
Kenapa bekal anak cepat basi? Kenali penyebabnya dan cara menyimpan bekal anak agar tidak cepat basi, tetap aman, dan bisa disantap saat jam makan.
Pagi-pagi sudah sibuk menyiapkan seragam, botol minum, sampai bekal anak. Rasanya lega ketika kotak bekal akhirnya masuk ke dalam tas dan anak berangkat sekolah.
Tapi, pernah terpikir nggak, Mommies, kalau bekal yang kita siapkan dengan penuh cinta ternyata bisa menjadi sumber masalah kalau cara memasak dan menyimpannya kurang tepat?
Bukan berarti bekal rumahan itu berbahaya, ya. Justru bekal dari rumah bisa menjadi pilihan yang baik karena kita tahu bahan dan proses pembuatannya. Namun, makanan matang tetap bisa terkontaminasi bakteri dan menyebabkan foodborne illness atau penyakit akibat makanan, terutama kalau terlalu lama berada pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang.
Jadi, kenapa bekal anak cepat basi? Penyebab utamanya bukan sekadar karena makanan sudah dingin, tetapi karena makanan mudah rusak berada terlalu lama pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang, makanan kurang matang, terjadi kontaminasi silang, atau wadah dan peralatan kurang bersih.
Lalu, apa yang membuat bekal anak berisiko menyebabkan keracunan makanan? Dan bagaimana cara membuat bekal supaya tetap aman sampai waktunya makan?
Istilah “keracunan makanan” di sini bukan berarti makanan tiba-tiba mengandung racun. Makanan bisa terkontaminasi bakteri atau mikroorganisme lain yang menyebabkan penyakit akibat makanan.

Beberapa hal yang perlu diperhatikan adalah:
Daging, ayam, telur, dan ikan bisa membawa bakteri berbahaya. Karena itu, makanan perlu dimasak sampai matang.
Kalau memungkinkan, gunakan food thermometer untuk mengecek suhu bagian dalam makanan. Untuk leftovers yang dipanaskan kembali, FDA merekomendasikan suhu sekitar 74°C atau 165°F.
Jangan hanya mengandalkan warna atau tampilan makanan, terutama untuk ayam, daging, telur, dan seafood.
Ada istilah danger zone, yaitu rentang suhu sekitar 4–60°C (40–140°F), ketika bakteri dapat berkembang dengan cepat.
Secara umum, makanan yang mudah rusak tidak sebaiknya dibiarkan pada suhu ruang lebih dari 2 jam. Kalau suhunya sekitar 32°C atau lebih, batasnya menjadi 1 jam. Aturan ini berlaku untuk makanan mudah rusak yang tidak sedang dijaga tetap dingin atau tetap panas.
Misalnya, bekal dibuat pukul 06.00 dan baru dimakan pukul 12.00. Kalau makanan seperti nasi dan lauk hanya diletakkan di dalam tas selama enam jam, risikonya tentu lebih besar dibandingkan dengan makanan yang sejak awal dijaga tetap dingin atau panas.
Makanan yang sudah dingin tidak otomatis basi. Namun, makanan yang dibiarkan mendingin selama berjam-jam pada suhu ruang tetap berisiko ditumbuhi bakteri.
Untuk makanan yang harus disajikan dingin, seperti yoghurt, buah potong, atau sandwich dengan isian yang mudah rusak, pastikan tetap dingin sampai waktunya dimakan.
Sebaliknya, makanan panas sebaiknya dijaga tetap panas menggunakan wadah yang sesuai.
Prinsip sederhananya: jaga makanan dingin tetap dingin, jaga makanan hangat tetap hangat.

Kontaminasi silang bisa terjadi tanpa kita sadari.
Misalnya, talenan yang digunakan untuk memotong ayam mentah kemudian digunakan untuk memotong buah tanpa dicuci terlebih dahulu. Atau tangan yang baru memegang bahan mentah langsung digunakan untuk mengambil makanan matang.
Karena itu, cuci tangan dan peralatan dengan baik serta pisahkan bahan mentah dari makanan matang.
Kotak bekal mungkin terlihat bersih, tetapi jangan lupa memeriksa bagian tutup, sudut wadah, dan karet seal.
Sisa makanan yang menempel bisa menjadi tempat berkembangnya mikroorganisme. Pastikan kotak bekal, sendok, garpu, dan botol minum dicuci serta dikeringkan dengan baik sebelum digunakan kembali.
BACA JUGA: 10 Kotak Bekal Stainless Steel untuk Anak yang Anti Bocor dan Mudah Dibersihkan
Ada beberapa kebiasaan sederhana yang bisa membantu menjaga bekal tetap aman.
Pastikan bahan makanan masih dalam kondisi baik dan disimpan dengan benar.
Bahan makanan yang mudah rusak sebaiknya segera dimasukkan ke kulkas setelah dibeli dan tidak terlalu lama dibiarkan di suhu ruang.
Pastikan makanan matang secara menyeluruh, terutama ayam, daging, ikan, dan telur.
Kalau punya food thermometer, alat ini bisa membantu memastikan bagian dalam makanan sudah mencapai suhu yang aman.

Kalau makanan akan disimpan untuk bekal, jangan dibiarkan terlalu lama di suhu ruang.
Makanan matang yang tidak akan langsung dimakan sebaiknya segera didinginkan dan disimpan dengan benar. Untuk makanan dalam jumlah banyak, bagi ke dalam wadah yang lebih kecil agar lebih cepat dingin.
Kalau anak membawa makanan yang mudah rusak dan baru akan makan beberapa jam kemudian, gunakan insulated lunch bag atau cooler bag dengan cold pack.
Tujuannya untuk menjaga makanan tetap dingin sampai waktunya dimakan.
Kalau sekolah menyediakan kulkas untuk bekal, fasilitas tersebut juga bisa dimanfaatkan.
BACA JUGA: 8 Resep Bekal Sekolah Anak Setelah Liburan Panjang, Mudah Dibuat!
Kalau anak membawa nasi dan lauk yang ingin dimakan hangat, gunakan wadah termal yang memang dirancang untuk menjaga makanan tetap panas.
Isi wadah dengan makanan panas, lalu tutup rapat sesuai petunjuk penggunaannya.
Buah yang banyak mengeluarkan air, saus, sambal, atau dressing bisa membuat makanan lain menjadi lembek.
Gunakan wadah atau kompartemen terpisah agar makanan tetap enak saat dimakan.

Cuci tangan dengan sabun dan air mengalir sebelum menyiapkan makanan.
Cuci tangan kembali setelah memegang daging, ayam, ikan, atau telur mentah sebelum menyentuh makanan matang.
Ini aturan yang paling gampang diingat. Kalau Mommies ragu bahwa makanan sudah terlalu lama berada dalam kondisi penyimpanan dan mungkin tidak aman, jangan mencoba menyelamatkannya hanya dengan memanaskan kembali.
Bau dan tampilan makanan juga tidak selalu bisa menjadi tanda bahwa makanan masih aman.
Mommies dan Daddies, bekal yang sudah dingin tidak otomatis basi atau berbahaya.
Yang penting adalah bagaimana makanan didinginkan dan berapa lama makanan berada pada suhu yang memungkinkan bakteri berkembang.
Makanan yang disimpan dengan benar di kulkas kemudian dimasukkan ke insulated lunch bag bersama cold pack tentu berbeda dengan makanan yang dibiarkan di meja dapur selama beberapa jam.
Jadi, jangan hanya melihat apakah bekal dingin atau tidak. Perhatikan waktu dan suhu penyimpanannya.