banner-detik
LIFESTYLE

Jakarta Level Awas Kekeringan, Mommies Perlu Lakukan 7 Hal Ini di Rumah

author

Katharina Mengein 6 hours

Jakarta Level Awas Kekeringan, Mommies Perlu Lakukan 7 Hal Ini di Rumah

Jakarta level awas kekeringan hingga 20 September 2026. Ini arti statusnya dan cara Mommies menghemat air tanpa mengorbankan kebutuhan keluarga.

Keran masih mengalir, air masih ada, tetapi bukan berarti kondisi Jakarta sedang baik-baik saja. Saat ini, sejumlah wilayah DKI Jakarta masuk kategori Awas kekeringan meteorologis untuk periode 11–20 September 2026. Berdasarkan peringatan dini BMKG, wilayah tersebut meliputi Jakarta Barat, Jakarta Pusat, Jakarta Timur, Jakarta Utara, dan Kepulauan Seribu.

Lantas, apakah Jakarta level awas kekeringan berarti warga akan kehabisan air bersih? Tidak otomatis. Status Awas merupakan peringatan dini terkait kondisi kekeringan meteorologis dan menjadi sinyal agar masyarakat meningkatkan kewaspadaan terhadap dampak musim kering, termasuk potensi berkurangnya ketersediaan air di sejumlah wilayah.

Jadi, meski air di rumah masih mengalir seperti biasa, nggak ada salahnya mulai lebih bijak menggunakannya, Mommies.

BACA JUGA: 7 Rekomendasi Mesin Cuci Hemat Listrik dan Air, Berguna In This Economy

Kenapa Jakarta level Awas kekeringan?

Foto: Magnific

Jakarta sedang berada dalam periode musim kemarau. BMKG mencatat kondisi El Niño dengan intensitas sangat kuat pada periode pemantauan sebelumnya, sementara fenomena tersebut diperkirakan masih perlu diantisipasi hingga awal 2027. Kondisi atmosfer seperti ini dapat berkontribusi terhadap berkurangnya curah hujan dan memperpanjang kondisi kering di sejumlah wilayah.

Itu sebabnya, hujan lokal yang sesekali turun di Jakarta bukan berarti kondisi kemarau otomatis sudah berakhir. Status Awas kekeringan bisa menjadi pengingat bahwa kondisi cuaca perlu terus dipantau, terutama ketika curah hujan belum cukup untuk mengakhiri periode kering.

Bukan hanya warga yang diminta bersiap. Pemprov DKI Jakarta juga sudah menyiagakan 1.027 personel lintas instansi dan 29 mobil tangki untuk menghadapi puncak musim kemarau. Kesiapsiagaan tersebut mencakup antisipasi kekeringan, kekurangan air bersih, kebakaran, hingga penurunan kualitas udara. Warga yang menghadapi kondisi darurat kekeringan juga dapat menghubungi layanan 112.

Apa yang perlu dilakukan Mommies saat Jakarta kekeringan?

Kita memang nggak bisa mengatur kapan hujan turun. Tapi, kita bisa mengatur berapa banyak air yang terbuang dari rumah setiap hari.

1. Jangan biarkan keran menyala tanpa perlu

Kebiasaan kecil seperti membiarkan keran terus menyala saat menyikat gigi, mencuci tangan, atau mencuci piring bisa membuat penggunaan air lebih boros.

Coba biasakan membuka keran hanya ketika memang sedang membutuhkan air. Saat menyikat gigi, misalnya, matikan keran dan nyalakan lagi ketika waktunya berkumur.

Kelihatannya sepele, ya, Mommies. Tapi kalau dilakukan semua anggota keluarga setiap hari, penggunaan air di rumah tentu bisa lebih efisien.

2. Gunakan kembali air yang masih layak

Air bekas mencuci buah dan sayur, misalnya, masih bisa dimanfaatkan untuk menyiram tanaman. Air dari aktivitas rumah tangga tertentu juga bisa digunakan kembali untuk kebutuhan yang memang tidak membutuhkan air bersih, selama kualitas airnya aman untuk tujuan tersebut.

Yang perlu diingat, jangan asal menggunakan kembali air yang sudah tercampur sabun, bahan kimia, atau kotoran untuk tanaman maupun kebutuhan lain.

Prinsipnya sederhana: kalau air masih aman dan memang bisa dimanfaatkan kembali, jangan langsung dibuang. Penggunaan air yang efisien menjadi semakin penting ketika masyarakat menghadapi kondisi kering berkepanjangan.

3. Cek kebocoran sebelum tagihan air ikut “bocor”

Ada keran yang menetes pelan, toilet yang terus mengalir, atau pipa bocor di bagian yang jarang terlihat?

Jangan ditunda memperbaikinya, Mommies. Dalam kondisi Jakarta kekeringan seperti sekarang, setiap tetes air yang terbuang jadi makin sayang.

Coba cek area sekitar keran, sambungan pipa, toilet, dan meteran air secara berkala. Kalau pemakaian air tiba-tiba meningkat padahal kebiasaan keluarga tidak berubah, kebocoran bisa menjadi salah satu hal yang perlu dicurigai.

4. Kurangi kebiasaan mandi terlalu lama

Mandi memang salah satu momen favorit untuk me time setelah seharian mengurus rumah, anak, dan pekerjaan. Namun kalau sedang berusaha menghemat air, mungkin sekarang waktunya mengurangi sedikit durasinya.

Mommies bisa mencoba mandi lebih singkat dan memastikan air tidak terus mengalir ketika sedang menggunakan sabun atau sampo.

Bukan berarti harus mengorbankan kebersihan demi hemat air. Air tetap dibutuhkan untuk mandi dan menjaga kebersihan tubuh. Yang dikurangi adalah pemborosannya, bukan kebutuhan dasarnya.

BACA JUGA: 10 Cara Cerdas Menghemat Air di Rumah agar Tagihan Tidak Bengkak

5. Gunakan mesin cuci dengan lebih bijak

Mesin cuci memang salah satu penyelamat kehidupan Mommies. Bayangkan kalau harus mencuci tumpukan baju satu per satu dengan tangan. No, thank you.

Namun, saat sedang berusaha menghemat air, coba gunakan mesin cuci sesuai kapasitas dan hindari menjalankannya berkali-kali untuk cucian yang sangat sedikit.

Kebiasaan sederhana seperti mengumpulkan cucian hingga jumlah yang sesuai kapasitas mesin bisa membantu penggunaan air dan energi menjadi lebih efisien.

6. Siapkan air secukupnya, bukan panic buying

Mendengar kata “kekeringan” mungkin bikin sebagian orang langsung berpikir untuk menimbun air sebanyak-banyaknya.

Padahal, Mommies nggak perlu panik sampai melakukan penimbunan berlebihan.

Yang lebih penting adalah memastikan keluarga punya persediaan yang cukup untuk kebutuhan dasar, terutama minum, memasak, dan kebersihan, sambil mengikuti informasi terbaru dari pemerintah daerah dan penyedia layanan air.

Air yang aman memang sangat penting untuk kesehatan. WHO dalam pedoman terbarunya tentang kualitas air minum kembali menekankan bahwa air minum yang aman merupakan bagian mendasar dari perlindungan kesehatan masyarakat.

7. Waspadai juga risiko kebakaran

Ini yang kadang luput dari perhatian ketika kita membahas musim kemarau.

Lingkungan yang kering membuat risiko kebakaran perlu lebih diwaspadai. Karena itu, BPBD DKI mengingatkan masyarakat untuk mencegah sumber api, termasuk tidak membakar sampah atau lahan sembarangan.

Di rumah, pastikan kompor sudah benar-benar mati setelah digunakan, jangan meninggalkan peralatan listrik dalam kondisi berisiko, dan pastikan alat pemadam api ringan atau APAR tersedia jika memungkinkan. Pemprov DKI sendiri memasukkan kebakaran sebagai salah satu risiko utama yang diantisipasi selama musim kemarau.

BACA JUGA: 9 Rekomendasi Air Purifier untuk Keluarga, Bantu Saring Debu di Rumah

Jangan sampai hemat air saat Jakarta kekeringan malah mengorbankan kebersihan

Foto: Magnific

Ini penting banget, Mommies.

Menghemat air bukan berarti kita jadi takut menggunakan air untuk mencuci tangan, membersihkan bahan makanan, mandi, atau kebutuhan sanitasi lainnya. Air yang aman dan cukup tetap merupakan kebutuhan dasar untuk menjaga kesehatan keluarga.

WHO menjelaskan bahwa fasilitas kesehatan dan masyarakat membutuhkan air yang aman, sanitasi, serta praktik kebersihan yang baik untuk melindungi kesehatan. Kondisi kekeringan juga dapat mengganggu layanan penting dan meningkatkan risiko penyakit yang berkaitan dengan air yang terkontaminasi.

Jadi prinsipnya bukan “pakai air sesedikit mungkin”, melainkan gunakan air secukupnya dan jangan membuang-buangnya.

Jakarta sedang kering, yuk mulai hemat air dari rumah

Jakarta level awas kekeringan bukan berarti besok seluruh warga Jakarta akan kehabisan air. Namun, status ini menjadi pengingat bahwa kondisi cuaca sedang perlu diwaspadai dan penggunaan sumber daya air perlu lebih diperhatikan.

Mommies bisa mulai dari hal-hal sederhana: matikan keran ketika tidak digunakan, perbaiki kebocoran, manfaatkan kembali air yang masih layak, gunakan mesin cuci dengan lebih bijak, dan pastikan kebutuhan air untuk minum serta kebersihan tetap terpenuhi.

Karena kalau setiap rumah melakukan sedikit penghematan setiap hari, dampaknya tentu lebih berarti daripada kita baru bergerak ketika air benar-benar sulit didapat.

Untuk informasi terbaru mengenai Jakarta kekeringan, Mommies bisa memantau pembaruan BMKG dan BPBD DKI Jakarta. Status peringatan dapat berubah mengikuti kondisi cuaca terbaru, jadi informasi dari sumber resmi tetap menjadi acuan utama.

BACA JUGA: Ternyata Air Hujan di Jakarta Mengandung Mikroplastik! Ini Cara Mommies Lindungi Keluarga

Cover: Magnific

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan