Sorry, we couldn't find any article matching ''

Dewi Yullyanti: Single Mom Bukan Harus Kuat Terus
Kehilangan pasangan membuat Dewi Yullyanti belajar tentang resilience, financial independence, dan membesarkan anak dengan hangat sebagai single mom. Ini kisah inspiratifnya, Mommies.
Ada fase dalam hidup yang datang tanpa aba-aba. Hari berjalan biasa saja, lalu tiba-tiba semuanya berubah. Buat Dewi Yullyanti, atau yang akrab disapa DewDew, kehilangan sosok suami sekaligus ayah untuk kedua anaknya menjadi salah satu titik hidup yang mengubah banyak hal.
Di usia 43 tahun, ibu dari satu anak laki-laki usia 18 tahun dan satu anak perempuan usia 10 tahun ini menjalani peran sebagai single mom sambil tetap bekerja di dunia agensi yang ritmenya terkenal serba cepat dan chaos. Tapi di balik semua tuntutan itu, ada satu hal yang terus ia pegang: tetap berjalan, meski pelan.
BACA JUGA: 7 Side Hustle untuk Orang Tua yang Super Sibuk, Tetap Bisa Cuan
Mengajarkan Anak Tentang Resilience Lewat Contoh Nyata
Menariknya, Dewi Yullyanti nggak pernah merasa dirinya kuat seperti yang sering orang lain lihat.
“Sebenarnya aku nggak pernah bangun suatu hari terus merasa, ‘Oke, aku kuat.’’ Enggak sih,” jawabnya saat ditanya tentang bagaimana cara ia menerapkan dan mengajarkan kekuaran hidup pada diri sendiri dan anak-anak setelah kehilangan sosok suami dan sosok ayah bagi kedua anaknya.
Buat Dewi, kekuatan bukan soal nggak pernah sedih. Justru sebaliknya. Ia membiarkan dirinya merasakan takut, marah, bingung, bahkan hancur. Dan itu juga yang ia tunjukkan pada anak-anaknya.
Banyak orang tua merasa harus selalu terlihat baik-baik saja di depan anak. Tapi Dewi memilih cara berbeda.
“Aku nggak pernah pura-pura kuat di depan anak-anak. Mereka tahu aku pernah sedih, pernah nangis, pernah capek. Tapi mungkin dari situ mereka belajar kalau hidup memang kadang berat, dan nggak apa-apa merasa hancur sebentar, yang penting jangan berhenti hidup.”
Alih-alih memberi ceramah panjang tentang menjadi kuat, Dewi lebih ingin anak-anaknya melihat langsung bagaimana ibunya bangkit setiap hari. Dari situlah, anak-anak belajar tentang resilience. Dan mungkin memang itu bentuk pelajaran hidup paling nyata buat anak: melihat orang tuanya tetap menjalani hidup meski pernah runtuh.

Foto: Dok. pribadi/Dewi
Realita Menjadi Single Mom: Juggling Tanpa Henti
Kalau ada yang bilang single mom itu harus multitasking level dewa, mungkin ada benarnya juga, ya, Mommies. Dewi mengaku sampai sekarang pun ia masih terus belajar membagi peran antara menjadi ibu dan pencari nafkah.
“Jujur, sampai sekarang juga masih juggling terus, hahaha. Kerja di agency itu ritmenya chaos banget. Kadang lagi nemenin anak, tiba-tiba ada revisi deck jam 11 malam. Kadang lagi meeting besar malah kepikiran, ‘Anak udah belajar belum, ya? Besok ujian.”
Perasaan bersalah sempat jadi “teman sehari-hari” bagi Dewi. Merasa kurang hadir sebagai ibu, tapi juga nggak maksimal di pekerjaan. Sampai akhirnya Dewi menyadari satu hal penting: anak nggak butuh ibu yang sempurna.
“Mereka cuma butuh tahu ibunya sayang sama mereka dan selalu balik pulang buat mereka.”
Menyadari hal tersebut, Dewi mengatakan kalau sekarang ia lebih fokus untuk hadir di momen kecil. Misalnya ngobrol random, menemani anak bercerita, hingga pelukan sebelum tidur. Hal-hal yang kelihatannya kecil tapi ternyata berpengaruh banget.
Saat Ketakutan Finansial Jadi Beban Terbesar
Kehilangan pasangan juga berarti kehilangan tempat berbagi keputusan. Tiba-tiba semua harus dipikirkan sendiri. Semua tanggung jawab ada di pundak sendiri. Buat Dewi, tantangan terbesar saat harus mandiri secara finansial bukan cuma soal uang, tapi rasa takut yang datang bersamaan.
“Takut nggak cukup. Takut gagal. Takut kalau aku sakit atau collapse terus anak-anak gimana. Karena waktu pasangan meninggal, tiba-tiba semua keputusan ada di aku sendiri. Dan itu berat banget, mentally.”
Pikiran-pikiran seperti itu ternyata sangat nyata dirasakan oleh Dewi dan mungkin banyak Mommies di luar sana yang tiba-tiba harus menjadi tulang punggung keluarga. Karena itu, Dewi percaya perempuan penting punya financial independence. Bukan untuk membuktikan siapa yang lebih kuat, tapi sebagai safety net untuk diri sendiri dan anak-anak.
“Hidup tuh unpredictable banget ternyata.”
Dan memang, ya, Mommies, kadang kita baru sadar pentingnya kesiapan finansial justru setelah hidup memberi kejutan yang nggak pernah kita bayangkan sebelumnya.
BACA JUGA: 10 Cara Meningkatkan Skill Tanpa Harus Kerja Kantoran

Foto: Dok. pribadi/Dewi
Dukungan yang Paling Berarti Justru yang Diam-Diam Tetap Hadir
Di tengah semua tantangan, Dewi merasa beruntung masih punya support system yang membuatnya bisa bernapas sedikit lebih lega. Bukan yang paling banyak memberi nasihat, tapi yang tetap ada. Mulai dari sang ibu, anak-anak, beberapa sahabat dekat, sampai pasangan yang sekarang menjadi orang-orang yang membantunya bertahan secara emosional.
“Kadang single mom, tuh, capek bukan cuma karena kerja atau ngurus anak, tapi karena harus terlihat kuat terus.”
Kalimat itu pasti relate buat banyak ibu di luar sana. Ada lelah yang nggak selalu terlihat. Ada capek yang muncul karena merasa harus selalu baik-baik saja demi semua orang. Makanya, punya seseorang yang membuat kita bisa jadi manusia biasa saja terasa sangat menenangkan.
Achievement Terbesar: Anak-Anak Tumbuh Jadi Baik Hati
Saat ditanya apa hal yang paling membuat dirinya bangga pada dirinya sendiri, jawaban Dewi ternyata sederhana, tapi hangat.
“Aku bangga anak-anakku tumbuh jadi anak yang baik hati.”
Bukan soal pencapaian akademis atau hal-hal besar lainnya. Buatnya, melihat anak-anaknya tumbuh dengan penuh kebaikan adalah kemenangan terbesar.
Dan mungkin memang itu definisi rumah yang sesungguhnya. “Karena di tengah semua chaos hidup, somehow kami tetap jadi keluarga yang hangat dan masih suka ketawa bareng.”

Foto: Dok. pribadi/Dewi
Pesan untuk Para Single Mom: Nggak Harus Kuat Setiap Hari
Di akhir obrolan, Dewi Yullyanti menitipkan satu pesan yang rasanya penting banget didengar para single mom.
“Jangan ngerasa harus jadi kuat terus tiap hari. Ada hari di mana kita capek, insecure, nangis di toilet sebelum meeting, atau merasa hidup unfair banget. Itu normal.
Yang juga nggak kalah penting: jangan takut memulai lagi.
“Dan jangan takut untuk mulai lagi. Karena setelah kehilangan besar, kadang kita berpikir hidup selesai. Padahal ternyata hidup masih bisa kasih kebahagiaan baru. Bentuknya aja mungkin berbeda dari yang dulu kita bayangin.”
Bentuknya mungkin berbeda. Jalannya mungkin nggak sama seperti yang dulu dibayangkan. Tapi bukan berarti hidup berhenti memberi kesempatan untuk bahagia lagi, Mommies.
Dan buat banyak perempuan, mungkin itu adalah bentuk kekuatan yang paling nyata: tetap membuka hati pada hidup, setelah pernah patah sedalam itu.
BACA JUGA: 7 Cara Ampuh Hindari Stres untuk Ibu Bekerja, Stop Burnout!
Cover: Dok. pribadi/Dewi
Share Article


POPULAR ARTICLE




COMMENTS