Inspiring Single Mom: Alexandria Jessie Belajar untuk Menemukan Ketenangan Batin dan Tidak Kehilangan Diri Sendiri

#MommiesWorkingIt

Sisca Christina・in 5 hours

detail-thumb

Empat tahun menjalani peran sebagai single mom, Alexandria Jessie mulai memahami satu hal penting: memastikan anak baik-baik saja bukan berarti harus melupakan diri sendiri.

Ditinggal suami dalam waktu yang begitu cepat tentu bukan perkara mudah bagi siapapun, termasuk bagi Alexandria Jessie. Namun, tahun demi tahun berlalu, ibu dari seorang putri yang akrab disapa Alexa ini, semakin menemukan tujuan hidupnya yang paling hakiki: yaitu mencapai ketenangan batin.

Bagi Alexa, ini bukan perjalanan singkat. Butuh waktu empat tahun untuk kembali menemukan dirinya. Saat membaca artikel ini, mommies akan menemukan sebuah refleksi dewasa dari seorang Alexa.

Dari mulai hidup berubah menjadi “survival mode” ketika sang suami berpulang, mengalami tantangan finansial di tengah duka yang belum selesai, ditambah muncul kecemasan dalam pengasuhan hingga akhirnya muncul kesadaran akan inner child dan kebutuhan untuk menyembuhkan luka-luka batin.

Kecemasan Timbul Saat Suami Berpulang

“Kalau untuk Pipop, saya percaya dia sudah bahagia di surga. Tetapi saya akui, sepeninggalnya, saya cemas memikirkan: bagaimana kehidupan anak saya nanti dan bagaimana saya bisa memastikan kami tetap baik-baik saja?” tutur Alexa.

Kecemasan tersebut membuatnya mulai memikirkan cara survive, terutama dari sisi finansial. Alexa kemudian berkonsultasi dengan konsultan keuangan dan dianjurkan memiliki second job.

“Saya coba untuk menjadi agen asuransi. Tetapi dari segi waktu dan minat, ternyata saya kurang cocok. Akhirnya mundur, dan tetap bertahan dengan mengelola Menimba Ilmu saja. Saya putuskan untuk hidup lebih frugal dan memberikan pengertian ke Ayi (anak semata wayangnya) bahwa pekerjaan saya seperti ini, namun kami punya waktu bersama lebih banyak,” kisahnya.

Tantangan Terbesar Alexandria Jessie: Finansial dan Kehilangan Teman Bercerita

Bagi Alexa, tantangan terbesar pertama yang ia alami saat ditinggal sang suami adalah dalam hal finansial.

“Saya akui saya masih struggle soal finansial, dalam artian perencanaan dan pengelolaan kecukupannya hingga jangka panjang. Saking cemasnya, 50% dari pendapatan saya alokasikan untuk asuransi, mulai dari pendidikan, jiwa, sakit, dan masa kritis. Saya ingin memastikan kehidupan anak saya aman,” tambah Alexa.

Alexandria Jessie

Foto: dokumentasi pribadi

Kedua, kehilangan teman bercerita. “Dulu, semua-mua diomongin dengan Pipop. Ternyata, saat ia nggak ada, itu berat banget. Saya jadi bisa menghabiskan waktu dan energi untuk memikirkan sesuatu hal, lama untuk mengambil keputusan, karena ada ketakutan untuk salah, nggak yakin bisa ambil risiko; dan itu berat. Pipop adalah teman bercerita yang nggak tergantikan. Apalagi, dia itu teman main Ayi. Ibaratnya dulu itu, saya yang ngajar, Pipop yang ngajak main. Jadi sejak empat tahun lalu, saya juga belajar untuk bisa ngajak Ayi main juga,” kenangnya.

Dari “Harus Terus Produktif” Menjadi “Lebih Santai”

Sebelum kehilangan Pipop, ia adalah sosok yang sangat produktif dan pekerja keras. Rupanya, pola pikir tersebut sudah terbentuk sejak lama. “Ada pengaruh dari pola asuh orang tua juga, sehingga alam bawah sadar saya bilang bahwa hidup itu buat kerja. Jadilah saya terbentuk menjadi seorang achiever.

Kontrasnya, ketika ditinggal Pipop, saya dihantam pikiran lain: saya malas bekerja, buat apa kerja dan nabung susah payah, toh hidup hanya sebentar? Namun saya sadar bahwa hidup tetap harus berjalan. Melalui banyak proses, saya akhirnya mencapai kesadaran untuk bisa bekerja lebih sehat tanpa terlalu ngoyo. Sisi baiknya, sekarang saya bisa lebih santai sedikit,” lanjut Alexa.

Baca juga: Dewi Yullyanti: Single Mom Bukan Harus Kuat Terus

Belajar Mengurai Luka yang Selama Ini Direpresi

Kalau dulu fokus utamanya adalah bagaimana memastikan Ayi baik-baik saja, kini ada satu hal lain yang mulai menjadi prioritas Alexa: dirinya sendiri.

Kesadaran itu muncul ketika Alexa mengetahui dirinya mengalami beberapa masalah kesehatan, salah satunya gangguan tidur akibat kecemasan, dan sakit yang berulang.

Melalui banyak kelas dan retreat yang diikuti, ia kemudian belajar mengambil langkah mundur, tidak memaksakan diri melakukan semuanya sekaligus dan memberi waktu lebih panjang untuk menyelesaikan sesuatu.

“Saya ingin lebih mengerti apa yang Tuhan mau di hidup saya sekarang. Kalau dulu fokus utamanya adalah bagaimana saya memastikan Ayi baik-baik saja, kini ada satu hal lain yang mulai menjadi prioritas: diri saya sendiri. Saya ingin mencapai ketenangan batin,” paparnya.

“Saya mulai menyadari bahwa masih ada bagian dari diri saya yang belum selesai dengan berbagai luka masa lalu. Ada kemarahan dan emosi yang selama ini mungkin lebih sering ditekan daripada benar-benar dirasakan. Melalui banyak proses, saya baru sadar saya belum benar-benar pulih. Saya pikir saya sudah aman, ternyata saya masih berduka, masih punya inner child, banyak luka yang belum tergali.

Jadi saat ini saya juga masih proses healing, perlahan mengurai luka masa kecil dan emosi yang selama ini direpresi, dan ini membutuhkan waktu yang panjang. Itulah mengapa mencapai ketenangan batin dan memperhatikan kesehatan mental menjadi prioritas saya sekarang.”

Punya Cita-cita Ingin Tinggal di Mana Saja dan Eksplor Dunia Seluas-luasanya

Menariknya, setelah melalui berbagai hal tersebut, keinginan yang muncul dalam dirinya bukan semata-mata soal pencapaian materi. Alexa justru membayangkan hidup yang lebih bebas, lebih menjelajah.

Foto: dokumentasi pribadi

“Kalau pengennya saya, nih, hidup di mana-mana, eksplor dunia. Beberapa bulan tinggal di Bali, pindah ke Yogya, lalu ke luar negeri, tinggal di wood cabin atau berkebun. Karena dunia itu terlalu luas untuk tinggal di satu tempat saja. Banyak hal yang bisa dijelajah, banyak wawasan dan pengalaman yang bisa kita gali. Semoga ya, suatu hari nanti, hehehe,” harap Alexa.

Pesan Alexandria Jessie untuk Single Mom yang Baru Memulai Perjalanan

“Enggak usah buru-buru,” begitu pesannya kepada para single mom yang baru saja berada di posisi tersebut.

“Wajar kalau menjadi single mom tiba-tiba panik, terutama soal finansial. Namun, tak semua langsung ada jawabannya. Kalau perlu ambil break satu-dua tahun, itu enggak apa-apa. Saya percaya bahwa Tuhan akan selalu menyediakan, meski manusia sering kali belum tahu bagaimana caranya.

Satu hal yang kini menjadi pengingat terpenting baginya dan ingin ia bagikan kepada seluruh single mom: “Menjadi ibu tunggal memang berarti mencurahkan hidup untuk anak, tetapi bukan berarti harus kehilangan diri sendiri. Jangan lupa untuk merawat diri sendiri, ya, mommies,” tutup Alexa.

Baca juga: Inspiring Single Mom: Rikha Rosalina. Awalnya Hancur, Endingnya Berdiri Tegak

Cover: dokumentasi pribadi Alexandria Jessie