banner-detik
PARENTING & KIDS

Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Jakarta, Ini Cara Lindungi Anak

author

Katharina Mengein 6 hours

Abu Vulkanik Anak Krakatau Sampai Jakarta, Ini Cara Lindungi Anak

Abu vulkanik Anak Krakatau menyebar hingga Jakarta dan Jawa Barat. Ini cara melindungi anak dari paparan abu vulkanik dan kapan perlu ke dokter.

Kalau Mommies tinggal di Jakarta, Banten, atau Jawa Barat dan belakangan melihat langit yang berbeda, mendengar kabar soal abu vulkanik, atau mulai khawatir karena anak masih harus beraktivitas di luar rumah, rasa waswas itu wajar. Apalagi, abu vulkanik Anak Krakatau kini terdeteksi menyebar ke sejumlah wilayah, termasuk DKI Jakarta dan Jawa Barat.

Kementerian Kesehatan (Kemenkes) mengimbau masyarakat di wilayah terdampak untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Anak-anak juga termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampak paparan abu vulkanik, bersama lansia serta orang dengan penyakit pernapasan dan kardiovaskular kronis.

BACA JUGA: Alergi Debu Pada Anak, Ketahui Pemicu dan Cara Mengatasinya

Jadi, bukan berarti Mommies harus panik setiap kali melihat abu. Yang penting adalah tahu cara melindungi anak dari abu vulkanik dan mengurangi paparannya sebanyak mungkin.

UPDATE TERBARU — 6 September 2026

Episode erupsi menerus Gunung Anak Krakatau berlangsung sekitar 25 jam, mulai Jumat (4/9) pukul 23.07 WIB hingga Minggu (6/9) pukul 00.04 WIB. Setelah itu, PVMBG mencatat satu erupsi susulan bertipe Strombolian pada pukul 03.53 WIB. Status Gunung Anak Krakatau masih Level III (Siaga).

Pada Minggu (6/9) pukul 08.00 WIB, BMKG mengidentifikasi dua klaster sebaran abu vulkanik yang melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu. BMKG juga masih melakukan pemantauan 24 jam terhadap dampak erupsi.

Sementara itu, berdasarkan pemantauan InaTEWS hingga pukul 07.30 WIB, BMKG menyatakan tidak terdeteksi anomali muka laut yang mengindikasikan tsunami di Perairan Selat Sunda terkait rangkaian erupsi ini.

Foto: Magnific

Kenapa abu vulkanik perlu diwaspadai?

Abu vulkanik bukan sekadar debu biasa. Partikelnya dapat berukuran sangat kecil sehingga bisa terhirup dan masuk ke saluran pernapasan. Paparan abu juga dapat menyebabkan iritasi pada hidung, tenggorokan, dan mata, serta memperburuk keluhan pada orang yang memiliki penyakit pernapasan seperti asma.

Kemenkes menyebut paparan abu vulkanik Anak Krakatau dapat memicu gangguan kesehatan akut, seperti Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), iritasi mata, dan gangguan pada kulit. Anak-anak termasuk kelompok yang paling rentan terhadap dampaknya.

Kenapa anak perlu mendapat perhatian khusus? Selain ukuran tubuh dan saluran pernapasan yang masih berkembang, anak juga cenderung lebih sulit menghindari paparan sendiri. Environmental Protection Agency (EPA) Amerika Serikat juga menyebut anak dapat lebih rentan terhadap abu vulkanik karena ukuran tubuh yang lebih kecil dan sistem pernapasan yang masih berkembang.

Penelitian pada anak-anak di Montserrat juga menemukan hubungan antara paparan abu vulkanik yang lebih tinggi dengan gejala pernapasan dan saluran napas yang lebih reaktif.

Lalu, apa yang harus dilakukan Mommies untuk melindungi anak?

1. Batasi aktivitas anak di luar rumah

Ini mungkin terdengar sederhana, tetapi justru menjadi salah satu langkah paling penting.

Kemenkes meminta masyarakat di wilayah yang terdampak abu vulkanik untuk membatasi aktivitas di luar rumah. Kalau tidak ada keperluan mendesak, Mommies bisa memilih aktivitas indoor untuk sementara waktu, termasuk mengurangi kegiatan bermain di luar rumah.

Terutama untuk anak yang masih kecil atau punya riwayat asma dan gangguan pernapasan, sebaiknya jangan memaksakan aktivitas outdoor ketika abu sedang berada di udara.

IVHHN juga menyarankan agar anak tetap berada di dalam rumah jika memungkinkan. Anak sebaiknya tidak melakukan aktivitas fisik berat atau berlari ketika abu masih berada di udara karena aktivitas tersebut membuat napas menjadi lebih berat dan dapat menyebabkan lebih banyak partikel masuk lebih dalam ke paru-paru.

Jadi, untuk sementara mungkin waktunya mengganti agenda playground dengan movie marathon, membaca buku, bermain board game, atau aktivitas indoor lainnya.

2. Kalau harus keluar, lindungi hidung, mulut, dan mata

Ada kalanya anak memang harus keluar rumah, misalnya untuk berobat atau kebutuhan penting lainnya. Dalam kondisi tersebut, perlindungan perlu lebih diperhatikan.

Menkes Budi Gunadi Sadikin mengimbau masyarakat yang harus keluar rumah untuk menggunakan masker dan kacamata.

Untuk masker, pilih yang memang dapat memberikan perlindungan terhadap partikel dan pastikan ukurannya sesuai dengan wajah anak. Masker yang terlalu longgar tidak akan memberikan perlindungan optimal.

IVHHN juga mengingatkan bahwa banyak masker dibuat berdasarkan ukuran wajah orang dewasa, sehingga kecocokan masker pada anak perlu diperhatikan.

Dan satu hal yang sering terlupakan: mata juga perlu dilindungi. Abu vulkanik dapat menyebabkan mata terasa seperti kemasukan sesuatu, berair, merah, dan perih.

3. Jangan biarkan anak bermain atau berlari di area yang penuh abu

Mungkin anak justru menganggap abu yang menumpuk di halaman seperti sesuatu yang menarik untuk dimainkan.

Tapi sebaiknya jangan, ya, Mommies.

IVHHN menyarankan agar anak tidak bermain di area dengan abu yang menumpuk atau menggunung. Anak juga sebaiknya tidak melakukan aktivitas berat ketika abu masih beterbangan di udara.

Kalau sudah terlihat ada abu di halaman, teras, atau area bermain, lebih baik bersihkan terlebih dahulu sebelum anak kembali bermain di sana.

4. Tutup pintu dan jendela rumah

Kalau abu sedang terdeteksi di wilayah Mommies, sebisa mungkin kurangi abu yang masuk ke dalam rumah.

IVHHN merekomendasikan agar pintu dan jendela ditutup ketika terjadi hujan abu. Ini penting karena partikel yang sudah masuk ke dalam rumah dapat kembali beterbangan dan terhirup.

Kalau Mommies menggunakan air purifier atau penyaring udara di rumah, bisa dimanfaatkan untuk membantu menjaga kualitas udara indoor. Yang tidak kalah penting, hindari aktivitas yang membuat partikel abu kembali beterbangan di dalam rumah.

BACA JUGA: 5 Tanaman Hias Indoor Penghilang Debu Agar Rumah Tambah Bersih

5. Jangan langsung menyapu abu dalam kondisi kering

Nah, ini penting terutama kalau Mommies mulai menemukan lapisan abu di teras atau halaman rumah.

Jangan buru-buru menyapu abu kering karena aktivitas tersebut dapat membuat partikel halus kembali beterbangan ke udara. Panduan IVHHN menyebut dry brushing atau menyikat abu dalam kondisi kering dapat menghasilkan paparan yang tinggi dan sebaiknya dihindari.

Abu dapat dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan. Namun, hindari membasahi abu secara berlebihan, terutama jika abu menumpuk di atap, karena tambahan beban air dapat meningkatkan risiko pada struktur bangunan.

Saat membersihkan, jauhkan anak dari area tersebut agar tidak ikut menghirup abu yang kembali beterbangan.

6. Kalau abu masuk ke mata anak, jangan dikucek

Ini salah satu situasi yang mungkin membuat panik, apalagi kalau anak langsung mengeluh matanya perih.

Kemenkes mengingatkan agar mata yang terkena abu tidak dikucek. Bersihkan mata dengan air dan, bila diperlukan, gunakan obat tetes mata sesuai anjuran.

Partikel abu dapat menyebabkan iritasi pada mata. Jika keluhan mata anak tidak membaik atau justru semakin parah, jangan ditunda untuk mendapatkan pemeriksaan medis.

Foto: Magnific

7. Setelah dari luar, bersihkan tubuh dan pakaian

Kalau anak terpaksa beraktivitas di luar saat ada paparan abu, jangan langsung membiarkannya rebahan atau bermain di dalam rumah.

Kemenkes menyarankan masyarakat segera membersihkan tubuh dan pakaian setelah beraktivitas di luar rumah.

Mommies bisa membiasakan anak untuk mencuci tangan dan wajah, mandi bila memungkinkan, serta mengganti pakaian yang digunakan di luar. Ini membantu mengurangi kemungkinan abu terbawa masuk dan kembali beterbangan di dalam rumah.

8. Perhatikan gejala setelah anak terpapar abu

Setelah paparan abu vulkanik, jangan hanya memperhatikan apakah anak terlihat baik-baik saja. Beberapa gejala yang perlu diperhatikan antara lain batuk, iritasi hidung dan tenggorokan, rasa tidak nyaman di dada, sesak, atau mengi. Orang dengan asma atau masalah pernapasan sebelumnya dapat mengalami gejala yang lebih berat.

Pada mata, gejalanya bisa berupa mata merah, gatal, perih, berair, atau terasa seperti ada benda asing. Abu vulkanik juga dapat menyebabkan iritasi kulit.

Kalau anak mengalami sesak napas, batuk yang menetap atau semakin berat, mengi, atau gangguan mata yang tidak membaik, segera konsultasikan ke tenaga kesehatan. Kemenkes meminta masyarakat yang mengalami keluhan untuk mendatangi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

Bagaimana dengan anak yang punya asma?

Untuk Mommies yang anaknya memiliki asma atau riwayat masalah pernapasan, kewaspadaannya memang perlu ditingkatkan.

Partikel abu yang sangat halus dapat mengiritasi saluran napas. Anak dengan asma juga dapat lebih sensitif terhadap iritan di udara, sehingga paparan abu sebaiknya diminimalkan. EPA merekomendasikan anak dengan kondisi pernapasan untuk mendapatkan perlindungan ekstra ketika abu vulkanik berada di udara.

Karena itu, sebisa mungkin hindari paparan yang tidak perlu dan pastikan obat yang memang diresepkan dokter untuk kondisi anak tersedia. Jika muncul gejala yang berbeda dari biasanya atau semakin berat, jangan menunggu sampai anak benar-benar kesulitan bernapas untuk mencari pertolongan.

BACA JUGA: Cegah Sesak Napas, Ini 8 Rekomendasi Nebulizer untuk di Rumah

Jadi, apakah Mommies perlu panik?

Tidak. Tapi tetap perlu waspada.

Per 6 September 2026, PVMBG menyatakan aktivitas Gunung Anak Krakatau masih berada pada Level III (Siaga). Episode erupsi menerus sekitar 25 jam memang sudah berakhir, tetapi aktivitas vulkanik masih dipantau dan erupsi susulan telah tercatat.

Untuk Mommies yang berada di wilayah terdampak abu, fokusnya bukan ikut panik karena video atau informasi yang beredar di media sosial, tetapi memastikan keluarga mendapatkan informasi dari sumber resmi dan mengurangi paparan abu sebanyak mungkin.

Kalau tidak ada kebutuhan mendesak, tetap di rumah, batasi aktivitas outdoor anak, tutup pintu dan jendela, gunakan perlindungan ketika harus keluar, dan perhatikan kondisi kesehatan anak.

Dan yang tidak kalah penting, jangan langsung percaya pada informasi yang belum jelas sumbernya. Ikuti perkembangan aktivitas Gunung Anak Krakatau melalui kanal resmi Badan Geologi/PVMBG, BMKG, dan pemerintah daerah.

Karena sebagai orang tua, kita memang nggak bisa mengendalikan kapan gunung berapi erupsi atau ke mana arah abu bergerak. Tapi kita masih bisa mengendalikan satu hal: seberapa baik kita melindungi anak ketika kondisi seperti ini terjadi.

FAQ Abu Vulkanik Anak Krakatau

Foto: Magnific

Apakah abu vulkanik Anak Krakatau sampai Jakarta?

Ya. Berdasarkan analisis citra satelit BMKG pada 6 September 2026 pukul 08.00 WIB, sebaran abu vulkanik teridentifikasi melingkupi Banten, DKI Jakarta, Jawa Barat, hingga Bengkulu.

Apakah abu vulkanik berbahaya untuk anak?

Abu vulkanik dapat mengiritasi saluran pernapasan, mata, dan kulit. Anak termasuk kelompok yang lebih rentan terhadap dampaknya, sehingga paparan sebaiknya dikurangi, terutama ketika abu sedang berada di udara.

Apakah anak boleh bermain di luar saat ada abu vulkanik?

Sebaiknya anak tetap berada di dalam rumah jika memungkinkan. Jika harus berada di luar, gunakan perlindungan seperti masker yang sesuai dan kacamata, serta hindari aktivitas fisik berat atau berlari ketika abu masih berada di udara.

Bagaimana cara membersihkan abu vulkanik di rumah?

Hindari menyapu atau menyikat abu dalam kondisi kering karena dapat membuat partikel kembali beterbangan. Abu sebaiknya dibasahi terlebih dahulu sebelum dibersihkan, sambil tetap memperhatikan keamanan, terutama jika abu menumpuk di atap.

Kapan anak perlu dibawa ke dokter?

Jika anak mengalami sesak napas, mengi, batuk yang menetap atau semakin berat, atau keluhan pada mata dan kulit yang tidak membaik, segera cari pertolongan medis. Mommies dapat mendatangi puskesmas atau fasilitas pelayanan kesehatan terdekat.

BACA JUGA: Cara Memaksimalkan Kerja Paru-paru Demi Kesehatan Diri dan Keluarga, Menurut Ahli!

Cover: Magnific

Share Article

author

Katharina Menge

-

banner-detik

POPULAR ARTICLE

banner-detik
banner-detik

COMMENTS


SISTER SITES SPOTLIGHT

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan

synergy-error

Terjadi Kesalahan

Halaman tidak dapat ditampilkan