Sorry, we couldn't find any article matching ''

Single Parent Wajib Waspada, 7 Red Flag Kantor yang Bisa Bikin Kerja Makin Berat
Punya anak bukan berarti kurang profesional. Justru, budaya kantor yang tidak fleksibel bisa membuat keseharian single parent jauh lebih berat.
Anak tiba-tiba sakit dan harus dijemput. Ada urusan sekolah yang tidak bisa diwakilkan. Pengasuh mendadak tidak bisa datang.
Sebagai orang tua, situasi seperti ini sebenarnya cukup membuat panik. Ada satu hal yang mungkin ikut memenuhi kepala: “Kalau saya izin, bos bakal menganggap saya tidak profesional, nggak, ya?”
Di sinilah lingkungan kerja bisa membuat perbedaan besar.
UNICEF mendefinisikan family-friendly workplace sebagai tempat kerja yang kebijakan dan praktiknya membantu pekerja memenuhi tanggung jawab pekerjaan sekaligus keluarga. Bentuknya bisa berupa fleksibilitas kerja, cuti, dukungan pengasuhan anak, hingga perlindungan bagi pekerja dengan tanggung jawab keluarga. UNICEF juga menekankan bahwa kebijakan seperti fleksibilitas kerja, cuti, dan dukungan pengasuhan perlu diterapkan secara efektif agar benar-benar membantu pekerja dan keluarga.
BACA JUGA: Mengenal Parenting Fatigue pada Ibu Bekerja
Lalu, apa saja tanda kantor yang mungkin kurang ramah untuk single parent?
1. Katanya fleksibel, tetapi Anda dibuat merasa bersalah saat menggunakannya
Kantor mungkin punya kebijakan WFH atau jam kerja fleksibel. Namun, coba lihat praktik sehari-harinya.
Apakah karyawan yang pulang tepat waktu dianggap kurang berdedikasi? Apakah orang yang bekerja dari rumah tetap diharapkan selalu online? Atau setiap kali meminta sedikit fleksibilitas, Anda justru merasa harus memberikan penjelasan panjang?
Ini bisa menjadi red flag.
Sebab, fleksibilitas bukan hanya soal ada atau tidaknya kebijakan, tetapi apakah karyawan benar-benar merasa aman untuk menggunakannya.
Red flag-nya: fleksibilitas tersedia di atas kertas, tetapi secara budaya justru dianggap sebagai tanda kurangnya komitmen.
UNICEF dalam toolkit Building Family-Friendly Workplaces juga memasukkan fleksibilitas waktu kerja sebagai salah satu praktik yang dapat membantu pekerja memenuhi kebutuhan keluarga, termasuk melalui fleksibilitas jam mulai dan selesai kerja serta opsi kerja yang lebih fleksibel ketika pekerjaan memungkinkan.

Photo by Microsoft Copilot on Unsplash
2. Anak sakit, tetapi Anda yang dianggap bermasalah
Namun, kalau setiap kali Anda harus menghadapi keadaan darurat keluarga, respons pertama dari atasan adalah mempertanyakan komitmen Anda terhadap pekerjaan, ini patut diperhatikan.
Misalnya, Anda mulai sering mendengar:
“Kamu kan punya anak, jadi bakal sering izin.”
“Kalau begini terus, kerjaan siapa yang handle?”
“Memangnya nggak ada orang lain yang bisa urus?”
Masalahnya bukan ketika perusahaan perlu memastikan pekerjaan tetap berjalan. Itu wajar.
Yang menjadi masalah adalah ketika tanggung jawab sebagai orang tua otomatis dianggap sebagai kelemahan profesional.
UNICEF sendiri memasukkan perlindungan dari diskriminasi terkait tanggung jawab keluarga sebagai bagian dari pendekatan tempat kerja yang ramah keluarga. UNICEF juga menekankan bahwa perlindungan tersebut berkaitan dengan kesempatan kerja dan kemampuan pekerja untuk menjalankan tanggung jawab keluarga tanpa kehilangan kesempatan profesional.
3. Lembur mendadak dianggap sebagai bukti loyalitas
“Bisa stay sampai malam?”
Kalau pertanyaan ini hanya muncul sesekali karena kondisi tertentu, tentu berbeda.
Tetapi kalau lembur mendadak sudah menjadi budaya dan karyawan yang tidak bisa selalu tinggal sampai malam dianggap kurang loyal, single parent bisa berada dalam posisi yang jauh lebih sulit.
Bukan karena mereka tidak mau bekerja keras.
Melainkan karena setelah jam kerja selesai, ada tanggung jawab lain yang juga tidak bisa begitu saja ditinggalkan.
OECD telah lama menyoroti pentingnya bagaimana pengaturan kerja di level perusahaan membantu pekerja menggabungkan pekerjaan dengan tanggung jawab keluarga, termasuk pada keluarga dengan orang tua tunggal.
Red flag: karyawan yang selalu tersedia setelah jam kantor dianggap lebih committed daripada mereka yang menyelesaikan pekerjaan dengan baik tetapi memiliki batas waktu kerja yang jelas.
BACA JUGA: Beasiswa S2 dan S3 untuk Perempuan, Ibu Rumah Tangga, dan Orang Tua Bekerja
4. Kantor lebih menghargai “selalu online” daripada hasil kerja
Kalau ukuran karyawan yang baik adalah siapa yang paling cepat membalas WhatsApp, paling lama bertahan di kantor, atau paling sering hadir di meeting di luar jam kerja, budaya kerja seperti ini bisa melelahkan siapa saja—terutama orang tua.
Bayangkan pekerjaan Anda sudah selesai dengan baik, tetapi Anda tetap dianggap kurang produktif hanya karena tidak membalas chat pada pukul 10 malam.
Kerja selesai seharusnya lebih penting daripada sekadar terlihat selalu tersedia.
Kantor yang sehat idealnya memiliki ekspektasi yang jelas mengenai jam kerja, komunikasi, dan target yang harus dicapai. Dalam toolkit UNICEF 2025, salah satu arah pengembangan kebijakan kerja ramah keluarga adalah bergeser dari sistem yang semata-mata berbasis waktu menuju penilaian berdasarkan hasil atau target, ketika jenis pekerjaan memungkinkan.

Photo by Helena Lopes on Unsplash
5. Status sebagai single parent dianggap sebagai “minus” dalam karier
Ini red flag yang lebih serius.
Misalnya, seorang karyawan tidak dipilih untuk proyek besar karena dianggap akan sulit bekerja ekstra setelah memiliki anak.
Atau kandidat single parent langsung diasumsikan lebih sering izin.
Padahal, belum tentu demikian.
UNICEF dalam panduannya mengenai tempat kerja ramah keluarga juga menekankan pentingnya perlindungan dari diskriminasi berdasarkan tanggung jawab keluarga. Salah satu rekomendasinya adalah memastikan perempuan tidak didiskriminasi berdasarkan kehamilan, status sebagai ibu, atau tanggung jawab keluarga, termasuk dalam kondisi kerja dan kesempatan karier.
Punya anak bukan ukuran kemampuan seseorang menyelesaikan pekerjaan.
Yang seharusnya menjadi pertimbangan adalah kompetensi, performa, pengalaman, dan kemampuan menjalankan tanggung jawab pekerjaan.
BACA JUGA: Ide Outfit Hijab Ibu Bekerja yang Profesional, Smart Casual, dan Modis
6. Benefit untuk orang tua ada, tetapi orang takut menggunakannya
Ini salah satu hal yang sering luput.
Sebuah perusahaan mungkin memiliki cuti keluarga, parental leave, atau fleksibilitas kerja. Secara kebijakan, terlihat sangat baik.
Tetapi bagaimana jika orang yang menggunakan benefit tersebut malah dicap “kurang ambisius”?
Atau karyawan merasa kariernya bisa terhambat kalau terlalu sering menggunakan hak yang sebenarnya memang diberikan perusahaan?
Artinya, ada jarak antara policy dan culture.
UNICEF dalam toolkit Building Family-Friendly Workplaces menekankan bahwa perusahaan perlu mengimplementasikan kebijakan ramah keluarga secara efektif, bukan sekadar memilikinya. Dukungan manajemen dan penerapan kebijakan dalam praktik menjadi bagian penting agar fleksibilitas benar-benar bisa digunakan pekerja.
Jadi, jangan hanya bertanya: “Ada benefit apa?”
Tanyakan juga:
“Orang-orang di sini benar-benar menggunakan benefit itu nggak?”

Photo by Helena Lopes on Unsplash
7. Tidak ada ruang untuk membicarakan kebutuhan keluarga secara profesional
Tidak semua kebutuhan single parent harus dipenuhi perusahaan.
Namun, seharusnya ada ruang untuk berdiskusi.
Misalnya, Anda tetap bisa menyelesaikan pekerjaan, tetapi membutuhkan perubahan jam meeting karena harus menjemput anak.
Atau Anda membutuhkan WFH satu hari ketika pengasuh tidak bisa datang.
Kantor yang sehat tidak harus selalu menjawab “iya”. Tetapi seharusnya ada ruang untuk membicarakan solusi tanpa membuat karyawan merasa bersalah.
Sebab, family-friendly workplace bukan berarti kantor mengutamakan keluarga di atas pekerjaan.
Justru tujuannya adalah membuat pekerja bisa menjalankan dua tanggung jawab tersebut secara lebih realistis. UNICEF juga menempatkan dukungan bagi pekerja untuk menyeimbangkan pekerjaan dan tanggung jawab pengasuhan sebagai bagian dari praktik kerja ramah keluarga.
BACA JUGA: Ide Penghasilan Tambahan untuk Ibu Rumah Tangga Biar Makin Mandiri Finansial
Jadi, seperti apa kantor yang lebih ramah untuk single parent?

Photo by Vitaly Gariev on Unsplash
Hal-hal yang lebih sederhana justru bisa menjadi indikator:
- Jam kerja dan ekspektasi kerja jelas.
- Fleksibilitas benar-benar bisa digunakan.
- Ada prosedur untuk kondisi darurat keluarga.
- Kinerja dinilai berdasarkan hasil, bukan sekadar availability.
- Atasan terbuka terhadap diskusi.
- Status sebagai orang tua tidak digunakan untuk menilai profesionalitas.
- Benefit keluarga dapat digunakan tanpa stigma.
UNICEF menyebut sejumlah praktik seperti paid leave, flexible work arrangements, childcare support, dan dukungan bagi orang tua sebagai bagian dari kebijakan tempat kerja yang ramah keluarga. Toolkit UNICEF 2025 juga memberikan contoh fleksibilitas jam kerja, kerja jarak jauh, cuti, dan dukungan pengasuhan sebagai bagian dari implementasi family-friendly workplace.
BACA JUGA: 9 Coworking Space di Jabodetabek yang Bikin Kerja Semakin Nyaman
Apakah kantor yang ketat otomatis tidak ramah untuk single parent?
Tidak.
Yang perlu diperhatikan adalah bagaimana aturan tersebut diterapkan.
Kalau aturannya jelas dan berlaku untuk semua orang, itu berbeda dengan situasi ketika single parent terus-menerus diberi label “sulit diandalkan” hanya karena memiliki anak.
Begitu pula dengan lembur.
Lembur sesekali bukan otomatis red flag. Yang perlu dipertanyakan adalah ketika lembur menjadi ukuran loyalitas dan tidak ada ruang untuk membicarakan kebutuhan yang realistis.
Kalau menemukan red flag ini, haruskah langsung resign?
Sebelum mengambil keputusan besar, coba lihat apakah masalahnya berasal dari satu atasan, satu tim, atau memang budaya perusahaan secara keseluruhan.
Anda juga bisa mulai dengan:
1. Tanyakan kebijakan secara jelas.
Cari tahu apa yang sebenarnya diperbolehkan perusahaan.
2. Bicarakan kebutuhan secara konkret.
Jelaskan solusi yang memungkinkan pekerjaan tetap berjalan.
3. Perhatikan responsnya.
Apakah atasan mencari solusi atau justru membuat Anda merasa bersalah?
4. Lihat polanya.
Satu kejadian buruk belum tentu menggambarkan keseluruhan budaya kantor.
BACA JUGA: 6 Alasan Kenapa Lamaran Kerja Ditolak HRD
FAQ: Kantor yang Ramah untuk Single Parent
Photo by charlesdeluvio on Unsplash
Apa ciri kantor yang ramah untuk single parent?
Ciri utamanya adalah adanya lingkungan kerja yang memungkinkan karyawan menjalankan tanggung jawab pekerjaan dan keluarga secara realistis, misalnya melalui fleksibilitas kerja, cuti yang memadai, komunikasi terbuka, dan tidak adanya diskriminasi karena tanggung jawab keluarga.
Apakah single parent membutuhkan perlakuan khusus di kantor?
Tidak selalu. Yang lebih penting adalah akses terhadap kebijakan dan lingkungan kerja yang memungkinkan mereka memenuhi tanggung jawab pekerjaan sekaligus pengasuhan tanpa mendapat stigma.
Apakah sering lembur berarti kantor tidak ramah untuk single parent?
Tidak otomatis. Lembur bisa menjadi bagian dari pekerjaan tertentu. Yang perlu diperhatikan adalah apakah lembur merupakan kondisi sesekali atau sudah menjadi ekspektasi rutin dan ukuran loyalitas karyawan.
Apa yang harus ditanyakan saat interview jika saya single parent?
Anda bisa menanyakan jam kerja, kebijakan WFH atau flexible working, ekspektasi di luar jam kantor, kebijakan cuti, dan bagaimana perusahaan menangani keadaan darurat keluarga. Pertanyaan tersebut relevan untuk memahami budaya kerja tanpa harus menjadikan status keluarga sebagai fokus utama.
Punya anak bukan berarti kurang profesional
Single parent mungkin memiliki tanggung jawab yang berbeda dari karyawan lain.
Tetapi berbeda bukan berarti kurang mampu.
Tempat kerja yang sehat seharusnya menilai seseorang dari kemampuan dan hasil kerjanya, bukan dari asumsi tentang bagaimana status keluarganya akan memengaruhi performa.
Pertanyaannya bukan:
“Apakah single parent bisa menjadi karyawan yang baik?”
Tetapi:
“Apakah tempat kerja memberi kesempatan bagi karyawannya untuk menjadi profesional sekaligus tetap menjadi orang tua?”
Kalau jawabannya terus-menerus membuat Anda merasa harus memilih salah satunya, mungkin memang sudah waktunya mengevaluasi kembali tempat kerja tersebut.
Cover: Photo by Microsoft Copilot on Unsplash
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS