
Konflik setelah perceraian belum tentu selesai. Kenali 8 masalah yang sering muncul, dari pola asuh, jadwal anak, biaya, hingga pasangan baru.
Bercerai bukan berarti semua masalah otomatis selesai. Justru setelah perceraian resmi, mantan pasangan masih perlu berkomunikasi soal anak, jadwal bertemu, sekolah, kesehatan, biaya, sampai aturan pengasuhan.
Bagi sebagian orang tua, fase ini bisa terasa lebih melelahkan daripada yang dibayangkan. Apalagi kalau luka dari pernikahan masih belum selesai.
BACA JUGA: Dampak Pola Asuh Single Parent pada Tumbuh Kembang Anak
Jadi, konflik apa saja yang paling sering terjadi setelah bercerai?
Salah satu sumber konflik yang bisa muncul setelah perceraian adalah perbedaan pola asuh.
Misalnya, satu orang tua merasa anak harus punya jadwal tidur yang ketat, sementara yang lain lebih santai. Satu pihak membatasi penggunaan gadget, sementara pihak lainnya membolehkan. Belum lagi soal makanan, sekolah, pertemanan, aktivitas anak, sampai disiplin.
Namun, co-parenting bukan berarti kedua orang tua harus selalu sepakat dalam segala hal. Yang lebih penting adalah adanya komunikasi yang jelas dan keputusan yang berorientasi pada kebutuhan anak.
AAP juga menyarankan orang tua yang tinggal terpisah untuk menjaga aturan dan rutinitas anak tetap konsisten sebisa mungkin, termasuk menyepakati aturan dasar di kedua rumah.
BACA JUGA: Kesalahan Pola Asuh yang Bisa Memicu Anak Jadi Kriminal
“Harusnya weekend ini giliran saya.”
“Kenapa kamu tiba-tiba mengubah jadwal?”
“Anak ada acara, kok saya baru tahu?”
Persoalan jadwal bisa terlihat sepele, tetapi cukup mudah berkembang menjadi konflik besar.
Apalagi jika masing-masing orang tua memiliki pekerjaan, pasangan baru, kegiatan pribadi, atau agenda keluarga yang berbeda.
Mayo Clinic menyarankan agar jadwal pengasuhan dibuat sejelas dan sekonsisten mungkin sehingga anak mengetahui kapan ia berada di rumah masing-masing orang tua. Kalender atau jadwal tertulis juga dapat membantu mengurangi kebingungan.

Urusan uang hampir selalu menjadi topik sensitif, termasuk setelah perceraian.
Mulai dari uang sekolah, les, biaya kesehatan, pakaian, kegiatan ekstrakurikuler, hingga kebutuhan sehari-hari anak.
Konflik bisa muncul ketika salah satu pihak merasa membayar lebih banyak, sementara pihak lainnya merasa sudah berkontribusi dalam bentuk yang berbeda.
Yang perlu diingat, pembicaraan mengenai biaya anak sebaiknya tidak dilakukan melalui anak. Dan jangan sampai anak menjadi “kurir” yang harus menyampaikan pesan.
BACA JUGA: Hukum Suami yang Tidak Mau Menafkahi Anak Setelah Bercerai Menurut Pakar
Ini salah satu kebiasaan yang sering terjadi tanpa disadari.
Daripada menghubungi mantan pasangan secara langsung, orang tua meminta anak menyampaikan pesan.
“Bilang ke Papa, besok jemput jam 5.”
“Tanya Mama, uang kegiatan sekolah sudah ditransfer belum?”
Sekilas memang praktis. Namun, lama-kelamaan anak bisa merasa dirinya berada di tengah konflik kedua orang tuanya.
AAP menyarankan agar orang tua berkomunikasi secara langsung dan tidak menjadikan anak sebagai pembawa pesan, termasuk untuk urusan jadwal, barang, maupun keuangan.

Perceraian bisa meninggalkan rasa marah, kecewa, bahkan sakit hati yang sangat dalam.
Masalahnya, emosi tersebut kadang keluar ketika anak ada di sekitar.
“Papa memang dari dulu begitu.”
“Mama yang bikin kita seperti ini.”
“Kalau bukan karena Mama, kita masih jadi keluarga.”
Bagi orang tua, mungkin itu hanya luapan emosi. Namun bagi anak, kalimat tersebut bisa terasa sangat berat.
Anak tetap memiliki hubungan emosional dengan kedua orang tuanya. AAP menyebut anak tidak seharusnya dipaksa untuk memilih pihak dan perlu tetap diberi ruang untuk menyayangi kedua orang tuanya, selama kedua orang tua tersebut aman dan mampu mengasuh.
BACA JUGA: 5 Alasan Kenapa Saya Tidak Mau Menjelekkan Mantan Pasangan di Depan Anak
Ketika salah satu mantan pasangan mulai berkencan atau memiliki pasangan baru, situasinya bisa menjadi lebih rumit.
Ada yang merasa cemburu, yang khawatir anak lebih dekat dengan pasangan baru mantan, ada pula yang merasa tidak nyaman ketika anak menghabiskan waktu bersama orang baru.
Padahal, selama tidak ada persoalan keselamatan atau kondisi lain yang mengkhawatirkan, anak tetap perlu memiliki hubungan yang sehat dengan kedua orang tua.

Pernikahan sudah berakhir, tetapi rasa kecewa terhadap mantan belum selesai.
Akibatnya, masalah yang sebenarnya terjadi dalam hubungan suami-istri ikut terbawa ke dalam keputusan sebagai orang tua.
Misalnya, seseorang menolak permintaan mantan bukan karena keputusan tersebut buruk untuk anak, tetapi karena masih marah kepada mantan pasangan.
Dalam situasi seperti ini, penting untuk membedakan dua hal:
“Apa yang saya rasakan terhadap mantan pasangan?”
dan
“Apa yang terbaik untuk anak?”
Penelitian mengenai high-conflict post-divorce co-parenting juga menunjukkan pentingnya upaya mengurangi konflik dan menjaga fokus pada kebutuhan anak. Penelitian terbaru pada 2026, misalnya, menguji intervensi yang secara khusus dirancang untuk membantu mengurangi konflik pascaperceraian dengan pendekatan yang berorientasi pada anak.
Salah satu orang tua mungkin merasa harus memberikan lebih banyak hadiah, mengajak anak lebih sering jalan-jalan, atau selalu mengatakan “iya” agar anak lebih memilih dirinya.
Masalahnya, pengasuhan kemudian berubah menjadi kompetisi.
Mayo Clinic mengingatkan bahwa hubungan anak dengan kedua orang tua bukan kompetisi. Orang tua juga sebaiknya tidak menunjukkan kecemburuan atau meminta anak menceritakan secara detail apa yang dilakukan bersama orang tua lainnya.

Yang dibutuhkan adalah kemampuan membuat batas yang jelas.
Komunikasi bisa difokuskan pada hal-hal yang berkaitan dengan anak: kesehatan, sekolah, jadwal, kebutuhan sehari-hari, dan keputusan penting.
Jika komunikasi langsung selalu berujung pertengkaran, komunikasi tertulis melalui pesan atau email bisa menjadi pilihan, selama tetap jelas, sopan, dan berfokus pada kebutuhan anak.
Jika konflik sudah sangat tinggi dan sulit diselesaikan sendiri, konseling, mediasi, atau bantuan profesional dapat dipertimbangkan. AAP juga menyebut mediasi atau konseling sebagai salah satu opsi ketika komunikasi antarpasangan terlalu sulit dan membutuhkan bantuan untuk mengambil keputusan bersama.
Targetnya bukan “kami harus akur demi anak”, melainkan:
“Kami tidak harus menjadi pasangan lagi, tetapi kami tetap bisa menjadi tim ketika menyangkut anak.”
Karena bagi anak, perceraian orang tua sudah merupakan perubahan besar. Jangan sampai konflik setelah perceraian membuat mereka merasa harus memilih salah satu dari dua orang yang sama-sama mereka cintai.
Cover: Photo by Lukas Kaufmann on Unsplash