Sorry, we couldn't find any article matching ''

Jakarta Lagi Kering, 7 Kebiasaan di Rumah yang Diam-Diam Bikin Boros Air
Jakarta sedang memasuki musim kemarau. Kenali 7 kebiasaan di rumah yang diam-diam bikin boros air dan cara sederhana untuk menghemat air.
Mommies, belakangan merasa cuaca Jakarta lebih panas dan kering? Bukan cuma perasaan kita. Berdasarkan data BMKG, DKI Jakarta termasuk wilayah yang sedang mengalami musim kemarau pada September 2026. BMKG juga mengimbau masyarakat untuk menghemat penggunaan air seiring dengan kondisi kering yang masih berlangsung.
Nah, kalau bicara soal hemat air, sebenarnya kita nggak harus langsung melakukan perubahan besar di rumah. Justru, kebiasaan kecil yang dilakukan setiap hari sering kali menjadi sumber pemborosan yang tidak terasa.
Misalnya, membiarkan keran menyala saat menyikat gigi atau menunda memperbaiki toilet yang terus mengalir. Kelihatannya sepele, tetapi kalau dilakukan setiap hari, jumlah air yang terbuang bisa cukup banyak.
BACA JUGA: Jakarta Level Awas Kekeringan, Mommies Perlu Lakukan 7 Hal Ini di Rumah
Kebiasaan di Rumah yang Ternyata Boros Air
Jadi, sebelum tagihan air bikin kaget, coba cek tujuh kebiasaan di rumah berikut ini.
1. Membiarkan keran menyala saat sikat gigi

Foto: Ron Lach/Pexels
Siapa yang masih suka melakukan ini? Sikat gigi sambil membiarkan air mengalir karena merasa, “Ah, cuma sebentar.”
Padahal, air yang keluar selama beberapa menit tersebut sebenarnya bisa terbuang percuma. EPA WaterSense memperkirakan mematikan keran saat menyikat gigi dapat menghemat sekitar 8 galon air per hari.
Solusinya: buka keran hanya saat membasahi sikat gigi dan saat berkumur. Anak-anak juga bisa mulai dibiasakan untuk melakukan hal yang sama.
2. Mandi terlalu lama
Mandi memang salah satu momen paling menyenangkan di rumah. Apalagi setelah seharian beraktivitas. Namun, “sebentar lagi” yang berubah menjadi 20–30 menit tentu membuat air yang digunakan ikut bertambah.
United States Environmental Protection Agency (EPA) menyebut mandi dengan shower umumnya menggunakan lebih sedikit air dibandingkan berendam, selama durasi mandinya tetap diperhatikan.
Solusinya: coba pasang timer sederhana di kamar mandi. Bukan untuk membuat sesi mandi jadi buru-buru, tetapi untuk membantu seluruh anggota keluarga lebih sadar dengan durasinya.
Kalau shower sudah lama digunakan dan alirannya terlalu deras, Mommies juga bisa mempertimbangkan showerhead yang lebih hemat air.
BACA JUGA: Penyebab Cuaca Panas Ekstrem di Jakarta 2026, hingga Dampak yang Perlu Diwaspadai
3. Keran bocor dibiarkan karena “cuma netes”
Ini salah satu pemborosan air yang paling sering luput dari perhatian.
Keran yang terus menetes memang terlihat seperti masalah kecil. Namun, EPA mencatat bahwa keran yang bocor dengan laju satu tetes per detik bisa membuang lebih dari 3.000 galon air dalam setahun.
Jadi, kalau ada keran yang bunyi tik… tik… tik… sepanjang hari, jangan ditunda terlalu lama, ya.
Solusinya: cek sambungan keran, seal, atau gasket. Kalau tidak bisa memperbaikinya sendiri, lebih baik panggil tukang daripada membiarkan kebocoran berlangsung berbulan-bulan.
4. Toilet terus mengalir tanpa disadari

Foto: kaboompics.com/Pexels
Pernah mendengar suara air seperti mengalir dari toilet, padahal tidak sedang digunakan? Bisa jadi ada kebocoran di dalam tangki.
Menurut EPA, toilet merupakan salah satu sumber penggunaan air terbesar di dalam rumah. Toilet yang bocor juga dapat membuang air terus-menerus tanpa terlihat jelas.
Solusinya: Mommies bisa melakukan pengecekan sederhana dengan meneteskan pewarna makanan ke dalam tangki toilet. Tunggu sekitar 10 menit tanpa menyiram. Kalau warna muncul di dalam mangkuk toilet, kemungkinan ada kebocoran.
BACA JUGA: Cuaca Panas Bisa Menghambat Kemampuan Belajar Anak, Ini Kata Penelitian!
5. Mencuci piring sambil keran terus terbuka
Ini juga sering terjadi tanpa kita sadari. Sabuni satu per satu, bilas satu per satu, sementara air terus mengalir dari awal sampai akhir.
EPA menyarankan menggunakan baskom atau menutup saluran wastafel ketika mencuci piring dengan tangan, sehingga air tidak terus mengalir. Jika menggunakan dishwasher, jalankan ketika muatannya sudah penuh.
Solusinya: tampung air secukupnya untuk mencuci dan membilas. Dengan begitu, kita tetap bisa menjaga kebersihan peralatan makan tanpa membuat air mengalir terus-menerus.
6. Menjalankan mesin cuci meski muatannya belum penuh
Karena butuh baju tertentu untuk besok, akhirnya mesin cuci dinyalakan meskipun isinya baru setengah. Kalau ini sering dilakukan, penggunaan air dan energi pun ikut bertambah.
EPA menyarankan menjalankan mesin cuci dengan muatan penuh jika memungkinkan serta menghindari siklus pre-wash atau extra rinse kecuali memang diperlukan.
Solusinya: buat jadwal mencuci yang lebih teratur dan kelompokkan pakaian berdasarkan kebutuhan pencucian. Untuk keluarga dengan anak kecil yang produksi baju kotornya seperti tidak ada habisnya, trik ini lumayan membantu.
BACA JUGA: 10 Cara Cerdas Menghemat Air di Rumah agar Tagihan Tidak Bengkak
7. Menggunakan air bersih untuk semua kebutuhan tanpa memikirkan air alternatif
Bukan berarti setiap air bekas bisa langsung dipakai ulang, ya, Mommies. Untuk kebutuhan minum, memasak, dan kebersihan pribadi, tetap gunakan air yang aman dan layak.
Namun, untuk kebutuhan tertentu seperti menyiram tanaman atau membersihkan area luar rumah, kita bisa lebih bijak menggunakan sumber air yang sesuai dan aman.
Yang penting, jangan asal menyimpan air untuk digunakan kembali. WHO menekankan pentingnya pengolahan dan penyimpanan air yang aman untuk mencegah kontaminasi dan penyakit yang ditularkan melalui air.
Solusinya: kalau ingin menampung air untuk kebutuhan non-konsumsi, gunakan wadah bersih dan tertutup, beri label sesuai peruntukannya, serta jangan mencampurnya dengan air minum.

Foto: MART PRODUCTION/Pexels
Hemat air bukan berarti mengurangi kebutuhan dasar keluarga
Mommies dan Daddies, hemat air bukan berarti kita harus mengurangi kebutuhan dasar seperti mandi, mencuci tangan, membersihkan rumah, atau memastikan anak mendapatkan cukup cairan.
Justru, air yang cukup dan aman tetap penting untuk kesehatan dan kebersihan keluarga. WHO menegaskan bahwa ketersediaan air yang cukup dan aman mendukung praktik kebersihan serta kesehatan masyarakat.
Jadi, fokusnya bukan “pakai air sesedikit mungkin”, melainkan menggunakan air sesuai kebutuhan dan tidak membuangnya dengan percuma.
Mulai saja dari hal yang paling gampang: matikan keran saat sikat gigi, perpendek durasi mandi, cek toilet dan keran yang bocor, serta jalankan mesin cuci ketika muatannya cukup.
Karena di tengah kondisi kemarau seperti sekarang, setiap tetes air yang tidak terbuang percuma tetap berarti.
Cover: Kindel Media/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS