Sorry, we couldn't find any article matching ''

Jangan Langsung Murka saat Tahu Anak Sering Bohong, Kenali Penyebab dan Cara Menghadapinya
Anak sering bohong belum tentu tanda anak nakal. Kenali penyebab anak suka bohong, cara merespons, hingga tips mengajarkan kejujuran tanpa langsung memarahinya.
Ketika mendapati anak tidak berkata jujur, reaksi pertama Mommies dan Daddies mungkin adalah kecewa atau marah. Namun, anak yang sering berbohong bukanlah tanda bahwa mereka “anak nakal.” Berbohong adalah bagian dari tahap perkembangan kognitif dan sosial anak.
Dr. Victoria Talwar menjelaskan dalam APA’s Speaking of Psychology Podcast bahwa berbohong adalah bagian dari tahap krusial perkembangan kognitif, di mana anak mulai memahami bahwa informasi yang mereka berikan dapat mengubah pemikiran dan keyakinan orang lain. Dengan kata lain, berbohong adalah bentuk eksperimen bagi anak untuk mempelajari bagaimana ia bisa memengaruhi lingkungan serta orang-orang di sekitarnya.
Lantas, normalkah anak berbohong? Menurut psikolog Dr. Siggie Cohen, PhD, dalam tulisannya di drsiggie.com, “Kebiasaan ini sangat wajar terjadi pada masa kanak-kanak dan sesuai dengan tahap perkembangannya. Anak-anak menggunakan kebohongan sebagai strategi reaktif untuk menangani sesuatu yang belum mereka pahami cara penyelesaiannya secara langsung.”
BACA JUGA: 10 Kecemasan Anak Balita yang Harus Orang Tua Pahami, Biar Nggak Drama
Alasan Psikologis di Balik Sikap Anak yang Mulai Suka Berbohong
Alasan anak sering bohong cukup beragam. Mereka sedang mengeksplorasi batas lingkungan, mencoba melindungi diri dari konsekuensi negatif, atau belum bisa sepenuhnya membedakan antara imajinasi dan realitas.

Foto: Monstera Production/Pexels
Secara umum, kenapa anak sering bohong sangat bervariasi tergantung pada kelompok usianya:
- Usia balita (2–4 tahun): Berbohong biasanya berupa imajinasi atau karangan cerita, tidak selalu berniat menipu. Kristie Tse, seorang Licensed Mental Health Counselor (LMHC) dan pendiri Uncover Mental Health Counseling, menjelaskan di ParentMap bahwa anak-anak usia dini sering berbohong karena imajinasinya yang sangat aktif dan belum mampu membedakan antara fantasi dan kenyataan. Anak di usia ini membesar-besarkan cerita hanya karena menginginkan sesuatu itu benar-benar terjadi, bukan berniat membohongi orang tua.
- Usia sekolah (5–8 tahun): Berbohong dilakukan untuk menghindari hukuman, menyenangkan orang tua, atau demi mendapatkan keinginan tertentu.
- Usia praremaja dan remaja (9+ tahun): Berbohong dapat berkaitan dengan keinginan menjaga privasi, mempertahankan kemandirian, atau menghindari aturan.
BACA JUGA: 10 Kesalahan Pola Asuh yang Bisa Memicu Anak Jadi Kriminal, Orang Tua Wajib Tahu!
Penyebab Umum Anak Berbohong
Dalam sebuah ulasan di Child Mind Institute, Matthew Rouse, PhD, seorang psikolog klinis, mengungkapkan bahwa kebiasaan berbohong pada anak kerap terjadi secara mendadak dan intens. Anak yang tadinya selalu jujur bisa tiba-tiba menyembunyikan banyak hal.
Kondisi ini memang mengkhawatirkan bagi orang tua, namun memahami penyebab anak sering bohong adalah kunci utama agar kejujuran bisa kembali ditegakkan di rumah.
Secara umum, ada beberapa alasan mengapa anak memilih untuk tidak jujur kepada orang tuanya:
- Takut dimarahi dan dihukum: Anak ingin menghindari rasa sakit, kegagalan, atau kemarahan orang tua.
- Keinginan menyenangkan orang tua: Anak takut membuat orang tua kecewa jika mengakui kesalahannya.
- Meningkatkan kepercayaan diri: Anak berbohong atau membual agar terlihat hebat di mata teman sebayanya.
- Impulsivitas: Anak menjawab cepat tanpa memikirkan konsekuensinya terlebih dahulu.
- Meniru perilaku orang dewasa: Anak melihat orang dewasa di sekitarnya melakukan white lies atau berbohong demi kebaikan.

Foto: Kampus Production/Pexels
Cara Merespons Anak yang Ketahuan Berbohong
Memahami cara menghadapi anak yang suka bohong butuh kepala yang dingin. Saat Mommies dan Daddies mendapati anak berbohong, berikut cara merespons yang tenang dan efektif:
- Tetap tenang dan kontrol emosi: Tarik napas dalam-dalam. Hindari bereaksi dengan membentak atau menuduh secara eksplosif.
- Fokus pada fakta, jangan menjebak: Jangan bertanya, “Kamu yang mecahin gelas ini, ya?” jika orang tua sudah tahu jawabannya. Katakan langsung, “Mama lihat gelasnya pecah. Yuk, kita bersihkan sama-sama.”
- Beri kesempatan kedua: Berikan anak ruang untuk meralat ucapannya tanpa rasa takut.
- Apresiasi kejujurannya: Saat anak akhirnya mau mengaku, berikan pujian atas keberaniannya untuk jujur.
BACA JUGA: 5 Tanda Anak Kurang Perhatian Orang Tua, Ketahui Cara Mengatasinya
Jangan Lakukan Ini Saat Anak Berbohong
Untuk mencegah kebiasaan berbohong semakin parah, hindari kesalahan respons berikut:
- Melabeli anak: Jangan pernah menyebut anak sebagai “pembohong” atau “anak nakal.” Label ini bisa melekat dan dipercayai oleh anak.
- Memberi hukuman fisik atau mempermalukan: Menghukum secara berlebihan tidak otomatis mengajarkan kejujuran. Dalam beberapa situasi, anak justru bisa semakin takut mengakui kesalahan dan memilih menyembunyikannya.
- Menjebak anak: bertanya berpura-pura tidak tahu hanya untuk memancing anak berbohong lagi.
- Mengungkit kesalahan di masa lalu: Mengungkit kesalahan masa lalu hanya merusak kepercayaan anak.
Kalimat yang Sebaiknya Diucapkan saat Anak Berbohong
Pemilihan kata yang tepat dapat membantu anak merasa aman untuk berkata jujur. Melansir panduan pengasuhan dari Psychology Today, berikut contoh kalimat konstruktif yang bisa digunakan:
Saat Anak Takut Mengaku
Jangan ucapkan: “Jujur gak! Kalau bohong, Mama hukum!”
Sebaiknya ucapkan: “Mama tahu kamu takut dimarahi. Tapi Mama akan lebih menghargai kalau kamu cerita yang sejujurnya.”
Saat Memberikan Kesempatan
Jangan ucapkan: “Kamu bohong, kan?”
Sebaiknya ucapkan: “Mama kasih waktu 5 menit ya buat kamu pikirkan ulang. Nanti cerita lagi ke Mama apa yang sebenarnya terjadi.”
Saat Anak Mau Mengaku
Jangan ucapkan: “Nah kan, emang kamu nakal!”
Sebaiknya ucapkan: “Terima kasih ya sudah jujur sama Mama. Berani jujur itu hebat. Sekarang, yuk, kita cari solusinya.”

Foto: Kampus Production/Pexels
Cara Mengajarkan Kejujuran kepada Anak
Mengajarkan kejujuran adalah proses jangka panjang yang membutuhkan konsistensi. Begini caranya:
- Jadilah Role Model: Tunjukkan sikap jujur dalam kehidupan sehari-hari, termasuk tidak berbohong di depan anak,” saran Kristen Cook, MD, dalam tulisannya di Psychology Today.
- Pisahkan antara kejujuran dan konsekuensi: Pastikan anak paham bahwa jujur tidak menghilangkan konsekuensi atas kesalahan, tetapi kejujuran akan dihargai.
- Buat aturan rumah yang jelas: “Jelaskan dan tekankan kepada anak-anak bahwa kejujuran adalah nilai utama di dalam keluarga kalian,” jelas Marissa Goldenstein, seorang Certified Master Parent Coach, melansir dari Jai Institute for Parenting.
- Bacakan cerita tentang kejujuran: Dalam ulasan yang sama di Jai Institute for Parenting, sebuah studi pada tahun 2014 oleh Dr. Kang Lee dan rekan-rekannya menemukan bahwa cerita yang berfokus pada hasil positif dari kejujuran jauh lebih efektif memengaruhi perkembangan moral anak dibandingkan cerita yang menyoroti dampak negatif dari berbohong. Anak-anak membutuhkan dorongan dan apresiasi ketika mereka mengambil langkah yang sejalan dengan nilai-nilai keluarga.
Perlukah Orang Tua Memberikan Hukuman Saat Anak Berbohong?
Orang tua tidak perlu memberikan hukuman yang bersifat menyakiti, apalagi mempermalukan, melainkan menerapkan konsekuensi logis.
Mengutip riset dari American Academy of Pediatrics, konsekuensi logis mengajarkan anak tanggung jawab atas tindakannya. Contohnya, jika anak berbohong bahwa dia sudah menyelesaikan PR, padahal belum karena main game, konsekuensi logisnya adalah waktu bermain game berkurang untuk menyelesaikan PR tersebut.
BACA JUGA: 20 Pertanyaan Terbuka untuk Anak, Bisa Melatih Keterampilan Berpikirnya
Kebiasaan Berbohong pada Anak Perlu Diwaspadai Ketika…
“Kebiasaan berbohong perlu diwaspadai jika terjadi secara berulang (compulsive lying), tidak menunjukkan rasa bersalah, atau disertai dengan perilaku destruktif lainnya seperti mencuri, membolos, atau menyakiti orang lain.”
Melansir ulasan di Emora Health, Emily Mendez, seorang psikoterapis dan penulis masalah kesehatan mental, menjelaskan bahwa kebiasaan berbohong patologis pada anak sering kali merupakan bentuk mekanisme pertahanan diri dari trauma, kecemasan, atau masalah emosional yang lebih dalam.
Jika kebohongan ini terus berulang hingga mengganggu fungsi sosial dan keharmonisan keluarga, inilah saatnya Mommies dan Daddies mencari evaluasi dan bantuan dari psikolog anak.
Cover: Monstera Production/Pexels
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS