang akan terjadi selanjutnya.

Aktivitas membaca sambil mengajak anak berbicara dan bertanya juga memberi kesempatan untuk melatih bahasa, perhatian, dan kemampuan mengingat. CDC bahkan merekomendasikan orang tua membacakan buku sambil mengajukan pertanyaan sederhana tentang gambar atau cerita sesuai usia anak.

2. Permainan sensori yang menggunakan barang-barang di rumah

Perkembangan anak usia dini sangat dipengaruhi oleh pengalaman yang melibatkan berbagai indra. Nggak perlu beli mainan mahal, aktivitas seperti bermain tepung, beras, air, atau playdough buatan sendiri bisa menjadi kesempatan bagi anak untuk mengeksplorasi tekstur, gerakan, dan sebab-akibat. Mommies bisa menyediakan wadah berisi beras kering atau air, lalu berikan mangkuk kecil dan sendok. Biarkan anak menuang, meremas, atau memindahkan benda-benda tersebut.

Catatan: selalu sesuaikan benda dengan usia anak dan dampingi selama bermain, terutama jika menggunakan benda kecil yang berisiko tertelan.

BACA JUGA: 20 Sensory Bag untuk Anak yang Mudah Dibuat di Rumah, Bikin Betah Bermain dan Belajar

3. Bermain musik

Tidak punya alat musik di rumah? Tidak masalah. Putar lagu favorit anak dan ajak mereka bernyanyi, bertepuk tangan atau menari. Mommies juga bisa membuat permainan freeze dance. Saat musik berhenti, anak harus ikut berhenti bergerak. Permainan ini melatih kemampuan mendengarkan, mengikuti instruksi dan mengendalikan gerakan.

Penelitian yang dimuat di NCBI menunjukkan bahwa aktivitas musik pada anak berkaitan dengan berbagai aspek perkembangan, termasuk kemampuan kognitif, bahasa, dan emosional. Namun, bukan berarti bermain musik otomatis membuat otak menjadi “lebih pintar”, ya, Mommies.

Simpelnya, bermain musik memberi anak kesempatan untuk belajar mendengarkan, mengikuti pola, bergerak, dan berinteraksi dengan orang lain.

4. Membantu pekerjaan rumah

Foto: Pexels

Aktivitas sehari-hari juga bisa menjadi permainan edukatif anak di rumah. Libatkan anak dalam pekerjaan sederhana sesuai usia. Tak perlu pekerjaan berat seperti membantu mencuci mobil, ya. Bahkan aktivitas rumahan seperti merapikan mainan, memasukkan pakaian ke keranjang cucian atau membantu menyiapkan makanan.

Untuk anak usia prasekolah, aktivitas seperti memilih barang, menghitung bahan dan mengikuti beberapa instruksi sederhana dapat melatih kemandirian, loh.

CDC juga memasukkan pekerjaan rumah sederhana seperti memasukkan pakaian atau merapikan barang sebagai aktivitas yang dapat dilakukan anak sesuai usia.

BACA JUGA: Anak Membantu Pekerjaan Rumah, Ini 4 Manfaatnya

5. Bermain peran

Bermain peran bisa jadi cara terbaik untuk melatih fungsi eksekutif otak anak. Ketika anak berpura-pura menjadi dokter, koki, atau pemadam kebakaran, mereka sedang menggunakan imajinasi, mengingat aturan permainan, dan memecahkan masalah. Tak perlu mengeluarkan uang mahal untuk datang ke salah satu playground supaya anak bisa merasakan sehari seperti koki atau dokter.

Di rumah, gunakan properti sederhana seperti kardus bekas menjadi mobil-mobilan, atau kain sarung menjadi jubah pahlawan super. Selain membuat mereka kreatif, mereka juga bisa melatih keterampilan sosial jika permainan ini juga dimainkan oleh anggota keluarga lainnya.

Pretend play memang termasuk aktivitas yang direkomendasikan untuk mendukung perkembangan kemampuan sosial, kognitif, dan regulasi diri anak.

6. Bermain tebak-tebakan

Buat permainan tebak-tebakan sederhana menggunakan benda yang ada di rumah. Mommies bisa memberikan beberapa petunjuk dan meminta anak menebak bendanya. Misalnya, “Aku berwarna merah, bentukku bulat dan biasanya ada di dapur. Aku apa?”

Permainan seperti ini mendorong anak untuk mendengarkan, mengingat informasi, dan akhirnya menemukan jawaban.

Mommies juga bisa membuatnya semakin seru dengan meminta anak bergantian memberikan petunjuk. Jadi, bukan cuma Mommies yang kasih pertanyaan, si kecil juga belajar menyusun kata dan berpikir tentang ciri-ciri suatu benda.

7. Membuat peta sederhana

Foto: Pexels

Aktivitas ini sangat cocok untuk anak usia 4-5 tahun untuk melatih ingatan dan kemampuan mengenali lingkungan sekitar. Coba, nih, setelah berjalan-jalan di sekitar rumah atau jalan pagi di kompleks, ajak anak menggambar peta sederhana dari rute yang baru saja dilalui. Cukup dengan kertas dan pensil gambar, tanpa membeli mainan mahal.

Mommies bisa memberikan pertanyaan sederhana, seperti, “Tadi kita lewat mana dulu?” atau “Di sebelah rumah siapa ada pohon besar?” supaya anak mengingat kembali perjalanan yang baru dilakukan.

8. Mengelompokkan dan menghitung benda

Gunakan benda yang aman dan mudah ditemukan, seperti sendok, tutup wadah, kaus kaki atau mainan anak. Kemudian, minta anak mengelompokkan benda berdasarkan warna, ukuran atau jenis. Setelah itu, ajak mereka menghitung jumlah masing-masing kelompok. Tahu, tidak?

Kegiatan sederhana ini dapat mengenalkan konsep pola, ukuran dan angka sekaligus melatih kemampuan anak memecahkan masalah.

Untuk anak yang masih kecil, Mommies bisa membuat kategorinya lebih sederhana, misalnya “mana yang besar dan kecil?” atau “mana yang merah dan biru?”. Sesuaikan tingkat kesulitannya dengan usia anak.

9. Bermain dengan air

Air bisa menjadi media stimulasi perkembangan anak yang sederhana. Saat mandi atau bermain dengan wadah berisi air, berikan beberapa gelas atau wadah dengan ukuran berbeda dan biarkan anak menuang air dari satu tempat ke tempat lain.

Aktivitas sensorik seperti bermain air dapat memberikan pengalaman melalui sentuhan, penglihatan dan gerakan. Anak juga bisa mulai mengenal konsep seperti penuh, kosong, lebih banyak dan lebih sedikit.

Pastikan Mommies selalu mendampingi anak saat bermain air, ya, karena anak kecil tetap berisiko tenggelam meski berada di air yang dangkal.

10. Menggambar dan meniru bentuk

Tidak perlu buku mewarnai khusus. Berikan kertas dan pensil atau krayon, lalu buat garis sederhana seperti garis lurus, zig-zag atau lingkaran dan minta anak menirukannya. Selain menjadi kegiatan yang menyenangkan, menggambar membantu melatih koordinasi mata dan tangan serta kemampuan motorik halus.

Nah, untuk anak yang lebih besar, Mommies bisa meminta mereka menggambar yang lebih kompleks. Misalnya, menggambar rumah, anggota keluarga atau benda favorit. Setelah itu, minta mereka bercerita tentang gambar tersebut.

CDC juga merekomendasikan aktivitas menggambar dan membuat karya seni sebagai salah satu bentuk kegiatan kreatif untuk anak.

BACA JUGA: 25+ Aktivitas Anak 1 Tahun untuk Stimulasi Tumbuh Kembang di Rumah

Itu dia berbagai aktivitas murah tapi efektif dalam merangsang stimulasi otak anak. Selain itu, interaksi dengan orang tua juga menjadi bagian penting dari proses tersebut. Saat membaca buku, bermain peran atau sekadar mengobrol tentang apa yang sedang dilakukan, anak mendapat kesempatan belajar melalui interaksi langsung dengan orang tua.

Ditulis oleh: Imelda Rahma

Cover: Pexels

Share Article

author

Mommies Daily

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan